Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 34


__ADS_3

Alga monolok, ia mengkerutkan keningnya.


"Untuk apa menemuinya?" tanya Alga.


"Menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman," jelas Tari. Karena Tari tidak ingin Chiko berkesimpulan bahwa kedekatannya selama ini karena ada perasaan padanya.


"Boleh saja, kapan?" tanya Alga lagi.


"Lebih cepat lebih baik, Mas. Aku maunya besok."


"Ya sudah, kamu tentukan saja tempatnya, nanti Mas nyusul. Soalnya besok ada meeting."


Tari tersenyum dan langsung melingkarkan tangannya di tangan suaminya, ia bersandar pada tubuh itu dan mulai ada kenyamanan pada dirinya.


Alga mengusap lembut kepala Tari, sampai istrinya itu benar-benar disayang olehnya. Mereka menikmati hari-harinya penuh dengan kebahagiaan.


* * *


"Mas, aku sudah putuskan tempatnya. Nanti Mas nyusul ya? Aku bertemu dengannya pas jam makan siang." Ujar Tari yang sedang melayani suaminya sarapan.


"Kamu sudah menghubunginya?"


Tari mengangguk. "Lewat pesan, Mas," jelas Tari. "Mas gak percaya?"


"Percaya, Mas percaya kok. Sekalian saja bilang padanya kalau sebentar lagi kita akan mengadakan resepsi."


"Iya, aku akan bilang semuanya, tanpa ada yang ditutup-tutupin."


Mereka berdua sarapan dengan tenang, tanpa ada yang mengeluarkan suara. Hingga akhirnya mereka pun selesai.


"Mas berangkat dulu, kamu hati-hati di rumah."


"Iya, Mas. Oh iya, jangan lupa, selidiki tentang Sinta."


"Hmm, Mas coba selidiki."


Alga mencium kening istrinya, dan setelahnya, Tari meraih tangan Alga dan menciumnya. Setelah suaminya benar-benar sudah tak terlihat, Tari baru masuk ke dalam rumah. Ia membereskan semua isi rumah.


Bulir keringat sampai bermunculan di area keningnya, Tari benar istri idaman. Usianya yang masih tapi ia bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, hingga waktu begitu tak terasa.


Tari melirik jam yang menempel di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas pas. Karena sudah ada janji, ia langsung membersihkan diri.


Kini ia sudah selesai dengan ritual mandinya, ia langsung berpakain dan memoles wajahnya sedikit menggunakan make up yang natural. Tak lupa mewarnai bibirnya.


Merasa sudah cantik, ia pun langsung berangkat. Tak lupa ia menggunakan tas kecil melengkapi penampilannya.


* * *


Tari berjalan menghampiri meja nomor 12, di sana sudah ada seorang laki-laki yang menunggu akan kedatangannya. Semakin Tari mendekat, ia melihat buket bunga di atas meja. Hatinya mulai gelisah karena ia merasa bunga itu untuk dirinya.


Dan benar saja, setibanya Tari di hadapan Chiko, pria itu langsung memberikan bunganya padanya. Tari tak begitu saja menerimanya.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa menerimanya," tolak Tari.


"Kenapa? Ini hanya sekedar bunga, Tari. Gak lebih."


"Tapi aku tahu apa maksud dari bunga itu." Sebelum Tari melanjutkan percakapannya, ia pun duduk.


Chiko pun ikut duduk kembali. Mereka berdua saling berhadapan.


"Mas, denger aku. Mas 'kan sudah tunangan sama Mbak Atika, sebaiknya Mas perbaiki hubungan Mas sama Mbak Atika. Aku yakin kalian pasti bahagia, kalahkan ego kalian."


"Kamu 'kan tahu, Tari. Kami tidak saling mencintai, hubungan ini karena keterpaksaan dan itu hanya kesenangan orang tua masing-masing, Tari."


Chiko dan Atika disatukan karena sebuah perusahaan yang didirikan oleh orang tua mereka. Agar semuanya sempurna, Chiko dan Atika dijodohkan.


"Tapi gak begini juga, Mas."


"Tari." Chiko meraih tangan Mentari, ia mencoba mengungkapkan perasaannya pada Tari.


Tari menarik tangannya agar terlepas.


"Maaf, Mas. Aku gak bisa, aku sudah menikah," tutur Tari.


"Menikah? Kamu jangan becanda, Tari. Kapan kamu menikah?"


"Bulan lalu, dan yang suka mengantarku sekolah itu Mas Alga, dia suamiku."


