Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 39 - Bertemu Pangeran Nathan


__ADS_3

...༻⑅༺...


Suasana seketika berubah jadi tegang. Sebab semua orang sangat kaget mendengar pengakuan Jaden. Meskipun begitu, Titan dan anggota kerajaan lain tidak mau percaya begitu saja.


"Semua wanita di pelosok Axenia bisa melakukan hal sama seperti Lova. Kami tidak akan percaya tanpa ada bukti yang kuat," ujar Titan. Dia bangkit dari singgasana. Melangkah dengan jubah emas menjuntai di lantai. "Terlebih dia adalah pela-cur yang bahkan tidak pantas menjejakkan kaki di istana," lanjutnya sambil menatap remeh Lova.


Ekspresi Titan langsung cemberut saat melihat mahkota yang dipakai Lova. Sebagai raja Axenia, dia tentu mengenal mahkota tersebut.


"Anda lihat mahkota yang dipakai Lova bukan? Apa kau masih ragu kalau Lova adalah istri Pengeran Nathan?" ucap Jaden. Dia diam-diam menyenggol kaki Lova. Jaden ingin gadis itu setidaknya mengatakan sesuatu.


"I-iya. Pangeran Nathan sendiri yang memberikannya kepadaku. Dia tidak peduli dengan status yang kumiliki. Aku bertaruh Pangeran Nathan akan berucap begitu saat terbangun," kata Lova yang dapat memahami makna senggolan Jaden.


"Berlagak sekali kau!" cibir Titan. Memandang rendah Lova. Ia bahkan mengangkat dagu sambil memasang tatapan tajam.


Lova tak peduli. Dia berucap, "Katakan dimana Pangeran Nathan. Aku sangat merindukannya."


"Tidak! Kau tidak boleh bertemu dengan Nathan. Aku tidak akan membiarkan orang sembarangan sepertimu untuk menjaganya!" bentak Titan.


Lova kaget sampai berjengit. Hembusan kemarahan Titan terasa sampai ke seluruh wajahnya. Gadis itu otomatis mundur satu langkah.


Jaden terdiam seribu bahasa. Sekarang dia bingung harus menjawab apa.


Berbeda dengan Lova yang terlihat mengerutkan dahi. Dia perlahan menoleh ke arah Tom.


Seakan mengerti tatapan Lova, Tom maju satu langkah menghadap Titan. Dia berkata, "Lova bukan orang sembarangan, Yang Mulia. Sebagai pengawal setia Pangeran Nathan, aku tahu Lova adalah salah satu orang terdekatnya. Kau bisa bunuh saja aku jika ada sesuatu yang buruk menimpa Pangeran Nathan."


Titan terhenyak mendengar pengakuan Tom. Terlebih para anggota kerajaan tampak mulai berdiskusi. Mereka sepertinya percaya kalau Nathan sudah menikah dengan Lova.


"Yang Mulia, Raja. Karena Tom berkata begitu, aku yakin kalau perempuan ini tidak berbohong." Salah satu anggota kerajaan yang bernama Elrick angkat suara. Dia mewakilkan pendapat dari seluruh dewan menteri serta anggota kerajaan lainnya.


"Kenapa kalian mudah sekali ditipu? Wanita ini bahkan tidak memiliki foto pernikahannya bersama Nathan!" pungkas Titan yang masih tidak setuju.


"Kami tidak sempat berfoto. Karena di saat Pangeran Nathan menikahi Lova, kondisi Axenia sedang terjadi aksi demo besar-besaran. Pangeran Nathan terpaksa bergegas kembali ke istana." Jaden lekas-lekas memberikan alasan logis.

__ADS_1


Mata Titan memicing penuh curiga. Karena seingatnya, saat itu Nathan masih berusaha mencari keberadaan Lova.


"Aku--"


"Ayo, Lova. Aku akan mengantarmu ke kamar Pangeran Nathan," ujar Alana. Membuat perkataan Titan terpotong.


"Alana! Berani sekali kau..." Titan lagi-lagi urung bicara, saat Lova, Jaden dan yang lain sudah beranjak dari hadapannya. Mereka melangkah mengikuti Alana.


"Sialan!" Titan hanya bisa menggeram kesal. Ia menghamburkan seluruh barang yang ada di dekatnya. Beberapa benda keras berjatuhan dan pecah. Semua orang hanya bisa menjerit ketakutan. Mereka akhirnya dapat melihat bagaimana jati diri Titan.


Sementara itu, Lova berjalan pelan sambil mengangkat gaun panjangnya. Dia tampak kesulitan mengenakan gaun tersebut.


"Pakaian minim lebih nyaman bukan?" bisik Jaden dengan nada seperti mengejek.


"Dua-duanya sama-sama tidak nyaman!" balas Lova.


