
Mentari menutup mata rapat-rapat ketika Alga semakin mendekat. Gadis itu sudah terpentok ke sudut yang di belakangnya adalah lemari baju milik suaminya.
"Minggir, aku mau ambil handuk," ucap Alga.
Sontak, Mentari langsung membuka mata. Wajahnya sudah berubah merah, betapa malunya ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Syukurlah."
"Syukur apanya?"
Tari merasa tercekat, tidak mungkin ia menjawab bahwa ia berpikir suaminya akan melakukan itu padanya.
"Emm, itu. Mmm, anu."
"Kamu gak jelas, Tari. Apa kamu pikir aku akan berbuat sesuatu padamu?" duga Alga.
"Ti-tidak!" Mentari menggeleng keras kepalanya.
"Jangan bohong! Bahkan kamu terlihat gugup. Kamu tenang saja, kamu bukan level-ku." Alga sembari melihat ke arah Tari dari ujung kaki sampai ujung kepala. Lalu melihat ke arah dadanya.
Mentari kembali menyilangkan tangannya.
Alga yang melihat langsung tergelak, menertawakan ekspresi gadis itu.
"Aku tidak tertarik padamu, itu-mu saja sangat kecil," ledek Alga. Lalu pria itu membalikkan tubuhnya berjalan menuju kamar mandi.
"Walau pun kecil, tapi ini masih ori." Ucapan itu mampu menghentikan langkah Alga. Hanya sejenak, lalu kembali melanjutkannya.
Tari sendiri merasa geram, bisa-bisanya suaminya itu menghinanya.
"Awas saja kalau dia ... Ah, mikir apa sih aku ini? Sampai kapan pun itu tidak akan terjadi." Tari menepis bayang-bayang, di mana sepasang suami istri akan melakukan kewajibannya.
* * *
"Mandi sana, aku gak sudi tidur dengan orang yang tidak mandi." Alga melempar handuk ke arah Tari.
Sontak, Tari langsung berdiri dari posisinya yang sedang rebahan di sofa tangan indahnya berselancar di gadget-nya. Ia mematikan ponselnya lalu menyimpannya di atas meja. Ia berjalan sambil menghentakkan kakinya, merasa kesal pada suaminya itu.
Sejenak, ia menatap tajam wajah Alga.
"Sudah sana, mandi. Nanti Mama keburu memanggil kita untuk makan malam," seru Alga.
Mentari pun menuju walk in closet. Ia membersihkan diri di sana, seusainya, ia kembali masuk ke dalam kamar. Alga masih berada di sana, bahkan ia sedang terbaring di kasur. Asyik bermain dengan benda pipihnya. Pria itu terlihat bahagia, senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Omsu, kamu keluar dulu sana. Aku mau pakai baju."
"Kalau mau pakai baju, ya pakai saja. Apa urusannya denganku yang harus keluar? Aku tidak akan tergoda!" Ujar Alga tanpa menoleh pada Tari.
Tari berdecak kesal, tentu ia malu memakai baju di depan suaminya. Tak ada pilihan, ia kembali ke kamar mandi sambil membawa bajunya. Tak lama, ia kembali dengan baju lengkap.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Alga, Tari. Ayok turun, kita makan malam bersama," sahut Ajeng berada di balik pintu.
"Iya, Ma," jawab Alga dan Tari bersamaan.
* * *
"Mana mereka?" tanya Yuda ketika Ajeng sudah kembali ke ruang makan.
"Sebentar lagi juga turun, tuh mereka." Tunjuk Ajeng menggunakan wajahnya.
Alga dan Tari duduk berdampingan. Melihat menu makanan, sedikit istimewa malam ini. Ingat kata sang ayah, Tari langsung menjalankan tugasnya sebagai istri. Meski itu masih bagian sandiwara mereka.
"Terimakasih, sayang," kata Alga pada Tari setelah istrinya itu mengambilkan makan untuknya.
Yuda dan Ajeng tersenyum melihat keakuran mereka, tanpa curiga sedikit pun.
"Oh ya, Ga. Rencananya kalian akan bulan madu kemana?" tanya Yuda.
Mentari yang sedang minum langsung tersedak ketika mendengar 'bulan madu,' apa harus ada bulan madu dengan pernikahan mereka? Pernikahan yang begitu banyak akting di sana.
