Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 14 - Nenek Misterius


__ADS_3

...༻⑅༺...


Dari ketiga kartu tarot, rasa penasaran Lova lebih kepada kartu bergambar prajurit yang membawa bendera kematian. Ia lantas mengambil kartu itu sebagai pilihan.


"Kau memilih ini? Kau yakin?" tanya Defney memastikan. Nampaknya dia sengaja menggoyahkan pilihan Lova.


"Kenapa? Apakah salah?" Lova meragu.


"Entahlah. Aku hanya memastikan keyakinanmu. Karena kau hanya punya kesempatan memilih satu saja," tanggap Defney.


Lova terdiam. Ia kembali berpikir sambil mengamati dua kartu tarot yang lain. Setelah berpikir lama, Lova memutuskan tidak akan merubah pilihannya.


"Aku sudah yakin ingin mengetahui makna kartu itu," ucap Lova.


Defney tersenyum miring. Dia memegang kartu pilihan Lova. Lalu menyimpan dua kartu tarot yang tersisa ke saku di balik jubah hitamnya.


"Kartu yang kau pilih sering disebut The Death atau kematian. Sebentar lagi karakter yang kau mainkan akan menghadapi kematian."


Mata Lova membola saat mendengar sepenggal penjelasan Defney. Meskipun begitu, dia tetap diam. Membiarkan Defney bicara sampai selesai.


"Satu hal yang harus kau tahu. Jika karakter yang kau mainkan mati, maka kau juga akan mati. Otomatis kau tidak akan bisa kembali ke duniamu," terang Defney. Membuat perasaan takut Lova semakin bertambah.


"Berarti yang harus aku lakukan adalah mencegah kematian Pangeran Nathan bukan? Jika dia tidak mati, maka aku juga akan tetap hidup!" Lova menyimpulkan.


"Aku sudah memberitahumu semampuku. Sisanya ada ditanganmu, my dear..." sahut Defney. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan Lova.


"Beritahu aku! Siapa kau sebenarnya?! Apakah kau yang membawaku ke sini?! Jika iya, kenapa?! Apa alasan yang harus membuatku berada di sini?! Aku ini anak baik! Aku tidak pernah berbuat salah! Masuk ke dunia ini seperti hukuman bagiku!" timpal Lova sembari mengguncang badan Defney dengan histeris.


Defney hanya diam. Ia hanya tersenyum sampai menampakkan gigi-gigi depannya. Perlahan wanita tua itu melangkah mundur. Kemudian berderap cepat melewati pintu.


"Kau mau kemana?!" Lova bergegas mengejar. Namun saat dia melewati pintu, dirinya tidak melihat lagi sosok Defney. Wanita tua tersebut menghilang bak ditelan bumi.


Lova lantas mencoba terus mencari. Akan tetapi dia tetap tidak berhasil menemukan Defney.

__ADS_1


"Dia muncul dan pergi dengan tiba-tiba. Padahal masih banyak hal yang ingin kutanyakan," gerutu Lova. Ia terpaksa kembali ke kamar.


"Itu dia!" seru Felly. Dia dan yang lain sudah menunggu di depan pintu kamar Lova. Ada juga Jaden bersama mereka.


Menyaksikan semua orang menatapnya, Lova yakin Felly dan kawan-kawan pasti sudah mengadukan hal yang tidak-tidak.


Lova berjalan sambil menunjukkan mimik wajah cemberut. Dia mendelik ke arah Felly dan ke-empat wanita PSK lain.


"Lova! Apa benar kau yang memukuli mereka?" timpal Jaden.


"Kenapa? Harusnya kau tanya dulu alasan aku memukul mereka!" sahut Lova. Bibirnya mengatup rapat dan melanjutkan, "aku tadi hampir terbunuh! Mereka berusaha mendorongku dari atap gedung!"


"Apa?! Tega sekali kau menuduh kami begitu! Aku dan yang lain hanya bermaksud meminta maaf. Tapi kau malah mengamuk seperti orang kesetanan." Cheryl memutarbalikkan fakta. Pernyataannya diperkuat dengan ke-empat temannya.


"Kalian!!!" Lova menggertakkan gigi. Dua tangannya mengepalkan tinju dengan erat. Matanya menatap tajam Cheryl.


"Kami berlima, Tuan Jade. Bagaimana bisa kau akan mempercayai perkataan Lova yang sendirian. Menurutku dia lebih pantas dimasukkan ke rumah sakit jiwa," cetus Felly sembari mengusap bagian tubuh yang lebam.


