Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 37


__ADS_3

Keesokkan harinya, mereka berdua sama-sama terbangun. Tapi Alga yang lebih dulu dari pada Mentari, posisi mereka tertidur saling berhadapan. Alga menatap wajah istrinya, menyibak rambut yang menghalangi wajah cantik gadis itu.


Tari menggeliat, lalu membuka mata karena merasa terganggu dari tidurnya. Bukannya terbangun, ia malah menelusupkan kepala di bawah ketiak suaminya. Mencari kenyamanan dan kehangatan di dalam sana.


Alga pun memeluknya erat. Mereka berdua sama-sama enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya, karena ini memang hari weekand jadi Alga bisa bersantai begitu pun dengan Tari.


"Mas, aku masih ngantuk." Kata Tari ketika Alga mulai menggerayangi tubuhnya, mungkin Alga ingin menyebrangi lautan pagi-pagi.


Meski pun Tari mengeluh, tapi ketika Alga sudah beraksi, ia begitu menikmati. Apa lagi jemari Alga yang begitu lihai mengusap dan mere*masnya gunungnya dengan lembut.


Bagaimana tak meminta kembali? Keadaan mereka yang masih sama-sama polos hanya selimut yang mereka gunakan untuk menutup tubuh mereka.


Alga semakin gencar, hingga posisinya berada di atas istrinya.


Tari membuka mata, lalu menatap wajah suaminya.


"Bolehkan Mas mendakinya kembali?" pinta Alga.


Tari mengangguk pelan. Meski masih perih, tapi rasa perih itu hilang ketika Alga sudah menyelamkan kapalnya dan mendayunya dengan pelan.


"Mas," rintih Tari.


"Lepaskan suaramu, sayang. Mendesahlah," tutur Alga yang masih terus memompa.


Berapa menit kemudian hingga akhirnya mereka sampai pada puncaknya. Tubuh keduanya bergetar hebat, cucuran keringat pagi ini membuat Alga bersemangat. Tapi tidak dengan Tari, gadis itu lemas tak berdaya menahan sakit yang luar biasa di bawah sana.


Karena waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Alga pun beranjak. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dengan ritualnya, ia segera kembali dan memakai pakaiannya. Kaos oblong serta cel*na pendek yang ia gunakan.


Menghampiri istrinya yang masih bergelung di bawah selimut.


"Sayang, bangun."


Tari membuka mata dan berusaha untuk duduk, baru saja berniat untuk duduk, tapi di bagian tubuhnya yang sensitif ia merasakan sakit.


"Aaww ...," pekik Tari.


"Sakit?" tanya Alga. Tari mengangguk pelan, akhirnya ia duduk dibantu oleh suaminya. Bersandar di sandaran ranjang.


"Aku mau mandi, Mas."


"Sebentar, Mas siapkan air hangat untukmu." Dengan cepat, Alga bergegas ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk istrinya.


Alga kembali menemui istrinya. "Airnya sudah siap," kata Alga.


Tari turun dari ranjang, mencoba untuk berjalan.


"Mas, sakit." Mendengar Tari kesakitan, dengan sigap ia langsung membopong tubuh mungil itu. Mendudukkan tubuhnya di bath up yang sudah terisi oleh air hangat.

__ADS_1


"Mas keluar saja, aku bisa mandi sendiri," pinta Tari.


"Gak apa-apa, biar Mas memandikanmu." Alga mengambil body whos, dan mulai memandikan istrinya. Ia mengusap lembut tubuh itu dengan sabun, sementara Tari mengosok gigi. Mandi lebih cepat dari biasa karena bantuan Alga.


Setelah itu selesai, Alga kembali menggendong istrinya dan merebahkan tubuhnya yang terbungkus oleh handuk di atas kasur. Lagi-lagi Alga menyiapkan baju untuk istrinya, bagai budak yang sedang melayani majikannya.


"Biar aku pakai sendiri." Tari mengambil baju pilihan suaminya.


"Biar Mas yang melayanimu hari ini. Kamu duduk manis saja di sini, Mas mau buat sarapan."


Tari membiarkan suaminya dengan keinginannya, meski ia tak percaya kalau suaminya itu bisa melakukannya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


Dan ponsel itu berdering, sahabatnya yang menghubunginya. Siapa lagi kalau Bunga teman mesumnya.


