Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 35 - Pengkhianatan Terbesar?


__ADS_3

...༻⑅༺...


"Jade!" panggilan dengan suara lantang membuat Jaden menoleh. Sosok Nathan terlihat berjalan kian mendekat.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" timpal Nathan penuh curiga. Dahinya berkerut dalam.


Jaden mendengus kasar. Dia sudah kesal dengan menghilangnya Lova, kini dirinya harus menghadapi Nathan.


"Bukankah aku yang harus bertanya begitu? Apa yang dilakukan seorang Pangeran di sini?" balas Jaden.


"Aku mengikutimu. Kau sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu." Nathan menatap penuh selidik.


"Aku hanya mencari udara segar. Aku lelah menyaksikan pemandangan hingar bingar kota." Jaden berkilah. Dia membuang muka dari Nathan.


Bertepatan dengan itu, terdengar suara dentuman sangat keras. Membuat Nathan yang tadinya ingin bicara harus urung dilakukan. Dia otomatis menoleh ke arah sumber suara.


Tampaklah kobaran api dari kejauhan. Terdengar juga bunyi sirine yang bersahut-sahutan. Di iringi juga suara samar orang berteriak.


"Apa-apaan itu?!" Jaden sama terkejutnya dengan Nathan. Sekarang atensi semua orang tertuju ke arah kobaran api yang terlihat.


"Yang Mulia!" Ronald selaku pengawal Nathan mendekat. Dia memberikan telepon genggam kepada Nathan.


Tanpa pikir panjang, Nathan segera bicara ditelepon. Matanya langsung membulat saat mendengar kabar buruk mengenai keadaan di sekitar istana.


"Ayo! Kita harus kembali ke istana!" titah Nathan sembari melangkah laju.


"Ada apa, Pangeran?! Apa ada masalah serius?" Jaden yang penasaran, mengejar. Dia tentu ingin tahu mengenal kabar yang diterima Nathan.


"Kau akan tahu sendiri nanti. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan!" sahut Nathan yang tergesak-gesak. Dia segera pergi bersama dua pengawalnya. Meninggalkan Jaden dengan rasa penasaran.


Di sisi lain, Lova merangkak dengan pelan. Jujur saja, seluruh badannya terasa pegal. Bagaimana tidak? Dia menghabiskan waktu sekitar setengah jam melewati ventilasi. Lova sudah tidak sabar ingin cepat-cepat keluar.


Nafas Lova sudah tersengal-sengal. Dia merasa antusias ketika bisa melihat ada cahaya dari kejauhan. Senyuman mengembang di wajah Lova. Ia melajukan pergerakannya.


"Sedikit lagi..." Lova menyemangati dirinya.


Tanpa diduga sebuah kartu tarot perlahan muncul di hadapan Lova. Kali ini kartu tersebut bergambar seorang lelaki yang memegang tongkat dan lentera. Kartu itu sering disebut sebagai the hermit.

__ADS_1


Lova tentu tidak melewatkan kartu tarot untuk di ambil. Dia segera menyimpannya ke saku celana. Kemudian lanjut merangkak menuju cahaya.


Setelah menghabiskan waktu cukup panjang, akhirnya Lova tiba di ujung ventilasi. Dia langsung keluar dari sana. Merebahkan dirinya sendiri ke tanah berlapis salju. Lova mencoba beristirahat sejenak. Menatap langit yang kebetulan sedang dipenuhi bintang.


Lova mengatur nafasnya yang memburu. Perlahan seseorang muncul di hadapannya. Menutupi pandangan Lova dari langit penuh bintang.


"Peek a boo!" ujar Jaden. Membuat Lova langsung merubah posisi menjadi duduk. Gadis itu langsung berlari.Tetapi kaki Jaden sigap menghalangi. Hingga Lova harus jatuh terjerembab ke salju.


Jaden terkekeh geli. Dia mendapatkan pelototan tajam dari Lova.


"Kau sangat menyebalkan! Aku tidak akan kembali ke tempat rahasiamu itu!" tegas Lova.


"Kau yakin?" Jaden mengeluarkan pistol dari saku celana.


"Ya. Aku yakin." Lova perlahan berdiri. Dia juga mengeluarkan senjata yang sama seperti Jaden.


Bukannya takut, Jaden malah tergelak sampai memperlihatkan gigi. Seakan dia meremehkan perlawanan Lova sekarang.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau pikir aku tidak akan berani menembakmu? Begitu?" pungkas Lova dengan tatapan penuh kebencian. Atensinya mendadak teralih ke arah kobaran api yang ada di kejauhan. Dia sempat bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.