"Tari masih sekolah, Pa. Bentar lagi dia ujian, mana kepikiran untuk bulan madu. Jangan aneh-aneh deh, Pa!" jawab Alga.
"Iya, Pa. Kasihan Tari, nanti saja untuk itu..l Biarkan dia menyelesaikan sekolahnya," timpal Ajeng.
"Padahal, Papa pengen cepat punya cucu."
Bukan cuma Tari yang tersedak, Alga ikut menyemburkan cairan dalam mulutnya karena ia tengah meminum air putih.
"Cucu?" kata Alga.
"Iya, cucu. Ada yang salah emangnya? Kalian 'kan sudah sah, wajar Papa menginginkan cucu."
Alga dan Mentari semakin frustrasi, ia pikir dengan menikah semuanya selesai. Tapi nyatanya? Benar-benar di luar ekspektasi.
"Pa ... Biarkan Tari menikmati masa remajanya. Kalau boleh saran, tunda dulu momongan," kata Ajeng. Ia hanya ingin Tari menikmati masa remajanya dengan baik, meski ia sudah menikah.
__ADS_1
"Aku setuju sama Mama," sahut Alga. Jangankan punya anak, berpikit akan menyentuhnya pun tidak.
Karena acara makan malam sudah selesai, mereka menyudahi semuanya. Alga dan Tari saja bahkan sudah meninggalkan ruang makan. Mentari harus belajar, sedangkan Alga ia harus mengecek laporan kantor yang dikirimkan oleh sekretarisnya.
* * *
"Tari, ini sudah malam. Sebaiknya kamu tidur, aku juga sudah ngantuk." Alga bergegas lebih dulu ke atas ranjang.
Sementara Mentari, gadis itu membereskan buku-bukunya. Menghampiri Alga yang lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tari terdiam sejenak, berpikir malam ini ia akan tidur dengan laki-laki ini dengan penuh kesadaran.
"Ayok tidur, kamu tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa,Tari. Aku tidak akan menyentuhmu." Setelah mengucapkan itu, Alga memasang benteng. Meletakkan guling di tengah sebagai batas.
"Tidur!" seru Alga lagi.
Dengan sedikit ragu, Mentari naik ke atas kasur. Ia menarik selimut yang digunakan Alga, bukannya tidur. Mereka malah berebut selimut.
"Aku gak kebagian, Tari," kilah Alga. "Kamu tidurnya jangan jauh-jauh," sambungnya lagi.
Karena Mentari tidak menggubrisnya, jadi Alga yang mendekatkan diri pada gadis itu. Posisi Tari membelakangi Alga, sementara suaminya menghadap punggung istrinya. Aroma tubuh Tari begitu menyeruak pada penciuman Alga. Ia merasa tenang menghirup aroma itu.
Seperkian detik, Alga pulas dari tidurnya. Ia malah sudah berkelana ke alam mimpi.
Sedangkan Tari, gadis itu malah tidak bisa memejamkan mata. Ia belum terbiasa tidur dengan seorang pria. Mulutnya malah komat-komit tidak jelas, entah membaca doa atau apa. Yang jelas ia ingin cepat tidur dan berganti hari. Hingga tengah malam, ia baru bisa tidur.
Keesokkan harinya.
Guling yang dijadikan pembatas, entah hilang kemana. Yang ada sekarang, mereka malah tidur saling berpelukkan.
Alga dan Mentari belum menyadari akan hal itu. Beberapa menit kemudian, ayam tetangga berkokok. Suara itu berhasil membangunkan Tari.
Bugh, bugh, bugh.
Beberapa bogeman mentah Tari luncurkan ke tubuh suaminya. Seketika, Alga langsung terjaga dari tidurnya. Merasakan sakit akibat pukulan yang diberikan istrinya.
"Apa-apa kamu ini? Kamu pikir ini tidak sakit?" Mata Alga menyalak marah, mungkin sebagian wajahnya ada yang memar akibat pukulan itu.
"Omsu bohong, katanya tidak akan menyentuhku! Buktinya, Omsu tidur di tempat bagianku." omel Tari, karena suaminya sudah melewati batas yang dipasang oleh suaminya sendiri.
Alga yang menyadari posisinya, ia langsung menggeserkan tubuhnya. Ia menyentuh pipi yang terasa sakit.
"Maaf, Omsu. Aku tidak sengaja."
"Kalau setiap hari begini, aku bisa babak belur," batin Alga.
__ADS_1