Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 13 - Hampir Terbunuh


__ADS_3

...༻⑅༺...


Felly menuntun Lova memasuki area atap. Di iringi oleh kedua teman lainnya.


Saat sampai di atap, Cheryl dan Katy terlihat langsung menyambut. Mereka segera menggeromboli Lova dan saling bergantian meminta maaf.


"Lova, peganglah tanganku. Aku ingin menujukkan sesuatu," cetus Cheryl sembari mengulurkan satu tangannya.


Dahi Lova berkerut. Meskipun begitu, dia tersenyum dan meraih tangan Cheryl.


Cheryl segera membawa Lova berjalan mendekati pembatas yang tidak begitu tinggi. Dalam keadaan begitu, seseorang tentu akan jatuh dengan mudahnya.


Merasa Cheryl menuntunnya ke arah pembatas, Lova mulai berfirasat buruk. Terlebih di belakangnya ada Felly dan tiga orang lain yang terus mengikuti. Seolah mereka bersiap ingin melakukan sesuatu.


Lova sontak berhenti melangkah. Lalu melepaskan tangan Cheryl.


"Katakan saja apa yang ingin kalian tunjukkan!" imbuh Lova.


"Kau tidak akan bisa melihatnya jika berdiri di sini," sahut Cheryl.


"Ayolah Lova! Kau bisa melihat hadiah rahasia kami jika berdiri di ujung pembatas." Felly mencoba memaksa Lova bergerak maju.


"Tidak!" Lova menolak tegas. Ia mendorong Felly dengan kasar. Hal itu sontak membuat Felly dan yang lain terperangah.


"Aku tidak tahu apakah kalian benar-benar tulus atau apa. Tapi aku tidak akan berdiri ke dekat pembatas itu!" ujar Lova. Dia punya alasan kuat untuk itu. Lova kebetulan memiliki phobia terhadap ketinggian. Gadis tersebut segera beranjak meninggalkan atap.


"Sial!" maki Felly. Ketika mengetahui rencananya gagal total. Namun dia tidak menyerah. Felly mengajak teman-temannya untuk menyeret Lova.


"Satu lawan lima! Lima pasti menang!" seru Felly dengan seringai jahat. Dia dan ke-empat temannya berhasil menghalangi kepergian Lova. Mereka menyeret gadis itu ke arah pembatas balkon atap.


"Kau benar Lova! Apa yang kami lakukan memang bukan ketulusan! Tapi kami akan pastikan akan membuatmu menghilang dari dunia hari ini!" geram Felly. Dia dan yang lain sukses menyeret Lova ke pembatas atap.


Angin kencang seketika menghantam tubuh Lova. Gadis itu bergidik ngeri. Bagaimana tidak? Ketinggian yang di hadapi Lova sekarang mungkin berkisar 100 meter lebih.


"Tidak!" meski dihantui rasa takut, Lova mencoba bertahan. Ia menahan diri dengan memijakkan kaki lebih kuat.


"Sial! Dia kuat sekali, Fel!" Katy mengeluhkan perlawanan Lova.

__ADS_1


"Dorong saja terus! Aku yakin dia pasti akan tumbang!" sahut Felly. Dia sepertinya sangat bertekad ingin membunuh Lova malam itu.


Wajah Lova mengerucut. Pertanda kalau dirinya sedang menaruhkan tenaga maksimal untuk bertahan. Jujur saja, dua tangannya sudah memerah karena dicengkeram erat oleh Felly dan kawan-kawan.


"Kau harus mati, Lova! Biarkan kami yang mengambil alih posisi primadonamu itu!" ucap Felly dengan kening yang mengernyit dalam.


Bersamaan dengan itu, muncul sebuah kartu tarot baru tepat di atas pembatas. Pupil mata Lova otomatis membesar.


Kemunculan kartu tarot tersebut sama persis seperti dua kartu sebelumnya. Terlihat seperti ada percikan cahaya. Kartu itu bergambar seorang ksatria yang membawa bendera kematian. Kartu dengan gambar begitu sering disebut The Death.


"Lihat! Ada kartu tarot baru muncul! Apa kalian melihatnya?!" kata Lova seraya bertahan sekuat tenaga.


"Kau tidak usah berusaha mengalihkan perhatian kami, bodoh! Kami tidak akan tertipu!" sahut Cheryl. Dia dan teman-temannya memang tidak bisa melihat kartu yang dilihat Lova. Mereka malah semakin gencar menarik gadis itu ke pembatas.