"Ada apa?" jawab Tari.


"Gimana semalam? Sukses." Bunga mulai kepo akan malam pertama sahabatnya itu.


"Sukseslah," jawab Tari.


"Gimana rasanya malam pertama?" tanya Bunga lagi.


Belum Tari menjawab, Alga sudah kembali ke kamar. Membawa nampan yang sudah terisi sandwich dan susu di atasnya.


"Udah dulu ya, aku mau sarapan." Tari menutup sambungan itu.


"Siapa?" tanya Alga mengenai yang menghubungi istrinya.


"Oh."


Tari melihat ke arah nampan itu, ia meraih gelas dan meminum susunya.


"Mas, aku mau sarapan nasi. Tubuhku lemas tak berdaya," tutur Tari.


"Tapi Mas gak bisa kalau buat sarapan itu. Kamu makan ini saja dulu untuk mengganjal perut. Mas mau pesan makanan."


* * *


Ketika makanan sudah sampai, Tari dan Alga langsung memakan makanan yang dipesan.


"Rasanya kok gini sih, Mas."


"Padahal, Mas pesan di tempat biasa loh."


Tari tak menghabiskan makanannya karena rasanya memang kurang sedap.


"Keluar yuk? Cari makanan yang enak," ajak Alga.

__ADS_1


"Aku mau makan masakan Mama," ucap Tari.


"Ya sudah, kita ke rumah Mama sekarang."


Tari dan Alga pun berangkat menuju rumah orang tuanya, tapu sebelumnya mereka mengganti pakaiannya. Setibanya di sana, kedatangan Tari dan Alga disambut oleh Ajeng dan Yuda.


"Pagi Ma, Pa?" kata Alga.


Yang menjadi pusat perhatian Yuda dan Ajeng adalah Tari, gadis itu berjalan tak seperti biasanya. Ditambah wajahnya yang terlihat pucat.


"Kamu saki, Tari?" tanya Ajeng.


"Gak, Ma. Aku sehat-sehat saja," jawab Tari.


"Tapi kamu terlihat pucat," timpal Yuda.


"Kenapa gak istirahat saja kalau lagi sakit," kata Ajeng lagi.


"Tari sehat kok, Ma. Hanya kurang tidur saja," jelas Tari.


"Kurang tidur?" Yuda pun akhirnya mengerti, apa jangan-jangan mereka baru melakukannya, pikir Yuda.


"Sudah sarapan?" tanya Ajeng pada Tari.


"Sudah, tapi kurang enak. Aku mau makan hasil masakan Mama," jawab Tari.


Kebetulan, Ajeng sudah memasak hari ini, dan masaknya lumayan banyak. Mungkin ada pirasat akan ada yang datang, dan benar saja


menantu dan anaknya berkunjung. Ajeng langsung mengajak Tari untuk makan.


Dan mereka berempat sarapan bersama.


"Oh iya, Tari. Ada kabar bahagia, Ayahmu sudah boleh pulang, rencananya hari ini kami akan menjemputnya," kata Yuda disela-sela makannya.


"Syukurlah, Tari ikut ya, Pa?" pinta Tari.


"Iya. kita sama-sama kesana," sahut Ajeng.


Mereka sudah selesai dengan makannya, kini mereka tengah duduk di ruang tamu.


"Pa, aku berencana untuk mengadakan resepsi," tutur Alga. "Tari 'kan sudah lulus, besok tinggal mengambil ijazah," sambungnya lagi.


"Apa Tari berencana untuk kuliah?" tanya Yuda.


"Aku terserah Tari saja, Pa. Kuliah boleh, gak juga gak apa-apa," ujar Alga.


"Tapi aku maunya kuliah, Mas. Itu cita-citaku dari dulu," sahut Tari.

__ADS_1


"Iya, kamu boleh kuliah jika menginginkannya, Mas dukung apa pun keinginanmu," jelas Alga.


Hingga akhirnya mereka putuskan untuk berangkat ke rumah sakit untuk menjemput Surya, sekalian memberikan kabar bahagia padanya kalau Tari dan Alga akan mengadakan resepsi pernikahannya.


__ADS_2