Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 23 - Bertemu Di Istana


__ADS_3

...༻⑅༺...


Mendengar Lova berbuat keributan, Jaden langsung mendelik. Lalu meletakkan jari telunjuk secara vertikal ke depan bibir.


"Bisakah kau diam? Kenapa kau heboh sekali? Padahal kau sudah beberapa kali melihat buah zakarku," geram Jaden dengan kening yang mengernyit.


"Bu-buah apa?" Lova membulatkan mata. Sebagai Lova yang sekarang, tentu dia belum pernah menyaksikan apa yang disebutkan Jaden.


"Ya." Jaden menatap Lova yang tampak mematung. "Kau akan tetap begitu atau memakai bajumu? Jika tak mau berpakaian, sebaiknya kita bercumbu saja di mobil. Aku sudah tidak tahan melihatnya," tukasnya melanjutkan.


"Tidak!" Lova menolak. Dia bergegas mengenakan pakaian pelayan. Mengabaikan Jaden yang terkesan begitu santai.


Usai mengenakan pakaian pelayan, Ronald segera membawa Lova dan Jaden masuk ke istana. Mereka kebetulan masuk melalui pintu samping.


Lova berhenti sejenak saat menjejakkan kaki di istana. Dia berdecak kagum menyaksikan bagaimana bangunan di dalam istana. Indah akan furniture serta lukisan.


"Lova!" panggil Jaden ketika menyadari Lova sibuk termangu.


Mendengar panggilan Jaden, Lova buru-buru melangkah. Dia berjalan mengekori Ronald dan Jaden.


Lova dan Jaden akan pergi ke dapur terlebih dahulu. Mereka akan ditugaskan membawa hidangan makan malam untuk Nathan.


Semua rencana berjalan mulus karena bantuan pengawal. Kini Lova dan Jaden dalam perjalanan menuju kamar Nathan. Keduanya baru saja tiba di depan pintu.


Lova kembali terkagum menyaksikan kamar Nathan untuk yang pertama kali. Kamar dua pintu tersebut menjulang tinggi dengan ukiran seni yang begitu indah.


Tidak seperti Lova, Jaden beraksi untuk mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh Nathan. Pupil mata lelaki itu membesar saat menyaksikan kehadiran Lova. Tanpa berpikir lama, dia segera mempersilahkan masuk.


Dahi Nathan berkerut ketika melihat Jaden juga ikut masuk. Dia heran kenapa lelaki itu tidak pernah tertinggal.


"Jade. Kau yakin juga ingin ikut berada di sini?" Nathan memastikan.


"Santai saja, Pangeran. Kedatanganku ke sini hanya bermaksud mengantarkan Lova. Kau pikir aku berminat menontoni kalian bermain di ranjang? Aku lebih baik melakukannya sendiri," sahut Jaden.


Nathan bertukar pandang dengan Lova. Keduanya tentu sama-sama sudah paham bagaimana perangai Jaden.


"Karena Lova sudah di sini. Aku akan keluar sekarang. Tapi izinkan aku untuk berkeliling dan melihat-lihat istana," ucap Jaden sembari sedikit membungkukkan badan. Sikapnya lebih ramah dibanding biasanya.

__ADS_1


"Ya, silahkan. Kau bisa meminta bantuan Ronald untuk melihat-lihat," tanggap Nathan. Tersenyum kecut.


"Terima kasih," ungkap Jaden. Bola matanya segera bergerak ke arah Lova. Ia berucap, "Selamat bersenang-senang, Lova. Semoga kau bisa memanfaatkan waktu sebaik diriku."


Lova terpaksa tersenyum dan hanya mengatakan kata iya. Jaden lantas menghilang ditelan oleh pintu.


"Bukankah dia bersikap aneh dari biasanya," imbuh Lova.


"Jaden memang orang yang aneh," sahut Nathan. Ia langsung membawa Lova masuk ke dalam pelukan yang begitu erat.


"Aku merindukanmu..." ungkap Nathan.


"Aku juga. Aku bersyukur kau baik-baik saja malam itu," jawab Lova seraya membalas pelukan Nathan.


"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Ronald dan Julian juga berusaha dengan maksimal untuk menjagaku. Kau tenang saja." Nathan perlahan melepas pelukannya. Menatap dalam manik hazel milik gadis di hadapannya.


Lova tidak kuasa untuk mengalihkan pandangan dari Nathan. Dia senang akhirnya dapat melepas rindu. Entah kenapa atensi Lova terus tertuju ke arah bibir Nathan. Ia berharap bisa mendapat ciuman dari lelaki tersebut. Namun Nathan tidak kunjung melakukannya.


"Yang Mulia, kenapa kau hanya terpaku?" tanya Lova.


"Menurutmu?" tanggap Nathan ambigu. Dia sebenarnya mengharapkan hal yang sama dengan Lova.


Karena Nathan memiliki badan lebih tinggi dari Lova, gadis itu harus berjinjit agar bisa memberikan ciuman. Dengan mata terpejam, Lova mendaratkan kecupannya. Tetapi dia justru merasakan hal yang aneh.


