Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 9 - Tidak Bisa Membuang Waktu


__ADS_3

...༻⑅༺...


"Kami hanya pergi sebentar, Madam..." ujar Lova. Berusaha meyakinkan. Sebenarnya kalau bisa, dia berharap bisa sekalian melarikan diri.


"Sekali tidak, tetap tidak." Madam Jessy menegaskan.


Nathan perlahan menatap ke arah Lova. Dia mengusulkan agar pergi lain kali saja.


"Tidak! Aku tidak mau menunggu!" tolak Lova sembari menghentakkan salah satu kaki ke lantai. Semua orang terkejut akan sikapnya terhadap Nathan.


"Lova!" tegur Madam Jessy dengan dahi berkerut. Menurutnya wanita PSK seperti Lova tidak pantas bersikap begitu kepada anggota kerajaan.


"Tidak apa-apa, Madam..." Nathan sama sekali tidak marah. Dia justru menyukai sikap Lova yang sekarang.


Mendengar adanya perdebatan, Jaden mendekat. Kedatangannya membuat semua orang terdiam. Bahkan Nathan sendiri.


"Kalian bisa pergi. Tapi dengan satu syarat. Aku akan ikut bersama kalian," imbuh Jaden. Membuat Lova terperangah tak percaya. Gagal sudah rencana gadis itu untuk melarikan diri.


"Tapi--" ucapan Lova terhenti saat Jaden mengangkat tangan ke depan wajahnya. Bahasa tubuh itu seolah memang menyuruh Lova diam.


"Jika menolak. Maka sebaiknya jangan pergi," ujar Jaden.


Lova mendengus kasar. Dia tidak punya pilihan lain selain setuju. Lagi pula dirinya sudah terlanjur mengajak Nathan pergi.


Nathan tersenyum menyaksikan raut wajah Lova. Ia segera merangkul gadis itu. "Tidak apa-apa. Aku tahu kau ingin menghirup udara segar keluar. Kita bisa bicarakan masalahku nanti," ucapnya.


Lova lantas menganggukkan kepala. Ia dan Nathan melangkah bersama menuju pintu keluar. Di iringi oleh Jaden dari belakang.


Karena sudah di izinkan, Lova melangkah keluar dari Eden Night. Dia segera dipersilahkan masuk ke mobil mewah milik Nathan. Lova dan lelaki itu duduk bersama di kursi belakang. Sedangkan Jaden duduk di depan bersama pengawal yang menyetir.


Dari belakang mobil Nathan terdapat satu buah mobil lagi. Mobil itu di isi oleh pengawal istana yang khusus mengawal kemanapun Nathan pergi.


"Kalian nikmati saja waktu kalian. Anggap saja aku tidak ada," imbuh Jaden tanpa menoleh ke belakang.


Lova menggedikkan bahu. Dia menoleh pada Nathan dan berucap, "Apa kau mendengar ada yang bicara?"


Nathan terkekeh melihat tingkah Lova. Tangannya perlahan mengaitkan helaian rambut panjang Lova ke daun telinga.


"Kenapa sekarang kau sangat menggemaskan, Lova? Kau lebih ceria dibanding hari-hari sebelumnya. Kau membuatku semakin merasa betah disisimu," desis Nathan dengan nada sensual.

__ADS_1


Deg!


Entah kenapa jantung Lova berdegub kencang. Terutama saat wajah Nathan yang sudah begitu dekat dengan ceruk lehernya. Nafas pria itu menghantam seluruh kulit leher Lova. Membuat darah disekujur badannya berdesir hebat.


Lova reflek beringsut mundur. Dia benar-benar merasa aneh terhadap apa yang dirinya rasakan tadi.


"Ma-maaf. A-aku..." Lova linglung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.


Nathan hanya memicingkan mata. Dahinya berkerut heran. Hal serupa juga dilakukan Jaden. Lelaki tersebut dapat menyaksikan gelagat Lova melalui kaca spion.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Nathan.


"Aku rasa begitu. Mu-mungkin ini karena aku merasa lapar. Ya, aku pikir begitu..." Lova memberikan alasan sekenanya. Dia berusaha menyembunyikan mimik wajah gugupnya.


"Kalau begitu biarkan aku membawamu ke restoran yang bagus. Aku yakin kau belum pernah merasakan makanan mewah," ajak Nathan. Dia mengabaikan sikap aneh Lova. Lalu memerintahkan sopir untuk pergi ke restoran.


Lova tersenyum kecut. Dia sebenarnya sudah sering memakan makanan mewah. Terutama saat berada di kehidupannya dulu. Tepat ketika dirinya belum memasuki dunia novel sekarang.


...****************...


Mobil sudah sampai ke tempat tujuan. Nathan dan Lova segera turun bersama. Keduanya berjalan berdampingan. Sedangkan di belakang mereka ada Jaden dan beberapa pengawal Nathan.


"Apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?" tanya Lova.


"Ini sudah malam. Lagi pula restoran ini terkenal dengan ketelatenannya menjaga privasi pelanggan," jawab Nathan yang terus menuntun Lova masuk ke restoran.


"Sepertinya kau sering ke sini," tanggap Lova.


"Ya, memang. Kalau aku ingin makan dengan tenang, aku pasti ke sini. Restoran ini memang sering didatangi para anggota kerajaan dan orang terkenal," jelas Nathan.


