
...༻⑅༺...
Lova perlahan bangun. Dia menemukan dirinya telentang di atas ranjang. Dalam balutan selimut berwarna putih. Di sebelahnya ada Jaden yang duduk sambil menikmati segelas bir.
Dengan ekspresi cemberut, Lova merubah posisi menjadi duduk. Menyalangkan mata kepada Jaden. Ia tentu masih ingat dengan kejadian terakhir yang menimpanya.
"Jade! Aku akan membunuhmu!" pekik Lova sembari mencoba beranjak dari ranjang. Namun rasa sakit di betisnya langsung terasa. Alhasil Lova terpaksa kembali duduk.
"Ya. Kau bisa membunuhku kalau sudah benar-benar sembuh." Jaden menanggapi dengan santai. Ia meletakkan gelas berisi bir ke atas nakas. Lalu duduk ke hadapan Lova.
"Aku tidak sudi bicara denganmu. Pergilah!" hardik Lova seraya membuang muka.
"Aku punya alasan dibalik tindakanku. Tapi aku tidak bisa mengatakannya kepadamu," ungkap Jaden.
"Apapun alasannya. Aku tidak peduli! Aku hanya ingin keluar dari sini dan bertemu dengan Pangeran Nathan!" sahut Lova ketus.
"Itu tidak akan terjadi." Jaden berdiri. Dia beranjak meninggalkan Lova begitu saja.
Lova marah. Benar-benar marah. Namun dia tidak tahu harus bagaimana untuk melawan orang seperti Jaden. Lelaki itu tidak hanya kuat, tetapi juga cerdik. Jaden bukanlah orang yang mudah ditipu.
"Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Semuanya sudah kulakukan. Kenapa Nenek Defney tidak pernah muncul saat aku dalam kesulitan begini!" gerutu Lova sembari mendengus kasar. Ia segera memperhatikan luka tembak yang ada di betis. Luka tersebut terlihat sudah diobati dalam balutan perban.
Di waktu yang sama, Nathan tengah bicara empat mata dengan Titan. Keduanya sekarang berdiri saling berhadapan di balkon.
"Lova dibawa Jaden. Aku tahu dimana tempat lelaki itu membawanya!" ujar Titan.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang Lova dan Jaden?" Nathan menyelidik.
"Setelah mendengar kabar tentang hubunganmu dengan gadis itu, aku mencari tahu banyak hal. Terutama mengenai Lova," jelas Titan tampak santai. Dia menatap sinis ke arah pintu gerbang. Di sana rakyat Axenia masih mengelu-elukan nama Nathan. "Aku melakukan ini karena tahu kau tidak mau menjadi raja. Bukankah begitu?" sambungnya.
"Aku yakin kau pasti merasa tidak nyaman mendengar orang-orang menyebutmu dengan cara berlebihan begitu." Titan kembali berucap. Dia masih menatap ke arah gerbang istana.
__ADS_1
"Jangan berbelit. Katakan kepadaku dimana Lova! Dan aku butuh bukti kalau Jaden benar-benar bersamanya sekarang!" Nathan mendesak.
"Tentu saja." Titan menyuruh salah satu pengawalnya memperlihatkan sebuah foto kepada Nathan.
Pupil mata Nathan membesar tatkala menyaksikan foto Lova terbaring tak berdaya. Kaki gadis itu juga terlihat berceceran dengan darah yang banyak.
"Apa yang terjadi kepadanya?! Apa yang kau lakukan?!" Nathan yang marah, mencengkeram kerah baju Titan. Dia merasa cemas setengah mati.
"Aku sebenarnya sudah menyuruh Jaden untuk membawakan Lova kepadamu. Tapi ternyata orang itu sangat licik dan membawa Lova untuk dirinya sendiri. Sepertinya bukan hanya kau yang menyukai gadis itu, Nate. Aku sarankan kau sebaiknya rebut kekasihmu secepatnya!" Titan melebarkan kelopak mata. Dia sangat pintar memanas-manasi seseorang untuk berbuat sesuatu.
"Beritahu aku dimana tempatnya!" Karena dirundung perasaan khawatir yang memuncak, Nathan ingin cepat-cepat menemui Lova. Dia mempercayai Titan dan segera pergi dari istana.
Nathan terpaksa pergi lewat gerbang belakang. Sebelum masuk ke mobil, Finn mencegat. Dia memberitahu Nathan harus pergi sendiri.
