Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 18 - Merasa Di Amati


__ADS_3

...༻⑅༺...


"Ayolah, Yang Mulia. Kau itu seorang Pangeran. Aku yakin bersikap baik pasti sudah ada dalam darahmu," tukas Jaden sembari memiringkan kepala. Ia membuang rokok ke tanah. Lalu menginjaknya.


"Kenapa kau sangat takut Lova pergi? Kau tidak menyukainya bukan?" balas Nathan. Tak mau kalah.


Jaden terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Dia merasa lucu terhadap kesimpulan Nathan.


"Asal kau tahu, Pangeran. Lelaki yang menginginkan Lova tidak hanya kau! Dia seorang primadona di Eden Night. Jelas aku tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah!" pungkas Jaden. Tatapan tajamnya seolah seperti memberi ketegasan.


Nathan membisu. Dia melirik ke tangan Jaden yang masih memegangi Lova. Nathan lantas turun tangan untuk mejauhkan tangan Jaden.


"Kau sepertinya sangat keras kepala. Pantas saja semua orang menyebutmu sebagai pangeran yang tak berguna!" ucap Jaden blak-blakkan.


Mata Nathan langsung menyalang hebat. Dia tentu tersinggung akan perkataan Jaden.


"Kau--" Nathan sudah mengacungkan jari telunjuk ke wajah Jaden. Akan tetapi Jaden malah mengeluarkan pistol dan langsung membuat Nathan bungkam.


Jaden menodongkan pistol ke arah Lova. "Aku akan menembak Lova, jika kau nekat pergi berduaan dengannya. Lagi pula apa susahnya mengajakku ikut! Aku bahkan tidak berniat mengganggu!" katanya.


Nathan dan Lova reflek melangkah mundur. Pistol memang selalu jadi senjata andalan Jaden.


"Sudahlah, Pangeran. Lebih baik kita kembali ke kamar saja," cicit Lova. Kedatangan Jaden merubah suasana hatinya jadi buruk.


"Tidak! Aku ingin kita pergi ke suatu tempat," tolak Nathan. Dia mendengus kasar. Kemudian melangkah ke hadapan Jaden. Nathan tetpaksa menyepakati tawaran Jaden sebelumnya. Yaitu membiarkan lelaki bertato itu ikut serta membayar uang dua kali lipat.


"Kenapa tidak dari tadi saja kalian begini. Maka aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan pistol," imbuh Jaden sambil tersenyum girang. Dia segera menyimpan pistolnya ke saku celana. "Ayo masuk ke mobil. Biar aku yang menyetir untuk kalian," sambungnya antusias.


Sementara itu, Lova hanya bisa cemberut. Dia ingin sekali memberi pelajaran kepada Jaden. Tetapi harus ditahan karena lelaki tersebut bukan lawan yang mudah. Seorang pangeran seperti Nathan bahkan tidak mampu melawannya.


'Tuan Jade benar-benar sulit dikalahkan. Satu-satunya jalan untuk mengatasi orang seperti dia adalah dengan cara menjadikannya teman. Haruskah aku mendekatinya juga? Toh kalau dia menyentuhku, aku tidak akan ingat apa yang terjadi. Tapi... Aku merasa tidak rela mengkhianati Nathan,' batin Lova seraya menatap Jaden dari kaca spion. Karena tiba-tiba memikirkan Nathan, dia perlahan menoleh ke arah lelaki itu. Nathan tampak duduk tenang dengan dahi berkerut. Dia juga menatap kesal Jaden dari belakang.

__ADS_1


"Kau pasti sangat kesal pada Tuan Jade," bisik Lova. Membuat Nathan sontak menoleh.


"Sangat!" sahut Nathan.


"Kalau begitu kenapa kau tidak gunakan kekuasaanmu untuk mengatasi orang seperti dia," usul Lova.


Nathan tersenyum kecut. "Apa yang kumiliki, bukan berarti memudahkan segala yang kumau. Semuanya tidak sesederhana itu, Lova..." jawabnya.


Lova mengangguk. Meski penjelasan Nathan terasa ambigu, dia akan memahami.


Nathan menyuruh Jaden membawanya dan Lova ke taman. Jaden lantas dengan senang hati melakukan perintah Nathan.


Selang sekian menit, mobil sampai di tempat tujuan. Nathan segera menuntun Lova keluar dari mobil. Keduanya melangkah memasuki area taman.


Langkah Lova terhenti sejenak. Ia berdecak kagum dengan taman Axenia. Adanya air mancur serta aneka ragam bunga membuat taman tampak begitu indah. Di dunia asalnya sendiri Lova tidak pernah melihat taman seindah itu. Taman yang didatanginya sekarang seperti tempat di negeri dongeng.


