
Mereka berempat makan siang bersama, ada keanehan pada diri Chiko membuat Atika terus berpikir. Apa pria itu kerasukan sampai tiba-tiba berubah jadi baik sampai memberikan bunga segala padanya?
"Dimakan dong jangan cuma diaduk aja, gak suka makanannya? Apa mau coba nyobain punyaku?" tawar Chiko pada tunangannya itu.
"Ti-tidak, terimakasih." Tolak Atika sembari menggelengkan kepalanya.
"Makan dari tangan orang yang terkasih itu lebih nikmat loh," timpal Alga pada kedua pasangan yang sedang dilanda kecanggungan itu.
Sebenarnya, Chiko pun sama belum terbiasa dekat dengan kekasihnya itu karena memang tidak ada cinta dari keduanya, mungkin lebih tepatnya belum.
"Kaya gini loh, Mbak," ujarnya pada Atika. "'Aa, sayang." Alga menyodorkan sendok berisi makanan pada Tari, dengan senang hati istrinya itu menerimanya. Memang sedang dimabuk asmara, mereka begitu mesra.
Ada kecemburuan pada Chiko ketika melihatnya, siapa pun akan merasakan hal yang sama. Karena Chiko hanya manusia biasa yang mencoba ikhlas dalam hidupnya. Seperti sekarang, mungkin jodohnya itu memang Atika. Jodoh yang diberikan Tuhan lewat kedua orang tuanya.
""Iya, Mbak coba deh makan dari tangan Mas Chiko," sahut Tari.
Atika menoleh pada gadis itu. Melihat wajah gadis itu dengan seksama. Sekilas, ia merasa tak asing. Tapi pernah melihat wajah itu di mana? Saking penasarannya, ia terus berpikir sampai ia menyadarinya.
"Dia seperti anak SMA itu, tapi sedikit beda, yang ini lebih cantik," batin Atika. Ia pernah melihat wajah Tari lewat ponsel Chiko, karena pernah dijadikan profil. Lalu, siapa pria yang ada di sampingnya? Mesra sekali, pikiran itu sampai memperlihatkannya melamun.
"Aku perhatikan kamu melamum terus, kenapa?" Chiko membisikkan pertanyaannya pada Atika.
"Kamu sedang cemburu pada gadis itu sampai melampiaskannya padaku?" Bukannya menjawab Atika malah membuat Chiko mati kutu. "Dia anak SMA itu 'kan?" tebaknya kemudian.
"Kalau iya, kenapa?" tanya Chiko.
"Kasian sekali," ledek Atika. "Ternyata ada cinta yang bertepuk sebelah tangan." Atika sampai tertawa dan itu jadi pusat perhatian Tari dan Alga.
"Maaf, maaf. Silahkan dilanjutkan kembali makannya," ujar Atika pada Tari dan Alga.
Akhirnya, mereka pun selesai dengan acara makan siang bersamanya, dan mereka langsung pulang ke tempat masing-masing. Chiko yang mengira akan menjadi momen spesial hari ini malah menjadi sebuah tamparan baginya. Patah hati plus jadi ledekan tunangannya karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Udah deh, ngeledek terus dari tadi. Mungkin jodohku memang sama kamu," kata Chiko pada Atika.
"Eh, kok ngomongnya gitu sih! Ingat ya, jangan kamu merencanakan yang tidak-tidak! Ingat tujuan kita, kita hanya akan berhubungan sampai tunangan saja, dan gak akan berakhir di pelaminan," tukas Atika. "Bila perlu aku carikan ganti anak SMA itu untukmu," jelasnya lagi.
__ADS_1
Percakapan Chiko tadi membuat Atika jadi BT, lalu, ia malah minta diturunkan di tengah jalan sebelum sampai ditujuan. Karena Chiko pulang bareng bersama Atika.
"Berhenti di sini saja," pinta Atika.
Chiko menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Kamu mau ke mana minta berhenti di sini? Chiko melihat jalan sekitar, nampak sepi dan sedikit menyeramkan.
Atika pun akhirnya melihat jalan sekitar, ia jadi takut dengan pemandangan di sana. Pohon besar, banyak rerumpunan, sampai terlihat sedikit gelap seperti melewati jalan hutan berimba.
"Yakin mau turun di sini?" tanya Chiko lagi.
"Gak jadi, deh. Takut juga kalau turun di sini," jelas Atika.