"Aku yakin kau tidak akan berani menembakku. Jika kau nekat melakukannya, jangan harap kita akan kembali berteman?" ucap Lova. Dia dan Jaden masih dalam keadaan menodongkan pistol.


"Benarkah? Kapan aku bilang kalau kau adalah temanku?" tanggap Jaden.


Kening Lova mengernyit. Dia kembali bingung dengan sikap Jaden.


"Biarkan aku pergi. Maka aku tidak perlu melakukan perlawanan seperti ini. Aku akan mempercayaimu, Jade!" kata Lova sembari menurunkan pistol. Sebab dia memilih mempercayai Jaden.


Lova beranjak meninggalkan Jaden. Berjalan lurus semakin jauh.


Jaden memicingkan mata. Dia masih belum menurunkan pistol. Ada banyak sekali hal yang bergejolak dalam benaknya. Namun pilihan akhirnya adalah menarik pelatuk pistol.


Dor!


Bunyi tembakan menggema. Sebuah peluru berhasil menghantam salah satu betis Lova. Mata gadis itu membulat sempurna. Dia tidak hanya merasakan sakit di fisik, tetapi juga hati. Apa yang dilakukan Jaden sekarang adalah pengkhianatan terbesar.


Lova tentu ambruk ke tanah. Dalam keadaan darah yang berceceran keluar dari betis kirinya.

__ADS_1


"Jade... Kenapa kau tega melakukan ini..." lirih Lova sambil merembeskan air mata. Pandangannya mulai kabur.


Jaden segera mendekat. Menggendong Lova dengan ala bridal. Dia kembali membawa gadis tersebut ke tempat rahasia. Jaden akan mengobati luka tembak yang disebabkan oleh dirinya sendiri.


Di waktu yang sama, Nathan dalam perjalanan menuju istana. Kebetulan jalanan sedang macet. Karena banyak orang yang turun ke jalanan untuk melakukan demo. Mereka sudah tidak tahan dengan kepemimpinan yang dilakukan oleh Titan.


"Bagaimana, Pangeran? Mobil kita tidak bisa maju?" cetus Ronald yang kebingungan.


"Kalau begitu kita tidak punya jalan lain." Tanpa rasa takut, Nathan segera keluar dari mobil. Dalam perlindungan dua pengawalnya yang setia. Mereka berjalan melewati banyaknya orang.


"Lihat! Itu Pangeran Nathan!" salah satu warga tiba-tiba berseru. Dalam sekejap, kehadiran Nathan langsung menjadi pusat perhatian.


"Sejak awal Raja Renald tidak pernah salah! Raja yang pantas memimpin Axenia adalah Pangeran Nathan!" seseorang lelaki naik ke atas mobil. Ia berseru sangat lantang. Hingga semua orang memekik penuh semangat karena setuju dengan pernyataannya.


"Hidup Raja Nathan!"


"Hidup Raja Nathan!"


"Hidup Raja Nathan!"


Nathan dibuat kaget. Dia mendengar seluruh rakyat Axenia mengelu-elukan namanya. Nathan dan dua pengawalnya bergegas melangkah menuju istana.


Nathan tidak tahu harus bagaimana. Tetapi sebenarnya dia merasa terenyuh mendengar namanya terus diagungkan semua orang. Nathan merasa mendapat penghargaan teramat besar.


Seruan seluruh rakyat Axenia menggema ke segala penjuru. Mereka juga memberi jalan kepada Nathan ke arah istana.


"Pangeran Nathan! Hanya anda harapan kami! Pimpinlah Axenia untuk kami!" seorang wanita paruh baya datang ke hadapan Nathan. Ia meluruhkan tangis sambil menggenggam erat tangan Nathan. "Aku sudah tidak punya apa-apa. Rumahku dihancurkan dan digusur begitu saja. Aku bahkan sudah tidak makan sejak kemarin..." sambungnya histeris.


"Menjauhlah dari Pangeran!" Ronald menjauhkan semua orang yang mencoba mendekati Nathan. Tidak lama kemudian mereka sampai ke istana. Gerbang istana dibuka untuk Nathan dan dua pengawalnya.


Kedatangan Nathan langsung disambut oleh semua anggota kerajaan. Atensi mereka segera tertuju ke arah Nathan.


"Kenapa? Apa kalian ingin aku menjadi rajanya sekarang?" tukas Nathan menebak.


Semua orang terdiam. Kecuali Titan. Dia bangkit dari singgasananya. Lalu berjalan ke hadapan Nathan.


"Ayo kita bicara empat mata. Ini tentang Lova." Titan berbisik ke telinga Nathan. Kabar yang diberikannya sukses membuat pupil mata Nathan membesar. Lelaki tersebut tentu senang jika mendapat kabar mengenai Lova.

__ADS_1


__ADS_2