
...༻⑅༺...
"Lova!" Hal pertama yang dipikirkan Jaden justru adalah Lova. Dia yakin ada sesuatu yang menimpa gadis itu.
Jaden lantas mengajak Bill untuk pergi. Dia juga tidak lupa mengatakan berita yang telah didengarnya dari Madam Jessy.
Niat utama Jaden adalah mendatangi istana. Dia ingin bicara dengan Titan secara baik-baik. Meskipun begitu, Jaden tidak lupa menyusun rencana cadangan. Yaitu mempersiapkan semua anak buahnya untuk menyerang istana.
Namun perjalanan Jaden untuk tiba di Axenia perlu memakan waktu lama. Dia harus ekstra sabar untuk menunggu.
Di sisi lain, Alana baru saja masuk ke kamar Nathan. Ia ingin melihat keadaan lelaki tersebut. Sebagai satu-satunya teman dekat, Alana tentu mencemaskan keadaan Nathan.
Dahi Alana berkerut. Dia merasa kalau keadaan Nathan semakin memburuk. Tubuh lelaki itu tambah kurus. Kulitnya juga lebih pucat dari sebelumnya.
"Sepertinya apa yang dikatakan Lova benar. Titan pasti memberikan obat yang membuat kesehatan Nathan menurun. Ini tidak bisa dibiarkan!" gumam Alana pelan. Dia melirik ke arah pengawal. Memastikan tidak ada orang yang mendengar.
Alana merasa harus melakukan sesuatu. Dia buru-buru menemui Titan.
Setibanya memasuki kamar, Alana bisa melihat Titan tertawa lepas. Dia terlihat bersantai sambil mendapat pijatan dari banyak pelayan wanita.
"Yang Mulia, aku ingin bicara," ujar Alana seraya mendekat.
"Bicaralah!" tanggap Titan. Tanpa menatap lawan bicara.
"Bisakah kau menyuruh semua wanita ini pergi dulu? Aku ingin membicarakan hal serius."
"Bicara saja! Lagi pula para wanita ini tidak akan peduli."
Alana mendengus kasar. Entah harus sampai kapan dia akan memiliki suami seperti Titan. Benar-benar sebuah belenggu yang sulit dilepaskan. Alana lantas tak punya pilihan selain bicara.
"Ini tentang Pangeran Nathan! Kondisinya semakin memburuk. Aku pikir kita harus mencari dokter lain," ucap Alana. Membuat Titan akhirnya menoleh ke arahnya.
"Reeve adalah dokter terbaik di negeri ini. Kita mau mencari dokter yang bagaimana lagi?" balas Titan yang terkesan santai. Ia tentu tidak peduli dengan kondisi kesehatan Nathan yang memburuk. Padahal orang yang sedang sakit adalah adiknya sendiri.
"Aku hanya--"
Ucapan Alana terhenti ketika pintu mendadak terbuka. Seorang pengawal memberitahu bahwa Jaden datang dan ingin bicara dengan Titan.
__ADS_1
Tawa pecah keluar dari mulut Titan. Dia senang mendengar sasarannya datang sendiri tanpa harus dicari. Tanpa pikir panjang, Titan segera menemui Jaden. Kini dia duduk di singgasana menghadap Jaden yang berdiri sendirian. Kebetulan dirinya sengaja menyuruh Bill bersembunyi sampai keadaan aman.
"Apa yang sudah kau lakukan kepada Lova?!" timpal Jaden. Ia bahkan tidak membungkuk hormat pada Titan.
"Hei! Lancang sekali kau! Harusnya kau tunjukkan hormatmu lebih dulu!" Finn yang mendengar langsung menyahut. Tetapi Titan turun tangan untuk membuatnya diam.
Titan berdiri dan melangkah ke depan Jaden. "Gadis yang mengaku-ngaku sebagai istri Pangeran Nathan itu sudah berbuat seenaknya. Bayangkan! Di hari pertamanya menjejakkan di istana, dia sudah berani melawan perintahku!" katanya.
"Jika kau ingin menghukum seseorang, maka hukumlah aku. Keluarkan Lova dari penjara. Karena orang yang menyuruhnya untuk menolak pengobatan darimu adalah aku!" ungkap Jaden panjang lebar.
"Aku tidak peduli. Wanita itu memang pantas dihukum." Titan sama sekali tidak berniat berubah pikiran. Seringai terukir di wajahnya. Dia menyuruh pengawal untuk membawa Jaden ke penjara.
"Masukkan dia ke penjara paling gelap! Besok aku akan menyiapkan hukuman mati untuk orang ini! Dia tidak hanya menipuku, tapi juga sudah membuat bisnis kotor di kerajaan Axenia!" titah Titan sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah Jaden.
Saat itulah Jaden mengambil earphone dan langsung menyuruh semua anak buahnya untuk menyerang. Jika cara halus tidak bisa dilakukan, maka Jaden tak punya pilihan lain selain melakukan kekerasan.
Ketika Jaden hendak diseret keluar ruangan, keributan terjadi dari berbagai penjuru istana. Seorang pengawal segera melaporkan adanya serangan kepada Titan.
Belum sempat Titan berpikir, Jaden langsung menumbangkan dua pengawal yang menyeretnya. Dia menggunakan pistol dan menembakkannya tepat ke kepala dua pengawal secara bergantian.
"Harusnya kau menurut saja, Raja!" tukas Jaden sambil mengarahkan pistol ke arah Titan. Dia tentu mencoba menembak. Akan tetapi para pengawal langsung menggerombol untuk melindungi Titan.