"Kenapa bisa begitu?!" protes Nathan.
"Kami membutuhkan prajurit tambahan untuk berjaga di istana. Lagi pula kita tidak tahu kapan rakyat Axenia akan mengamuk. Kita harus menjaga semua anggota kerajaan dengan baik bukan?" ujar Finn.
"Berani sekali kau bicara begitu denganku!" timpal Finn dengan mata yang melotot. Ronald lantas menundukkan kepala.
"Ronald benar! Aku juga anggota kerajaan. Biarkan dia yang mengawalku sendirian. Aku akan biarkan Tom tinggal," kata Nathan. Ia masuk ke mobil. Di iringi oleh Ronald setelahnya. Mereka segera beranjak menggunakan mobil.
Saat dalam perjalanan, Nathan menyuruh agar Ronald menyetir lebih cepat. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Lova. Nathan juga sesekali mencoba menghubungi Jaden. Akan tetapi dia tidak mendapat jawaban sama sekali.
Nathan merasa sangat kesal dengan Jaden. Ternyata selama ini Jaden menipunya. Padahal dia hampir setiap hari mendatangi Eden Night. Namun Jaden selalu bilang tidak tahu dimana Lova.
"Saat bertemu Jade. Aku tidak akan segan-segan memberinya pelajaran!" Nathan mengepalkan tinju di kedua tangan. Raut wajahnya tampak bertekad.
Mobil melaju dengan cepat. Saat melewati persimpangan, Nathan dan Ronald dikejutkan dengan sebuah truk dari arah samping. Truk tersebut berjalan sangat cepat ke arah mobil Nathan.
"Ronald! Belokkan mobilnya!" perintah Nathan dengan nada berteriak.
__ADS_1
Saat Ronald mencoba memutar setir, truk sudah terlanjur menabrak. Mobil Nathan sontak meluncur dan tersudut ke sebuah tiang listrik. Dalam sekejap Nathan dan Ronald tidak sadarkan diri. Keduanya sama-sama mengeluarkan banyak darah.
Semua orang disekitar panik. Mereka segera memanggil bantuan secepat mungkin.
Sementara itu, Lova duduk termangu di tepi ranjang. Dia tidak menyentuh makanan yang telah lama tersedia di meja.
Jaden datang. Dia menghela nafas panjang ketika menyaksikan Lova. Lelaki itu mendekat dan mencoba menyuapi makanan untuk Lova.
Dengan cepat Lova memukul keras sendok yang disodorkan Jaden. Hingga makanan berhamburan di lantai.
"Kau akan mati jika tidak makan," ujar Jaden.
"Biarkan saja. Itu maumu bukan?" balas Lova sambil melipat dua tangan ke depan dada. "Aku hanya akan makan jika Pangeran Nathan yang menyuapi," lanjutnya. Kemudian segera telentang ke ranjang.
Sejujurnya Lova merasa sangat lapar. Namun dia sengaja menahan karena tidak punya cara lain lagi untuk melawan Jaden.
"Terserah! Aku yakin, cepat atau lambat, kau akan makan." Jaden menarik sudut bibirnya ke atas. Dia segera pergi keluar kamar.
Lova melirik ke arah makanan lezat yang ada di piring. Dia yang lapar, hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
"Tidak! Aku harus tahan!" Lova mengingatkan dirinya sendiri. Dia segera membawa nampan berisi makanan keluar kamar. Lalu membuangnya ke bak sampah.
Dua hari terlewat. Lova masih mogok makan. Wajahnya semakin pucat.
Jaden dan bawahannya sudah lelah membujuk Lova. Sekarang Jaden sedang duduk sambil memijit-mijit kepala. Ia tidak menyangka, jatuh cinta akan membuatnya tersiksa.
"Aargghhh!!! Aku benci perasaan ini!" Jaden mengamuk. Ia melemparkan botol berisi bir. Botol itu pecah berkeping-keping.
Courtney tiba-tiba datang. Dia membawa kabar mengenai Nathan. Gadis tomboy itu mengatakan kalau Nathan mengalami kecelakaan dua hari lalu.
Jaden dibuat kaget dengan kabar yang didapatnya. Dia langsung membulatkan mata. Setelah itu, Jaden berjalan laju menuju pintu keluar. Dirinya berniat menemui Titan.
__ADS_1