
Alga terus mondar-mandir di depan pintu, ia begitu khawatir. Takut mimpi buruk itu terjadi pada dirinya, di mana sang anak pergi meninggalkannya. Walau ia belum tahu jenis kelamin anaknya karena ia dan istrinya tidak ingin tahu lebih dulu, tepatnya ia ingin mendapatkan sureprise.
Beberapa jam di depan pintu sambil bolak-balik seperti setrikaan. Bahkan Ajeng sampai pusing melihat anaknya itu, ia menyuruh Alga untuk tenang dan duduk bersamanya.
"Ga, duduk sini," ajak Ajeng. "Sebaiknya kamu berdoa dari pada mondar-mandir begitu," sambungnya lagi.
Belum Alga terduduk, ia mendengar suara tangisan bayi dari ruangan operasi. Alga yang mendengar langsung menoleh ke arah pintu sambil tersenyum, begitu pun dengan orang tuanya, mereka tersenyum bahagia.
"Ma, anakku sudah lahir," kata Alga, ia begitu bahagia dan tidak sabar untuk segera menemuinya.
Tak lama dari situ, suster keluar dari ruang operasi dan meminta Alga untuk segera masuk ke dalam.
"Tuan Alga," panggil suster.
"Iya, Sus?" jawab Alga.
"Mari, ikut saya masuk ke dalam," ajak suster itu.
Alga pun ikut masuk ke dalam ruang operasi, ia masuk dan sebelumnya ia pamit kepada kedua orang tuanya terlebih dulu.
***
"Mas," kata Tari setibanya Alga di ruang operasi.
Alga menghampirinya, dan ia memberikan beberapa kecupan di kening serta di bibir. Alga sangat berterimakasih kepada istrinya, ia sudah mengandung dan melahirkan anaknya yang belum ia ketahui jenis kelaminnya.
"Anak kita, Mas." Kata Tari sembari menitikkan air matanya, air mata yang penuh bahagia. Kini ia sudah menjadi wanita sempurna, sempurna karena sudah menjadi seorang ibu.
"Tuan, ini bayinya. Bayinya berjenis kelamin perempuan." Kata Dokter sembari meletakkan bayi itu di dada Tari.
__ADS_1
Bayi yang begitu sangat cantik dan menggemaskan, rambut lebat berkulit putih seperti Tari.
"Bayi kita sangat cantik, dia mirip sepertimu," kata Alga. Ia mencium putrinya dengan gemas. Bayi itu seperti sedang mencari sesuatu untuk ia hisap, mencari p*ting dada sang mama.
Tari mengusap lembut kepalanya dengan sayang. Sementara dokter yang lain masih sibuk dengan perut Tari yang sedang dijahit kembali. Setelah semuanya selesai, Alga bersiap untuk mengadzani putrinya.
Setelah semuanya selesai, Tari dipindahkan ke ruang rawat VIP. Semua sudah kumpul bersama Tari di ruang sana, Tari sendiri masih terbaring di atas branker. Akibat biusan, jadi ia belum bisa menggerakan kakinya secara normal.
"Cucu Oma cantik sekali," kata Ajeng, sedari tadi ia terus menggendongnya. Bahkan Alga meminta mamanya untuk melepaskan putrinya, membiarkan bayi itu tertidur dengan nyenyak di tempatnya.
Tapi Ajeng tidak menggubrisnya. Tari sampai terkekeh melihatnya, ia beruntung memiliki mertua sepertinya. Mertua yang ia anggap sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Sampai tak terasa, ia menjatuhkan air matanya. Ia teringat mendiang kedua orang tuanya, andai mereka masih hidup mungkin Tari akan lebih bahagia.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Alga yang melihat istrinya menangis. "Apa ada yang sakit?" tanyanya lagi.
"Ya ... Kirain aja ada yang sakit," duga Alga.
Tari menggeleng, tidak ada yang sakit. Bahkan pasca operasi masih belum terasa akibat obat bius yang belum menghilang.
Ruangan kembali ramai dengan kedatangan Chiko dan Atika. Serta sahabat Tari pun berada di ruangan itu. Gadis itu datang ketika mendapat kabar bahwa Tari akan melahirkan.
Chiko mau pun Bunga, kedatangan mereka tentu membawa kabar gembira untuk Tari. Chiko akan segera menikah dengan Atika. Jika Bunga, gadis itu akan bertunangan dengan kekasih bule-nya itu.
Kabar yang sangat menggembirakan bagi Tari dan Alga. Semua mendapat pasangan masing-masing, entah dengan Citra. Apa wanita itu sudah mendapatkan kekasih? Hanya dia yang tahu.
***
Tari sudah kembali pulang ke rumah, hampir satu minggu keberadaannya di rumah sakit. Kini ia sedang berada di kamar bersama bayi cantiknya. Bayi yang diberi nama Alika Mutiara Dewi, nama yang sudah digabung antara nama suaminya dan nama mendiang ibunya.
__ADS_1
Tari sendiri yang memberikan nama itu untuk anaknya, ia suka dengan nama Dewi, karena itu adalah nama ibunya. Kelak, ia ingin putrinya seperti ibunya. Wanita tangguh dan tidak pernah berputus asa, semangatnya begitu besar. Ibu yang begitu setia kepada ayahnya, setia disaat suka dan duka. Ibunya mampu bertahan bersama ayahnya sampai maut memisahkan.
"Mas, aku titip Alika dulu." Pinta Tari karena ia ingin pergi ke kamar mandi sebentar.
"Tentu, sayang." Alga menghampiri putrinya yang sedang terbaring di atas kasur. Ia kira Alika sedang tertidur, nyata bayi mungil itu sedang membuka mata. Alhasil, Alga menggendong bayinya dan membawanya keluar dari kamar.
Tari sudah kembali, ia tak melihat keberadaan Alika dan suaminya. Ia pun menyusulnya dan pergi keluar dari kamar. Tari tersenyum ketika ia melihat keberadaan mereka.
Alga sedang mengajak anaknya berbicara, sampai Tari terkekeh dibuatnya.
"Dia belum ngerti, Mas. Kamu ini ada-ada saja," kata Tari. Entah apa yang dibicarakan Alga kepada putrinya, yang jelas Tari tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya.
"Sini, duduk didekatku," ajak Alga.
Tari pun mendudukkan tubuhnya di atas sofa, melihat putri kecilnya yang sedang berada di gendongan suaminya.
"Mas begitu bahagia, bahagia memiliki kalian berdua," ucap Alga.
"Aku juga bahagia, Mas."
Akhirnya, mereka menemukan kebahagiaan setelah melewati perjalanan panjang. Mulai dari saling membenci, terus menjadi cinta. Ada kesalahfahaman yang membuat mereka menjadi tidak bisa saling berjauhan. Tanpa mereka sadari, mereka saling membutuhkan, dan itu semua membuktikan bahwa mereka tidak bisa dipisahkan. Jodoh, maut, semua sudah ditentukan.
Dan mudah-mudahan, adanya Alika membuat mereka saling melengkapi hidup, selalu berbahagia untuk selamanya.
...----------------...
Sampai di sini ya cerita Mentari dan Alga, mereka sudah bahagia. Terimakasih sudah membaca kisah hidup mereka, maaf kalau ceritanya sedikit ngaur. Ini hanya sekedar untuk hiburan.
Salam kenal dariku, si tukang halu yang masih banyak belajar ini. Sekali lagi terimakasih🙏🙏🙏
__ADS_1