
"Mas ...," protes Tari. "Udah ah, ngapain sih ngeributin yang gak jelas. Aku cape, Mas," keluh Tari.
Alga pun tak lagi meladeni percakapannya kembali, ia langsung melajukan mobilnya. Sesekali ia melihat istrinya yang terus menguap.
"Kalau ngantuk tidur saja, nanti Mas bangunkan," ujar Alga. Ia tak tega, istrinya itu pasti kurang tidur.
"Hmm, aku tidur dulu kalau begitu. Bener ya, nanti bangunin?" pinta Tari.
"Iya, sayang." Alga mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Jangan diacak dong, Mas." Entah kenapa, Tari hari ini bawaannya tuh kesal, sampai Alga menjadi sasarannya.
Alga hanya menghela napas, ia memaklumi. Mungkin Tari capek. Tak terasa perjalanan mereka menuju rumah pun sampai. Tari masih tertidur, Alga tidak tega membangunkan istri kecilnya itu. Ia malah memandangi wajah imut itu dengan seksama.
"Kamu itu cantik, Tari. Tapi kenapa sikapmu terkadang membuatku jengkel?" Alga mengusap pipinya dengan lembut, sangat lembut. Ia tak ingin gadis kecil terbangun terlalu cepat. Terbawa suasana, ia mencium pipi itu. Menyentuh hidungnya yang mancung, memainkan rambutnya.
Beberapa kali, Tari merasa terganggu. Tapi ia masih terlelap.
Alga semakin gemas dibuatnya, ia pun akhirnya mencium bibir itu sekilas. Setelah berhasil menciumnya, ia turun dari mobil. Tanpa membangunkannya, ia menggendong tubuh mungil itu ke dalam rumahnya.
* * *
Alga merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, kali ini ia mengajak Tari untuk tidur di kamarnya. Karena kamarnya lebih besar dari pada dengan kamar yang di tempati Tari.
"Kamu nyenyak sekali, Tari." Alga menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut. Tertutup dengan sempurna, namun sebelumnya, ia melepas sepatu Tari.
Ia sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, ia segera ke kamar. Ia melihat Tari sudah terbangun.
Tari mencoba merubah hidupnya, ia harus terbiasa dengan pandangannya yang melihat suaminya dalam bertelanjan* dada.
"Apa kamu mau mandi?" tanya Alga setelah memakai baju santainya.
"Hmm." Tari turun dari kasur, ia hendak pergi ke kamarnya. Namun keburu dicegah oleh suaminya.
"Eitss ... Mau kemana?" tanya Alga.
"Mandi 'lah. Baju-bajuku ada di kamarku, Mas."
"Mandi di sini saja, Mas akan pindahkan semua barang-barangmu ke sini." Tanpa mendengar jawaban Tari, ia langsung keluar dari kamar dan mengambil semua barang-barang Tari.
__ADS_1
Sesudahnya, ia langsung kembali ke kamarnya dan meletakan baju-bajunya ke dalam lemarinya yang masih kosong. Tak sengaja, Alga menemukan dalaman istrinya. Ia melayangkan segitiga berwarna biru ke udara.
Namun, Tari yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat itu langsung merampasnya, betapa malunya ia kala itu.
"Mas, ngapain sih," protes Tari sembari menyembunyikan ********** di belakang tubuhnya.
"Hmm, itu ... Tidak sengaja menemukannya," jelas Alga.
"Bohong! Mas mulai mesum ya? Aku sudah bilang, tunggu sampai aku lulus sekolah."
"Iya, Mas tahu itu. Tapi kalau gak lupa, ya?" kata Alga sambil menggaruk tengkuk lehernya yang merasa tidak gatal.
"Awas saja kalau berani!" cetus Tari.
Kini Tari bingung, harus pakai baju di kamar mandi lagi seperti dulu apa di hadapan suaminya? Ah ... Ia 'kan sudah menerima Alga, apa perlu memakai bajunya di sini? Tapi dengan berat hati, Tari menyuruh suaminya untuk keluar lebih dulu.
"Mas ... Boleh keluar sebentar? Aku mau pakai baju."
"Kenapa mesti harus keluar? Bukankah aku sudah berhak melihatnya? Kamu hanya meminta untuk menunda itu, bukan melarangku melihat semuanya."
