
...༻⑅༺...
Lova baru saja beranjak meninggalkan Jaden. Kali ini dia tidak berminat kembali ke kamar. Usai menerima sentuhan tak terduga dari Jaden, Lova merasa tidak bisa mempercayai siapapun.
Saat itulah keinginan untuk kabur dari Eden Night memuncak. Lova diam-diam pergi ke kamar Madam Jessy. Masuk ke dalam, lalu mengganti pakaian dengan celana jeans, kaos, serta mantel tebal. Kebetulan kamar Madam Jessy memang dipenuhi beragam pakaian yang lengkap.
Selanjutnya, Lova pergi ke kamar Jaden. Dia memberanikan diri masuk ke sana. Sangat kebetulan sekali lelaki itu sedang tidak ada di kamar.
Lova mencoba menemukan pistol. Dia mencari-cari di laci lemari milik Jaden. Sampai akhirnya gadis itu berhasil menemukan pistol.
Sebelum mengambil pistol dari tempatnya, Lova mendengus kasar. Lalu barulah mengambil senjata api itu dengan hati-hati.
"Benda ini ternyata sangat berat," gumam Lova. Dia segera memasukkan pistol ke dalam saku celana.
Lova segera beranjak dari kamar Jaden. Sebelum itu, dia sempat mengambil pisau lipat yang ada di atas nakas. Lova berniat untuk berjaga-jaga kalau dirinya nanti takut menggunakan pistol.
"Semoga saja aku tidak perlu menggunakan semua senjata ini," harap Lova sembari melangkah laju. Dia berjalan menuju pintu belakang. Lova akan lewat jalan yang sebelumnya dirinya lalui bersama Nathan.
Jalan menuju pintu keluar tentu tidak akan mudah dilalui. Mengingat ada banyak penjaga yang berkeliling untuk memeriksa wilayah Eden Night.
Lova sesekali bersembunyi. Dia memang bertekad pergi diam-diam tanpa harus melakukan kekerasan.
Dengan langkah kaki pelan, Lova berhasil menggapai pintu keluar. Kini dia sudah sepenuhnya meninggalkan wilayah Eden Night.
Langkah Lova harus terhenti, ketika mendengar suara derap kaki mendekat. Dia lantas bersembunyi ke balik dinding. Berharap sosok yang mendekat tidak memergoki.
Orang yang mendekat ternyata adalah salah satu penjaga Eden Night. Dia pergi ke belakang untuk kencing.
Lova meringiskan wajah. Ia lekas membuang muka. Gadis mana yang sudi menyaksikan lelaki sedang kencing sembarangan.
Selang sekian menit, penjaga itu akhirnya pergi. Lova menggunakan kesempatan untuk lari secepat mungkin. Hingga dirinya benar-benar pergi jauh dari Eden Night.
Nafas Lova tersengal-sengal. Dia berhenti berlari sejenak. Memegangi lututnya sambil mengatur nafas.
Di tengah turunnya salju, Lova nekat melakukan pelarian. Akibat aktifitas larinya, dia jadi mengeluarkan keringat. Lova mengelap peluh di jidat dengan punggung tangan.
__ADS_1
Salju turun semakin lebat. Merasa kedinginan, Lova memasuki sebuah toko barang antik. Di sana dia meminta izin untuk berteduh.
"Silahkan, Nona. Kau bisa beristirahat sampai saljunya mereda." Pemilik toko mengizinkan dengan senang hati. Ia lelaki tua yang ramah. Namanya adalah Paul.
Lova duduk ke sebuah kursi. Memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Ia mengamati kesibukan yang sedang dilakukan Paul. Lelaki tua tersebut terlihat membuat banyak bendera kecil kerajaan Axenia. Selain itu, Paul juga tampak membuat beberapa aksesoris dengan warna senada bendera.
"Bolehkah aku membantu?" Lova menghampiri Paul.
"Tentu saja, young lady. Aku tentu sangat senang jika ada yang membantu," jawab Paul. Mengukir senyuman diwajahnya yang keriput.
Lova tersenyum. Dari pada duduk diam dan melamun. Lebih baik dia turun tangan untuk membantu Paul. Lagi pula dia yakin Paul adalah orang baik.
"Sebentar lagi hari pengangkatan raja baru. Aku menyiapkan semua ini untuk raja baru," imbuh Paul.
"Aku dengar Pangeran Nathan yang akan menggantikan posisi Raja Renald." Lova menanggapi.
"Benar sekali. Aku sangat setuju dengan keputusan Raja Renald. Pangeran Nathan adalah pilihan yang tepat."
