Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 41


__ADS_3

Satu bulan pasca resepsi.


Mentari sedang bermanja pada suaminya, ia sedang membujuk Alga untuk mengizinkannya kuliah dalam waktu dekat. Ia ingin menjadi mahasiswa seperti cita-citanya, menikmati masa remaja meski sudah menikah.


"Mas ... Boleh ya?" Tari terus menggoda suaminya, apa pun akan ia lakukan demi mendapatkan izin darinya. Ia bergelayut manja di tubuh suaminya yang sedang duduk di ruang kerjanya, ia bekerja dari rumah.


Dan itu keinginan Tari, entah kenapa, gadis itu begitu manja padanya. Bahkan sampai tidak ingin berjauhan darinya, sampai ke kamar mandi pun ia ikut dan menunggunya di luar.


"Mas gak bisa konsen jika kamu begini terus." Posisi Tari berada dalam pangkuannya, gadis itu tengah terduduk. Alga menghentikan kegiatannya yang sedang bekerja, ia menatapnya lalu menangkup wajah istrinya karena gadis itu terlihat menggemaskan dan semakin hari semakin cantik. Wajahnya begitu bersinar.


Alga menempelkan kening sampai hidung pun saling beradu.


"Mas selesaikan pekerjaan dulu, nanti kita lanjutkan di kamar," bisik Alga.


Tari hanya tersenyum, semenjak seminggu ini mereka sering melakukan hubungan disetiap malamnya. Tari selalu meminta jatah, ia tak bisa tidur jika tidak begitu. Ia sendiri merasa bingung. Namun terkadang, ia merasa jengkel dengan suaminya tanpa alasan. Emosinya naik turun.


"Hmm, aku tunggu di kamar." Tari mengecup bibir suaminya sekilas, lalu turun dari pangkuan. Ia keluar dari sana, berjalan dengan gaya mundur. Ia terus melihat ke arah suaminya.


"Awas," kata Alga.


Bugh


Tari membalikkan tubuhnya, naas, ia malah kejeduk pintu. Ia mengaduh, dan Alga langsung menghampiri. Tapi Tari malah marah-marah gak jelas akan kejadian barusan, ia menyalahkan suaminya akbita tragedi yang terjadi.


"Loh, kok marah sama Mas sih! Siapa suruh jalan mundur? Kamu ini ada-ada saja."


Tari semakin marah, gadis itu menangis seperti anak kecil. Perkataan Alga membuat Tari sedih, sampai hati suaminya begitu, ia terus terisak. Alga hanya menggaruk tengkuknya yang merasa tidak gatal itu.


Bingung, dengan cara apa ia bisa membuat Tari tak menangis lagi?


"Sudah, jangan menangis? Apa yang membuatmu sedih? Apa karena ini?" Alga menyentuh dahi istrinya yang diperkirakan masih sakit karena terpentok pintu.


"Aku juga gak tahu, Mas. Perasaanku bisa cepet berubah. Hatiku jadi perasa, seperti ucapan Mas barusan. Perkataan itu seperti menusuk di hati, Mas," jelas Tari.


Alga pun sebenarnya merasa ada yang berbeda pada istrinya, tapi entah apa itu?


"Ya sudah, ksekarang tidur ya?" bujuk Alga.


"Sama Mas, ya?"


"Tapi pekerjaan, Mas-." Ucapan Alga terhenti karena Tari langsung membalikkan tubuh membelakanginya sambil bersedekap tangan di dada.


"Iya-iya ... Sama Mas tidurnya, tapi Mas tutup laptop dulu."

__ADS_1


Wajah Tari langsung berbinar ketika melihatnya, hatinya kembali ceria.


***


"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Alga, karena ia merasa ada yang aneh pada istrinya.


"Maksud, Mas?" Tari mendongakkan wajah karena posisinya sedang tertidur dalam dekapan Alga.


"Gak ada maksud apa-apa, hanya ingin memeriksamu saja. Takut ada sesuatu, karena Mas ngerasa ada yang aneh denganmu."


"Mas anggap aku gila?" Belum apa-apa Tari langsung marah, bahkan tanpa mendengar penjelasan dari suaminya.


"Bukan, bukan begitu." Alga mencoba menjelaskan tapi Tari malah beranjak dari tempatnya dan menggunakan baju hangatnya.


"Loh, loh ... Mau kemana?" tanya Alga ketika melihat Tari hendak keluar dari kamar.


"Mas nyebelin, aku mau ke rumah Mama saja." Tari keluar dari rumah, dan disusul oleh suaminya.


"Sayang, tolong dong jangan begini. Nanti Mama ngira kita lagi berantem."


Tapi Tari tak menggubris, gadis itu tetap berjalan sampai pekarangan rumah.


