Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel

Menjadi Wanita Penghibur Di Dunia Novel
Bab 24 - Tidak Bisa Pulang?


__ADS_3

...༻⑅༺...


Peluru mengenai punggung Lova. Gadis itu mengeluarkan darah yang cukup banyak. Nathan tentu merasa khawatir. Dia segera menghubungi bantuan dengan menggunakan ponsel. Nathan juga tidak lupa untuk memberitahu serangan yang terjadi kepada pihak keamanan istana.


Atas perintah Nathan, semua pengawal turun tangan. Mereka segera berpencar ke seluruh tempat yang ada di istana. Listrik bahkan sudah kembali menyala.


"Bantuan akan segera datang. Bertahanlah, Lova..." ujar Nathan. Dia merebahkan Lova ke pangkuan. Gadis itu terlihat berusaha keras menahan sakit.


Lova merasa penglihatannya agak buram. Tetapi saat itulah dia merasakan kilatan cahaya yang mendadak muncul. Seolah ada sesuatu hal penting yang terjadi.


"Pangeran... Apa kau bisa melihatnya juga?..." tanya Lova lirih.


"Melihat apa? Kumohon jangan terlalu banyak bicara agar sakitnya tidak bertambah," ujar Nathan sembari menutupi luka tembakan Lova dengan seutas kain. Dia menoleh ke arah pintu. Berniat keluar agar bisa secepatnya mengobati Lova.


Merasa tidak bisa mengulur waktu, Nathan nekat keuar ruangan. Dia tak peduli meski harus menghadapi sekolompok orang bertopeng tadi.


Nathan menggendong Lova dengan ala bridal. Dia berusaha berlari dengan cepat. Langkahnya terhenti ketika melihat Jaden muncul dari arah depan.


"Lova!" seru Jaden. Dia bergegas menghampiri. Memastikan keadaan Lova.


"Dia tertembak. Aku akan membawanya ke rumah sakit!" jelas Nathan yang terdengar seolah sedang tergesak-gesak.


"Tidak! Kau tidak bisa pergi, Pangeran. Biar aku yang membawa Lova ke rumah sakit!" kata Jaden seraya mencoba merebut Lova dari gendongan Nathan.


"Tidak! Aku tidak mempercayaimu! Apa yang sekarang menimpa Lova, bisa saja terjadi karena dirimu!" tukas Nathan.


"Dengar! Orang sepertiku memang terlihat seperti tidak punya belas kasih. Tapi aku tegaskan padamu bahwa aku tidak akan menyakiti wanita seperti Lova!" balas Jaden. Dia bertukar tatapan sengit dengan Nathan.


"Apa kalian akan terus bertengkar sampai aku mati? Aku... Kesakitan sekarang..." celetuk Lova. Dia yang merasa tidak tahan mendengar Nathan dan Jaden berdebat, langsung angkat bicara.


"Tenanglah, Lova. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit," sahut Nathan. Ia mencoba kembali melangkah. Namun lagi-lagi dihentikan Jaden.

__ADS_1


"Jika kau peduli dengan Lova, maka dengarkanlah aku. Apa yang akan dikatakan orang jika melihat seorang Pangeran memiliki hubungan dekat dengan wanita penghibur? Apa kau tidak membayangkan dengan hal yang akan menimpa Lova? Apalagi jika dia diketahui mempunyai hubungan istimewa denganmu?!" pungkas Jaden. Sukses membuat Nathan terdiam seribu bahasa. Lelaki itu tidak bisa membantah pernyataan Jaden.


Nathan mendengus kasar. Setelah dipikir-pikir, perkataan Jaden memang ada benarnya. Dia tidak mau kehidupan Lova tambah terhina jika diketahui memiliki hubungan dekat dengan dirinya.


"Ya sudah. Bawalah Lova ke rumah sakit. Kumohon jagalah dia. Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu yang buruk kepadanya!" Nathan menyerahkan Lova ke gendongan Jaden.


"Itu pasti. Aku nanti akan memberimu kabar, Yang Mulia!" kata Jaden. Dia berlari untuk beranjak dari istana. Kemudian membawa Lova ke rumah sakit.


...***...


Lova perlahan membuka mata. Dia mengerjap pelan. Sebab cahaya matahari dari jendela cukup menyilaukan.


Satu tangan Lova menyentuh luka tembak di punggung. Lukanya sudah diobati dan dibalut dengan perban. Rasa sakitnya juga sudah berkurang.


Selepas memeriksa keadaan dirinya sendiri, Lova mengedarkan pandangan ke sekitar. Sampai sosok Defney harus mengejutkan jantungnya. Wanita tua itu terlihat duduk tenang di dekat pintu.


