
...༻⑅༺...
Kini Lova baru saja selesai memeriksa rumah yang akan disewa. Menurutnya tempat tersebut cukup bagus untuk ditinggali.
Entah kenapa ada perasaan janggal dihati Lova. Meski sudah bebas dari Eden Night dan jauh dari Nathan, dia justru merasa kesepian.
Karena merasa ragu, Lova tidak bisa memberi kepastian untuk melakukan penyewaan rumah. Dia kembali ke penginapan dengan langkah gontai.
Lova merebahkan diri ke ranjang. Ternyata menjalani hari dengan kesendirian lebih membosankan dibanding berada di Eden Night. Lova bahkan menyesal sudah menjual kalung pemberian Nathan. Ia merasa menjadi pengkhianat terbesar.
"Kenapa perasaanku jadi begini? Aku merasa bersalah dan juga tidak tega. Terutama kepada Pangeran Nathan. Tapi dia sudah terlanjur melihatku begitu dengan Jaden," gumam Lova. Cairan bening menetes dari sudut matanya. Dia akhirnya memutuskan untuk tidur saja.
Tidak terasa hari telah sore. Bertepatan dengan itu, pintu kamar Lova diketuk. Gadis tersebut otomatis terbangun.
Kening Lova mengernyit. Ia tentu heran dengan orang yang mengetuk pintu. Meskipun begitu, dia membuka pintu secara perlahan.
Mata Lova membulat ketika menyaksikan Jaden di depan mata. Lelaki itu terlihat menunjukkan ekspresi datar.
"Sial!" Lova bergegas menutup pintu. Namun Jaden sigap menghentikan. Hingga aksi perlawanan terjadi. Lova dan Jaden sama-sama berusaha mempertahankan diri.
"Dengarkan aku! Aku punya alasan untuk datang ke sini! Ini mengenai Pangeran Nathan!" imbuh Jaden sembari terus menahan pintu agar tidak ditutup Lova.
"Jangan banyak alasan! Aku tahu kau ke sini untuk menyeretku kembali ke Eden Night!" sahut Lova tak percaya.
"Berita mengenai hubunganmu dan Pangeran Nathan sudah tersebar!" ungkap Jaden. Berhasil membuat Lova berhenti melawan. Gadis itu kembali membelalakkan mata.
"Apa kau bilang?" Lova memastikan.
"Apa kau tidak tahu? Semua orang sekarang sudah tahu kalau Pangeran Nathan memacari seorang wanita PSK!" Jaden memberitahu dengan gamblang.
Lova yang mendengar, merasa kalut. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Gadis itu hanya memancarkan tatapan kosong sebagai makna atas kebingungannya.
Kaki Lova melangkah mundur. Sampai dia terduduk ke tepi ranjang. Lova mengusap kasar wajah cantiknya berkali-kali.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pengesahannya? Apa itu jadi dilakukan?" tanya Lova.
Jaden menggeleng. "Hari pengesahan di undur. Pihak kerajaan sedang berdiskusi untuk membuat keputusan," jawabnya sembari berjalan kian mendekat. Lalu menarik kursi untuk duduk di hadapan Lova.
"Sekarang bagaimana nasib Pangeran Nathan?" ucap Lova yang merasa cemas.
"Dia pasti sedang menunggu." Jaden memberitahu seadanya. Dia tidak tahu cara menenangkan gadis yang bersedih. Jaden memang tidak berpengalaman banyak dalam urusan perasaan.
"Lalu apa tujuanmu datang mencariku ke sini? Dan bagaimana kau bisa temukan aku?" tukas Lova.
"Aku hanya ingin memastikan posisimu saja. Aku tidak akan membawamu kembali ke Eden Night. Mengenai caraku menemukanmu, itu karena instingku sendiri."
"Insting?" Lova menggeleng remeh. "Jangan harap aku akan memujimu," lanjutnya tak mau percaya.
Jaden terkekeh. Dia merindukan tanggapan Lova yang seperti itu.
"Tapi apa perlu kau tinggal di desa yang membosankan ini? Lebih baik kau ikut ke tempat rahasiaku. Di sana aku jamin lebih baik," tawar Jaden seraya melipat tangan di depan dada.
"Tempat rahasia? Apa maksudmu?" Lova menuntut jawaban.
Lova berpikir keras. Dia tentu penasaran dengan tempat yang disebutkan Jaden. Meskipun begitu, Lova masih ingat betul apa yang dilakukan lelaki itu kepadanya tempo hari.