Selagi Lova dan Nathan asyik mengobrol, Jaden sibuk memindai suasana sekitar. Atensinya harus tertuju ke arah sosok tidak asing yang berdiri di depan meja kasir.


Mata Jaden membola. Bagaimana tidak? Sosok yang dilihatnya merupakan Pangeran Titan. Kakak lelaki dari Nathan. Keberadaan Lova dan Nathan sekarang tidak seharusnya dilihat oleh siapaun.


Jaden segera memberitahukan pengawal Nathan mengenai kehadiran Titan. Sementara dirinya akan membawa Lova kembali ke Eden Night.


"Yang Mulia! Aku mohon maaf sebelumnya, tapi aku harus membawa Lova kembali ke Eden Night sekarang!" ujar Jaden yang sudah memegangi salah satu pergelangan tangan Lova.


"Kenapa? Apa maksud--" perkataan Nathan terjeda saat Jaden sigap menunjukkan posisi dimana Titan berada.

__ADS_1


Nathan terdiam seribu bahasa. Dia langsung menyuruh Jaden pergi untuk membawa Lova. Alhasil Jaden menyeret Lova berlari meninggalkan restoran.


"Mr. J! Kenapa kita berlari? Kau tidak lihat aku sedang mengenakan sepatu hak tinggi?!" protes Lova dengan kening yang mengernyit sebal.


"Kita harus pergi. Sebelum..." Jaden tidak menyelesaikan kalimatnya karena berhasil melihat dua orang yang berlari ke arahnya dan Lova. "Sial!" umpat Jaden sembari kembali menarik Lova untuk berlari.


"Hei!" pekikan Lova merupakan keluhan besar. Dia benar-benar kesulitan berlari. "Setidaknya biarkan aku melepas sepatuku lebih dahulu!" cetusnya dengan nada cukup lantang. Tetapi Jaden terus membawanya berlari memasuki jalanan trotoar.


Sambil berlari, Lova berusaha keras melepas sepatunya. Hingga salah satu sepatu berhasil terpelas. Namun larinya malah semakin sulit. Sebab tinggi pijakan kaki kiri dan kanan jadi berbeda drastis.


"Mr. J!!! Bisakah kita berhenti?!" seru Lova.


Jaden berhenti sejenak. Dia berdecak kesal. Lalu membawa Lova memasuki sebuah toko.


Bersamaan dengan itu, dua lelaki yang mengejar Lova dan Jaden berhenti. Sebab mereka berhasil menemukan sepatu Lova yang tertinggal.


"Lihat! Bukankah ini sepatu wanita yang kita kejar tadi?" ujar salah satu lelaki yang tadi mengejar Lova. Temannya segera mengangguk. Kini mereka kembali melakukan pengejaran. Keduanya terus berlari melewati toko yang dimasuki Lova dan Jaden.


Melihat orang yang mengejarnya pergi, Jaden keluar dari tempat persembunyian. Kebetulan dia dan Lova berlindung dibalik jejeran baju yang menggantung.


"Ngomong-ngomong, kenapa mereka mengejar kita?" tanya Lova penasaran. Menatap tajam Jaden dengan ujung matanya.


"Karena kau tadi terlihat menggandeng mesra Pangeran Nathan!" jawab Jaden dengan semerawut wajah yang tampak marah. Dahinya berkerut dalam.


"Pangeran sendiri yang menyuruhku untuk menggandengnya!" sahut Lova sembari melangkah mundur. Ia mencoba menghindari Jaden yang terasa begitu mengancam.


"Aku tahu. Tapi harusnya kau lebih berhati-hati. Jika ingin melakukan itu, lihat keadaan sekitar terlebih dahulu. Kau harus begitu karena pelanggan yang kau layani bukanlah orang sembarangan! Dia adalah anggota kerajaan!" tukas Jaden terkesan seperti mengomel.


"Kata Pangeran restoran itu tempat yang aman." Lova menciut.


Jaden memutar bola mata jengah. Dia menarik bahu Lova. Hingga gadis itu berdiri lebih dekat di hadapannya.


"Dengar! Jika identitas kita ketahuan oleh orang-orang kerajaan, maka matilah kita. Kau harus tahu bahwa kegiatan rutin Pangeran Nathan mendatangi Eden Night jelas melanggar peraturan kerajaan."


"Jadi itulah alasan Pangeran menyuruhku segera pergi?" Lova menyimpulkan. Dia mendapat jawaban dari Jaden dengan anggukan kepala. "Kasihan Pangeran Nathan. Dia pasti kesulitan untuk hidup bebas," lanjutnya berkomentar. Ia melepas sepatu haknya yang hilang sebelah.


Jaden tak peduli. Dia mencengkeram tangan Lova dengan erat. Lalu mengajaknya pergi. Jaden tentu akan membawa Lova kembali ke Eden Night.


Di perjalanan menuju Eden Night, Lova memikirkan perihal Nathan. Dia ingat kalau orang-orang yang membunuh Nathan adalah suruhan Titan.

__ADS_1


'Aku yakin orang-orang yang mengejarku tadi adalah anak buah Pangeran Titan. Bukankah itu berarti waktu kematian Nathan akan dekat. Aku harap mereka tidak mengetahui siapa aku. Mungkin yang terbaik adalah bersembunyi,' batin Lova menduga. Dia masih memegangi sepatu haknya yang tinggal sebelah. Membiarkan kedua kakinya berpijak tanpa alas.


__ADS_2