"Kenapa begitu? Apa Pangeran Nathan sering melakukan hal baik?" Lova penasaran.
"Berarti Pangeran Nathan memang adalah orang yang tepat untuk memimpin kerajaan Axenia," kata Lova. Mendengar fakta tentang Nathan, membuat hatinya semakin tergugah. Dia tambah mengagumi sosok Nathan. Meski sekarang dirinya tidak akan bisa lagi menemui lelaki itu.
Lova lagi-lagi tenggelam dalam lamunan. Paul yang melihat, lantas tersenyum sembari geleng-geleng kepala.
"Apa yang kau pikirkan, Nona Muda? Kalau ada masalah kau bisa cerita. Mungkin aku bisa membantu," tutur Paul. Membuat Lova otomatis membuyarkan lamunan.
"Tidak ada. Aku hanya terpikir untuk menjual sesuatu," ujar Lova seraya mengeluarkan sebuah kalung dengan manik berbentuk hati. Kalung itu merupakan pemberian Nathan tempo hari. Lova terpaksa menjualnya karena sedang membutuhkan uang.
Paul terkesiap menyaksikan kalung yang ditunjukkan Lova. Sebab penggemar benda antik sepertinya tahu bagaimana barang asli dari kerajaan.
"Dari mana kau mendapat benda ini?" tanya Paul penasaran.
"Ada seseorang yang memberinya kepadaku. Tapi sekarang aku tidak akan berhubungan dengannya lagi. Karena itulah aku menjualnya," sahut Lova menerangkan.
"Ini adalah barang asli milik kerajaan. Lihatlah rantai kalungnya. Memiliki ciri khas kerajaan Axenia," ungkap Paul sambil mengamati kalung yang masih dalam genggaman Lova.
__ADS_1
"Kalau begitu, kalung itu pasti mempunyai harga yang tinggi," cetus Lova.
"Aku akan membayar dengan semua uangku untuk memiliki benda ini." Paul bersemangat. Dia bergegas mengambilkan uangnya untuk melakukan pembayaran.
Sementara itu, Lova tersenyum tipis. Setidaknya dia mempunyai uang simpanan untuk bertahan hidup sendirian.
Tidak terasa satu malam berlalu. Hujan salju yang lebat sudah reda. Matahari menyapa dari ufuk timur.
Jaden baru terbangun dari tidur. Ia menemukan dirinya telanjang bersama lima wanita tanpa busana. Jaden beringsut ke tepi ranjang. Kemudian mengenakan pakaian.
Bruk!
Madam Jessy datang sambil membuka pintu dengan bantingan. Dia memberikan kabar mengejutkan untuk Jaden. Apalagi kalau bukan menghilangnya Lova.
"Sial!" rutuk Jaden. Ia buru-buru melakukan pencarian. Jaden mencari ke tempat terdekat lebih dulu. Kala itu dia hanya berjalan kaki.
Usai memakan beberapa jam, Jaden dan yang lain tidak kunjung menemukan Lova. Mereka sudah menghabiskan waktu hampir seharian.
Hanya Jaden yang masih memiliki tenaga untuk terus mencari. Dia berhenti melangkah sejenak. Mencoba memikirkan tempat yang mungkin didatangi Lova.
"Ah benar! Tadi malam salju turun cukup lebat. Aku yakin dia tidak langsung pergi jauh. Dia pasti singgah ke suatu tempat untuk berteduh," pikir Jaden seraya memindai tempat sekitar. Dia lantas mendatangi beberapa toko terdekat. Menanyakan tentang keberadaan Lova.
Sudah lima toko yang dikunjungi Jaden, namun dia belum menemukan petunjuk tentang Lova. Sampai akhirnya dia mendatangi sebuah toko barang antik dengan pemiliknya yang bernama Paul.
Jaden menyebutkan ciri-ciri Lova sedetail mungkin. Hingga Paul mengingat seorang gadis yang tadi malam sempat tertidur lama di tokonya.
"Apa kau melihat perempuan itu?" Jaden menuntut jawaban.
"Ya, ciri-cirinya sama persis seperti yang kau jelaskan. Dia sempat tidur untuk menunggu salju reda," jawab Paul.
"Apa kau tahu dia akan kemana?" tanya Jaden.
"Aku tidak tahu. Tapi dia sempat melihat-lihat peta kerajaan Axenia milikku. Sepertinya gadis itu mencoba mencari suatu tempat."
"Mana peta yang dia pinjam? Boleh aku lihat?" pinta Jaden yang langsung diperbolehkan oleh Paul. Dia langsung memperhatikan peta yang katanya sempat dilihat Lova.
__ADS_1