Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 20


__ADS_3

Kejadian itu tak berselang lama, karena Alga tak kuat melihat adegan mesra yang dilakukan Tari dengan pria lain. Lalu, ia mengajak pulang pada Citra. Akhirnya mereka pulang lebih dulu. Benar-benar seperti orang asing, ia melewati tiga manusia yang ia kenal salah satu di antaranya.


Setelah kepergian Alga, Tari pun menghentikan aksinya yang sedang menyuapi Chiko.


"Mas, makan sendiri saja 'lah." Tari meletakkan sendok di piring. Hatinya merasa puas setelah berhasil memanas-manasi hati suaminya, meski itu belum tentu berhasil, tapi Tari sudah cukup senang dengan ini. Setidaknya ia berhasil membuat acara mereka berantakan.


Tak lama, Tari meminta pulang pada Chiko. Lagi-lagi, Chiko hanya mengikuti keinginan Mentari. Akhirnya mereka bertiga pulang.


* * *


"Mas Chiko anterin aku dulu, setelah itu baru Bunga," ujar Tari yang sudah berada di dalam mobil.


"Loh, kok kamu dulu. Rumah Bunga bukannya sebelum rumah saudaramu." Karena Chiko belum tahu tempat tinggal Tari yang sekarang.


"Aku ada urusan sebentar ke rumah temen, rumahnya gak jauh dari sekolahku," alasan Tari pada Chiko.


Akhirnya, Chiko lebih dulu mengantar Tari sampai rumah temannya. Tari turun dari mobil, melambaikan tangan ke arah mobil itu, tujuannya pada Bunga. Bukan pada Chiko, meski nanti akan ada kesalahpahaman antara ia dan Chiko nanti.


Tari memasuki gerbang, ia melihat mobil suaminya sudah berada di garasi. Dengan jantung yang sudah dag dig dug tak karuan, ia terus berjalan sampai langkahnya sudah berada di depan pintu.


Betapa terkejutnya Mentari setelah membuka pintu, ia melihat Alga tengah bersedekap tangan di dada. Hidungnya sudah kembang-kempis menahan amarah. Tapi, Alga mencoba meredakannya karena ia ingat betul ada perjanjiannya dengan Tari minggu lalu.


Tari melewati tubuh itu begitu saja, tanpa menyapanya sedikit pun. Ia juga sama kesalnya seperti Alga. Pergi tanpa mencicipi makanan yang sudah ia buat, ditambah ponselnya tidak aktif. Ia langsung pergi ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di sana.


Beberapa menit ia mengistirahatkan tubuhnya di sana, setelah itu ia baru membersihkan diri. Sedikit merasa segar setelah mandi. Bosan di kamar terus, ia pun pergi ke dapur untuk membuat teh hangat untuknya sendiri. Pas berada di dapur, ia melihat suaminya di sana.


Entah apa yang dilakukannya, pria itu tengah mengambil cangkir. sepertinya akan membuat kopi. Mereka berdua sama-sama sedang membuat minuman, sama-sama cuek merasakan dongkol dengan perasaan masing-masing.


Tari melihat suaminya itu, sepertinya dia tidak bisa bagaimana caranya membuat kopi. Lalu Tari mengambil alih cangkir tersebut dari tangan Alga. Dengan cekatan ia membuatkan kopi lalu memberikannya pada suaminya.


Tetap tidak mengeluarkan suara, pada akhirnya ia pun selesai membuat teh. Tari langsung pergi dari dapur meninggalkan Alga yang masih berada di sana.


Setelah kepergian Tari, Alga baru sadar bahwa ia tengah sendiri di sana. "Kenapa Tari? Apa dia marah? Apa cemburu?" Pikiran itu terlintas di otaknya. Setelah berpikir seperti itu, ia pun tersenyum sendiri. "Kalau dia cemburu itu artinya di mulai menyukaiku." Katanya sendiri sembari manggut-manggut.


Tidak ada yang tak terpesona oleh ketampanannya, pikirnya. Dengan percaya dirinya ia menghampiri istrinya yang sedang duduk menonton tv.

__ADS_1


Tahu ada suaminya datang, Tari merubahkan posisinya. Ia sedikit memalingkan wajahnya.


Alga duduk di samping Tari.


"Kamu marah?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Alga.


Mentari langsung menatap tajam suaminya itu. "Menurutmu?" tanya balik Tari.


