
Di kantor, Alga sedang bekerja. Ia tengah memandangi layar laptopnya. Tak lama dari situ, telefonnya berdering, ia pun mengangkatnya.
"Suruh saja dia masuk," kata Alga pada sambungan itu. Setelah itu ia menutup telefon.
"Sayang ..." Ujar Citra sembil nyelonong masuk, bahkan ia datang tanpa mengetuk pintu. Alga hanya menghela napas, kedatangan Citra ke kantor memang sudah biasa.
Alga langsung menutup pintu kembali, ia takut ada yang melihat keberadaan Citra. Apa lagi kalau sampai papanya tahu, pria paruh baya itu bisa marah besar padanya.
Citra merasa heran dengan tingkah kekasihnya itu, bukankah kedatangannya sudah biasa? Tapi kenapa Alga seperti yang sedang menyembunyikan keberadaannya?
"Kamu kenapa?" tanya Citra, ia melihat Alga sedikit ketakutan.
"Apa aku menggangumu?" tanya Citra kemudian.
"Kenapa ke sini? Katanya ada pemotretan," seru Alga. Padahal ia ada janji dengan Tari untuk menjenguk ayah mertuanya, jika ada Citra di sini bisa gagal.
"Gak suka aku datang?" Citra langsung cemberut.
"Bu-bukan, aku ada meeting hari ini. Sebentar lagi akan dimulai." Padahal itu hanya akal-akalannya saja. "Kamu pulang saja ya? Kalau menunggu pasti lama," usir Alga.
"Aku tunggu saja, gak apa-apa. Lagian pemotretan diundur jadi besok."
Alga kelimpungan, bagaimana caranya menyuruh Citra pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, bahkan ia sudah harus menjemput Tari. Karena Tari sudah memberitahukan kepulangannya pada Alga.
Waktu ujian tak seperti sedang belajar. Tari pulang lebih cepat dari biasanya. Alga sudah sangat gelisah ketika melihat jam yang menempel di tangannya.
"Citra sayang, kamu pulang ya? Aku benar-benar harus meeting," jelas Alga pada Citra.
Disaat Alga sedang membujuk Citra, pintu ruangannya ada yang mengetuk. Alga yang mendengar semakin panik. Ketika orang itu masuk, Alga langsung menyembunyikan Citra di bawah kolong meja kerjanya.
Citra pun langsung berjongkok karena dipaksa oleh Alga.
"Alga, kamu sedang apa?" tanya orang yang baru saja masuk ke ruangannya, orang itu tak lain adalah Yuda.
"Papa, ini, Pa. Ada kecoa."
Citra yang mendengar langsung mencubit kaki Alga.
"Aaww," pekik Alga.
"Kamu kenapa?" tanya Yuda.
"Kecoanya masuk ke celana, Pa. Kayaknya gigit," jelas Alga. Alga seolah mengusir kecoa dalam celananya.
Yuda yang melihat hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu ini ada-ada saja, Alga. Ini sudah jam 11, bukannya kamu ada janji dengan Tari?"
__ADS_1
"Mati aku," batin Alga.
Sementara di bawah sana, sudah mencubit Alga beberapa kali. Namun pria ia menahan rasa sakitnya.
"Sebaiknya kamu berangkat sekarang, kasian Tari menunggumu." Setelah mengatakan itu, Yuda baru pergi.
Setelah Yuda pergi, Alga langsung mengusap-usap kakinya yang terasa sakit.
"Kamu apa-apa sih cubit-cubit? Inikan sakit," keluh Alga.
"Siapa Tari? Kamu bohong, katanya mau meeting padahal ada janji sama wanita lain." Citra marah karena merasa dibohongi.
"Tari itu clien, Citra. Sudah, sebaiknya kamu pulang. Nanti aku ke rumah deh."
"Bener ya?" Citra menagih janji.
"Iya bener, tapi sekarang kamu pulang."
Citra pun mengangguk dan memeluk tubuh Alga, sampai meninggalkan noda lipstik di kemajanya. Tentu Alga tak menyadari itu.
"Aku pulang kalau begitu." Citra melepas pelukkannya lalu mencium pipi kekasihnya itu.
Setelah kepergian Citra, Alga langsung siap-siap. Ia memakai jas-nya dan menyambar kunci mobil lalu pergi.
* * *
"Si Omsu kemana sih? Apa dia lupa?" ucap Tari sendiri. Hingga setengah jam kemudian, mobil yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Tari langsung berdiri dari tempat duduknya, ia berkacak pinggang ketika Alga menghampirinya.
"Maaf ya, Tari. Jalanan macet," alasan Alga.
