
Bukan cuma Mentari yang membelalakan matanya, orang yang berada di pusat perbelanjaan itu pun melihat ke arah Ajeng. Wanita paruh baya itu melipat kembali baju yang kurang bahan itu. Ia malu sendiri dengan aksinya.
"Maaf, Tari. Mama kira hanya ada kita berdua," tutur Ajeng. "Tapi ini bagus, cocok dengan warna kulitmu," sambungnya lagi.
"Aku pilih semua yang Mama suka," ujar Tari.
Mertua dan mantu itu sama somplaknya, Tari yang polos hanya iya-iya saja. Ia tidak tahu saja, dengan baju itu akan membuat Alga semakin ganas nanti jika di atas ranjang.
Ajeng mendukung dengan apa yang Tari inginkan, membahagian suami tentu paling utama dalam rumah tangga. Mengusir para pelakor, apa lagi, Alga pria yang sangat tampan. Tari sadar akan hal itu, memiliki mantan seorang model pasti pintar merawat tubuh.
Tari harus waspada akan hal itu, apa yang terjadi pada diri kita, kita tidak tahu akan dampaknya. Tari memasang payung sebelum hujan.
Kedua wanita itu menghabiskan waktunya di pusat perbelanjaan.
"Ma, kakiku pegel," keluh Tari. Gadis itu tidak terbiasa jalan-jalan dan berputar di area mal.
"Ya sudah, kita cari tempat duduk." Ajeng dan Tari pergi ke area foodcort. Duduk sambil melepas dahaga.
Ketika sedang asyik berbincang, seseorang datang menghampiri Tari dan langsung ikut duduk di samping gadis itu.
"Mas Chiko?" Tari terkejut mendapati Chiko berada di sini.
Pria itu tersenyum manis padanya, tidak ingin terjadi salah faham. Tari mengenalkan Chiko pada ibu mertuanya.
"Ma, kenalin. Ini Mas Chiko."
Ajeng mengulurkan tangan pada arah Chiko, dan Chiko pun membalasnya.
"Chiko, Tante." Kenal Chiko pada Ajeng yang ia kira adalah mamanya Tari.
Ibu paruh baya itu melihat gelagat Chiko, apa lagi ia melihat dari cara pria itu memandang Tari, seperti memiliki perasaan pada menantunya. Tidak ingin berlama-lama memberi kesempatan pada pria lain, Ajeng langsung mengajak Tari pulang.
"Tari, kita pulang sekarang," ajak Ajeng.
"Minumannya beluh habis, Ma," tutur Tari.
"Tari biar pulang sama saya aja, Tante," pinta Chiko.
"Gak! Ayok, Tari kita pulang?" ajaknya kedua kali.
"Iya, Ma." Tari mengambil barang bawaannya, ia menyusul Ajeng sedikit berlari.
"Ma, tunggu!" Tari meninggalkan Chiko begitu saja.
"Aku pasti mendapatkanmu, Tari," yakin Chiko.
* * *
"Mama gak suka kamu deket-deket sama pria itu!" Ucap Ajeng setelah Tari berhasil mengejarnya.
__ADS_1
"Dia baik kok, Ma. Aku sudah lama kenal dengannya," jelas Tari.
Ajeng berhenti, dan Tari pun ikut berhenti.
"Kamu gak tahu kalau dia suka sama kamu?" Ajeng tidak suka basa-basi, ia menjelaskannya langsung pada Tari soal Chiko.
"Tahu, Ma. Meski Mas Chiko belum pernah menyatakannya Tari sudah menduga itu, tapi aku tidak suka padanya, aku hanya menganggapnya sebagai Kakak," jelas Tari.
"Kamu sudah bersuami, Tari. Mama tidak mau Alga marah dan ini jadi masalah bagi keluargamu nanti, hindari pelakor sama pebinor," terangnya kemudian.
Setelah mengatakan itu, Ajeng dan Tari melanjutkan perjalanannya menuju mobil yang terparkir di tempat parkir. Mereka memutuskan untuk langsung pulang.
Di dalam mobil, Ajeng memikirkan masa depan anaknya. Memiliki menantu cantik dan masih muda tentu ia merasa khawatir. Takut menantunya itu akan menjadi incaran laki-laki nantinya, ia akan membicarakan ini dengan Alga.
Mereka pun akhirnya sampai.
Alga yang tidak ke mana-mana menyambut kepulangan mereka.
"Beli apa saja, banyak sekali?" Alga melihat bawaan Tari yang banyak, ia membantu membawanya.