"Astaga! Kenapa kau selalu begitu. Muncul tiba-tiba, pergi pun tanpa pamit!" omel Lova dengan dahi yang berkerut dalam.


"Kerja bagus, Lova! Kau berhasil menyelamatkan Pangeran Nathan. Apa yang kau lakukan kemarin malam telah merubah alur cerita utama. Ya setidaknya kau dan Nathan tidak akan di ancam dengan kematian lagi," cetus Defney. "Apa kau merasakan ada kilatan cahaya yang muncul?" tanya-nya. Melanjutkan pembicaraan.


Lova mengangguk. Dia menyebutkan bahwa malam itu dirinya sempat melihat kilatan cahaya ketika bersama Nathan.


Defney tersenyum. Dia memberitahu kalau kilatan cahaya yang muncul adalah tanda bahwa alur cerita sudah berubah.


"Berarti aku berhasil bukan? Apa aku akan pulang?" Lova yang mendengar sangat senang. Pikiran untuk kembali pulang adalah hal yang pertama kali terlintas dalam benak.


Defney menggeleng. "Lova kau akan tetap di sini jika masih memiliki harapan untuk pulang. Dunia ini akan membiarkanmu kembali saat kau tidak lagi berharap untuk pulang," tuturnya memberitahu.


Lova memiringkan kepala sambil mengerutkan dahi. Ia berpikir. Kali ini dia berusaha tidak mengalihkan pandangan dari Defney. Dirinya ingin melihat bagaimana wanita tua tersebut pergi.


"Kau kenapa terus menatapku?" tukas Defney.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau tidak bisa pergi jika aku terus menatapmu?" tanggap Lova. "Ngomong-ngomong, aku kemarin berhasil menemukan kartu tarot baru," ujarnya sembari merogoh ke dalam bra. Tanpa sadar dia mengalihkan perhatiannya dari Defney.


Saat Lova hendak menyerahkan kartu tarot, dia menemukan Defney sudah tidak ada. Kini gadis itu hanya bisa mengacak-acak rambut. Ia bahkan belum bertanya mengenai penjelasan terakhir Defney tadi.


Lova mendengus kasar. Dia baru sadar kalau dirinya berada di rumah sakit. Itu menandakan bahwa Lova ada di luar Eden Night. Pikiran untuk melarikan diri otomatis muncul dalam benak.


Lova memaksakan diri untuk duduk. Lalu melepas infus dari tangan. Selanjutnya, dia segera berjalan melewati pintu.


Tanpa disangka, sebuah tangan berhasil mencengkeram pundaknya dengan kuat. Orang itu ternyata adalah Jaden.


"Sudah kuduga. Kau pasti berpikiran untuk melarikan diri," ujar Jaden. Membuat raut wajah Lova sontak cemberut.


"Tidak. Aku hanya ingin mencari udara segar," kilah Lova seraya memutar bola mata jengah.


"Benarkah? Tapi kenapa kau melepas infusmu?" sahut Jaden. Tak mau kalah.


"Terserah." Lova mengalah. Dia lantas duduk ke bangku yang ada di dekat Jaden.


Hening menyelimuti suasana. Hingga Jaden berbicara mengenai penyerangan yang terjadi di istana.


"Pangeran akan merahasiakan kedatangan kita ke istana. Meskipun begitu, kau harus memberi kesaksian kepada pihak kerajaan," kata Jaden. Dia segera menyesap kopi yang sejak tadi terpegang di tangan.


Lova memikirkan dalang yang sudah memimpin rencana pembunuhan Nathan. Nama Titan tentu terlintas dalam pikiran. Dia ingin memberitahukan tentang itu kepada semua orang. Namun Lova tahu dirinya tidak akan dipercaya bila tidak memiliki bukti kuat.


"Aku pikir Pangeran Nathan harus waspada dengan orang terdekatnya," imbuh Lova.


"Termasuk dirimu?" sahut Jaden.


"Tentu tidak! Maksudku orang terdekatnya di istana. Mungkin saja mereka memiliki dendam atau apalah itu." Lova mengemukakan asumsinya.


"Benar juga." Jaden duduk menyandar ke sebelah Lova. Dia menghela nafas panjang. "Tapi aku tak peduli. Aku juga punya banyak urusan yang harus di urus. Selama beberapa hari ini kerjaanku terus mengurus dirimu," sambungnya sambil melirik Lova.

__ADS_1


"Apa-apaan itu! Lagi pula aku tidak pernah meminta untuk di urus! Kau pikir aku anak balita?" balas Lova sinis. Namun Jaden justru tergelak geli. Entah kenapa lelaki itu senang menyaksikan Lova mengomelkan omong kosong.


__ADS_2