Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 28 - Kepercayaan Pangeran Nathan


__ADS_3

...༻⑅༺...


Jaden mematung saat merasakan dekapan Lova. Entah kenapa dia merasa sedikit salah tingkah. Mengingat Lova tidak pernah menyentuhnya lebih dulu.


Berbeda dengan Lova. Dia meringiskan wajah. Karena bau badan Jaden kurang mengenakkan. Lova mencium sedikit bau anyir serta busuk dari badan lelaki itu.


'Apa pekerjaan Tuan Jade di luar sana sibuk mengais tempat sampah? Rasanya aku ingin berpindah memeluk Pangeran Nathan saja,' batin Lova mengeluh. Dia perlahan melepas pelukan dan menatap Jaden.


"Ayo kita lakukan! Aku sudah menunggumu sejak tadi," ujar Lova.


Jaden mengerutkan dahi. Meskipun begitu, dia tidak langsung menanggapi ucapan Lova. Dirinya mencoba memahami rencana gadis itu terlebih dahulu.


Sementara Lova, dia sengaja berbicara lewat gerakan mata. Gadis tersebut mencoba mengarahkan bola matanya ke arah Nathan. Saat itulah Jaden mengerti dengan rencana Lova. Apalagi kalau bukan untuk mengusir Nathan secara halus.


Jaden tahu, Lova bermaksud ingin membuat Nathan cemburu. Dengan begitu, Nathan akan sakit hati dan pergi dari Eden Night. Orang cerdik seperti Jaden tidak butuh waktu lama untuk membuat perkiraan.


"Ah, tentu saja. Kali ini aku ingin kau yang memimpin," ujar Jaden sembari merangkul Lova. Dia segera membawa gadis tersebut beranjak dari balkon.


Nathan mengepalkan tinju. Dia bergegas mencegat kepergian Jaden dan Lova.


Tidak perlu basa-basi, Nathan yang marah langsung menarik Jaden. Lalu mencengkeram kerah baju lelaki tersebut.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Lova!" tegas Nathan. Dia memojokkan Jaden ke dinding. Matanya menyalang penuh amarah.


"Pangeran! Hentikan!" Lova mendekat. Ia melepaskan cengkeraman Nathan dari kerah baju Jaden.


"Lova! Kau kenapa jadi begini?! Apa kepalamu terbentur lagi?!" timpal Nathan. Merasa tak percaya.


"Kau melupakan satu hal tentangku, Yang Mulia! Aku ini seorang pela-cur! Aku tidak hanya pernah bercinta denganmu! Aku sudah ditiduri oleh banyak lelaki!" sahut Lova. Dia menoleh ke arah Jaden dan meneruskan, "Asal kau tahu! Aku bahkan sudah beberapa kali tidur dengan Tuan Jade."


"Lova! Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kau berucap begitu karena berusaha menyelamatkanku. Aku berani bersumpah, Lova. Aku siap menanggung malu demi bisa memperjuangkan cinta kita!" balas Nathan.


Lova terkesiap. Gadis mana yang tidak akan tersentuh mendengar pernyataan begitu dari seorang lelaki. Apalagi dari Pangeran tampan yang sebentar lagi akan menjadi raja.

__ADS_1


"Omong kosong. Cacian dari banyak orang akan melumpuhkan mentalmu, Yang Mulia. Dan mental mampu membunuh jiwa dan raga manusia." Jaden angkat suara. Dia merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan. Kemudian meraih salah satu tangan Lova.


"Ayo kita ke kamar sekarang!" ajak Jaden. Dia dan Lova beranjak meninggalkan Nathan.


"Kalian pikir aku percaya?!" seru Nathan sembari mengulurkan dua tangan ke depan. Tanpa diduga dia mengikuti Jaden dan Lova. Seorang pangeran sepertinya tentu tidak akan mudah tertipu. Mengingat Nathan sudah begitu mengenal Lova dari luar dan dalam. Ia yakin gadis itu pasti sengaja berbohong.


Lova berjalan dengan perasaan kalut. Langkahnya mengiringi pergerakan Jaden yang menuntun berjalan ke depan.


"Sial! Pangeran mengikuti kita!" ujar Jaden. Dia baru saja menyempatkan diri menoleh ke belakang.


"Benarkah?" Lova semakin gelisah. Terlihat jelas dari dahinya yang berkerut dalam. Ia lantas mencari cara agar kebohongannya tidak diketahui.


"Cium aku, Tuan Jade! Tepat sebelum kita masuk ke kamar!" perintah Lova.


"Ah... Itu pekerjaan yang mudah," tanggap Jaden tanpa menatap ke belakang.


Ketika sudah tiba di depan pintu kamar, Jaden segera melu-mat bibir Lova. Ia melakukannya tepat di hadapan Nathan yang sejak tadi mengikuti.


