Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 32


__ADS_3

Tari merintih, ia menahan sesuatu di bawah sana. Ketika Alga semakin menggerayangi tubuhnya yang lain, Tari semakin jadi kalang kabut.


"Mas," ucap Tari kembali.


Alga menghentikan aksinya, lalu menerangi wajah istrinya dengan senter yang ada di ponselnya. Gadis itu menutup mata karena silau dari cahaya itu.


Alga yang melihat merasa lucu, ada mainan baru sekarang di kamarnya. Tak tega, ia pun menjauhkan cahaya itu dari wajahnya.


"Ada apa, sayang?" Tanya Alga sembari menatap wajah cantik istrinya.


"Mau pipis," kata Tari. Gadis itu begitu polos mengucapkan dengan keinginannya.


Alga tersenyum, ia berpikir bahwa istrinya ingin bermain di kamar mandi. "Ayok?" ajak Alga semangat 45.


"Ayok kemana? Mas tunggu di sini, 'kan malu kalau Mas ikut," kata Tari jujur.


"Hmm, baiklah. Bawa ini." Alga memberikan ponselnya sebagai penerangan.


Bergegas, Tari turun dari kasur. Ia sudah tak tahan, di areanya terasa lembab. Setibanya di dalam kamar mandi, ia langsung buang air kecil. Sesudahnya, ia melihat bercak darah di segitiga miliknya.


"Hmm, pantes gak enak perut. Ternyata lagi datang bulan."


Tari kembali ke kamar, ia langsung menuju lemari, mengambil segitiga dan pembalut. Alga belum tahu kalau istrinya sedang datang bulan, ia terus tersenyum, membayangkan akan malam pertama dengan gadis polos. Pasti sangat lucu, pikirnya.


Beberapa menit kemudian, Tari kembali menemui suaminya. Ia pun duduk dan meletakkan ponsel yang masih menyala dengan senter.


"Maaasss ..." Tari tidak tahu harus berkata apa, yang ia lakukan hanya mengadu-adu jari telunjuknya. "Mmm ..., anu, Mas."


"Anu apa?" Alga mendekat, ia kira istrinya ingin melanjutkan aktivitasnya yang terhenti,


Tari mendorong pelan dada bidang suaminya, sedangkan Alga, dirinya mengernyitkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Alga dengan raut wajah bingung.


"Aku gak bisa terusin yang tadi, Mas."


"Yang tadi yang mana?"


"Itu, loh ..." Tari bingung sendiri, apa yang harus ia jelaskan? Suaminya pasti kecewa.


Lalu Tari membisikkannya.


"Lagi datang bulan?"


Seketika, Alga lemas tak berdaya. Ia tahu apa maksud istrinya, tidak ada pilihan, malam pertamanya jadi gagal total. Padahal ia sudah bersemangat.


Alga menghempaskan tubuhnya seketika.


"Mas, marah ya?" tanya Tari.


"Berapa lama aku harus menunggu?" tanya Alga. Meski kesal, Alga mengerti akan hal itu.


"Seminggu paling," jawab Tari.


"Lama sekali. Ya sudah kalau begitu, tidur saja," ajak Alga.


"Tapi aku laper, Mas. Mas temenin ke dapur, yuk?" Terpaksa Tari meminta diantar karena lampu masih belum menyala.


"Ya sudah, ayok?" Alga menuntun istrinya, mereka berdua berjalan sambil bergandengan.

__ADS_1


Tari sendiri jadi merasa tak enak hati, karena ia tak bisa melayani suaminya malam ini.


Ketika sedang menuruni anak tangga, lampu pun kembali menyala.


Tari menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Alga.


"Lampunya sudah nyala."


"Lalu?


"Kalau Mas ngantuk, Mas tidur duluan saja. Biar aku ke dapur sendiri."


"Mas belum ngantuk, lagian, Mas juga laper."


Dan akhirnya, Alga dan Tari ke dapur. Tari memasak mie instan untuk mereka berdua.


Setelah mie instan jadi, Alga mengajaknya makan sambil nonton tv.


Ia menonton film action, sengaja karena mengalihkan pikirannya yang masih terbawa suasan bersama Tari sewaktu di kamar. Sesekali, Tari melirik suaminya. Pria itu nampak fokus dengan acara yang ia putar.


"Mas, katanya laper. Dimakan dong mie-nya."


"Iya." Alga pun memakannya sampai habis.


Tari menyimpan mangkuk ke dapur, lalu kembali menemui suaminya.


Tari menghalangi layar kaca itu dengan tubuhnya, Alga mendongak, melihat wajah istrinya.


"Kenapa?"


