
Tari keluar dari kamar, Alga pun menyusul. Bumil itu terisak karena merasa suaminya masih mencintai mantan kekasihnya.
"Tari, ini tidak seperti yang kamu bayangkan," jelas Alga. Bahkan ia bersimpuh di kaki istrinya, meminta maaf atas semua kesalahan yang terjadi barusan. Tapi sungguh, ini seperti ada dorongan yang kuat untuk melihat model cantik itu.
Alga sendiri bingung, padahal ia sama sekali tidak pernah terpikirkan akan Citra. Alga menjadi merasa bersalah karena ia sudah membuat calon ibu dari anaknya itu menangis. Alga mencoba menghapus air mata istrinya yang membasahi pipi. Namun Tari menepisnya.
"Jangan sentuh!"
Alga menghela napas, ia tahu sikap Tari. Gadis itu tidak mudah dibujuk, apa lagi ia membuat kesalahan.
"Sayang ... Maafkan, Mas. Mas gak bermaksud menyakitimu."
"Lalu, apa maksudnya kalau bukan berniat menyakiti? Bahkan kamu diam-diam melihat sosmed mantanmu itu."
"Bukan Mas yang ingin, sepertinya Mas ngidam pengen ketemu idola. Banyak 'kan yang begitu?"
"Idola? Itu hanya akal-akalan kamu saja, Mas. Kalau masih cinta bilang saja! Mau kembali juga silahkan!"
Setelah mengatakan itu, Tari segera pergi dari hadapan suaminya. Ia merasa dikhianati, mungkin ini yang disebut sakit tak berdarah. Alga tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa pada istrinya.
Kini ia termenung di ruang tamu sendirian. Rasa mual kembali mendera, ia buru-buru pergi ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam perutnya. Suara yang ia keluarkan cukup keras, tapi Tari tak peduli akan nasib suaminya yang kini sedang menderita.
"Tari," teriak Alga. Namun tak ada jawaban sama sekali. Ia yakin kalau istrinya itu pasti mendengar panggilannya, ibu hamil memang baper. Alga jadi pusing sendiri.
Karena tak ada sahutan, Alga menemui istrinya yang mungkin berada di dalam kamar. Ketika Alga memutar handle pintu, pintu dalam keadaan terkunci. Ia terus memutar gagang pintu.
"Tari, Mas mohon buka pintunya. Kamu gak kasihan sama suamimu ini, aku 'kan lagi sakit," keluh Alga. Hening, karena Tari tak menjawab, bahkan pintu masih tertutup rapat.
"Sayang ... Ayo dong, jangan marah gitu. Mas janji gak akan melakukan itu lagi, tapi tolong buka pintunya, Mas pusing banget."
Klek.
Pintu terbuka, Tari membukanya. Namun bumil itu tak mengeluarkan suaranya sedikit pun, ia membuka pintu bukan berarti ia sudah memaafkan suaminya. Tari rasa ini sudah keterlaluan, mungkin saja kejadian ini sering terjadi, pikirnya.
Bumil itu duduk di sofa, sedangkan Alga, ia terbaring di atas kasur. Muntah-muntah membuatnya semakin lemas, lalu ia mencoba memejamkan mata, ulu hatinya terasa sakit karena sudah beberapa hari makannya tak teratur ditambah lagi tidak memakan karbohidrat.
"Sayang, boleh Mas minta tolong?" ucap Alga, namun posisinya masih terbaring dengan mata terpejam.
Meski pun kesal, Tari mencoba menuruti keinginan suaminya.
__ADS_1
"Tolong apa?" jawab Tari dengan nada ketus.
"Ambilin obat mag yang ada di dalam laci."
Tari mengambil obat itu, sebenarnya ia tak tega membiarkan suaminya menderita sendiri. Tapi ngidamnya itu membuat Tari tak percaya, bisa saja itu hanya modus suaminya yang ingin melihat body aduhai wanita itu.
"Ini, minum sendiri saja." Tari meletakkan obat itu di atas nakas.
Dengan lemas, Alga mencoba mendudukkan tubuhnya. Miris sekali keadaan Alga, sedang sakit malah tidak ada perhatian dari pasangannya.
"Gini banget sih nasib orang ngidam, salah ya ngidam mau bertemu idola?" Alga menyindir istrinya, betapa menderitanya ia, ditambah lagi mendapat tuduhan bahwa ia masih memiliki rasa pada Citra. "Sudah jatuh, tertimpa tangga pula."