Jaden berusaha melawan Finn dengan tangan kosong. Mengingat pistolnya sudah kehabisan peluru.
Di sisi lain, Alana sedang dalam perjalanan menuju penjara bawah tanah. Dia berniat ingin mengeluarkan Lova tanpa sepengetahuan orang.
Setelah bicara dengan Titan, Alana yakin suaminya itu tidak akan luluh. Titan memang sangat keras kepala dan egois. Alana sudah lelah terus menuruti kehendak lelaki tersebut. Sekarang dia akan memilih menuruti kehendak hati. Alana memutuskan berada dipihak yang menurutnya benar. Yaitu Lova.
Sangat kebetulan keadaan ruang bawah tanah sepi dari penjagaan. Para pengawal sedang sibuk mengurus keributan yang dibuat Jaden. Hanya ada dua pengawal yang terlihat berjaga di gerbang penjara ruang bawah tanah.
Menyaksikan Alana datang, dua pengawal yang ada membungkuk hormat.
"Raja mencari kalian! Pengawal yang lain membutuhkan kalian secepatnya!" ujar Alana dengan raut wajah meyakinkan.
Dua pengawal terlihat bertukar pandang terlebih dahulu. Mereka sepertinya sama-sama bingung. Karena jika mereka pergi, maka penjara ruang bawah tanah tidak ada yang menjaga.
"Kalian tenang saja! Aku yang akan berjaga di sini! Keselamatan penghuni istana lebih penting! Cepat pergi!" Alana mendesak. Dua pengawal itu sontak buru-buru berlari.
__ADS_1
Sekarang Alana memanfaatkan waktunya untuk mencari Lova. Dia tidak lupa membawa kunci penjara yang tergantung di dinding.
Dengan bersinarkan lampu pijar yang redup, Alana memperhatikan penghuni penjara baik-baik. Ia bergidik ngeri saat melihat beberapa penghuni penjara. Ada yang kakinya dipotong, ada yang sekarat, bahkan ada juga yang sudah mati. Bau busuk dan anyir menyeruak jelas. Alana sigap menutupi hidungnya. Kemudian melangkah dengan cepat.
"Lova?" Alana memanggil berulang kali.
Lova yang tertidur, perlahan terbangun. Pupil matanya membesar tatkala mendengar namanya disebut. Tanpa basa-basi, Lova segera berteriak dan memberitahukan posisinya.
Alana buru-buru menghampiri. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan Lova. Alana segera mengeluarkan Lova dari penjara.
"Terima kasih, Yang Mulia. Apakah Raja Titan mencabut hukumannya terhadapku?" tanya Lova.
"Tidak. Ini karena aku lebih mempercayaimu dari Raja Titan. Aku baru saja memeriksa kondisi Pangeran Nathan. Kau tahu apa yang aku temukan? Kondisinya semakin buruk!" ujar Alana memberitahu.
"Benarkah? Kalau begitu kita tidak bisa membiarkan itu!" Lova mengepalkan tinju di kedua tangan.
"Kita harus pergi dari sini! Di luar teman lelakimu itu sedang bertarung. Sepertinya dia ingin membunuh Raja Titan. Tapi kau harus tahu, Lova. Temanmu itu tidak tahu orang seperti apa yang sedang dia hadapi. Raja Titan adalah orang paling licik dan juga kuat! Kau harus suruh temanmu untuk mundur dan mencari cara lain." Alana bicara sambil berjalan bersama Lova.
"Baiklah! Tapi sebelum itu, aku juga ingin menyelamatkan dua temanku yang lain," tanggap Lova. Dia membicarakan perihal Courtney dan Leon.
"Tentu saja." Alana tidak perlu berpikir lama untuk setuju.
Usai melepaskan Courtney dan Leon, Lova segera mengajak semua orang untuk menemui Jaden. Dia dan kawan-kawan berlari semaksimal mungkin agar tepat waktu.
Ketika sudah memasuki istana, Lova harus rela menyaksikan kekalahan Jaden beserta anak buahnya. Dia sangat kaget. Sebab seluruh anak buah Jaden mati dengan sangat mengenaskan. Lantai istana terlihat dihiasi oleh pertumpahan darah.
Lova awalnya mencoba menemui Jaden. Namun lelaki itu terlihat sekarat. Titan tampak tidak berhenti memukuli dan menendang Jaden.
Lova sudah melangkah karena berniat menyelamatkan Jaden. Mulutnya bahkan hampir berteriak. Akan tetapi Alana sigap menghentikan dan membawa Lova bersembunyi.
"Kau juga akan dipukuli jika nekat muncul di hadapan mereka! Suasana sekarang sedang sangat buruk!" ujar Alana.
Lova mengangguk. Dia tahu dirinya harus bisa berpikir jernih saat berada di situasi genting seperti sekarang. Lova berharap Jaden bisa bertahan.
"Kita sebaiknya pergi dari sini, Lova. Kami berdua sudah berjanji pada Tuan Jade untuk selalu melindungimu," cetus Courtney.
Lova membisu. Dia tahu kalau dirinya tidak bisa bertahan jika terus tinggal di istana. Tetapi Lova juga tidak mau meninggalkan Nathan. Sebuah ide brilian terlintas dalam benaknya.
__ADS_1
"Courtney, Leon! Kita harus membawa Pangeran Nathan juga pergi dari istana!" imbuh Lova.