
Dikediaman Alga kini sudah kumpul, termasuk adanya Yuda di sana. Ajeng sengaja menyuruh suaminya untuk datang, saat suaminya itu mengajaknya pulang tapi Ajeng tidak mau pulang sebelum memastikan semuanya baik-baik saja pada rumah tangga anaknya itu.
"Ya boleh ya, Pa. Mama nginep di sini?" Ajeng memasang wajah melasnya pada suaminya, meminta izin agar diperbolehkan untuk menginap.
Yuda menghela napas, kalau istrinya di sini, ia akan meresa kesepian di rumah. Jadi ia putuskan untuk bermalam di sini sampai istrinya mau pulang.
"Ya sudah, Papa juga nginap saja kalau begitu."
Alga dan Tari saling melempar pandangan ketika mendengar penuturan Yuda. Jadi sia-sia saja kalau mereka di sini. Itu artinya Tari dan Alga akan tidur dalam satu kamar satu ranjang.
Karena memang sudah malam, Yuda dan istrinya ingin beristirahat.
"Ga, Mama sama Papa mau istirahat. Kamar mana yang harus di tempati oleh Papa dan Mama?" tanya Yuda.
"Kamarku saja, Ma," jawab Alga.
"Kamarmu? Maksudnya?" Yuda tidak mengerti apa maksud jawaban anaknya itu.
"Ma-maksudku kamar atas, sebenarnya aku mau menempati kamar itu sama Tari, Pa. Tapi Tari maunya kamar ini." Tunjuk Alga pada pintu kamar yang di tempati oleh istrinya.
Yuda percaya saja, tapi tidak dengan Ajeng. Karena firasat seorang ibu selalu benar. Ia harus membuktikan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Jika semuanya dalam keadaan baik, ia pun bisa pulang dengan tenang.
"Ya sudah, Papa, dan Mama ke kamar dulu," pamit Yuda. "Ayok, Ma," ajaknya pada istri tercintanya.
Kini hanya menyisakan Alga dan Tari. Karena mertuanya sudah tidak ada, Tari pun masuk ke kamarnya. Alga pun mengekor dari belakang Tari. Tari menghentikan langkahnya ketika ia tahu suaminya mengikutinya.
"Omsu mau kemana?" tanya Tari.
"Ke kamar 'lah, memangnya mau kemana?" jelas Alga.
Kalau bukan adanya mertuanya di sini, Tari ogah mengizinkan suaminya itu masuk ke kamarnya. Apa lagi harus berbagi ranjang dengannya. Mau tak mau, Tari membiarkan suaminya masuk.
Setibanya di kamar, ponsel Alga berdering. Ia melihat ID pemanggil.
"Citra," batin Alga. Ia baru ingat, kalau ia ada janji pada wanita itu. Janji akan menemuinya.
Tari yang merasa berisik dengan nada dering itu langsung berucap.
"Kenapa gak diangkat? Berisik tahu." Padahal, Tari begitu penasaran dengan panggilan itu, jangan-jangan dari kekasihnya, pikir Tari.
__ADS_1
Alga mengangkat sambungan itu, ia menerimanya, namun ia keluar dari kamar Tari. Tanpa sepengetahuan Alga, istrinya itu mengikutinya. Hati Tari merasa terbakar, entah ia cemburu atau bukan. Yang jelas, ia merasa tidak suka. Bagaimana pun, Alga itu suaminya.
"Maaf ya, aku gak bisa ke rumah. Aku kurang enak badan," jawab Alga pada sambungan itu. Tak lama, ia menutup ponselnya. Ia menonaktifkan ponsel itu.
Sebelum Alga membalikkan tubuhnya, cepat-cepat Tari masuk ke kamar. Ia duduk di meja belajarnya, pura-pura belajar membaca buku.
Alga pun masuk dan langsung menghampiri Tari.
"Kamu sedang apa?" tanya Alga pada Tari.
"Baca buku 'lah, memangnya ngapain?" cetus Tari.
"Yakin lagi baca buku? Hebat sekali kamu bisa baca buku dalam keadaan terbalik." Seketika, Alga langsung tertawa terbahak-bahak.
Mentari menutup bukunya, lalu meletakkan buku itu di atas meja. Ia menghentakkan kakinya berjalan menuju ranjang, lebih baik ia tidur. Belajar pun percuma, ia tidak bisa fokus jika ada suaminya di sini. Bawaannya gedek sama suaminya itu.
Setalah Tari merebahkan tubuhnya di atas kasur, Alga menyusul. Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di sana.
"Siapa yang mengizinkan Omsu tidur di sini?" Tari langsung mendudukkan tubuhnya.
"Kalau bukan di sini, lantas tidur di mana?"
"Di sana." Tari menunjuk sofa yang berada di sudut kamar.
"Kamu yang benar saja, Tari. Masa aku tidur di sana, ukurannya saja lebih kecil dari tubuhku." Alga tidak ingin tidur di sana, sampai ia tak beranjak di kasur yang kini ia tempati.