Tapi Tari malah cemberut.
"Hey, kok cemberut sih? Jelek kalau cemberut begitu." Alga meraih dagu istrinya sambil menggodanya.
"Apa sih!" Tari menepis tangan suaminya. Tak sengaja, mata Tari melihat tanda merah di kemeja suaminya. Tari mendekat ke arah tubuh Alga. Tapi Alga mengira bahwa Tari akan menciumnya.
Dengan percaya diri, Alga menyodorkan wajahnya. Lagi-lagi Tari menepisnya dengan tangannya.
"Macet di jalan apa macet sama perempuan?" Tari menajamkan matanya, ternyata pria ini banyak modusnya. Untung ia belum masuk perangkap pria itu.
Alga yang tidak mengerti dengan ucapan Tari hanya terdiam sambil mencerna. Namun tetap saja ia tak mengerti.
"Apa kamu peramal?" pertanyaan konyol itu meluncur dari bibir Alga.
Tari yang sedang kesal, tambah kesal dengan pertanyaan bodoh suaminya. Tak berlama-lama lagi, Tari langsung masuk ke dalam mobil karena ia merasa kepanasan. Sudah panas kena matahari ditambah lagi panas hati. Rasanya ia ingin menjerit di atas genteng.
Alga menyusul ke dalam mobil, memakai selbeth lalu menyalakan mobilnya.
__ADS_1
Sebelum mobil itu melaju, Alga memasangkan sabuk pengaman di tubuh istrinya. Tari membiarkan itu, ia cuek-cuek saja.
Setelahnya, Alga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik ke arah Tari, tapi gadis itu hanya diam saja. Alga menyetel musik, menghilangkan keheningan dan menemani perjalanan mereka.
Alga ikut bernyanyi, Tari yang melihat sedikit jengah. Apa lagi dengan tanda merah di bajunya.
"Omsu, apa di mobilmu ada baju ganti?" tanya Tari.
Alga kurang jelas dengan pertanyaan istrinya, ia mengecilkan suara musik itu lalu kembali bertanya. "Apa tadi kamu bilang?"
"Bawa ganti baju tidak?" tanya Tari dengan nada juteknya.
"Ada di jok belakang, memangnya kenapa dengan bajuku?"
"Masa gak sadar habis begituan, sampai meninggalkan bekas," cibir Tari.
"Begituan bagaimana?" Alga yang tidak mengarti dengan ucapan istrinya langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia melihat bajunya sendiri di cermin yang ada di dalam mobilnya. Ia melihat tanda merah di bajunya.
Dan ia baru tersadar akan hal itu.
"Yang begituan itu, ini maksudmu?" Tanya Alga sembari menyentuh bajunya sendiri.
"Cepat ganti! Kalau sampai Ayah tahu bisa berabe." Nada Tari terdengar sinis.
"Kamu cemburu ya? Aku bisa jelasin ini. Ini tuh-."
"Gak usah dijelasin, aku sudah tahu itu. Itu lipstik Mbak Citra 'kan?"
Melihat kondisi Tari yang seperti itu, Alga langsung mengambil baju di jok belakang, lalu mengganti bajunya yang kotor. Ketika Alga membuka kemajanya, Tari langsung menutup matanya. Ia tak ingin melihat dada bidang suaminya itu, ia merasa malu sendiri.
"Tari, bantu aku mengancingkannya."
Tapi Tari tak kunjung melepaskan tangannya dari matanya yang ia jadikan sebagai penutupnya.
"Tari?" panggil Alga.
"Hmm," jawab Tari.
"Bantu aku, cepat!"
Tari melepaskan tangannya, lalu merubahkan tubuhnya menghadap Alga. Tapi matanya masih belum terbuka. Tangannya meraba kancing baju suaminya, tapi sayang ia malah salah menyentuhnya.
"Tari, mana ada pasang kancing baju begini? Kamu kenapa sih? Kelilipan?" tanya Alga ketika melihat mata Tari terpejam. "Buka matamu? Lagian, aku 'kan suamimu. Bagaimana nanti aku meminta hakku?"
Sontak, Tari langsung membuka matanya ketika mendengar ucapan absurd suaminya.
"Cepat lakukan! Kalau tidak, malam ini aku akan meminta hakku!" Padahal, Alga hanya mengerjai istrinya. Meski Tari masih suka marah-marah, tapi gadis itu selalu menuruti perintahnya.
__ADS_1
Disaat Tari mengancingkan kemejanya yang terakhir, karena ia memulainya dari bawah otomatis yang terakhir adalah paling atas, hingga tatapan keduanya saling pandang.