Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 14


__ADS_3

Selesai makan, Tari langsung membawa piring kotor ke dapur. Niat ingin mencucinya, tapi ke buru dilarang oleh bi Ati.


"Non, biarkan saja piring kotornya. Non 'kan baru pulang sebaiknya mandi dulu. Den Alga gak suka aroma bau," jelas bi Ati.


"Aku gak bau, Bi." Tari mengendus tubuh bagian ketiaknya.


Bi Ati malah tertawa ketika melihat ekspresi mimik wajah Tari yang begitu lucu. Benar-benar gadis yang sangat polos, pikir bi Ati.


"Ya sudah kalau begitu, aku ke kamar dulu," pamit Tari. Bi Ati hanya mengangguk.


* * *


Tari membuka pintu kamar, ia melihat Alga tengah bertelanjang dada. Ia hanya menggunakan celana pendek karena baru selesai mandi.


"Aaaaa ...," teriak Tari. Alga langsung berlari menghampiri gadis itu, lalu membekap mulutnya rapat-rapat.


"Bisa gak sih, gak harus selalu teriak? Nanti dikira orang rumah aku ngapa-ngapain kamu!"


Tari mengangguk, Alga pun melepaskan tangannya dari mulut istrinya. Berjalan santai menuju lemari untuk mengambil kaos untuk ia kenakan.


"Omsu," panggil Tari.


"Hmm."


"Sebentar lagi aku ujian."


"Lalu?"


Tari sedikit ragu untuk mengungkapkan keinginannya pada Alga, yang ia lakukan hanya mengadu-adu jari telunjuk dengan telunjuk yang satunya.


"Apa? Kamu mau bicara apa?" tanya Alga yang baru selesai memakai bajunya, lalu ia duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Tari pun menyusul, dan duduk di samping Alga. Ia mulai mengutarakan keinginannya.


"Di sekolah nanti ada acara kemping, dan aku mau ikut," jelas Tari.


"Kenapa bilang padaku? Kalau mau pergi ya pergi 'lah." Jawab Alga seolah ia tak peduli dengan keinginan istrinya.


Tari pikir akan sulit, tapi nyatanya tidak. Apa pria itu benar-benar dengan ucapannya? Yang memintanya untuk tidak mencampuri urusan mereka masing-masing. Karena sudah mendapat izin, akhirnya Tari pun pergi. Ia akan membersihkan diri.

__ADS_1


Sementara Alga, ia ke balkon kamar sambil menenteng ponselnya. Ia menghubungi Citra kembali, semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati kekasihnya itu. Bagaimana pun, Alga masih mencintainya.


Tari keluar dari kamar mandi, ia juga melihat Alga berada di balkon. Melihat wajahnya begitu nampak bahagia, apa yang membuat pria itu tersenyum dengan ponselnya? Apa suaminya itu sudah kembali menghangat dengan kekasihnya? Pikir Tari. Ya sudah 'lah, itu bukan urusannya.


* * *


Malam menjelang pun tiba.


Alga tengah bercermin, ia berpenampilan sedikit beda malam ini. Tari terus memperhatikan suaminya itu dari arah ranjang yang ia dudukki, ia sendiri sedang membaca buku untuk hapalan besok karena ia akan mengikuti ujian yang akan dilaksanakan besok pagi.


"Tari, aku akan pergi malam ini. Jika Mama dan Papa menanyakan keberadaanku bilang saja aku ada di kamar sudah tidur atau apa saja terserahmu. Yang penting jangan bilang aku keluar malam ini."


"Kalau aku menuruti perintahmu, apa untungnya untukku?"


"Kalau kamu melakukan itu, besok pulang sekolah aku akan mengajakmu pergi ke mal, apa pun yang kamu mau akan aku belikan."


"Bener?" tanya Tari.


"Iya, bener. Ingat, Papa Mama jangan sampai tahu aku keluar!"


"Ok." Ucap Tari sembari menyatukankan jari telunjuk dan ibu jarinya menjadk bentuk O.


Sementara Tari, malam ini ia belajar dengan giat. Ia berharap mendapat nilai tinggi untuk hasil ujian nanti, ia ingin membanggakan sang ayah dan ingin melanjutkan kuliah demi menggapai cita-citanya.


Hingga malam semakin larut, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tak terasa, Mentari ketiduran dengan buku-buku yang berserakan di kasur. Tak lama dari situ, Alga sudah kembali pulang, tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya bahwa ia sudah keluar dari rumah tanpa Mentari.