"Jika ada yang berani saling menjatuhkan, maka aku tidak akan segan menembaknya di kepala. Anggap saja ini peringatan terakhir dariku. Jika setelah ini terjadi lagi keributan, kalian pasti tahu apa akibatnya," kata Jaden. Dia mengarahkan ujung pistol kepada para wanita PSK. Termasuk Lova sendiri.


Dor!!!


Satu tembakan dilepaskan Jaden ke atap. Apa yang dilakukannya semakin membuat orang di sekitarnya gemetar ketakutan.


Semua orang bungkam. Mereka tentu takut Jaden akan menarik pelatuk pistol ke arah seseorang. Mengingat lelaki itu juga dikenal sebagai orang yang sering melakukan pembunuhan.


"Kalau sudah paham, kembalilah ke kamar kalian masing-masing! Malam sudah sangat larut," ujar Jaden. Semua orang segera pergi. Kecuali dirinya yang masih diam di tempat sambil memandangi Lova.


"Kau kenapa tidak pergi?" tanya Lova.


"Tidak apa. Aku hanya terkesan. Ternyata kau mampu memukuli lima orang sekaligus. Yah... Walaupun aku tahu semua wanita itu tidak ahli bela diri. Tapi apa yang kau lakukan cukup hebat," komentar Jaden seraya melipat tangan di depan dada.


"Apa itu berarti kau mempercayaiku? Mereka tadi benar-benar hampir membuatku jatuh dari gedung. Aku bersumpah!"

__ADS_1


"Aku memujimu bukan berarti mempercayaimu. Jujur saja, Lova. Di dunia ini kita tidak seharusnya menaruh kepercayaan kepada orang lain dengan mudah. Apalagi di tempat kotor seperti ini." Jaden melangkah kian dekat. Tanpa diduga, dia mencuri ciuman di bibir Lova.


Apa yang dilakukan Jaden, membuat Lova membulatkan mata. Gadis itu kaget setengah mati. Parahnya mulut dan lidah Jaden kian meliar di bibirnya.


Lova berusaha melawan. Tetapi harus urung karena satu tangan Jaden sengaja menempelkan ujung pistol ke perut Lova.


"Mmmph!" Lova hanya bisa bergumam. Dia terus mengatup rapat bibirnya.


Sementara Jaden, bibirnya terus memberi pagutan demi pagutan ganas. Nafasnya bahkan sudah tersengal-sengal. Dia telah tenggelam akan naf-su yang menggelora.


Jaden melepas ciumannya sejenak. Lalu menggendong Lova seperti karung beras. Dia membawa gadis itu ke kamar dan langsung merebahkannya ke atas ranjang.


Satu per satu pakaian dilepaskan oleh Jaden. Namun dia tampak kesulitan melepas celana jeans. Padahal dia sedang terburu-buru sekarang.


Lova memanfaatkan kelengahan Jaden untuk masuk ke kamar mandi. Dia berlari dan langsung mengunci pintu.


"Sial! Jangan pergi kau, Lova!" seru Jaden yang masih berjuang melepas celana jeans. "Sialan! Ada apa dengan celanaku!!" keluhnya.


"Aku sudah bilang padamu, Tuan Jade! Aku sedang datang bulan!" Lova berteriak dari kamar mandi.


"Kau pikir aku percaya?! Aku akan mendobrak pintunya jika kau tidak keluar!" sahut Jaden. Dia sudah berhasil melepas celana jeans. Hanya tersisa celana pendek sepangkal paha. Jaden segera menggedor pintu kamar mandi.


Lova terkejut. Sepertinya Jaden memang serius dengan perkataannya.


"Aku tidak punya plilihan lain," gumam Lova. Dia mengambil pisau kecil yang ada dalam alat cukur. Lova memakai pisau kecil itu untuk melukai pangkal pahanya sendiri. Ia terpaksa agar Jaden mau percaya bahwa dirinya benar-benar datang bulan. Lova tentu lebih memilih melakukan itu dibanding harus menyerahkan keperawannya kepada lelaki hidung belang seperti Jaden.


Dalam satu sayatan, darah segar di paha Lova mengalir melalui lekuk kakinya. Setelah itu, dia mengembalikan pisau cukur ke tempat semula. Kemudian mengambil tisu untuk mengusap darah di kakinya.


Lova segera membuka pintu. "Lihat! Apa kau sekarang percaya, hah?!" ucapnya sembari memperlihatkan bekas darah yang ada di kaki dan tisu.


Jaden terkesiap. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.


'Melawan orang jahat yang cerdik seperti Jaden memang butuh pengorbanan,' batin Lova. Dia sedikit meringis karena rasa nyeri dari lukanya masih terasa.

__ADS_1


__ADS_2