
...༻⑅༺...
Ketika masuk ke kamar, Lova melihat Nathan sudah menunggu. Lelaki tampan itu langsung tersenyum. Lesung pipit yang manis seketika menghiasi kedua pipinya.
"Ada apa, Yang Mulia? Bukankah malam ini bukan jadwal kedatanganmu?" tanya Lova sembari duduk ke sebelah Nathan.
"Memang benar. Tapi ada sesuatu hal yang membuatku terdorong untuk datang ke sini," jawab Nathan. Mencondongkan wajahnya lebih dekat.
"Apa? Apakah ada sesuatu hal penting yang harus kau urus?" Lova penasaran. Namun Nathan malah memancarkan tatapan lekat dari sorot mata birunya.
"Tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu," ungkap Nathan. Membuat dahi Lova berkerut samar.
"Kau ingin bertemu denganku karena ingin melakukan..." Lova mengira kedatangan Nathan berkaitan dengan gairahnya. Akan tetapi Nathan lekas menggelengkan kepala.
Walau bingung dengan tujuan Nathan, namun Lova merasa lega. Sebab dia yakin dirinya tidak akan dipaksa seperti saat bersama Jaden tadi.
"Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku terus memikirkanmu, Lova..." Nathan bicara dengan serius. Ia memegang lembut pundak Lova.
Deg!
Jantung Lova berdegub kencang. Dia tidak tahu harus bagaimana. Lova hanya melebarkan kelopak mata dan membeku. Membiarkan Nathan terus bicara.
"Itulah alasan kenapa aku hanya mencarimu ke sini. Memang awalnya hanya main-main dan sekedar pelarian. Tapi setelah bicara lebih banyak denganmu, ternyata perasaanku mengakui bahwa kau adalah sesuatu yang istimewa." Nathan terdiam sejenak. Lalu meneruskan, "kau harus tahu betapa keras aku menyangkal perasaanku. Tapi semuanya berakhir mengantarkanku ke sini. Aku jatuh cinta kepadamu, Lova. Aku tahu perasaan ini tidak benar. Tapi aku tidak bisa membantahnya lagi."
Mendengar pernyataan Nathan, Lova semakin terkejut. Jantungnya berdebam keras. Dia tentu diserang rasa bingung.
Selain itu, Lova juga merasa segalanya terlalu cepat. Tetapi setelah dipikir-pikir, siklus cerita dalam dunia novel Puteri dan Tiga Pangeran Axenia memang begitu.
Nathan memang diketahui berhubungan sangat dekat dengan karakter Lova. Itulah alasan kenapa Lova difitnah membunuh Nathan. Sebab dia merupakan orang yang bertemu dengan lelaki itu sebelum pembunuhan terjadi.
__ADS_1
Tetapi dari cerita itu, Lova sama sekali tidak mengetahui kalau Nathan akan jatuh cinta. Karena di dalam novel sama sekali tidak ada dituliskan hal tersebut. Nathan justru diceritakan mencintai Puteri Alana.
Di novel Nathan dikisahkan sakit hati dan melakukan pelarian ke tempat hiburan Eden Night. Setahu Lova, Nathan sakit hati karena dia selalu diremehkan dua saudaranya. Tetapi sekarang? Lova merasa ada sesuatu yang berubah.
'Apakah semuanya berubah karena aku?' benak Lova bertanya-tanya. Dia yang sempat kaget terhadap ungkapan cinta Nathan, sekarang tenggelam memikirkan alur cerita.
"Lova? Kau mendengarkan bukan?" tegur Nathan yang menyaksikan Lova tampak teralihkan.
Lova langsung menatap Nathan. Dia tersenyum canggung. "A-aku tidak tahu harus bagaimana. Semuanya terasa tiba-tiba. Terlebih aku hanya wanita hina yang tak pantas menerima cintamu," ucapnya sembari menggeleng.
Kening Nathan mengernyit. Ia memegangi pundak Lova dengan erat. "Aku tidak peduli. Tapi jika ini sangat tiba-tiba bagimu, maka aku akan memberi waktu," ujarnya bersungguh-sungguh.
"Bagaimana kalau kau minum dahulu." Lova menuangkan alkohol ke dalam gelas Nathan. Sengaja merubah topik pembicaraan. "Aku akan ke toilet sebentar," lanjutnya. Pamit sebentar ke kamar mandi. Lokasi itu memang satu-satunya tempat yang bisa membuat Lova berpikir.
...***...
"Sadarlah, Lova! Ini dunia novel! Kemungkinan kau untuk bisa kembali pulang pasti ada. Lalu Pangeran Nathan? Dia hanyalah karakter fiksi yang tidak bisa kau miliki. Aku tidak boleh punya perasaan kepadanya," gumam Lova seraya menepuk pipi secara bergantian.