Nathan terdengar terkekeh. Lova lantas membuka mata. Semburat wajah Nathan yang terlihat penuh akan tawa menyambut penglihatan.


"Itu bukan bibirku, Lova. Kau mencium daguku," kata Nathan yang perlahan menghentikan tawa.


"Ah, benarkah?" Lova menggigit bibir bawahnya. Dia tertunduk malu. Tindakan yang menurutnya akan keren malah berujung memalukan.


"Its ok." Nathan menarik Lova untuk mendekat. Lalu memagut bibir gadis itu dengan lembut. Lova tentu tidak menolak. Mengingat dirinya sudah sepenuhnya tertarik akan pesona Nathan.


Ciuman lembut secara alami menjadi penuh gairah. Nathan mengangkat dan membiarkan dua kaki Lova mengunci erat ke pinggulnya. Saat itulah Nathan membawa Lova ke ranjang.


Nafas Lova kian memburu. Dia tidak tahu kenapa tubuhnya menginginkan lebih banyak sentuhan Nathan. Hal tersebut membuat Lova rela melepas seluruh pakaian. Kini dia kembali melihat Nathan yang telanjang bulat.


Lova menenggak salivanya sendiri. Dia berharap adegan selanjutnya bisa dirinya alami. Tetapi ketika menutup dan membuka mata kembali, Nathan terlihat sudah telentang di samping. Lelaki itu tampak sibuk mengatur nafas.

__ADS_1


"Apa kita sudah selesai?" tanya Lova.


"Apa kau ingin lagi?" balas Nathan yang tak kuasa menahan senyum.


Lova terdiam seribu bahasa. Padahal hatinya sangat ingin mengiyakan. Namun dia tahu, meski melakukannya lagi, Lova tetap tidak akan bisa merasakan sentuhan intim Nathan.


'Sial! Aku sepertinya termakan omonganku sendiri,' batin Lova menggerutu.


Nathan segera mengenakan pakaian. Hal serupa juga dilakukan Lova. Setelahnya, mereka telentang sambil berpelukan di ranjang.


Akibat merasa nyaman, Nathan dan Lova tertidur. Keduanya seolah lupa dengan keadaan.


Di tengah malam, Lova mendadak terbangun karena mendengar suara berisik. Dia juga menemukan keadaan tampak gelap. Untung saja pendar cahaya bulan purnama cukup membantu.


Kala menoleh ke arah jendela, mata Lova terbelalak menyaksikan sekolompok orang yang baru masuk melewati jendela. Pakaian mereka terlihat seperti ninja. Dengan wajah yang ditutupi topeng tengkorak.


Tanpa pikir panjang, Lova bergegas membangunkan Nathan. Dia juga mengambil benda terdekat untuk dijadikan senjata perlindungan diri.


Nathan yang baru terbangun, sangat terkejut. Tangannya ditarik oleh Lova untuk beranjak dari ranjang.


Sekelompok orang bertopeng berlari menghampiri Lova dan Nathan. Dua sejoli itu lantas melakukan perlawanan.


Nathan sigap melemparkan sebuah kursi kepada orang yang hampir menghujam pisau ke perutnya. Sedangkan Lova mengambil semua benda di atas nakas untuk dilemparkan.


Merasa memiliki kesempatan untuk kabur, Nathan dan Lova berlari menuju pintu. Tetapi siapa yang menduga? Sebuah tembakan pistol meluncur secara tiba-tiba.


Lova yang kebetulan menoleh ke belakang, sigap mendorong Nathan. Hingga dirinyalah yang harus rela terkena hantaman peluru.


"Lova!" panggil Nathan spontan. Ia segera menggendong Lova. Lalu keluar dari kamar.


Nathan berlari secepat mungkin dan menyempatkan diri menekan tombol darurat. Namun tombol itu tidak berguna karena keadaan listrik di istana sedang mati. Alhasil Nathan memutuskan membawa Lova bersembunyi ke tempat aman terlebih dahulu.


Di sisi lain, Jaden tengah berkeliling di istana sendirian. Seperti yang dia bilang, dirinya tidak pernah melewatkan peluang. Karena sekarang lelaki itu sibuk mencari barang berharga untuk dicuri.


Meski sendirian, Jaden berhasil menemukan emas dan berlian. Dia mengambilnya di atas lemari hias yang ada di lorong istana. Keadaan listrik yang padam bahkan tidak mengganggu aktifitasnya sama sekali. Ia malah merasa terbantu.


Bersamaan dengan itu, Jaden menyaksikan ada dua mobil misterius yang berhenti. Dia dapat melihat dua mobil itu melalui jendela. Perasaan curiga otomatis dirasakan Jaden. Firasatnya semakin kuat saat mendengar bunyi tembakan dari arah kamar Nathan.

__ADS_1


"Lova!" Jaden segera berlari mendatangi kamar Nathan. Entah kenapa dia justru memikirkan keselamatan Lova.


__ADS_2