"Ekspresimu menunjukan kalau kau memang tidak pernah keluar dari Eden Night," komentar Nathan yang sedari tadi memperhatikan Lova.


"Lova, aku memikirkan apa yang kau katakan tempo hari kepadaku. Yaitu untuk membicarakan semua masalahku," ungkap Nathan.


"Kau bisa mempercayaiku, Pangeran..." jawab Lova dengan tatapan yang meyakinkan.


Nathan mulai bercerita. Dia memberitahu Lova bahwa keadaan di kerajaan sedang kacau. Dua saudaranya yang bernama Titan dan Finn sedang memperebutkan banyak hal. Yaitu harta, tahta, dan Puteri Alana.


Nathan menyebutkan bahwa dia juga harusnya ikut bersaing bersama dua saudaranya. Namun Nathan lebih memilih mengalah. Sebab dia lebih mengkhawatirkan sang ayah yang masih sakit keras. Nathan juga menjadi orang yang paling sering menjaga Raja Renald saat sakit.


"Awalnya kedatanganku ke Eden Night hanya karena mau menenangkan pikiran. Tetapi saat melihatmu untuk yang pertama kalinya, aku merasa tertarik. Kau sangat berbeda dibanding wanita-wanita lain di Eden Night, Lova!" ujar Nathan sembari merangkul Lova.


Senyuman tipis kembali terukir di wajah Lova. Dari cerita Nathan tadi dia mengetahui satu hal. Tidak ada alur cerita yang berubah! Setidaknya alur utama dalam dunia novel yang sekarang Lova masuki.


Seingat Lova, Nathan akan dibunuh karena adanya kedengkian dari Titan. Nathan disebut sebagai pangeran tak berguna karena dia tidak pernah peduli. Terutama terhadap apa yang terjadi di dalam istana. Lelaki itu lebih memilih menjalani hidup sesuka hati. Dia bahkan nekat mendatangi hiburan malam secara rutin.

__ADS_1


Akan tetapi ketulusan Nathan dalam menjaga ayahnya, membuat Raja Renald berniat mewariskan kerajaan Axenia kepada putra keduanya tersebut. Itulah yang menjadi awal mula rencana pembunuhan dilakukan Titan untuk Nathan.


'Alur cerita belum berubah. Aku harus siaga untuk melindungi Pangeran. Karena di dalam cerita, aku akan menjadi saksi kuat akan kematiannya. Saat itulah aku harus melindungi Pangeran dan merubah alur cerita!' Lova bertekad. Dia dan Nathan terus melangkah maju.


"Bagaimana denganmu. Apa kau punya sesuatu juga untuk diceritakan kepadaku?" tanya Nathan.


"Aku sudah menceritakan semuanya kepadamu. Tapi kau tidak percaya," jawab Lova.


"Maksudmu mengenai ceritamu perihal sihir tempo hari?" Nathan menebak.


Lova mengangguk. "Iya! Apa kau masih tidak percaya?" tanya-nya.


"Kalau kau menganggapnya sangat serius, maka aku akan percaya." Nathan menjawab dengan bersungguh-sungguh.


Ketika melangkah bersama Nathan, Lova mendadak merasa kalau dirinya sedang di amati oleh seseorang dari samping.


Lova menoleh ke belakang terlebih dahulu. Memastikan keberadaan Jaden. Lelaki tersebut terlihat masih ada di belakangnya.


Setelah itu, barulah Lova menengok ke samping. Tepatnya ke semak berdaun dan berbentuk persegi panjang. Namun dia tidak melihat siapapun di sana.


Lova otomatis membuang jauh-jauh firasatnya. Dia kembali melangkah bersama Nathan. Akan tetapi perasaan merasa di amati itu kembali muncul setelah beberapa saat kemudian.


Lova mengedarkan pandangan. Mungkin saja dia berhasil menemukan orang yang diam-diam mengikuti. Nihil, dirinya lagi-lagi tidak melihat siapa-siapa.


"Kau kenapa?" tanya Nathan. Heran menyaksikan Lova tampak waspada.


"Apa kau merasa seperti ada orang yang mengikuti?" sahut Lova yang masih terlihat gelisah.


Nathan memindai penglihatan ke segala arah. Satu-satunya orang selain Lova hanyalah Jaden.


"Maksudmu Jaden?" terka Nathan. Nampaknya dia tidak merasakan apa yang dirasakan Lova.

__ADS_1


"Ya sudah, lupakan saja. Mungkin aku hanya berhalusinasi," ujar Lova yang memilih mengabaikan firasatnya.


__ADS_2