
...༻⑅༺...
Saat duduk bersebelahan, diam-diam Jaden melirik Lova. Dia kembali terpaku menatap gadis itu. Entah kenapa Jaden merasa Lova yang sekarang begitu menarik perhatiannya.
Saking perhatiannya, Jaden akhir-akhir ini sering memeriksa keadaan lorong sekitar kamar Lova. Itulah salah satu alasan besar kenapa Jaden selalu datang tepat waktu menyelamatkan Lova.
Perundungan yang terjadi di Eden Night sebenarnya sudah sering terjadi. Namun kekhawatiran Jaden terhadap Lova terasa berbeda dibanding sebelumnya. Lelaki itu tidak mau Lova terluka.
Jaden selalu menganggap kepeduliannya dengan alasan menganggap Lova sebagai penghasil uang terbesarnya. Tetapi sekarang dia sadar satu hal. Perhatian yang diberikannya sudah terlampau berlebihan. Jaden bahkan menyesali pembunuhan yang dirinya lakukan terhadap Felly dan kawan-kawan. Kenapa dia nekat berbuat begitu demi Lova?
"Tuan Jade," panggil Lova. Berhasil membuyarkan segala lamunan Jaden.
"Kenapa?" tanggap Jaden sembari duduk tegak.
"Bisakah kau sesekali membiarkanku pergi meninggalkan Eden Night. Aku juga ingin menghirup udara Axenia di siang hari," ungkap Lova.
"Bagaimana aku bisa membiarkan? Kalau kau selalu berusaha keras untuk melarikan diri," sahut Jaden.
"Aku..." Lova urung berucap saat menyaksikan kedatangan Nathan. Ia dapat melihat lelaki itu datang dari kejauhan.
Lova langsung berdiri. Ia tersenyum dan segera mendapat pelukan dari Nathan.
Jaden yang melihat, reflek membuang muka. Dia selalu kesal melihat kemesraan Lova dan Nathan.
"Syukurlah kau tidak apa-apa. Tapi kenapa kau di luar kamar? Apa dokter sudah memperbolehkanmu pulang?" tanya Nathan dengan raut wajah cemas.
"Tuan Jade tadi memaksaku keluar. Jadi ikut saja," kilah Lova.
"Hei! Apa-apaan! Kau sendiri yang keluar dari kamar!" protes Jaden. Tidak terima dirinya disalahkan. Kopi yang ada digelasnya segera diminum sampai tandas.
Lova dan Nathan mengabaikan. Keduanya kembali saling menatap. Bersamaan dengan itu, Nathan mendapat telepon dari istana.
Mata Nathan membulat ketika menerima kabar buruk. Dia mendapat kabar kalau Raja Renald sudah meninggal.
__ADS_1
Nathan tampak sangat syok. Dia bergegas kembali ke istana. Sebelum itu, Nathan tidak lupa memberitahukan semuanya kepada Lova.
"Aku janji akan kembali menemuimu!" ujar Nathan. Dia segera memberikan ciuman dalam ke bibir Lova. Gadis itu tentu tidak menolak. Lova bahkan memejamkan mata sembari mengalungkan tangan ke leher Nathan.
Jaden yang sejak tadi merengut, semakin cemberut. Dia hanya bisa melipat tangan ke depan dada. Menghela nafasnya berkali-kali.
Puas mencium Lova, Nathan berbisik, "Lusa nanti aku akan mengirimkan orang untuk membawamu pergi dari Eden Night. Beriaplah! Oke?"
Lova mengangguk. Dia membiarkan Nathan beranjak sambil di iringi dua pengawalnya.
"Kau sepertinya sudah sehat. Kita sebaiknya kembali ke Eden Night," cetus Jaden seraya bangkit dari tempat duduk.
Lova membisu. Dia melayangkan tatapan malas ke arah Jaden. Sebenarnya Lova sudah muak mendengar nama Eden Night. Apalagi harus kembali lagi ke tempat itu.
...****************...
Saat tiba di Eden Night, Madam Jessy menyambut Lova dengan pelukan. Dia sudah menyiapkan makanan lezat untuk Lova.
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Lova sayang... Kau tidak tahu betapa cemasnya aku dan Jade," ujar Madam Jessy sembari menampakkan mimik wajah sedih yang dibuat-buat.
Lova menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian mengeluarkannya dari mulut. Dia akan menikmati sajian yang sudah disipakan Madam Jessy. Kebetulan juga gadis itu merasa cukup lapar.
