
...༻⑅༺...
Malam telah tiba, namun Lova dan Nathan masih berada dalam perjalanan. Keduanya sedang ada di kereta. Baru selesai menikmati makan malam.
Nathan menggendong Lova dengan ala bridal. Lalu membawanya masuk ke kamar VIP yang khusus disediakan kereta.
Lova tergelak geli. Nathan segera menurunkannya saat sudah memasuki kamar. Lelaki tersebut tidak lupa menutup sekaligus mengunci pintu.
Selanjutnya, Nathan menarik Lova mendekat. Dia memagut bibir sang istri dengan lembut. Lova tentu tidak akan menolak sentuhan Nathan.
Lama-kelamaan, ciuman Lova dan Nathan semakin menggebu. Suara decap lidah bahkan turut mengiringi suasana. Sesekali mereka akan memiringkan kepala agar bisa lebih leluasa berciuman.
Nathan melepas tautan bibirnya sejenak. Dia memindahkan Lova ke kasur dengan cara menggendong ala bridal. Di sana mereka kembali berciuman.
Lova memejamkan matanya. Segala sentuhan Nathan membuat tubuhnya bergidik nikmat. Dia berharap kali ini tidak akan melewatkan sedikitpun kegiatan intim bersama Nathan.
Benar saja, semuanya di alami Lova sepenuhnya. Malam itu, dia dan Nathan menghabiskan malam yang mesra nan indah.
__ADS_1
Ketika mentari pagi menyapa dari balik jendela, Lova membuka mata. Ia menoleh ke samping dan melihat ada Nathan yang menemani. Lova segera memandangi Nathan. Menatap wajah tampan lelaki tersebut sepuas mungkin.
'Aku berakhir menjadi istri seorang Pangeran? Rasanya tidak mungkin... Tapi inilah yang terjadi,' batin Lova seraya memberikan kecupan ke kening Nathan.
Tanpa diduga, Nathan terbangun. Dia langsung menghamburkan ciuman ke wajah Lova. Keduanya berakhir tergelak bersama. Saling berpelukan dalam posisi telentang di kasur.
Setibanya di desa Ulson, Lova terpesona menyaksikan rumah yang akan dia tinggali dengan Nathan. Sebuah rumah sederhana, nyaman, dan di kelilingi padang bunga.
"Ini seperti di negeri dongeng," komentar Lova. Berdecak kagum sambil memandangi rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya.
Nathan segera mengajak Lova masuk ke rumah. Mereka berkeliling untuk melihat- lihat. Nathan dan Lova berhenti melangkah saat berada di balkon.
"Ya? Apa itu?" tanggap Lova.
"Itu adalah kebun anggur kita. Aku dan kau akan mengelolanya. Kita juga punya hewan ternak di kandang." Kini Nathan menunjuk ke arah kandang ternak yang cukup besar. Di sana terdapat hewan kuda, sapi, dan domba.
"Aku sudah tidak sabar bisa menjalani kehidupan normal bersamamu," ungkap Lova. Dia dan Nathan saling berangkulan.
__ADS_1
Hari demi hari berlalu. Nathan dan Lova sudah tinggal di desa selama satu bulan lamanya. Mereka semakin mesra dan sangat disukai oleh sebagian besar warga desa. Tidak jarang Lova dan Nathan pergi ke kebun untuk sekedar membantu para pekerja.
Sementara itu, di kota. Jaden mendapat penghormatan yang sama dari rakyat Axenia. Dia menjalankan tugas raja dengan sangat baik. Menghapus segala hal buruk yang pernah diterapkan Titan. Lalu memberi kebijakan baru yang mendamaikan semua orang di Axenia. Termasuk dirinya.
Meskipun begitu, Jaden tidak pernah berhenti memikirkan Lova setiap hari. Walau dia tahu gadis itu sudah bahagia, namun sepertinya Jaden belum bisa melupakan.
Tidak jarang Jaden kesal dengan dirinya karena frustasi selalu mengingat Lova. Dia bahkan sering mengunjungi tempat-tempat berkesan baginya dan Lova. Jaden juga membangun kembali Eden Night dengan bangunan yang sama persis seperti sebelumnya.
"Ayolah, Yang Mulia. Bisakah kau berhenti minum? Besok kita ada pertemuan dengan Raja Howard," ucap Courtney memperingatkan. Dia kebetulan bertugas sebagai pengawal terdekat Jaden.
"Sudahlah, Court! Kau tahu kalau aku ahli minum. Meminum seribu botol pun tak akan membuatku mabuk!" balas Jaden. Dia kembali meneguk wine langsung dari botol. "Apakah kau sudah menemukan wanita yang kuinginkan?" lanjutnya.
"Maksudmu wanita yang mirip dengan Lova?" Courtney memastikan.
"Ya. Aku hanya mau gadis yang seperti itu.
"Maaf, Yang Mulia. Aku sudah mencari ke penjuru negeri dan tidak menemukannya." Courtney mendengus sejenak. Lalu meneruskan, "tapi aku punya ide agar kau bisa melupakan Lova!"
__ADS_1
"Bagaimana?" Jaden penasaran.
"Berkencan! Kau harus membuka hati untuk mengenal gadis baru. Jangan terlalu terpaku pada gadis seperti Lova. Semua manusia itu punya ciri khas masing-masing. Sulit menemukan yang sama," cetus Courteny. Dia langsung kena lemparan bantal soda dari Jaden. Courtney hanya bisa mengaduh sambil memegangi kepala yang terkena hantaman bantal.