Bagai petir di siang bolong, tubuh Chiko melemas. Aliran darahnya tiba-tiba saja merasa tersumbat, jantungnya terasa terhenti seketika. Bagaimana bisa gadis yang selama ini ia tunggu-tunggu kini menjadi milik orang lain.


Chiko masih terdiam, ia belum bisa menerima kehilangan Tari. Gadis yang selama ini ia cintai, gadis yang ia puja-puja dalam hati. Ia kira, Tari memiliki perasaan yang sama. Karena selama ini mereka cukup dekat.


Disaat keduanya hening, Alga pun datang.


"Maaf telat," ujar Alga setibanya di hadapan Tari dan Chiko.


Chiko yang mendengar, ia mendongakkan wajahnya melihat ke arah Alga. Tatapannya penuh kebencian, mengapa pria ini datang dan mengambil Tari darinya.


"Mas Chiko, kenalin, ini Mas Alga. Suamiku."


Apa Chiko harus merelakan semuanya? Kehilangan orang yang dicintai amat sakit baginya, haruskah ia mengenal sosok laki-laki ini? Laki-laki yang baru hadir dalam hidup Tari dan malah menjadi suaminya.


Akan tetapi, ia mengulurkan tangannya pada Alga. Alga pun mengulurkan tangan.


"Chiko."


"Alga." Ucapnya bergantian.


"Kenapa belum pesan makanan?" tanya Alga.


"Aku juga baru sampai, Mas," jawab Tari.


"Eh, bunganya bagus. Buat pacarnya ya?" tanya Alga pada Chiko.

__ADS_1


Chiko sedikit malu akan bunga ini, bunga yang ditolak secara langsung oleh Tari.


"Iya, bunga memang cantik. Itu memang buat Mbak Atika 'kan ya, Mas Chiko." Sebisa mungkin, Tari menyembunyikan itu dari suaminya. Ia takut ini jadi masalah baginya,


Melihat Tari bahagia, Chiko pun ikut bahagia. Ia lebih suka melihat Tari tersenyum, senyum itu belum tentu hadir jika ia bersamanya.


"Selamat ya untuk kalian," ucap Chiko.


Mentari merasa lega karena Chiko mengerti akan hubungannya dengan suaminya.


"Semoga Mas Chiko cepat nyusul."


Chiko tersenyum, meski senyum itu cukup membuatnya terluka. Ini yang disebut sakit tak berdarah tuh ini. Ini semua sudah takdir, Chiko pun menyadari itu. Ia memang tak berjodoh dengan Tari.


"Alga, boleh saya meminta sesuatu padamu?" kata Chiko.


Alga menoleh pada Tari terlebih dulu, lalu menatap Chiko. Sebagai laki-laki, Chiko tidak ingin disebut pengecut. Tidak dipungkiri hatinya memang sakit dan belum bisa menerima keadaan.


"Apa?" ujar Alga.


"Meski kalian sudah menikah, izinkan aku untuk berteman dengan Tari," pinta Chiko. Ia akan mengubur perasaannya dan menganggap Tari sebagai adiknya.


"Semua saya serahkan pada Tari." Alga mencoba percaya pada istrinya, bahwa gadis itu tidak mungkin mengkhianatinya.


"Dari dulu sampai sekarang, kita tetap sahabat, Mas," tutur Tari. "Eh, Mbak Atika suruh kesini dong anggap kita double date," pinta Tari.


"Atika sibuk, Tari. Kamu tahukan dia wanita karier."


"Dicoba saja, Mas. Sayangkan bunganya, nanti keburu layu. 'Kan sayang."


Chiko menerima saran dari Tari, ia mencoba menghubungi tunangannya itu. Pas Chiko hendak menghubungi Atika, ia melihat tunangannya itu ada di sini. Mungkin akan makan siang di tempat ini juga.


"Atika." Chiko meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia menghampiri wanita itu.


Sedangkan Tari dan Alga hanya menyaksikan.


"Semuanya sudah beres 'kan?" tanya Alga mengenai Chiko.


"Sudah, Mas. Mas Chiko mengerti dan menerima kenyataan bahwa aku bukanlah jodohnya," jelas Tari.


"Lalu, jodohmu siapa?" tanya Alga menggoda.


"Ah, Mas ini. Gak lucu!"


Chiko berhasil mengajak Atika bergabung bersama Tari dan Alga.


"Silahkan duduk." Chiko menarik kursi untuk Atika. Sementara Atika sendiri merasa bingung dengan perlakuan Chiko yang tak biasa dari biasanya.


Setelah Atika duduk, Chiko memberikan buket bunga itu pada Atika. Lagi-lagi Atika dibuat heran.


"Ada apa dengan Chiko?" batin Atika.

__ADS_1


__ADS_2