"Tapi, Mas. Aku butuh waktu untuk terbiasa, please ... Untuk kali ini saja." Tari memohon sambil menangkup kedua tangannya.
"Aku denger loh, Mas."
Langkah Alga langsung terhenti dan menoleh ke arah istrinya.
"Aku gak marah, yang lainnya boleh, asal jangan yang itu dulu." Tari menjelaskan apa maksudnya.
Alga tersenyum dan malu sendiri, apa jangan-jangan tadi Tari pura-pura tidur? Ah, tapi masa bodolah, toh mereka sudah halal. Alga pun akhirnya sudah keluar.
Alga masih diam di luar kamar, ia tengah berada di luar balkon. Menatap bintang-bintang yang bertebaran di atas langit, tanpa ia sadari, Tari sudah berada di sampingnya. Ia pun ikut menatap langit itu.
"Apa mungkin Ibu ada di antara bintang-bintang itu?" Ucapan Tari membuat Alga tersadar akan keberadaannya.
Alga menarik tangan Tari, ia memposisikan istrinya di hadapannya. Lalu memeluk tubuh kecil itu dari belakang.
"Ibumu pasti ada disalah satunya," kata Alga. Mereka menikmati cuaca indah malam ini, dengan suasa yang berbeda.
"Apa, Mas sudah selesai dengan Mbak Citra?" Selagi ingat, Tari langsung menanyakan itu pada suaminya.
__ADS_1
Alga membalikkan tubuh Tari, kini mereka saling berhadapan. Alga menempelkan keningnya dengan kening istrinya. Dengan mata saling memandang satu sama lain.
"Hubunganku dengannya sudah berakhir, kamu tidak perlu meragukanku. Aku sungguh-sungguh menerimamu jadi istriku."
Kalimat itu terdengar syahdu di telinga Tari, Tari langsung tersenyum. Ia mencoba percaya pada suaminya. Lalu ia memeluk Alga dengan erat, hingga pelukkan itu dibalas lebih hangat.
"Mas, aku laper. Tapi lagi males masak, masih capek," kata Tari yang masih ada dalam pelukkan suaminya.
"Iya, kalau capek gak usah masak. Mau makan di luar apa di sini?" tawar Alga kemudian.
"Di sini saja, Mas." Jawab Tari seraya melepaskan diri dari pelukkan suaminya.
Alga merogoh ponsel yang ada dalam sakunya. Ia pun memesan makanan melalui online.
"Mau makan apa?"
Tari sedikit berpikir, mungkin makan yang berkuah malam-malam begini cukup enak.
"Aku mau makan soto, Mas."
"Hmm, Mas pesan 2. Apa ada yang lain?"
"Terserah, Mas saja."
Setelah selesai dengan pesanannya, ia mangajak Tari masuk ke dalam, cuaca di luar cukup dingin. Dan mereka berdua masuk.
* * *
Makanan yang dipesan akhirnya datang, Tari menyiapkan wadah untuk makanannya. Mereka terlihat sangat kompak, Alga pun membantu istrinya menyediakan air minum. Ia membuat teh tawar hangat melengkapi makan malam mereka.
Hingga semuanya sudah selesai, kini mereka tengah berada di ruang tamu. Seperti orang yang sedang pacaran, mereka menonton drama yang tersedia di layar kaca.
Karena Tari sedang masa libur dan menunggu hari kelulusan, ia pun bisa bersantai. Tak seperti malam-malam biasanya yang harus belajar dan tidur lebih cepat.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Alga.
"Aku 'kan baru bangun tadi, lagian film-nya lagi seru-serunya, Mas. Kalau Mas ngantuk, Mas tidur duluan saja," jelas Tari.
Tari kira, suaminya itu akan tidur di kamar. Nyatanya, pria itu malah tidur di pangkuannya. Ia pun membiarkan itu, Tari membelai rambut suaminya. Bukannya tidur, Alga malah menggodanya. Memaikan rambutnya sampai mereka terbawa suasana.
__ADS_1
Alga menarik tangan istrinya sampai wajah Tari ikut tertunduk. Bibir Tari mendarat sempurna di bibir Alga.