
...༻⑅༺...
Lelah berjalan, Nathan dan Lova memutuskan duduk di bangku taman. Tepatnya di bawah pohon rindang berbunga.
Lova kembali menilik lebih jelas keadaan taman. Lalu mendongak ke arah langit malam. Dia mendadak merasa sedih karena tidak bisa keluar dengan bebas.
"Aku harap bisa jalan-jalan saat siang... Aku sudah muak melihat langit malam," ungkap Lova sembari memeluk tubuhnya sendiri.
Nathan menatap nanar. Dia segera merangkul lembut Lova. "Aku berjanji akan mencari cara untuk membawamu keluar dari Eden Night," bisiknya sambil melirik ke arah Jaden yang berdiri tidak jauh.
Jaden terlihat geleng-geleng kepala menyaksikan kedekatan Nathan dan Lova. Dia memasukkan dua tangan ke saku celana. Berdiri dengan santainya.
Sekian jam terlewat. Satu-satunya orang yang merasa bosan hanyalah Jaden. Ia tidak tahan lagi menjadi orang ketiga.
Sementara itu, Nathan dan Lova tampak sangat menikmati kebersamaan. Sesekali bercanda gurau dan tertawa. Nathan juga tidak malu memeluk dan mencium Lova di hadapan Jaden.
"Maaf mengganggu. Malam sudah larut. Sepertinya waktu kalian harus berakhir sampai di sini," sergah Jaden sembari mendekat. Hingga Nathan dan Lova yang tadinya saling berangkulan, harus menjaga jarak.
"Aku sudah membayarmu dua kali lipat, Jade. Kenapa kau tidak membiarkanku bersama Lova sampai semalaman," balas Nathan yang keberatan.
"Kau bisa melakukan itu kalau di Eden Night. Tapi jika di luar seperti sekarang, itu tidak akan terjadi!" tegas Jaden. Ia segera meraih tangan Lova. Memaksa gadis itu untuk kembali ke Eden Night.
"Hei!" protes Lova. Dia berusaha melepas cengkeraman tangan Jaden.
"Ikuti saja, Lova! Aku di sini majikanmu!" ujar Jaden. Terus menyeret Lova mengikuti pergerakan kakinya.
"Jade! Bisakah kau memperlakukan Lova lebih baik. Dia terlihat kesakitan!" Nathan melepas paksa tangan Jaden dari Lova. Dahinya berkerut dalam.
"Terserah kau mau bilang apa. Aku malas berdebat denganmu. Yang jelas Lova harus kembali ke Eden Night sekarang!" tukas Jaden. Kemudian beranjak lebih dulu memasuki mobil.
Diam-diam Nathan dan Lova saling bicara. Dia mengajak gadis itu ikut bersamanya ke istana. Nathan berniat menjadikan ajakan tersebut sebagai alasan berkedok pelarian.
Lova berpikir dahulu sebelum menyetujui. Sampai dia ingat mengenai alur cerita di novel. Dirinya ingat kalau Nathan akan dibunuh ketika membawa karakter Lova ke istana. Untuk sekarang, Lova menolak ajakan Nathan.
"Mungkin lain kali, Pangeran. Jaden pasti tidak mengizinkan," tutur Lova.
"Kau tenang saja. Aku akan bicara dengannya." Nathan bergegas menghampiri Jaden. Ia benar-benar meminta persetujuan kepada lelaki tersebut.
Lova lantas membiarkan. Dia yakin Jaden tidak akan setuju.
__ADS_1
Jaden terlihat menimbang-nimbang sambil menggedik-gedikkan salah satu kaki. Tanpa diduga, dia menyetujui keinginan Nathan. Namun dengan syarat yang sama seperti sebelumnya. Jaden harus ikut serta mendapat bayaran tambahan.
"Tuan Jade! Berhentilah memeras Pangeran! Lagi pula aku tidak setuju untuk pergi ke istana," imbuh Lova.
"Tidak apa. Ayo kita pergi!" ajak Nathan. Dia tidak masalah dengan banyak uang yang dirinya keluarkan untuk Lova. Sedangkan Jaden sendiri, memanfaatkan keadaan itu sebaik mungkin.
Lova masuk ke mobil. Dia berusaha membujuk Nathan agar tidak membawanya ke istana.
"Kau kenapa, Lova? Aku ingin membawamu ke tempat tinggalku. Apakah itu salah?" tanggap Nathan yang merasa kecewa.
"Itu karena kau tidak tahu apa yang kuketahui!" sahut Lova. Hubungan yang tadinya mesra, dalam sekejap berubah menjadi pertengkaran. "Tuan Jade! Kita langsung kembali saja ke Eden Night!" perintahnya yang kini bicara kepada Jaden.
"Tidak! Kita pergi ke istana! Aku akan membayarmu berapapun itu!" Nathan bersikeras.
Satu-satunya orang yang tersenyum dalam suasana tegang itu hanyalah Jaden. Entah kenapa dia lebih suka melihat Nathan dan Lova bertengkar dibanding bermesraan.