Nathan yang melihat, merasa patah hati. Dia membeku di tempat. Dalam keadaan mata yang bergetar. Sungguh, Nathan sangat sakit hati menyaksikan Lova yang begitu mudahnya menerima sentuhan Jaden.


Walaupun begitu, Nathan memutuskan tidak beranjak pergi. Ia masih berharap apa yang dilihatnya adalah sandiwara. Namun harapannya harus menciut, saat melihat Jaden dan Lova masuk ke dalam kamar.


Seakan harapannya belum habis, Nathan berdiri ke depan pintu kamar dimana Jaden dan Lova berada. Ia masih berusaha memastikan sesuatu.


Di dalam kamar, Lova dan Jaden masih berciuman. Jaden yang terlalu terbuai akan kenikmatan, masih tidak rela melepaskan Lova.


Tangan Lova perlahan mendorong dada Jaden. Dia berucap, "Mungkin sudah cukup!"


"Tidak bagiku..." tanggap Jaden. Dia mendorong Lova hingga jatuh ke atas ranjang. Lalu melepas pakaian atasannya.


"Maaf, Lova. Aku sudah tidak tahan. Ditambah kau sangat mempesona hari ini," ucap Jaden.


"Tapi aku..." Lova tidak bisa lanjut berkata saat Jaden sudah menyumpal bibirnya dengan ciuman. Lelaki itu memegang erat tangan Lova. Kaki Jaden bahkan sengaja menindih dua kaki Lova. Sehingga gadis tersebut dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Mmphh!!!" Lova berupaya keras melakukan perlawanan. Akan tetapi tidak bisa. Jaden memegangi tangannya sampai menimbulkan memar.


Lama-kelamaan sentuhan Jaden menggila. Jujur saja, Lova menyesali apa yang dia lakukan tadi. Dirinya menyesal sudah membuat Jaden bekerjasama. Sekarang gadis itu harus menanggung akibatnya. Singa yang sudah lama tertidur, telah dibangunkan olehnya.


Jaden meliarkan cumbuannya ke leher serta dada Lova. Nafasnya sudah mulai menderu-deru.


"Tuan Jade... Hentikan... Jika kau melakukannya, aku tidak akan mempercayaimu lagi... Hiks..." mohon Lova sambil bercucuran air mata. Penderitannya akan tambah pahit jika harus melakukan hubungan intim dengan Jaden.


Suara tangisan Lova membuat Jaden tersadar. Lelaki itu segera melepaskan Lova. Matanya membulat tatkala menyaksikan pergelangan tangan Lova sudah membiru karena ulah dirinya.


Jaden terdiam. Dia bergegas mengenakan pakaian.


Sementara itu, Lova buru-buru merapikan rambut dan pakaian. Dia mengusap air mata yang membanjiri pipi.


"Kau memang orang yang kejam. Aku yakin tidak akan ada wanita yang tahan dengan sikapmu ini," tukas Lova. "Dan satu hal lagi, badanmu sangat bau!" tambahnya. Dia segera pergi dari kamar. Meninggalkan Jaden yang termangu tanpa kata.


Jaden masuk ke kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Perkataan Lova tadi sangat menghujam hatinya.


"Aaargghhh!!! Apa yang kupikirkan? Kenapa aku terus memikirkan wanita murahan itu?!" gumam Jaden. Mengomeli dirinya sendiri. Ia lantas mengambil ponsel. Lalu menghubungi Madam Jessy.


"Ada apa, Jade?" tanya Madam Jessy dari seberang telepon.


"Suruh lima wanita untuk melayaniku di bathup VIP! Dan sediakan sabun dan alkohol yang banyak!" titah Jaden.


"Apa kita akan mendapat pelanggan yang banyak malam ini?" tanggap Madam Jessy antusias.


"Tidak! Itu semua untukku!" ujar Jaden. Dia memang selalu begitu saat sedang merasa stress. Bersenang-senang adalah pelarian Jaden.


Di waktu yang sama, Nathan tengah dalam perjalanan pulang menuju istana. Ia terpaku menatap keluar jendela mobil. Memikirkan apa yang dilakukan Lova tadi.


Senyuman mengembang di wajah Nathan. "Aku tahu kau berbohong, Lova..." lirihnya. Kebetulan Nathan mendengar interaksi Jaden dan Lova saat di dalam kamar. Dia tahu kalau Jaden dan Lova hanya berpura-pura. Nathan memilih pulang karena dirinya merasa tidak bisa memaksa Lova.


"Aku akan temukan cara agar bisa membuatmu bersedia jadi ratuku." Nathan bertekad. Dia selalu percaya Lova bukanlah wanita hina. Gadis tersebut justru sangat spesial dimatanya.

__ADS_1


__ADS_2