"Tidaaaaakkk!!!" pekik Lova. Tinggal sedikit lagi dia akan jatuh. Akan tetapi semangatnya justru kian memuncak.


Lova menggigit salah satu tangan yang memeganginya. Pemilik tangan itu tidak lain adalah Cheryl. Ia langsung memekik kesakitan karena ulah Lova.


Benar saja, apa yang dilakukan Lova berhasil membuat Felly dan kawan-kawan lengah. Cengkeraman mereka melonggar karena terfokus memastikan keadaan Cheryl.


Karena marah, serangan Lova tidak berakhir sampai disitu. Dia menyerang ke-empat wanita lainnya secara bergantian.


Tidak tanggung-tanggung lagi. Lova mengeluarkan semua jurus bela dirinya. Dari mulai tinjuan, tamparan, bahkan tendangan.


Dalam sekejap, Felly dan yang lain tumbang di lantai. Mereka hanya bisa merintih saling bersahutan.


"Aku bisa saja membunuh kalian sekarang! Tapi aku tidak mau bersusah payah mengotori tanganku! Pergilah jika kalian tidak mau menerima serangan berikutnya!" pungkas Lova.


Felly dan kawan-kawan perlahan berdiri. Mereka saling membantu dan bergegas pergi meninggalkan Lova.


Setelah memastikan Felly dan yang lain pergi, Lova segera mendekati pembatas. Dengan hati-hati dia melangkah. Lalu mengambil kartu tarot yang baru saja muncul.


Lova cepat-cepat berlari menjauhi pembatas. Barulah dia mengamati kartu tarot yang di ambilnya tadi.


"Ini sudah kartu ketiga. Tapi tidak ada satu pun yang membuatku mengerti! Arrgggh!" Lova mengeluh sembari menggaruk kepala dengan perasaan frustasi.


"Segala apa yang ada di dunia selalu memiliki makna." Suara parau seorang wanita tua sukses mengagetkan Lova. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara. Lova menemukan ada seorang nenek dengan jubah panjang berwarna hitam. Jubah tersebut tersambung dengan tudung yang menutupi kepala sang nenek.

__ADS_1


"Si-siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?" tanya Lova meragu.


Perlahan nenek misterius itu mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Dia mengeluarkan buku novel Puteri dan Tiga Pangeran Axenia.


"I-itu... Bagaimana kau bisa memilikinya? Sekarang kita ada di dunia novel yang kau pegang kan?" cetus Lova yang terheran.


"Kau bisa memanggilku Defney." Nenek itu berbalik menghadap Lova. Kemudian berjalan mendekat


"De-defney?" Lova masih bingung. Dia merasa takut tetapi juga penasaran.


"Bisakah aku melihat ketiga kartu tarot yang sudah kau dapatkan?" tanya Defney sembari membuka lebar telapak tangan.


"Kartu tarot? Bagaimana kau--"


"Cepatlah, Nona. Waktumu tidak banyak!" potong Defney memaksa.


Lova buru-buru mengambil ketiga kartu tarot. Lalu memberikannya kepada Defney. Nenek itu terlihat mengamati satu per satu ketiga kartu tarot milik Lova.


"Hmmm... Aku akan memberitahu makna kartu tarot ini. Tapi kau hanya boleh memilih satu," ucap Defney.


"Hanya satu? Bukankah itu tidak adil! Aku ingin tahu makna dari ketiganya," keluh Lova.


"Pilih satu atau tidak sama sekali!" balas Defney. Menatap Lova dengan pelototan.


"Ba-baiklah!" Lova menciut. Sungguh, dia merasakan ada aura aneh yang dimiliki oleh Defney.


Lova memperhatikan kartu tarot miliknya. Namun dia justru terpikirkan hal lain.


"Tunggu dulu. Apa kartu yang kupilih akan berpengaruh dengan nasibku di sini?" Lova menatap penuh tanya.


"Ketiga kartu ini memberitahukan apa yang akan segera terjadi. Sebagai pemiliknya, kau memiliki kesempatan untuk membuat rencana. Apakah kau ingin merubah alurnya atau membiarkan saja seperti seharusnya," jelas Defney serius.


"Benarkah? Menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku bisa kembali ke dunia nyata jika berhasil?" tanya Lova.


"Itu tergantung kepadamu. Tapi aku yakin kau pasti tahu apa yang harus dilakukan," jawab Defney ambigu. "Cepat pilih! Waktu terus berjalan!" desaknya.


Lova mendengus kasar. Walau masih tidak mengerti, dia akan memilih salah satu kartu tarot.

__ADS_1


__ADS_2