"Jangan diintip," cegah Tari ketika melihat suaminya mengintip isi paperbag tersebut.
"Intinya itu untukmu," timpal Ajeng.
"Untukku?" Alga semakin penasaran, ia berusaha membukanya, namun keburu dicegah oleh Tari.
"Awas kalau berani! Tidak ada sureprise, nanti."
"Tari, sebaiknya kamu istirahat atau mandi," usul Ajeng. Padahal ia sengaja menyuruh Tari pergi meninggalkannya bersama Alga.
"Iya, Ma. Aku juga merasa tubuhku lengket." Tari pergi ke kamar atas.
Sementara Ajeng, ia menarik tangan anaknya agat ikut bersamanya.
"Ada apa sih, Ma?" Alga yang tidak tahu apa-apa jadi bingung akan tingkah sang mama.
"Duduk," pinta Ajeng pada Alga.
"Mama rasa kamu harus membuat resepsi pernikahan," tutur Ajeng.
"Oh, itu memang sudah aku rencanakan, Ma. Rencananya setelah pengumuman kelulusan Tari," jelas Alga.
"Syukurlah." Ajeng bernapas lega.
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Mama gak mau ada orang yang mengganggu rumah tangga kalian, tadi tidak sengaja bertemu dengan pria bernama ... Siapa ya, Mama lupa?" Ajeng terus berpikir.
"Chiko?" tebak Alga.
__ADS_1
"Ah iya, Chiko. Kamu kenal?"
"Kenal sih gak, cuma tahu saja."
"Kayanya dia suka sama Tari, kamu harus hati-hati."
"Iya, Ma."
"Oh iya, kamu sudah tidak ada hubungan lagi sama Citra, 'kan?"
"Gak, Ma. Aku sudah putus, dan itu terjadi minggu lalu."
"Kalian baik-baik ya? Saling percaya sama pasangan masing-masing. Pengantin baru ujiannya memang berat." Ajeng tak segan memberi pengalamannya pada anak semata wayangnya itu.
"Sudah sore, Mama pulang ya?"
"Tidak nunggu Tari?"
"Gak, bilang saja Mama pulang." Ajeng mencium pipi anaknya sebelum pergi, begitu pun dengan Alga.
"Hati-hati ya, Pak?" kata Alga pada pak Tohir.
Setelah kepulangan sang mama, Alga menyusul Tari yang masih berada di kamar. Keberuntungan berpihak padanya.
"Mas," protes Tari ketika suaminya memeluknya dari belakang. Tari yang menggunakan jubah handuk menjadi kalang kabut, takut sewaktu-waktu Alga menarik tali jubah itu. "Lepas, aku mau pakai baju."
Mau tak mau, Alga melepaskannya. Seminggu, baginya serasa sewindu. Kalau begini caranya, ia memang harus menunggu kelulusan Tari, kelulusan terjadi pada minggu ini. Dan ia sendiri yang menjadi walinya.
"Sebaiknya kamu mandi, Mas," titah Tari.
"Nanti saja deh, Mas juga gak kemana-mana ini," tuturnya. "Mas mau bantu kamu pakai baju saja." Alga menggoda sembari menaikturunkan kedua alisnya.
"Apaan, sih? Sudah sana, mending keluar. Percuma belum ada jatah," ledek Tari.
"Awas, tunggu nanti. Mas buat kamu tidak bisa berjalan," tutur Alga.
"Ayok? Aku gak takut." Tari menantang, padahal hatinya sudah dag dig dug tak karuan.
"Gak ada kata ampun, aku hajar terus sampai pagi." Alga tergelak sendiri membayangkan istrinya minta ampun padanya.
"Ish, pikiranmu itu bener-bener sudah terkontaminasi." Tari mendorong tubuh suaminya agar keluar dari kamar. Setelah berhasil mengeluarkannya, ia langsung memakai baju.
Sudah merasa rapih, ia membereskan belanjaannya. Ia menyimpan baju kekurangan bahan itu ke tempat cucian.
Tari keluar dari kamar, berniat menemui suaminya. Dilihatnya, Alga sedang ngadem di bawah pohon mangga. Tari menghampirinya dan ikut duduk bersamanya.
"Mas, boleh aku jujur?" tanya Tari setibanya di samping Alga.
"Boleh, itu memang diharuskan dalam rumah tangga. Kejujuran, kesetiaan, dan kepercayaan. Itu paling penting.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan Mas Chiko, berdua."