Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 15 - Terpaksa Berujung Nikmat


__ADS_3

...༻⑅༺...


Jaden memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Lova. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya kala itu.


"Aku masih tidak percaya kalau kau datang bulan. Tapi aku akan mengalah. Melihat kau sudah nekat melukai diri sendiri, membuatku paham betapa besarnya ketidakinginanmu." Jaden mengangkat dua tangannya ke udara. Ia tersenyum miring sembari menatap sinis Lova.


"Ba-bagaimana kau..." Lova benar-benar bingung kenapa Jaden selalu tahu. Mengelabui lelaki itu memang sangat sulit.


"Sudah kubilang aku orang yang punya banyak pengalaman," imbuh Jaden. Ia segera mengenakan pakaian satu per satu. Kemudian beranjak keluar dari kamar.


Lova mematung di tempat. Dia bingung sekaligus lega. Bingung karena Jaden tidak se-ambisius biasanya. Lega karena Jaden mengalah dengan mudah. Lova penasaran terhadap alasan Jaden yang tiba-tiba menurunkan ego.


"Mungkin karena dia tahu aku melukai diriku sendiri." Lova menyimpulkan. Dia segera membersihkan luka dan badannya ke kamar mandi.


Tiga jam lagi pagi akan tiba. Namun Lova justru baru saja tidur. Untuk pertama kalinya, dia tidak bangun pagi seperti hari-hari sebelumnya. Lova kelelahan dengan malam yang dia lalui.


Lova terbangun saat tengah hari. Rasa lapar langsung dirasakannya. Ia merubah posisi duduk sambil menguap. Lalu mengumpulkan kesadaran sebentar.


"Tadi malam pasti sangat berat bagimu." Suara Jaden berhasil membuat Lova tersentak kaget. Dia reflek menarik selimut ke depan dada.


"Ka-kau! Sejak kapan kau di sini?!" timpal Lova tergagap.


"Baru saja. Tapi aku sempat memeriksa bagian tubuh mana yang kau lukai tadi malam," sahut Jaden seraya menyalakan rokok dengan pemantik.


"Dasar psiko!" rutuk Lova kesal.


"Kau itu pela-cur Lova. Terimalah nasibmu. Aku ingat ibumu sendiri yang menjualmu kepadaku," ucap Jaden. Perlahan mengeluarkan asap dari hidung serta mulut.


"Ada sesuatu yang menimpaku. Dan sekarang aku bukanlah pela-cur!" balas Lova menegaskan.


"Maksudmu benturan yang diberikan Felly dan kawan-kawan juga berhasil merubah sudut pandangmu? Jika kau ingin jadi gadis yang terhormat, maka itu sudah terlambat! Tubuhmu sudah disentuh lebih dari puluhan lelaki."


"Aku tahu! Tapi itu bukan aku!" Lova tetap pada pendiriannya. Membuat Jaden terkekeh remeh.


"Terserah. Tak apa kalau kau sudah tidak mau melayaniku. Yang penting kau tetap menjadi sumber penghasilan besar untukku." Jaden menjeda ucapannya sejenak. Ia memasang raut wajah serius. "Kedatanganku ke sini ingin memberitahu bahwa Pangeran Nathan rela membayar mahal agar bisa bertemu denganmu setiap hari. Itu luar biasa, Lova! Aku pikir dia sudah jatuh cinta kepadamu!" sambungnya antusias.


"Se-setiap hari?" Lova sedikit kaget. Akan tetapi dia tidak menampik dugaan Jaden yang menyebut kalau Nathan sudah jatuh cinta. Sebab Lova tahu lebih dulu.


"Ya, setiap hari. Dan kebetulan aku punya rencana agar bisa membuat Pangeran terus datang. Kumohon tolaklah keinginannya seperti kau menolakku," cetus Jaden yang tampak menggebu-gebu. Uang memang adalah semangatnya.


Lova hanya mengangguk. Dia tahu dirinya tidak akan bisa menang jika mengungkapkan pendapat.


"Ngomong-ngomong, karena kau adalah sumber penghasil uang terbesarku, aku rela melakukan apapun untuk melindungimu. Termasuk menyingkirkan kelima wanita yang kau pukuli tadi malam," ujar Jaden.


Mata Lova terbelalak tak percaya. "Kau apakan mereka?" tanya-nya.

__ADS_1


"Hanya memindah mereka ke tempat lain. Mulai sekarang, mereka tidak akan mengganggumu," jawab Jaden sembari tersenyum lebar. Dia segera beranjak.


"Terima kasih, primadonaku."


Cup!


Sebuah kecupan di pipi diberikan Jaden pada Lova. Itu sama sekali tak terduga. Lova hanya bisa meringiskan wajah sambil sigap menghindar.


Jaden tak peduli terhadap reaksi Lova. Ia terlihat sangat senang. Lelaki itu bahkan berjalan sambil bersenandung.


Kabar yang diberitahukan Jaden membuat Lova berpikir. Dia mencoba mengaitkan apa yang sudah terjadi dengan makna kartu tarot The Death.


'Aku yakin gerak-gerik Pangeran Nathan pasti sedang di amati oleh orang yang akan membunuhnya. Mengingat dia akan rutin menemuiku setiap hari di sini,' batin Lova. Ia merasa apa yang dilakukannya serba salah. Penolakannya justru membuat Nathan semakin sering datang.


Jika begitu, satu-satunya jalan adalah menerima cinta Nathan. Sebab jika sudah sangat dekat, Nathan pasti akan mempercayai Lova sepenuhnya.