Lova berpikir seperti biasa. Mencoba menemukan keputusan yang tepat. Dia tahu misinya sekarang adalah merubah alur cerita. Lampu hijau memang sudah terlihat di depan mata. Termasuk pernyataan cinta Nathan kepadanya. Namun apakah itu mampu menyelamatkan Lova dan Nathan dari kematian?
Setelah cukup lama berpikir, Lova akhirnya menemukan sesuatu dalam otaknya.
"Ah benar!" Lova menjentikkan jarinya karena merasa sudah menemukan ide cemerlang. 'Jika aku tidak mau Pangeran Nathan dibunuh, bukankah yang harus aku lakukan adalah menjauhinya? Kalau begitu, sebaiknya aku tolak saja cintanya. Dengan begitu Pangeran Nathan tidak akan terbunuh. Karakter yang kumainkan bahkan akan lepas dari fitnah,' pikirnya. Lova segera keluar dari kamar mandi. Kembali duduk ke sisi Nathan. Lelaki tersebut lagi-lagi tersenyum manis. Tetapi Lova tidak hirau, dia sudah bulat dengan keputusannya.
"Pangeran... Sepertinya aku tidak butuh waktu lama untuk memberi jawaban," imbuh Lova.
"Benarkah?" Nathan membulatkan mata. Dia siap mendengar jawaban Lova.
"Aku minta maaf sebelumnya. Tapi aku tidak memiliki perasaan yang sama seperti Pangeran. Apa yang aku lakukan kepadamu selama ini hanyalah karena kewajiban. Kau tahu pekerjaanku adalah sebagai wanita penghibur," ujar Lova menjelaskan.
__ADS_1
Nathan memasang raut wajah datar. Dia membisu dalam sesaat. Tak lama kemudian senyuman mengembang diwajahnya.
"Kau pikir aku tidak siap dengan penolakanmu?" cetus Nathan. "Aku ingin mengatakan kalau aku tidak akan menyerah. Aku sudah berjanji, jika kau menolak cintaku, maka aku akan semakin sering datang ke sini. Dan satu hal lagi. Aku akan membantumu lepas dari Eden Night!" sambungnya.
Lova terkesiap. Dia tidak menduga Nathan akan berucap begitu. Maka sia-sia penolakan yang dilakukannya jika Nathan akan terus datang. Lelaki itu bahkan berniat akan datang lebih sering dari sebelumnya.
'Ini gila! Benar-benar gila. Apa semua karakter di novel ini ambisius semua? Jika begitu, kenapa Pangeran Nathan tidak memperjuangkan cintanya kepada Puteri Alana? Kenapa dia malah mengharapkanku?' batin Lova terheran. 'Eh, tapi tunggu! Apa dia bilang akan membantuku lepas dari Eden Night? Bisakah itu terjadi?' lanjutnya yang kembali bergumam dalam hati.
"Kau bisa membantuku pergi dari sini?" Lova memastikan.
"Aku akan mencoba meski itu tidak mudah. Kau tahu sendiri bagaimana sulitnya menghadapi Jaden dan Madam Jessy," sahut Nathan. "Kenapa? Apa tempat ini membuatmu tersiksa?" tanya-nya meneruskan.
"Sangat!" jawab Lova.
"Aku tahu, tidak mudah melayani banyak pria dari berbagai kalangan," komentar Nathan. Dia membelai lembut puncak kepala Lova. "Jika kau butuh bantuan, katakan saja kepadaku."
Lova tersenyum. Dia tiba-tiba terpikir tentang sesuatu. Yaitu terkait obat tidur yang tidak kunjung dimilikinya. Lova tidak bisa terus menjadikan alkohol untuk mengelabui para pelanggannya.
Karena merasa mempercayai Nathan, Lova mengatakan apa yang sudah dilakukannya. Termasuk kepada Nathan sendiri. Dia mengaku pernah sengaja membuat Nathan mabuk agar tubuhnya tidak disentuh.
"Pantas saja aku merasa ada yang aneh. Ternyata selama ini kau membohongiku?" tanggap Nathan. Ia sama sekali tidak marah. Nathan justru terkekeh. Dia dan Lova terbuai untuk saling bercerita. Bahkan tidak terasa waktu Nathan telah habis.
Nathan terpaksa pergi. Dia berjanji akan kembali besok malam. Nampaknya lelaki itu benar-benar bertekad akan lebih sering menemui Lova.
Usai melepas kepergian Nathan, Lova langsung ditemui oleh Felly dan kawan-kawan. Mereka ternyata sudah lama menunggu Lova.
"Kami menunggumu sejak tadi. Acara permintaan maaf kami harus berlangsung malam ini," ujar Felly. Seakan memaksa Lova untuk ikut.
Lova yang merasa tidak enak, setuju saja. Dia, Felly dan yang lain segera pergi ke atap.
__ADS_1