Jaden tergelak kecil. Dia berhenti di tempat dan membiarkan Lova berjalan lebih dulu. Sampai gadis itu akhirnya masuk ke ruangan dimana Nathan terbaring lemah.


"Pangeran..." keceriaan Lova seketika pudar. Atensinya tertuju ke arah Nathan yang terbaring lemah di ranjang.


"Akhirnya kita bertemu lagi... Tapi aku tidak pernah mengira akan melihatmu dalam keadaan begini..." ungkap Lova penuh haru. Matanya meneteskan air mata. Dia lantas menyentuh wajah Nathan yang nampak putih berbalutkan kemerahan.


Di belakang, Jaden mengajak yang lain untuk membiarkan Lova sendiri. Mereka akan menunggu di luar kamar.


Lova merebahkan diri ke samping Nathan. Menatap laki-laki itu dengan perasaan sedih.


"Aku harap kau mendengarku, Yang Mulia. Sekarang aku sudah bertekad tidak akan pergi darimu." Lova mengelus pelan dada Nathan. Dia memeluk lelaki tersebut. Lova akhirnya memecahkan tangis sebagai rasa kepedulian yang mendalam terhadap Nathan.


Bersamaan dengan itu, muncul sebuah kartu tarot tepat di sebelah Nathan. Kartu kali ini bergambar bulan yang dihiasi oleh dua serigala. Dalam kartu tarot sendiri sering disebut sebagai The Moon.


Lova tidak menyadari kehadiran kartu tarot secepat biasanya. Dia terlalu tenggelam dalam kesedihan. Dirinya baru sadar, saat mengangkat kepala sembari membersihkan air mata di wajah.


Kartu tarot diraih oleh Lova. Ia mengamati gambar yang ada di kartu itu.

__ADS_1


"Bulan dan serigala... Kenapa aku merasa kartu ini memiliki makna buruk?" gumam Lova. Dia menghela nafas panjang. Kemudian turun dari ranjang. Lova mencoba melihat-lihat keadaan di kamar. Gadis itu berhenti di depan jendela. Dari sana dia dapat melihat pemandangan di sekitaran istana.


"Tempat ini seperti penjara. Sekarang aku tahu kenapa kau tidak ingin menjadi raja," ucap Lova. Seakan sedang bicara dengan Nathan.


"Bangunlah, Pangeran... Saat kau bangun nanti, aku akan ikut kemana pun asal bersamamu," sambung Lova yang kembali menghampiri Nathan. Membelai rambut pirang lelaki tersebut.


Pintu perlahan terbuka. Jaden muncul dari sana. Membuat raut wajah Lova langsung berubah jadi datar.


"Aku yakin kau sudah puas meratap. Tapi aku sarankan jangan terlalu berlarut-larut melakukannya. Karena ada banyak hal yang akan kita lakukan," kata Jaden. Dia melenggang ke hadapan Lova.


"Apa?" tanya Lova.


"Raja Titan. Kita harus melengserkannya dari tahta raja," jawab Jaden serius.


"Lengser? Tapi kalau dia dilengserkan, bukankah posisi raja akan kosong?"


"Itu adalah tugasmu sekarang. Aku harap dengan kehadiranmu, Pangeran Nathan dapat segera pulih. Jika dia sudah sehat kembali, maka dialah yang akan menjadi raja."


"Tapi Pangeran Nathan tidak pernah ingin menjadi raja. Dia bilang ingin hidup bebas," sahut Lova seraya menatap Nathan lamat-lamat.


"Kalau begitu, kau berharap dia akan koma selamanya?" simpul Jaden.


"Tentu saja tidak! Maksudku, aku tidak mau memaksanya menerima beban terlalu berat."


"Lalu, apakah kau punya seseorang yang tepat untuk menjadi raja?" Jaden mengangkat dua tangannya ke depan. Menuntut jawaban pada gadis bergaun indah di depannya.


Lova segera menoleh ke arah Jaden. Menatap serius lelaki tersebut. Dia menilik Jaden dari ujung kaki hingga kepala.


Jaden sangat paham tatapan yang diberikan Lova. Dia menyipitkan mata dan berucap, "Jangan bilang kau ingin aku yang menjadi raja?"


"Kau memang agak kejam. Tapi bukan berarti kau tidak punya rasa kepedulian. Kau juga sangat tegas dan terbiasa memimpin orang banyak," ujar Lova.


"Itu gila. Ayolah! Orang sepertiku tidak akan bisa menjadi raja! Darah bangsawan tidak mengalir di urat nadiku," bantah Jaden.

__ADS_1


Kali ini Lova yang memicingkan mata. Dia memiringkan kepala karena sedang berpikir. Sampai sebuah ide muncul di kepalanya. Senyuman lantas mengembang di semburat wajah Lova.


__ADS_2