Alga meneguk obat mag yang berupa sirup itu, kapan penderitaannya berakhir? Ia ingin hidup normal seperti biasa.
"Sayang, sampai kapan Mas begini? Mas laper tapi gak bisa makan," keluh Alga.
"Gak tahu." Lagi-lagi Tari menjawab dengan ketus. Ia pikir, ia juga tidak merasakan sakit? Sakit, dikhianti itu sakit. Tari mengusap perutnya yang masih rata, karena usia kandungannya baru menginjak 2 bulan.
***
Sudah dua hari ini, sikap Tari masih ketus. Ia kurang memperhatikan suaminya karena masih kesal dengan kejadian dua hari lalu. Bahkan Alga menyiapkan kebutuhannya sendiri, dari mulai menyiapkan buah untuk ia makan.
Hari ini, Alga mulai ke kantor kembali. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Sebelum berangkat, ia menemui istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Sayang, Mas pergi ke kantor dulu ya?" Alga mengecup kening Tari, dan menyodorkan tangan.
Tari meraih tangan itu, lalu mengecupnya.
"Mas berangkat sekarang."
Setelah kepergian Alga, Tari merasa sangat bersalah. Tapi ini karena ulahnya, ia sendiri berpikir ini tidak keterlaluan. Semoga dengan begini, Alga jera dan tak akan membuatnya marah apa lagi ada hubungannya dengan masa lalunya.
Tidak ingin masalah ini berlarut, Tari berencana untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya nanti, meski hanya buah yang ia antar. Suaminya pasti akan merasa senang jika ia datang. Tari pun tersenyum sendiri membayakan apa yang akan terjadi nanti di kantor.
***
Di kantor, Alga sudah mulai bekerja. Beberapa hari tidak masuk kerja, membuat pekerjaannya menumpuk. Meski hanya mengecek laporan dan menandatangani berkas-berkas, namun ia tetap harus jeli dan hati-hati.
Ketika ia sedang sibuk bekerja, tiba-tiba saja teleponnya berdering.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" jawab Alga pada sambungan telepon itu. Entah kabar apa yang ia dapatkan dari sekretarisnya itu. Bibirnya menyungging, entah bahagia atau malah akan menjadi malapetaka baginya.
Namun, ia tetap tak bisa membohongi persaannya, bahwa ia ingin bertemu dengan mantan yang kini menjadi idola baginya.
"Tari gak akan tahu," batin Alga.
"Suruh saja dia masuk," ucapnya kembali pada sambungan itu.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu-tunggu akhirnya masuk ke dalam ruangannya. Alga langsung tersenyum ketika melihat keberadaan Citra. Ngidamnya terpenuhi, ia tak khawatir lagi karena anaknya tidak akan ileran.
"Hay, Ga? Apa kabar?" sapa Citra setibanya di hadapan sang mantan.
"Aku baik," jawab Alga antusias.
Keantusiasan Alga membuat Citra salah faham, ia kira kedatangannya sangat dinanti. Menjalin hubungan selama 4 tahun membuatnya tidak mudah melupakan semuanya, pikir Citra.
"Maaf ya, kedatanganku mendadak. Aku hanya bawakan ini untuk kalian." Citra memberikan sebuah paper bag kepada Alga.
"Apa ini?" tanya Alga sembari menerima itu dari Citra.
"Kado pernikahanmu, aku gak bisa datang karena sibuk," jelas Citra.
"Iya deh yang lagi sibuk," ledek Alga.
Hingga keduanya tertawa bersama-sama.
***
Sementara Tari, bumil itu baru saja tiba di kantor suaminya. Berniat memberikan sureprise pada Alga, ia tak bisa lama-lama mendiamkan suami tercinta.
"Apa, Bapak ada?" tanya Tari pada sekretaris suaminya.
"Ada, Bu. Tapi sedang ada tamu," jawab sekretaris itu.
"Apa tamunya penting? Laki-laki apa perempuan?" tanyanya lagi.
Sekretaris itu jadi bingung harus menjawab apa, sedangkan ia sendiri tahu siapa yang menjadi tamu bosnya tersebut. Tari mengerutkan kening ketika melihat ekspresi sekretaris itu. Mulai curiga dengan tamu yang datang, ia segera saja masuk ke ruangan suaminya bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Braakkk ...
__ADS_1
Paper bag yang ada di tangan Tari terjatuh ketika melihat pemandangan di ruangan itu.