"Aku rasa iya, kamu cemburu melihatku tadi, iyakan?" ujar Alga.


Tari langsung tergelak. "Cemburu kamu bilang? Hahaha ... Untuk apa aku cemburu?" Tari menutupi perasaannya.


"Aku marah karena Omsu tidak sarapan, aku cape-cape bangun pagi untuk membuat sarapan. Tapi tidak dimakan," kesal Tari.


Alga baru sadar akan hal itu, dan ia pun meminta maaf.


"Maaf, tadi aku buru-buru," sesal Alga.


Setelah Alga minta maaf, Tari beranjak.


"Tidurlah, inikan sudah malam," jawab Tari. Padahal waktu baru menunjukkan pukul tujuh.


"Kamu sudah ngantuk? Inikan masih sore, kita jalan-jalan dulu yuk?" ajak Alga.


"Tidak, aku cape. Aku ngantuk, mau tidur!" Ucap Tari sembari melangkahkan kakinya.


"Pergi sama suami sendiri tidak mau, pergi sama laki-laki lain kamu mau." Alga sedikit berteriak karena Tari mulai menghilang dalam pandangan.


Karena Tari sudah tidak ada, ia sendiri pun pergi ke kamarnya. Melamun di dekat jendela kamar, ia melihat air turun dari langit. Malam ini tiba-tiba hujan deras, disertai kilat dan petir yang terlihat begitu menyeramkan. Alga menutup jendela kamar. Ia merebahkan tubuhnya di sana.


Mencoba memejamkan mata namun tak bisa, ia benar-benar sudah terbiasa tidur bersama Tari. Ada pikiran untuk menemui gadis itu, tapi istrinya sedang marah. Apa mungkin Tari akan membukakan pintu untuknya? Ia rasa itu tidak mungkin. Akhirnya ia memaksakakan matanya untuk terpejam.


Sementara Tari, gadis itu membungkus tubuhnya dengan selimut. Sungguh, ia merasa takut tidur dalam keadaan cuaca yang seperti ini, tiba-tiba suara petir menggelegar. Tari langsung menjerit karena takut.


Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya terbuka.

__ADS_1


"Omsu." Tari beranjak dan langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Kamu kenapa?" tanya Alga.


"Takut!" Tubuh Tari bergetar, ia benar-benar ketakutan. Tiba-tiba saja, ia teringat ayahnya.


"Omsu, bagaimana kondisi Ayah?" Sudah beberapa hari ini ia tak menjenguk ayahnya. Ada rasa khawatir pada pria paruh baya itu.


"Kata Papa, Ayah baik-baik saja. Kalau kamu mau besok kita kesana, sekarang kamu tidur ya?" bujuk Alga.


Namun, Tari tak merespons.


"Ayok, aku temani." Padahal itu hanya modus, Alga sangat berharap malam ini ia dapat tidur bersamanya.


Setelah Tari terbaring di kasur, ia teringat akan perjanjiannya dengan suaminya. Enak saja perjanjian itu dilupakan begitu saja.


"Omsu tidak boleh tidur di sini, aku akan tidur sendiri. Omsu keluar saja," usir Tari.


"Ta-tapi ..."


"Tidak ada tapi-tapian. Aku berani tidur sendiri," kata Tari lagi.


Alga merasa gagal, ia pun akhirnya keluar dari kamar Tari. Meski suara petir masih terdengar, Tari berusaha melawan rasa takutnya. Sekalian memberi pelajaran pada suaminya itu, jadi pria jangan rakus. Di luar sana ia bisa sama wanita lain dan di sini ia mau bersamanya, enak saja. Pikir Tari. Akhirnya, Tari tidur sendiri malam ini.


Keesokkan harinya.


Pagi-pagi sekali Tari sudah berangkat sekolah, tentu ia sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Alga yang baru terbangun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia langsung ke ruang makan karena ia rasa istrinya pasti sudah ada di sana. Setibanya di ruang makan, ia tak melihat keberadaan Tari.


Namun di atas meja sudah terdapat makanan di sana. Alga duduk di kursi meja makan, matanya melihat selembar kertas, ia pun meraih kertas itu, dan itu adalah surat, pesan dari istrinya.


"Omsu, aku sudah berangkat sekolah. Hari ini aku ujian, maaf tidak bisa menemanimu sarapan." Itulah isi surat itu.


Mau tak mau ia sarapan sendiri pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2