"Aku tidak bisa mempercayaimu, Tuan Jade. Mengingat apa yang kau lakukan saat terakhir kali," ucap Lova ketus.
"Ah itu... Aku minta maaf. Aku benar-benar kehilangan arah. Tapi yang terpenting aku tidak sampai memaksamu melakukan hubungan intim bukan? Aku berjanji tidak akan melakukannya." Jaden berusaha membujuk Lova.
Mata Lova memperhatikan garis-garis wajah keseriusan Jaden. Memang benar lelaki tersebut tidak sampai melakukan hubungan intim. Lova mengakui kalau Jaden tidak seburuk itu. Hanya saja Jaden terlalu sering kehilangan kendali.
"Aku akan pegang janjimu, Tuan Jade. Kumohon jangan sampai hilang kendali lagi. Jika tidak, maka jangan harap aku mau menaruh kepercayaan kepadamu!" tegas Lova sembari mengacungkan jari telunjuk ke wajah Jaden.
"Kau tidak perlu khawatir. Hal seperti kemarin tidak akan terulang," sahut Jaden. Ia bicara sambil sibuk merogoh saku celana. Jaden mengambil sebatang rokok dan pemantik.
"Tempat rahasiamu itu tidak akan membosankan bukan. Beritahu aku," tukas Lova. Sejak awal dia sebenarnya merasa penasaran.
__ADS_1
"Aku jamin seratus persen. Kau akan melihatnya nanti." Jaden terkesan meyakinkan.
Karena hari sudah berganti malam, Jaden dan Lova akan pergi besok pagi. Sebab jadwal kereta di stasiun desa Aster selalu kosong saat malam hari.
Sekarang Lova dan Jaden sedang makan malam di sebuah kedai makanan. Keduanya duduk saling berhadapan.
Perhatian Jaden terus tertuju ke arah Lova yang asyik memakan roti. Entah kenapa dia selalu ingin menatap wajah cantik itu.
Sedangkan Lova sendiri, dia sibuk memusatkan atensinya ke arah televisi. Pupil matanya membesar ketika menemukan berita terbaru kerajaan Axenia.
"Tuan Jade! Pangeran Titan yang akan dipilih jadi raja!" seru Lova sambil berdiri. Kala itu tidak hanya dia yang terkejut, tetapi juga beberapa orang yang ada di kedai makanan.
Jaden terkesan biasa saja mendengar berita tersebut. Dia satu-satunya orang yang masih duduk tenang. Jaden bahkan menyesap kopinya dengan wajah damai. Seolah berita yang ada bukanlah gangguan.
"Kenapa kau tampak santai? Apa kau tidak cemas?!" timpal Lova. Heran akan sikap Jaden.
"Apa yang kucemaskan? Siapapun rajanya, hidupku akan tetap begini. Rajaku itu adalah uang, Lova. Aku tak peduli," jawab Jaden tak acuh.
"Tapi aku memikirkan perasaan Pangeran Nathan sekarang..." lirih Lova yang perlahan duduk kembali.
"Dia akan baik-baik saja dan tetap hidup dengan tenang. Bahkan tanpa dirimu. Aku jamin itu," tanggap Jaden yakin.
"Sebelum pergi ke tempat rahasiamu, izinkan aku bertemu dengan Pangeran Nathan terlebih dahulu!" cetus Lova.
Jaden menatap dengan perasaan tidak suka. Sejak awal dia tidak berniat mempertemukan Lova kembali dengan Nathan. Jaden tidak tahu kenapa. Yang jelas dia ingin Lova berada sejauh mungkin dari Nathan.
"Oke." Jaden setuju saja. Tetapi tidak dengan niatnya. Dia sengaja membohongi Lova.
Benar, Jaden sepertinya sudah menyadari perasaannya terhadap Lova. Dia ingin gadis itu menjadi miliknya sepenuhnya. Bukan untuk dijual, apalagi digilir untuk melayani banyak lelaki hidung belang. Jaden mau Lova menjadi miliknya seorang.
"Lova, apa kau mencuri pistol dari kamarku?" celetuk Jaden sambil menatap curiga.
Mata Lova membola. Dia tersenyum masam sembari menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku melakukannya hanya untuk berjaga-jaga. Kau tenang saja! Aku belum sekali pun menggunakannya hingga datang ke sini!" Lova melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
Jaden terkekeh. Sekali lagi dia merasa gemas menyaksikan tingkah Lova yang begitu polos dan jujur.