Chiko kembali melajukkan mobilnya sambil geleng-geleng kepala, entah apa yang ada dalam pikiran gadis ini sampai ingin turun di tengah jalan, ia tak menyadari bahwa ia sudah membuat tunangannya itu jengkel akan ucapannya tadi.
* * *
"Sayang, Chiko sama tunangannya itu sebanarnya pasangan yang serasi 'kan? Kenapa dia malah bersikap manis padamu?" tanya Alga.
"Maksudnya gimana? Kok, ada sangkutan perusahaan segala?"
"Jadi gini, perusahaan keluarga Mas Chiko tuh digabung sama perusahaan orang tua Mbak Atika. Tidak ingin ada yang mengkhianati satu sama lain, jadi Mas Chiko dan Mbak Atika dijodohkan. Memperkuat, Mas."
Alga hanya manggut-manggut mencerna penjelasan Tari. Dan akhirnya, mereka pun sampai di rumah. Turun dari mobil secara bersamaan, saling bergandengan tangan sampai masuk ke dalam.
Sesampainya di sana, Alga menarik tangan istrinya. Mentari sampai terjerembab tepat dalam dekapannya. Tatapan mereka saling beradu, Alga mengusap pipi mulus istrinya. Sampai jemari itu terus merambat ke bibir.
Mentari yang merasakan sentuhan itu terbawa suasana, ia memejamkan kedua matanya. Tidak membiarkan kesempatan itu terjadi, Alga mengecup bibirnya. Pertautan itu terjadi di ruang tamu.
Perlahan, Alga dan Tari berjalan menuju sofa tanpa melepaskan tautan itu. Hingga kedua kehabisan napas baru mereka melapaskannya. Napas keduanya tersengal.
"Apa ini ciuman pertamamu?" tanya Alga kemudian.
Tari menggelengkan kepala sebagai jawaban.
__ADS_1
"Lalu, siapa yang mendapatkannya lebih dulu sebelum suamimu ini?" Alga sedikit cemburu.
"Ini ciumanku yang ketiga kali, jangan pura-pura tidak tahu siapa orangnya."
Yang ketiga kali? Alga terus berpikir. Ia sudah tiga kali mencium Tari, pertama di mobil. Ia mencuri ciuman itu, kedua waktu malam pertama gagal. Dan yang ketiga sekarang. Akhirnya ia tahu siapa orangnya, siapa lagi kalau bukan dia sendiri orangnya.
"Aku belum pernah pacaran, Mas. Kamu yang pertama bagiku," jelas Tari.
"Sungguh?"
Tari mengangguk. Melihat kepolosan istrinya membuat Alga semakin terbuai, ia merasa pria yang paling beruntung di muka bumi ini. Mendapatkan istri yang cantik dan pintar mengusur segala hal.
"Mas memcintaimu, sayang. Sangat mencintaimu." Alga kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Tari.
Awalnya, Tari belum bisa membalas ciuman itu. Seiring berjalannya waktu dan Alga tak henti menggigit bibirnya pelan sampai Tari bisa menyeimbangi pertautan itu. Lama dalam posisi itu membuat kepemilikkan Alga menegang, memintanya untuk lebih.
Lalu ia teringat kalau istrinya masih dalam menstruasi, ia pun menghentikannya.
"Kenapa?" tanya Tari, padahal ia pun menikmatinya.
"Masih puasa, aku takut gak bisa tahan nafs*ku," jawab Alga.
"Sabar ya, sayang. Semua akan indah pada waktunya." Tari akan memberikan kejutan nanti malam, bahkan baju keramatnya sudah siap menanti. Ia sudah selesai dengan datang bulannya. Biasanya membutuhkan seminggu, entah kenapa yang ini cukup 5 hari saja.
"Ya sudah, sebaiknya kamu mandi dulu, Mas. Aku juga sangat gerah."
"Kamu duluan saja, Mas mau ke ruang kerja dulu." Alga beranjak dari tempatnya, ia menuju kamar Tari yang dulu yang ia jadikan sekarang sebagai ruang kerjanya.
Sementara Tari, ia pergi ke kamar atas untuk membersihkan diri. Setelah itu selesai, ia pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk menemani suaminya bekerja.
Alga tengah fokus dengan layar laptopnya, ia melanjutkan pekerjaannya dari rumah. Lalu, Tari muncul sambil membawa kopi.
"Ini kopinya, Mas." Tari meletakkan kopi di atas meja."
"Terimakasih, sayang."
__ADS_1