"Mas marah gak sih?"


"Soal tadi."


Alga menarik tangan Tari sampai gadis itu terjatuh tepat di pangkuannya.


"Gak usah bahas itu, ya? Mending nonton ini aja."


Akhirnya, mereka menghabiskan malam itu dengan menonton tv. Posisi Tari masih duduk di pangkuan suaminya, pria itu memeluknya dari belakang. Tari melihat acara itu dengan serius, tubuhnya pun ikut tegang.


Alga sendiri, ikut tegang karena tubuh Tari mengenai pusat pusakanya.


"Gini amat mau malam pertama," batin Alga.


Tanpa terasa, mereka malah tertidur dalam keadaan tv menyala. Tidur begitu nyenyak, karena mereka tidur dalam posisi saling berpelukkan di atas sofa.


* * *


Tiga hari berlalu.


"Sayang, masih lama ya?" tanya Alga.


"Hmm."


Setiap hari, Alga selalu bertanya mengenai hal itu.


"Mas sabar, ya? Aku janji akan memuaskanmu nanti," bisik Tari.

__ADS_1


"Memuaskan apa?" sahut Ajeng tiba-tiba.


"Mama," ucap Tari dan Alga bersamaan.


"Tumben, Mama kesini. Ada apa?" tanya Alga.


"Mama mau ajak istrimu belanja." Ajeng dan Tari memang sudah janjian, Mereka akan pergi ke mal bersama.


"Boleh ya, Mas. Aku pergi sama Mama?" izin Tari.


"Gak boleh kenapa, Tari? Kamu 'kan perginya sama Mama, keterlaluan saja kalau suamimu tidak mengizinkan," celetuk Ajeng sembari menoleh ke arah anaknya


Sebenarnya anaknya itu siapa? Tari apa Alga? Alga merasa selalu tersudutkan kalau sedang bersama mamanya. Padahal ia tak pernah mengkekang istrinya akan pergi kemana, asal jelas.


"Boleh, sayang," jawab Alga.


Tari langsung sumringah, ia pergi juga untuk membahagiakan suaminya. Meski malu, Tari meminta pendapat mengenai soal ranjang pada ibu mertuanya. Tak tahu harus bertanya pada siapa? Sikap lembut Ajeng membuat Tari tak sungkan.


Bahkan mereka terlihat bukan seperti mertua dan mantu. Keakraban mereka membuat siapa saja iri melihatnya, tak jarang mantu dan mertua akur.


"Aku berangkat sekarang ya, Mas?" Tari mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati," ujarnya pada Tari. "Aku titip Tari ya, Ma?" sahutnya pada sang mama.


"Kamu pikir istrimu barang? Main titip-titip segala," cela Ajeng.


"Dia lebih dari barang, Ma. Tari sangat berharga bagiku."


"Bapak sama anak sama saja, tukang gombal," seru Ajeng lagi.


Akhirnya, Tari dan ibu mertuanya undur diri dari hadapan Alga, mereka pergi bersama pak Tohir, supir pribadi Ajeng.


"Kamu mau beli apa di sana?" tanya Ajeng yang sudah berada dalam perjalanan.


Malu untuk menjawab, Tari hanya membisikkan di telinga Ajeng.


"Kamu serius mau beli itu? Emang belum punya?"


Tari menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Lalu, kemarin-kemarin pakai apa?"


"Belum pernah, Ma. Belum pernah begitu."


Tari benar-benar polos, ia sampai gamblang membuka kartu bersama sang suami.


Ajeng sendiri merasa bangga pada anaknya, ia masih menjaga kesucian istrinya. Padahal, sebelumnya mereka sudah tidur bersama sampai papanya sendiri langsung menikahkannya karena takut terjadi sesuatu pada diri mereka.


Mungkin, jika Alga lelaki yang kurang ajar, dia pasti sudah memanfaatkan keadaan. Mereka berdua sama-sama beruntung mendapatkan jodoh yang bisa menahan emosi dan nafs*.


"Kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Ajeng begitu serius dengan pertanyaannya pada Tari.


"Bahagia, Ma. Meski dulu sempat menolak Mas Alga jadi suamiku."


Ajeng tersenyum mendengar jawaban dari Tari. Gadis ini begitu jujur akan apa yang ia rasakan.


Obrolan pun terhenti kala mereka sudah sampai dipusat perbelanjaan.


Ajeng dan Tari langsung ke toko pakaian wanita, karena itu memang tujuan utama.

__ADS_1


"Tari, ini bagus. Kayaknya pas di tubuhmu."


Mata Tari terbelalak ketika melihat baju itu.


__ADS_2