Namun Tari, gadis itu pun kekeh tidak mau tidur satu ranjang dengan pria yang menurutnya tidak bisa menetapkan hatinya pada satu perempuan. Tari tidak akan bisa menerima Alga dalam keadaan ada wanita lain di hatinya.
Hingga keduanya berebut tempat, sampai mereka berdua terjatuh dari atas kasur. Posisi Tari yang berada di atas tubuh Alga membuat pandangan mereka bertemu. Bahkan hembusan napas keduanya sama-sama menerpa di wajah masing-masing.
Tari langsung turun dari tubuh suaminya ketika ia menyadarinya.
"Bolehlah aku tidur di sini," ujar Alga, bahkan ia memohon pada istrinya itu.
Namun Tari tak menjawab, sebenarnya ia marah pada suaminya itu. Marah karena hari ini sudah membuatnya kesal, apa lagi jika ia teringat akan bajunya tadi. Noda lipstik serta gambar bibir itu nampak jelas.
Bahkan ia bisa membayang apa saja yang dilakukan oleh suaminya itu. Tari memejamkan mata karena kesal, lalu dengan cepat ia naik ke atas ranjang. Membiarkan suaminya yang masih berdiam diri menunggu izin darinya.
"Tari, bolehkan aku tidur di kasur?"
__ADS_1
"Tidak, tidak, tidak ... Pokoknya tidak boleh. Kalau tidak, Omsu keluar saja tidur di sofa sana." Tari benar-benar tidak mengizinkan suaminya tidur bersamanya. Apa lagi sampai bersentuhan. Meski sudah memasang benteng, namun benteng itu suka menghilang entah kemana.
Tari melempar bantal ke atas lantai, seolah menyuruh suaminya itu untuk tidur.
Dengan terpaksa, Alga tidur di lantai beralaskan selimut. Ia mengalah dari pada harus tidur di luar yang banyak nyamuk.
Akhirnya ia dan istrinya tidur terpisah malam ini.
Tak terasa pagi pun tiba. Betapa terkejutnya Tari ketika ia membuka mata, ia melihat suaminya itu tidur bersamanya. Kalau tidak ingat akan keberadaan mertuanya, mungkin ia sudah menghajar suaminya itu.
* * *
Pagi-pagi, Tari sudah bergelut di dapur. Bahkan ia sudah siap dengan baju seragam sekolahnya. Kedua mertuanya pun belum menampakkan diri, sampai ia selesai membuat sarapan sekali pun.
Akhirnya, Tari berangkat sekolah tanpa sepengetahuan orang rumah.
Tak lama kemudian, Ajeng terbangun dan langsung menuju dapur. Ia melihat makanan tersusun rapi di atas meja makan. Ia tersenyum karena tahu bahwa itu pasti Tari yang menyediakannya.
Kemudian, Alga pun datang dengan setelan jas-nya. Tentu itu semua Tari yang menyiapkan semuanya. Pria itu duduk di kursi meja makan. Lalu menyapa sang mama.
"Pagi, Ma?" sapa Alga.
"Pagi juga, Tarinya mana?" Ajeng tak melihat keberadaan menantunya itu.
"Mungkin sudah berangkat, Ma." Karena Alga tahu, kemarin pun saat ia terbangun Tari sudah tidak ada.
"Kamu beruntung, Alga. Punya istri yang perhatian, meski Tari sibuk, ia masih menyempatkan membuat sarapan." Penuturan Ajeng membuat Alga merasa bersalah ketika ia tak sempat memakan makanan hasil masakan istrinya kemarin.
"Oh ya, biasanya Tari pulang jam berapa?" tanya Ajeng kemudian.
"Jam sebelas, dia pulang cepat karena lagi ujian," jelas Alga.
"Sebentar lagi Tari lulus, apa kamu dan Tari sudah ..."
"Belum, Ma. Belum. Aku belum menyentuhnya, kasian Tari masih sekolah." Alga menjawab seolah tahu kemana arah pertanyaan mamanya.
Tiba-tiba Yuda datang dan langsung menimpali obrolan mereka.
"Belum menyentuhnya karena kamu masih menjalin hubungan dengan Citra 'kan?" Sebenarnya Yuda tahu akan kedatangan Citra kemarin, makanya kemarin ia datang menemui anaknya di ruangannya karena ingin menyelamatkan rumah tangganya.
__ADS_1
Alga tidak bisa menjawab, mulutnya terasa terkunci. Apa lagi melihat wajah sang mama yang terlihat begitu menyeremkan.
"Alga ..." Ajeng murka. "Kamu gak kasian sama Tari? Dia sudah berbakti dan menjadi istri yang baik, sedangkan kamu ..." Tidak bisa dibiarkan, ia harus tetap berada di sini sampai Alga dan Tari bersatu layaknya pasangan suami istri.