"Ayolah... Buat keputusan pasti. Jangan membuat sopir menjalankan mobil tanpa tujuan," cetus Jaden seraya tersenyum mengejek. Ia sengaja bicara begitu agar bisa memancing pertengkaran lagi.
"Kita akan ke istana!"
"Ke Eden Night!"
Lova dan Nathan berujar bersamaan. Keduanya reflek bertukar pandang. Saat itulah Nathan mendekatkan mulut ke telinga Lova.
Lova menggeleng dan tetap menolak. "Kalau kau masih bersikeras ingin ke istana, maka aku sebaiknya turun saja," ucapnya sambil membuka pintu mobil.
"Lova! Apa yang kau lakukan?!" Nathan sontak cemas. Sebab keadaan mobil masih berjalan. Hembusan angin kencang otomatis masuk ke dalam mobil. Mengibaskan rambut serta pakaian Lova. Gadis itu bahkan nyaris terjatuh.
"Hahahaa! Ini menyenangkan sekali!" kata Jaden yang malah tergelak lepas.
Nathan sigap memegangi Lova. Lalu menutup pintu mobil.
"Oke, oke... Aku tidak akan membawamu ke istana," ucap Nathan sambil memeluk erat Lova.
Lova mendengus lega. Dia akan mengingat kalau istana adalah tempat yang harus dirinya hindari.
Nathan melepas pelukannya. Dia menatap selidik Lova. "Aku tidak tahu kenapa kau sangat bersikeras menolak untuk pergi ke istana," pungkasnya.
"Aku hanya takut. Istana tempat yang terlalu besar dan memiliki penjagaan ketat," sahut Lova. Memberi alasan asal.
__ADS_1
"Aku pangerannya! Aku bisa menjagamu!" balas Nathan. Merasa tak percaya.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Mungkin nanti saja."
Nathan lantas mencoba memahami keinginan Lova. Walau dia tidak tahu alasannya apa.
Selang beberapa saat, mobil tiba di Eden Night. Lova dan Nathan harus berpisah kala itu.
Nathan terpaksa menyetir karena dua pengawalnya dalam keadaan mabuk berat. Dia terlihat melambaikan tangan pada Lova. Tetapi raut wajahnya masih menampakkan kekecewaan yang jelas.
"Kencan yang menarik. Kau ternyata juga bisa mengalahkan seorang pangeran," komentar Jaden. Berjalan mengekori Lova dari belakang.
"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Tuan Jade!" sahut Lova. Tanpa menoleh ke belakang.
Jaden menggedikkan bahu. Setelah memastikan Lova masuk ke kamar, dia segera pergi.
Keesokan harinya, Lova tidak bangun pagi. Dia terbangun saat waktu menunjukkan jam sepuluh siang. Lova juga tidak langsung keluar kamar. Ia hanya bermalas-malasan di sana.
Pintu tiba-tiba diketuk. Suara Madam Jessy yang memanggil terdengar. Alhasil Lova langsung membukakan pintu.
"Kau harus bersiap. Jam lima sore nanti ada pelanggan yang menginginkanmu," kata Madam Jessy.
Mata Lova membulat. Dia pikir setelah Nathan memborong jadwalnya setiap hari, dirinya akan lepas dari lelaki lain. Akan tetapi kenyataannya tidak.
"Aku pikir dari sekarang aku hanya akan melayani Pangeran Nathan," tanggap Lova kecewa.
"Astaga, Arlova sayang... Jangan bilang kau mengharapkan cinta dari pangeran? Apa kau tidak berkaca? Kau itu pela-cur! Menjadi selingkuhan Pangeran saja tidak pantas, apalagi kekasih sejatinya!" cerocos Madam Jessy.
Lova terdiam seribu bahasa. Dia terpaksa menuruti perintah Madam Jessy.
Lova berdandan seadanya. Meskipun begitu, kecantikannya tetap maksimal. Dia melangkah menuju ruang utama sesuai arahan Madam Jessy. Sebelum ke kamar, Lova memang dibayar harus menemani pelanggannya untuk minum sambil menonton penari striptis.
Ketika duduk di antara orang banyak, Lova mendengar pembicaraan dua orang lelaki yang menarik perhatian. Gadis itu dengan cepat mengaitkan rambut ke daun telinga. Kemudian mendengarkan baik-baik.
"Rencana pembunuhan yang akan kita lakukan memiliki resiko besar. Jadi kita harus menyusunnya dengan baik."
"Aku tahu. Tapi menurutku membunuh Pangeran Nathan pasti akan mudah."
"Hush! Jangan asal sebut namanya! Kalau ada yang mendengar bagaimana?"
__ADS_1
"Aaah... Kita sedang ada di tempat ramai. Di sini semua orang hanya memperdulikan kesenangan. Mereka mana peduli dengan urusan orang lain. Lihatlah!"
Begitulah pembicaraan dua pria yang didengar Lova. Dia lantas menyempatkan diri untuk melihat salah satu di antara dua lelaki itu. Lova mencoba mengingat wajah dan perawakannya sebaik mungkin.