Alga melihat istrinya tengah tertidur dengan posisi yang masih memegang buku. Ia mengambil buku itu lalu meletakkannya di atas nakas, ia memposisikan tidur Tari agar gadis itu lebih nyaman.


Disaat Alga menyelimuti tubuh istrinya, Tari merubahkan posisinya. Tangannya tak sengaja mengenai pipi Alga, sampai pria itu mengaduh karena pipinya terkena tangan istrinya.


"Ini anak, saat tidur saja bisa melakukan pukulan." Alga sampai menepuk keningnya sendiri. "Dasar bar-bar." Tapi gadis itu bar-bar hanya saat tidur saja. Bahkan perlakuannya 100 persen kebalik saat ia terjaga.


Tari sendiri tidak menyadari itu, ia begitu pulas dengan tidurnya. Alga sudah mengganti bajunya, entah kenapa malam ini ia begitu merasa gerah. Ia membuka bajunya sebelum tidur, setelah itu baru ia ikut tidur bersama Mentari.


Karena lelah, tak membutuhkan waktu lama bagi Alga untuk tidur. Dalam sekejap suara dengkuran halus mulai terdengar. Di tengah malam, Mentari terjaga, ia merasa sangat haus. Disaat gadis itu terbangun, ia merasa sangat shock. Melihat Alga tidur dalam keadaan tengah memeluknya, apa lagi saat matanya melihat dada bidang suaminya.


Dengan keras, ia mendorong dada itu sekaligus dengan kedua telapak tangannya. Alga langsung terjatuh dari ranjang.


"Aaaww, pinggangku." Alga merasakan sakit dibagian pinggangnya. "Tari, bantu aku." Alga belum tersadar kalau ia jatuh karena istrinya yang mendorongnya.

__ADS_1


Mendengar Alga meminta bantuan, Tari langsung turun.


"Maaf, Omsu aku. Aku kira kejadiannya gak akan kaya gini." Ucap Tari sembari membantu suaminya terbangun dari posisinya.


"Apa maksud katamu tadi? Apa kamu yang mengakibatkanku jatuh?" Wajah Alga berubah kecut, ia marah, sangat marah. Padahal ia tak melakukan apa-apa. "Tari, kalau begini terus, lama-lama aku bisa masuk rumah sakit. Baru 2 malam tidur denganmu membuat tubuhku remuk."


"Maaf, mana yang sakit?" Tari mencoba memeriksan bagian tubuh Alga yang sakit, tapi Alga menepis tangan istrinya.


"Jangan menyentuhku." Alga menarik napas lalu membuangnya dengan kasar. "Besok aku akan mencari rumah untuk kita tempati, mungkin dengan begitu aku tidak jadi sasaranmu lagi."


"Maksudmu, kita akan pindah?"


"Iya, jika tidak tinggal di sini kita bisa tidur di kamar masing-masing," jelas Alga.


"Ta-tapi ..."


"Tidak ada tapi-tapian, keputusanku sudah bulat," pungkas Alga.


Yang tadinya merasa haus, rasa haus itu seketika hilang saat mendengar penuturan Alga, Tari rasa suaminya tidak akan semarah ini. Dengan rasa bersalah, malam ini ia tak dapat memejamkan matanya kembali. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Tari melihat suaminya yang sudah tertidur kembali, lalu ia pun memaksakan diri memejamkan mata. Akhirnya, ia dapat melanjutkan tidurnya kembali.


Keesokkan harinya.


Alga dan Mentari kesiangan, mungkin kejadian semalam membuat mereka seperti itu.


Ajeng dan Yuda pun sudah berada di ruang makan. Namun mereka tak melihat keberadaan Tari yang biasanya lebih dulu dari mereka.


"Ma, coba temui Alga dan Tari," titah Yuda pada istrinya.


"Hmm." Ajeng menuruti apa kata suaminya. Setibanya di depan pintu kamar anaknya, Ajeng mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban dari dalam sana, ibu paruh baya itu memutar handle pintu dan pintu itu tidak terkunci, akhirnya ia masuk begitu saja.


Baginya tidak heran jika melihat pasutri itu tertidur dalam keadaan Alga yang tidak memakai baju, ditambah melihat Tari dalam posisinya. Tidak ingin mengganggu, Ajeng kembali menemui suaminya.


"Bagaimana, apa mereka sudah bangun?"


Ajeng menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Sepertinya doa Papa akan terkabul," kata Ajeng.

__ADS_1


__ADS_2