Bila takdir tidak membiarkan Lova terpisah dengan Nathan, maka gadis itu akan memanfaakan kedekatannya untuk melindungi sang pangeran dari kematian.


...***...


Malam telah tiba. Nathan benar-benar datang menepati janji. Dia datang dengan topi dan masker yang menutupi wajah.


Saat membuka benda yang menutupi wajah, terpancarlah ketampanan Nathan. Dia tidak mabuk seperti biasanya. Lebih rapi dan juga segar. Gaya Nathan sekarang memang membuktikan bahwa dirinya benar-benar sedang jatuh cinta.


Nathan segera duduk ke sebelah Lova. Dia mengambil sesuatu dari saku celana. Yaitu sebuah kotak perhiasan berpita warna merah muda.


"Apa ini?" tanya Lova.


"Bukti cintaku," jawab Nathan sembari membuka kotak perhiasan. Isinya tidak lain adalah sebuah kalung berlian merah muda berbentuk hati.


"Nama Lova artinya adalah cinta. Aku yakin lambang hati ini sangat cocok denganmu." Nathan memasangkan kalung ke leher Lova.


Deg!


Deg!


Deg!


Berada lebih dekat dengan Nathan, membuat jantung Lova berdetak tidak karuan. Dia sebenarnya sudah merasakan keanehan dihatinya semenjak pernyataan cinta Nathan kemarin.


Lova tidak tahu kenapa. Padahal dia selalu benci dengan sesuatu berbau romantis. Namun ketulusan Nathan benar-benar membuat hatinya tersentuh. Perempuan mana yang tidak akan luluh ketika seorang pangeran tampan memperlakukannya bak seorang putri.


"Kau suka bukan?" tanya Nathan. Sekarang posisi wajahnya sangat dekat di hadapan Lova. Menyebabkan gadis itu harus telan ludah sendiri.


"Te-tentu saja," jawab Lova terbata-bata.

__ADS_1


"Kau kenapa terlihat sangat gugup? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Nathan kembali bertanya.


"Tidak." Lova menjawab singkat sembari meliarkan bola mata. Tetapi itu tidak berlangsung lama saat dia mengingat rencananya. "Eh! Sebenarnya ada sesuatu yang membuatku cemas," ucapnya. Mendadak merubah pernyataan.


"Kenapa? Kau bisa ceritakan kepadaku. Kebetulan hari ini aku juga ingin menceritakan semua masalahku kepadamu."


Lova duduk dengan tegak. Dia berkata, "Begini... Sebenarnya ini mengenai tanggapanku terhadap perasaanmu..."


"Kenapa?" Nathan menuntut jawaban.


"Sejak pernyataan cintamu kemarin, aku banyak memikirkanmu seharian ini. Jadi..."


"Kau baru sadar kalau kau sebenarnya juga mencintaiku. Aku yakin begitu," tebak Nathan. Sengaja memotong ucapan Lova.


Lova lekas mengangguk. Dia tidak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan memang hanyalah menjalin hubungan lebih dekat dengan Nathan. Mengingat lelaki itu merupakan penentu kematiannya dalam alur cerita.


Nathan tersenyum. Dia memegangi tengkuk Lova. Lalu memberi ciuman lembut di bibir.


Saat itulah seluruh badan Lova memberikan reaksi aneh. Ia merasa tubuhnya seolah dialiri oleh listrik ribuan volt. Terasa candu dan nikmat. Lova tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Apa dia sudah jatuh cinta kepada Nathan? Gadis itu tidak tahu. Untuk yang pertama kalinya, Lova tidak mau ciumannya dan Nathan berakhir dengan cepat.


Tanpa sadar, Lova menuruti semua arahan Nathan. Termasuk telentang ke atas ranjang.


Nathan melepas tautan bibirnya sejenak dari mulut Lova. "Kali ini aku tidak akan memaksa," tuturnya seraya mengatur nafas yang mulai memburu. Dia yakin Lova pasti mengerti dengan apa yang ada dipikirannya sekarang.


Lova terdiam. Dia malah terpaku menatap wajah tampan Nathan. Tanpa diduga, Lova malah kembali menyatukan bibirnya dengan lelaki tersebut. Apa yang dilakukan gadis itu, membuat Nathan berpikir keinginannya disetujui.


Satu per satu pakaian dilepaskan. Baik oleh Lova maupun Nathan. Satu hal yang pasti, Lova tidak memiliki keinginan menolak seperti saat dirinya bersama lelaki lain.


Atensi Nathan tertuju kepada luka sayatan di pangkal paha Lova. Dia sontak khawatir.


"Luka apa ini? Siapa yang tega melakukannya kepadamu?" tanya Nathan.


"Itu bukan apa-apa... Lagi pula sudah tidak sakit..." Lova menjawab di sela-sela pengaturan nafas.


"Mungkin aku bisa membuat lukanya jadi lebih baik," imbuh Nathan.


Lova sudah mengangakan mulut karena hendak menanggapi perkataan Nathan. Tetapi dia justru berjengit saat merasakan Nathan tiba-tiba mengecup luka di pangkal pahanya.


'Sial! Kenapa ini terasa sangat nikmat?' keluh Lova dalam hati. Dia reflek menggigit bibir bawahnya. Kaki Lova jadi menggeliat tidak karuan.


..._____...


Catatan Author :


Jangan lupa kasih dukungan biar author semangat update ya! 🤗

__ADS_1


__ADS_2