"Ok, Mas antar ke rumah Mama jika kamu ingin kesana."


Tari menghentikan langkahnya, ia menunggu suaminya yang sedang mengeluarkan mobil dari garasi. Tari langsung masuk ke dalam mobil, Alga melirik ke arah istrinya sambil menghela napas panjang.


Tari tidak menjawab, ia menatap suaminya dengan tajam. Seolah memberi jawaban melalui tatapan itu. Alga tak banyak kata lagi, ia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju. Di dalam mobil, Tari mau pun Alga tidak ada yang bersuara.


35 menit kemudiam, mereka pun sampai di kediaman Yuda. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Ajeng yang masih belum tidur pun langsung membuka pintu karena mendengar suara deruman mobil.


Ajeng terkejut dengan kedatangan anak dan menantunya malam-malam.


"Mama." Tari langsung menghamburkan pelukkan di tubuh mertuanya, ia malah terisak.


"Loh, kenapa nangis?" Ajeng menatap ke arah Alga seolah meminta penjelasan. Sedangkan Alga mengangkat kedua bahunya.


"Mas Alga nyebelin, Ma. Masa dia menganggapku gila dan menyuruhku periksa." Ucapnya sambil tersedu-sedu.


"Bukan begitu ceritanya, Ma." Belum Alga menjelaskan, Ajeng mengajak Tari masuk ke dalam.


***


"Tidurlah, biar Mama bicara dengan Alga."

__ADS_1


"Bila perlu, Mama marahin dia! Dia itu ngeselin, Ma," rengek Tari.


"Iya, Mama marahin dia. Sekarang kamu tidur, ini sudah malam."


Akhirnya, Tari pun tidur dengan bujukkan ibu mertuanya. Ajeng keluar dari kamar dan menemui Alga yang sedang menunggunya kembali.


"Bagaimana, Ma. Apa dia sudah tidur?" tanya Alga setibanya Ajeng di hadapannya.


Ajeng duduk di samping Alga.


"Sebenarnya Tari itu kenapa sih, Ma? Akhir- akhir ini sikapnya itu aneh. Manja, kadang marah-marah gak jelas."


Ajeng berpikir, apa mungkin menantunya itu sedang hamil?


"Ma, jawab. Bukannya malah melamun." Alga pun jadi kesal sendiri.


"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Yuda yang baru saja tiba, ia terbangun karena mendengar suara anaknya. Dan benar saja, ada Alga di rumahnya. "Kamu ngapain malam-malam di sini? Berantem sama istrimu?" duga Yuda.


"Ish, si Papa nih. Datang-datang malah tambah buat aku riweh saja," kesal Alga.


"Sensi banget, gak dikasih jatah sama istrimu, hah?" kata Yuda lagi.


"Papa diem aja deh, aku lagi pusing sama sikap Tari," jelas Alga.


Yuda duduk di samping istrinya dan membisikkan sesuatu padanya. "Alga kenapa? Ada masalah sama Tari?"


Belum Ajeng menjawab, Alga pun memilih pamit dan ia tidak ikut bermalam di sana. "Ma, aku pulang. Aku titip Tari, besok sepulang kerja aku jemput." Alga begitu tanpa alasan, ia memberikan waktu pada istrinya agar Tari menyadari kesalahannya.


"Mau pulang, Ga?" tanya Yuda. "Lalu istrimu?" sambungnya lagi.


"Besok aku jemput." Hingga akhirnya, Alga menghilang dari pandangan orang tuanya.


Setelah kepergian Alga, Yuda dan Ajeng pun berbincang mengenai sikap Tari yang membuat Ajeng curiga. Karena ia pernah berada di posisi Tari, marah gak jelas, kadang ingin dimanja. Pokoknya ia bisa merasakan apa yang Tari alami sekarang.


"Pa?"


"Apa?"


"Jangan-jangan Tari hamil, Pa. Sikapnya sama persis sama Mama dulu ketika ngidam Alga, Papa masih ingatkan bagaimana Mama membenci Papa waktu itu?"


Memori Yuda berputar di 29 tahun yang lalu, di mana sang istri tengah terlihat aneh dengan sikapnya. Bahkan sampai meminta cerai cuma gara-gara tukang sayur.


"Iya, Ma. Papa ingat itu. Kalau Tari hamil, kita akan punya cucu, Ma." Yuda begitu antusias.

__ADS_1


"Papa berdoa saja semoga Tari benar-benar hamil dan tidak sedang bertengkar dengan Alga. Sudah, ah. Mama ngantuk, besok Mama mau tespack Tari."


Pasutri itu pun akhirnya kembali ke kamar untuk tidur.


__ADS_2