Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 37 - Rencana Lova & Jaden


__ADS_3

...༻⑅༺...


Jaden berusaha menemui Titan. Tetapi tidak bisa. Dia juga mendapat kabar bahwa Nathan sedang mengalami koma. Parahnya lelaki itu dalam penjagaan Titan dan Finn. Yang mengartikan bahwa keadaan Nathan bisa terancam.


Karena Titan tidak bersedia menemui, Jaden mencoba menyelinap ke istana. Ia berusaha melihat keadaan Nathan sekaligus menemui Titan.


Sayangnya, penjagaan di istana begitu ketat. Jaden tidak bisa menyusup dengan baik. Jika memang dipaksakan, maka dia otomatis harus menggunakan kekerasan.


Jaden mendengus kasar. Dia tidak punya pilihan lain selain menyerang pengawal yang berjaga. Jaden melakukannya secara diam-diam. Hingga tidak ada orang yang menyadari.


Sampailah Jaden ke ruangan Titan. Dia mendorong kamar dua pintu dengan sekali tendangan. Titan terlihat santai dalam balutan jubah sutra keemasan. Ia menggenggam gelas berisi wine. Sedangkan di ranjang ada Alana yang tampak memasang raut wajah sendu.


"Kau! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!" timpal Titan dengan keadaan mata yang melotot.


Jaden sama sekali tidak takut. Dia melangkah maju menghampiri Titan.


"Kau bukan, yang membuat Pangeran Nathan tertimpa kecelakaan?" tukas Jaden.


Titan cemberut. Ia mendorong Jaden menjauh. "Beraninya kau menuduhku begitu?! Mana mungkin aku sengaja mencelakakan adikku sendiri?!" balasnya.


"Kau--" Jaden urung berucap ketika Titan mengangkat tangan ke depan wajahnya. Lelaki tersebut menoleh ke arah Alana. Titan menyuruh sang istri untuk pergi dari kamar.


Alana menurut saja. Dia segera mengenakan pakaian. Kemudian beranjak keluar kamar. Kini hanya tinggal Jaden dan Titan berduaan.


"Bukankah harusnya kau senang dengan apa yang kulakukan terhadap Nathan?" tukas Titan yang tampak sudah tenang. Ia menenggak wine dari dalam gelas.


"Kedatanganku ke sini hanya ingin memastikan kalau namaku dan Eden Night tidak akan terseret dengan kecelakaan yang menimpa Pangeran Nathan!" ujar Jaden.


"Aku tadinya tidak berniat melakukan ini, Jade. Tapi karena kau tidak membawakan Lova kepada Nathan, maka aku terpaksa membuat skenario kecelakaan. Dan boom! Semuanya berjalan mulus. Ronald meninggal di tempat dan Nathan sekarang sedang koma. Hahaha!" Titan tergelak puas. Dia sepertinya tidak peduli dengan tujuan kedatangan Jaden.


Jaden mendengus kasar. Dia seolah ditampar dengan karma. Dirinya yang seringkali berbuat licik. Sekarang harus menerima akibatnya. Entah kenapa Jaden merasa bersalah kepada Nathan. Mengingat lelaki tersebut lebih dekat dengannya dibanding Titan.


Pengkhianatan yang dilakukan Jaden hanyalah karena uang. Ia mendapatkan bayaran sangat tinggi dari Titan. Tetapi kini semuanya terasa kacau. Tidak yang seperti Jaden duga sebelumnya.


Akibat tidak menghasilkan apa-apa, Jaden memutuskan pergi. Dia juga tidak lupa memeriksa keadaan Nathan. Benar saja, lelaki itu tampak terbaring lemah dalam perawatan medis.

__ADS_1


...****************...


Kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Nathan tersebar di kerajaan Axenia. Seluruh rakyat merasa sedih. Mereka juga berhenti melakukan aksi demo di jalanan. Sebab sosok yang mereka inginkan untuk jadi raja sedang jatuh sakit.


Titan memanfaatkan segalanya untuk melanjutkan pembangunan. Kekuasaan yang dilakukannya sangatlah menekan banyak warga. Salah satunya mempekerjakan buruh dengan bayaran yang tidak sepadan. Kerajaan Axenia terasa diancam oleh kesengsaraan.


Di sebuah kamar ruang bawah tanah, keadaan Lova semakin mengkhawatirkan. Wajahnya sangat pucat dan lesu. Ia bahkan terlihat sangat kurus. Itu semua karena Lova sudah tidak makan selama tiga hari lebih.


Yang dilakukan Lova hanyalah telentang di ranjang. Berharap Jaden bersedia membiarkannya keluar.


Jaden perlahan membuka pintu. Dia berdiri di sana. Menatap Lova dengan perasaan bersalah. Terlebih gadis itu belum tahu mengenai kabar yang menimpa Nathan.