Ketika sibuk menikmati makanan, Lova melihat Madam Jessy dan Jaden berdiskusi. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, Lova dapat mengetahui dari ekspresi mereka yang sangat serius.
Lova menggedikkan bahu. Mencoba tidak peduli.
Madam Jessy dan Jaden mendekat bersamaan. Keduanya duduk di meja yang sama dengan Lova.
"Ada apa? Kalian sepertinya ingin membicarakan hal serius," ujar Lova. Mengernyitkan kening.
"Ya, ini cukup serius. Karena ada anggota kerajaan baru yang menginginkan jasamu," ungkap Madam Jessy.
"Maksudmu selain Pangeran Nathan?" Lova memastikan.
__ADS_1
"Benar. Dia tidak lain adalah Pangeran Titan. Malam ini dia sudah membuat jadwal dengan Madam Jessy," jelas Jaden.
Lova berpikir sejenak. Ia merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuat alibi mengenai Titan. Mengingat lekaki itulah antogonis dalam cerita. Setidaknya menurut Lova yang baru membaca setengah halaman buku.
"Bukankah itu aneh? Padahal ayahnya baru saja meninggal. Istana juga mendapat serangan tempo hari. Tapi kenapa dia malah datang ke sini?" kata Lova. Dia berharap Jaden dan Madam Jessy akan mencurigai keterlibatan Titan terhadap rencana pembunuhan Nathan.
"Menurutku itu hal yang wajar. Kebanyakan orang akan datang ke Eden Night karena memiliki permasalahan hidup yang berat. Mungkin Pangeran Titan butuh hiburan sejenak. Dan dari semua foto wanita yang kutunjukkan, dia berakhir memilihmu." Madam Jessy mengarahkan jari telunjuk kepada Lova.
"Ini menyusahkan sekali," keluh Lova.
"Sebenarnya aku setuju dengan pemikiran Lova. Kedatangan Titan ke sini memang cukup aneh. Mungkin saja dia tahu kalau Lova merupakan wanita yang dekat dengan Nathan," sergah Jaden. Untuk pertama kalinya dia sependapat dengan Lova.
"Tuan Jade! Apa yang terjadi pada kepalamu? Sampai akhirnya kita bisa sependapat untuk kali pertama?" tukas Lova antusias. Dia menepuk keras pundak Jaden. Bertingkah seperti teman yang sangat akrab.
Jaden menarik sudut bibirnya ke atas. "Kau harusnya khawatirkan dirimu. Kemungkinan hidupmu sedang terancam, Lova. Karena kau merupakan wanita yang menjalin hubungan rahasia dengan Pangeran Nathan," balasnya. Membuat Madam Jessy terperangah.
"Apa maksudmu? Apa Lova dan Pangeran Nathan..." Madam Jessy mencoba menebak. Jaden lantas menjawab dengan anggukan. Seakan mengerti dengan hal yang akan ditanyakan Madam Jessy.
"Tidak mungkin. Kau harusnya sadar diri, Lova! Menjijikkan," komentar Madam Jessy. Menatap sinis Lova.
Lova hanya memutar bola mata malas. Dia sedang tidak berminat untuk berdebat. Terutama dengan Madam Jessy.
"Lova, kau harus berhati-hati saat bersama Pangeran Titan nanti. Aku akan menyimpan ponsel ke lemari kamar mandi sebagai bantuan. Kalau terjadi apa-apa, hubungi aku!" saran Jaden yang direspon Lova dengan anggukan kepala.
Kini hanya tinggal menunggu waktu. Lova baru memasuk kamar khusus untuk menunggu Titan. Karena bosan, Lova iseng memeriksa lemari kamar mandi. Memastikan kebenaran dari janji Jaden.
Benar saja, ada sebuah ponsel di lemari. Lova otomatis mengukir senyuman.
"Jujur, aku masih bingung dengan keberpihakan Tuan Jade. Dia itu baik atau jahat? Sifatnya sangat sulit ditebak," gumam Lova.
Tak lama kemudian Titan datang. Lova lantas keluar dari kamar mandi.
Titan menyambut Lova dengan senyuman serta uluran tangan. Keduanya saling bersalaman sejenak.
__ADS_1
"Kau mau minum, Yang Mulia?" tawar Lova seraya berjalan lebih dulu ke dekat meja.
"Beritahu aku. Sedekat apa dirimu dengan Nathan?" tanya Titan. Membuat Lova tidak jadi menuang bir ke dalam gelas. Gadis tersebut menatap Titan.