
...༻⑅༺...
Lova menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia memasang tatapan kosong. Kini dirinya tidak tahu harus bagaimana. Sudah tidak bisa pulang, Lova juga sebentar lagi akan kehilangan Nathan.
"Apa benar aku harus merelakan Nathan?" gumam Lova dengan raut wajah sendu. Ia dalam posisi tengkurap sembari memeluk bantal. "Jika iya, tapi kenapa hatiku merasa tidak rela..." sambungnya.
Satu malam terlewat. Untuk pertama kalinya Lova tidak bisa tidur. Dia memikirkan rumah dan juga Nathan. Ketika gadis itu menoleh ke arah jam dinding, jarum sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi.
Lova merubah posisi menjadi duduk. Memasang tatapan kosong. Dia sudah bosan menjalani keseharian di Eden Night. Lova benar-benar harus melakukan sesuatu untuk pergi dari tempat terkutuk tersebut.
"Ah benar! Tuan Jade! Kemarin sepertinya dia tertarik untuk membantuku pergi dari sini," cetus Lova seraya bediri. Dia segera keluar dari kamar.
Lova mencari Jaden. Dari mulai ke kamar sampai ke tempat-tempat yang sering didatangi lelaki itu. Namun Lova tidak berhasil bertemu dengan Jaden. Kini dirinya terpaksa bertanya kepada Madam Jessy.
"Jade sedang ada urusan penting. Dia mungkin akan pergi cukup lama," jawab Madam Jessy sembari menatap selidik. "Kenapa? Tidak biasanya kau mencari Jade lebih dulu. Apa kau juga akan menggodanya? Persis seperti yang kau lakukan kepada Pangeran Nathan? Sebab akhir-akhir ini kulihat kau juga dekat dengan Jade," sambungnya.
"Tentu tidak. Aku tidak perlu bersusah payah melakukannya. Karena Tuan Jade adalah lelaki mata paling keranjang yang pernah kukenal. Tak perlu digoda pun dia akan tergoda," balas Lova. Dia tersenyum singkat. Lalu beranjak meninggalkan Madam Jessy.
Lova menghembuskan nafas berat. Dia duduk di ruang utama Eden Night. Kemudian menenggak bir dari dalam gelas. Wajahnya langsung meringis karena merasa kepahitan.
Atensi Lova tertuju ke arah televisi. Kebetulan sedang ditayangkan proses pemakaman Raja Renald. Dari sana Lova dapat menyaksikan Nathan. Wajah lelaki itu tampak sembab. Menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam.
Berbeda dengan Titan dan Finn yang terkesan datar saja. Jelas dua kakak beradik itu tidak mempunyai hubungan dekat dengan raja.
Pupil mata Lova membesar saat menyaksikan Puteri Alana turut hadir. Dia terlihat tertunduk sedih. Setidaknya eskpresi Puteri Alana terkesan tulus dibanding Titan dan Finn.
"Sepertinya mulai sekarang kau tidak akan bertemu dengan Pangeran Nathan lagi. Aku yakin dia akan sibuk mengurus Axenia," imbuh Madam Jessy. Dia duduk ke sebelah Lova.
"Aku pikir begitu," tanggap Lova datar. Ia bahkan enggan menoleh ke arah lawan bicara.
"Sudah kubilang, kau harusnya tahu diri," ujar Madam Jessy. Entah sudah berapa kali dia menyebutkan kalimat itu.
Lova mendelik. Kata-kata menyebalkan itu membuatnya tambah jengah. Dia lantas beranjak meninggalkan ruang utama.
__ADS_1
Hari-hari dijalani Lova seperti biasa. Tanpa Jaden, apalagi Nathan. Semuanya terasa membosankan. Sampai akhirnya pengumuman dari pihak kerajaan mulai tersebar.
Dari yang Lova dengar, Nathan terpilih sebagai penerus Raja Renald. Hari pengesahan akan dipersiapkan oleh pihak kerajaan. Bahkan oleh rakyat Axenia.
Sekarang Lova berada di balkon sendirian. Dia melipat tangan di atas pembatas yang terbuat dari teralis. Lova menghela nafas panjang berkali-kali.
Lova terkesiap. Ketika ada sesuatu yang dingin menghantam kulitnya. Dia sontak menengadah ke atas. Lova tersenyum ketika menyaksikan salju berjatuhan dari langit.
"Musim dingin?" Lova tersenyum sembari membuka lebar kedua telapak tangannya. Dia seperti anak kecil yang pertama kali melihat salju.