"Sepertinya kau sangat ingin keluar. Ya sudah, aku akan mengalah. Jika itu yang kau mau, maka aku akan membiarkan," ucap Jaden. Membuat Lova sontak menoleh ke arahnya.


"Bisakah aku mempercayaimu kali ini?..." Lova bertanya dengan lirih. Suaranya terdengar parau. Sebab keadaan tubuh gadis tersebut sedang lemas.


"Ya, aku serius kali ini." Jaden berucap sambil menatap lekat Lova dari ambang pintu.


"Sepertinya aku tidak akan pernah bisa membuatmu jadi milikku..." gumam Jaden pelan. Tetapi berhasil didengar oleh Lova secara selintas.


"Kau bilang apa?" Lova memastikan. Takut apa yang didengarnya adalah kesalahan.


"Permintaan maaf?" Lova terperangah. "Itu tidak cukup untuk membayar kesalahanmu, Jade. Camkan itu!" lanjutnya menegaskan.


"Terserah kau bilang apa!" Jaden beranjak pergi. Ia segera memesankan makanan untuk Lova.


Sepaket makanan cepat saji datang dalam selang sekian menit. Lova yang kelaparan, segera melahap makanan tersebut secara bergantian. Dia makan sampai menghamburkan beberapa makanan.


"Pelan-pelan..." Jaden yang menyaksikan merasa ngeri. Lova bersikap seperti monster yang sedang melahap mangsanya.


"Kau ternyata juga punya sisi mengerikan," komentar Jaden.


"Aaaarggg..." puas menyantap makanan, Lova mengeluarkan sendawa. Dia sekarang kekenyangan dan hanya bisa mengusap perut berulang kali.


"Beristirahatlah dahulu. Lagi pula Pangeran Nathan tidak akan kemana-mana," ucap Jaden.

__ADS_1


Kening Lova mengernyit. Ia tentu penasaran kenapa Jaden berkata begitu.


"Memangnya Pangeran Nathan kenapa? Dia tidak dipenjara bukan?" tanya Lova yang merasa cemas.


"Tidak. Kau akan tahu saat bertemu dengannya nanti." Jaden menjawab singkat. Dia beranjak keluar dan membiarkan Lova beristirahat sejenak.


Selepas kondisi Lova benar-benar pulih, Jaden benar-benar membawanya keluar dari ruang bawah tanah. Kini mereka sedang berdiri di depan mobil Jaden.


"Dengar. Sebelum kau bertemu Pangeran Nathan, aku ingin membuat rencana," cetus Jaden.


Langkah Lova sontak terhenti. Dia mengerahkan seluruh perhatiannya kepada Jaden. Menunggu penjelasan lebih lanjut.


"Rencana?" Lova penasaran.


"Ya, sebenarnya Pangeran Nathan mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu," terang Jaden.


Mata Lova membulat sempurna. Dia segera memberikan pukulan bertubi-tubi ke dada Jaden.


"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?! Aku sekarang tidak akan pernah mempercayaimu! Kau jahat! Kau itu iblis mengerikan sedunia!" omel Lova yang masih belum berhenti memukuli.


Jaden berusaha menahan serangan Lova sebisa mungkin. Dia memegangi dua tangan gadis itu dengan kuat.


"Maafkan aku, Lova. Ini semua terjadi karena keegoisanku. Tapi tenang saja. Aku akan bertanggung jawab," kata Jaden. Dia memancarkan binar getir di iris matanya yang biru.


"Bagaimana kau bisa bertanggung jawab, hah?! Sekarang Pangeran Nathan sekarat. Apa yang bisa kau lakukan, Jade?! Menukar tubuhmu dengan badan Pangeran?!" Lova menimpali sambil meluruhkan derai air mata.


"Kebetulan aku punya rencana. Mengenai kesehatan Pangeran Nathan, kita hanya bisa melakukan penjagaan dan mengharapkan bantuan dari dokter terpercaya. Karena itulah aku ingin membicarakan mengenai rencanaku kepadamu. Aku ingin kita bekerjasama untuk menjaga Nathan di istana." Jaden menjelaskan baik-baik.


"Di istana? Apakah aku akan diterima?" Lova meragu.


"Tentu saja. Kau tidak perlu cemas. Kau hanya perlu terus berada di sisi Pangeran Nathan. Jagalah dia dari rencana jahat Titan dan anggota kerajaan lain. Kebetulan Pangeran Nathan juga tidak memiliki orang terpercaya." Jaden menjeda ucapannya sejenak. Demi menghembuskan nafas berat. "Dia sama seperti kita. Melakukan segalanya sendirian," sambungnya. Lalu masuk ke dalam mobil lebih dulu.


Lova tertegun. Karena baru kali ini dia melihat Jaden sangat emosional. Meskipun begitu, dia mencoba mengabaikan dan bergegas masuk ke mobil.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Guys, kita sudah mulai memasuki konflik utama ya. Yang menandakan kalau novel ini sebentar lagi akan berakhir. Mungkin... ✌️


__ADS_2