Mata Lova membulat ketika melihat benda berbentuk persegi panjang melayang di udara. Dari bentuknya, dia dapat menduga benda apa itu. Percikan cahaya juga bersinar mengelilingi benda berbentuk persegi panjang tersebut.
"Ini kartu kedua," imbuh Lova. Dia mengangkat satu tangan ke udara. Lalu menjangkau kartu tarot yang kebetulan memang melayang ke arahnya.
Sebuah kartu bergambar makhluk bertanduk mengerikan sudah ada di tangan Lova. Dia merasa agak ngeri saat melihatnya. Dalam kartu tarot sendiri kartu itu sering disebut The Devil.
"Ternyata kartunya tidak seindah kemunculannya," komentar Lova sembari menyimpan kartu tarot ke dalam bra. Tanpa sepengetahuannya, dari arah belakang ada seseorang yang datang. Dia memakaikan mantel untuk Lova.
Merasa penasaran, Lova ingin berbalik badan. Akan tetapi sosok di belakangnya tidak membiarkan. Orang tersebut justru memeluk Lova dengan erat. Saat itulah Lova dapat mencium bau aroma khasnya.
"Menurutmu?" tanggap Nathan.
Lova tersenyum lebar ketika bisa mendengar suara itu. Sekarang dia melepas paksa pelukan Nathan. Kemudian berbalik menghadap lelaki tersebut. Wajah yang dirinya rindukan kini hadir di depan mata.
"Aku merindukanmu," ungkap Nathan. Matanya memancarkan binar kagum.
Lova yang awalnya senang akan kehadiran Nathan, tiba-tiba merasa gundah. Sebab dia ingat mengenai rencana Titan terhadap Nathan. Lova tidak mau hal itu terjadi.
"Aku mendengarmu terpilih untuk memimpin kerajaan Axenia. Bagaimana perasaanmu?" tanya Lova.
Nathan berhenti tersenyum. Ia membuang muka sejenak. Seakan ada sesuatu yang mengganggunya.
"Ya. Tapi jujur, aku tidak pernah menginginkan hal itu. Aku hanya ingin hidup bebas," ujar Nathan tulus.
__ADS_1
"Tapi menurutku kau satu-satunya Pangeran yang pantas menjadi raja," sahut Lova.
"Bagaimana kau bisa sangat yakin? Kau bahkan tidak pernah bertemu dengan Titan dan Finn."
"Aku hanya merasa yakin." Lova menyentuh lembut wajah Nathan.
"Dengar. Kedatanganku ke sini dengan maksud untuk membawamu pergi. Ikutlah denganku ke istana dan jadilah ratuku," tawar Nathan. Membuat mata Lova sontak membola.
"Aku? Jadi ratumu? Kau bercanda kan?" Lova merasa tidak percaya.
"Aku tidak akan bahagia menjadi raja jika ratunya bukanlah dirimu. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang!" ucap Nathan.
"Tapi kau tahu kalau aku..."
"Sudah kubilang aku tidak peduli!" Nathan menegaskan.
"Tidak, Pangeran. Ini salah! Kau sebaiknya pulang sekarang. Aku tidak bisa ikut denganmu," tolak Lova seraya menggeleng dan melepas mantel pemberian Nathan.
"Lova! Kau kenapa? Kau juga mencintaiku bukan?" Nathan merasa kecewa.
"Entahlah. Aku masih bingung dengan perasaanku..." jawab Lova berkilah. Dia bahkan tidak berani menatap Nathan.
Lova sebenarnya terpaksa menolak ajakan Nathan. Karena dia tahu Titan akan melakukan sesuatu pada Nathan jika dirinya nekat menjalin hubungan serius. Lova yakin, Nathan pasti akan menanggung cacian dan malu setengah mati. Mengingat Lova bukanlah berasal dari orang terhormat.
"Lova! Kumohon... Jangan begini. Aku tahu kau melakukannya karena tidak mau membuatku malu." Nathan menggenggam kedua tangan Lova. Menatap dengan penuh harap.
Lova hanya membisu. Bersamaan dengan itu, Jaden muncul dari belakang Nathan.
"Pangeran! Sepertinya kau harus secepatnya pulang! Aku harap kau tidak lagi mendatangi Eden Night," cetus Jaden. Membuat Nathan lantas berbalik dalam keadaan menatap tajam.
"Tuan Jade!" seru Lova. Dia berlari kepelukan Jaden.
Nathan yang tadinya berniat berdebat dengan Jaden, mengurungkan niat. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Lova.
__ADS_1
Hal serupa juga dirasakan Jaden. Dia bingung terhadap sikap Lova. Satu hal yang pasti, jantung Jaden berdebar sangat cepat.