
Pagi hari, Mentari sudah terbangun. Ia sudah siap dengan aktivitasnya, bergelut di dapur sebelum ia berangkat sekolah. Menyediakan sarapan untuk suaminya, meski begitu, ia tetap ingat akan kodratnya.
Setelah semuanya selesai, ia pun berangkat sekolah tanpa membangunkan suaminya terlebih dulu. Ia akan tetap begini sebelum Alga memutuskan hubungannya dengan Citra.
Hingga ia sampai di sekolah. Bertemu dengan kawan-kawannya di sana, terutama Bunga teman dekatnya. Ia juga tidak memberitahukan akan kejadian yang menimpa rumah tangganya. Cukup ia yang tahu masalahnya.
"Pagi, Tari," sapa Bunga.
"Pagi juga, Bunga." Tari memberikan senyum termanisnya pada sahabatnya itu.
"Tari, kamu jadi ikut 'kan acara nanti?" tanya Bunga, ia membicarakan acara sekolah yang akan digelar seusai ujian nanti.
"Ikutlah, masa gak ikut sih. Itu 'kan momen yang akan berkesan dalam sejarah hidupku," jawab Tari.
Tari dan Bunga sudah berada di dalam kelas, mereka mengikuti ujian hari ini.
Sementara Alga, pria itu baru terbangun. Ia akan bekerja seperti hari-hari biasanya. Ia pergi ke ruang makan, melihat ke atas meja. Di sana sudah ada makanan yang memang sudah disiapkan Tari untuknya, ia menikmati sarapan itu sendiri.
Melirik jam yang menempel di tangan, waktu menunjukkan pas jam tujuh pagi. Ia berniat ke kantor hanya untuk mengecek laporan, setelahnya ia akan ke sekolah Tari untuk menjemputnya. Ia akan mencoba menjalani hubungan yang baik dengan Tari.
Sedih rasanya tidak ada orang yang memperhatikannya, setelah menikah, sang mama tak lagi bisa memanjakannya dengan setiap makanan yang diinginkannya. Hanya Tari yang akan menggantikan posisi itu, ia juga tidak mungkin mengharapkan adanya wanita lain. Hanya Tari istri satu-satunya.
Lalu bagaimana dengan Citra? Mungkin Alga akan melepaskan wanita itu. Semoga Citra bisa menerima kenyataan bahwa kini ia sudah menikah. Harapan Alga, semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada dendam antara ia dan Citra nantinya. Semoga saja.
Sampai tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Mentari dan teman yang lainnya sudah keluar dari gedung sekolah. Tari berjalan berniat menyebrang.
Sementara di sebrang sana, Alga sudah menanti. Ia menunggu di dalam mobil. Disaat ia akan keluar dan menemui Tari, ia melihat Tari dijemput oleh seseorang. Wajah itu terlihat tak asing baginya. Chiko-lah yang menjemput Tari hari ini. Ia melihat Tari tersenyum, senyum yang tak pernah ia berikan padanya.
Alga mengepalkan tangan, ia marah melihat Tari bersama Chiko.
"Apa kamu mencintainya, Tari?" Ada penyesalan dalam diri Alga. Disaat ia mulai membuka hati dan menerima Tari sebagai istrinya, kini ia harus menyaksikan sendiri bahwa istrinya telah dicintai oleh pria lain.
Ia sendiri bisa menebak bahwa Chiko mencintai istrinya. Gestur tubuh Chiko begitu terlihat bahwa ia memspesialkan Tari. Dari mulai menyambutnya, membukakan pintu mobilnya. Itu semua terlihat jelas dalam pandangannya.
__ADS_1
* * *
Hari-hari begitu cepat berlalu. Setelah kejadian di mana Tari disiram oleh Citra, mereka jarang bertemu. Mentari memberi jarak di antara mereka, bahkan Tari hanya melakukan tugasnya sebagai istri.
Pagi membuat sarapan, malam menyediakan makan malam. Sudah lima hari berturut-turut seperti itu. Sampai kini Tari selesai mengikuti ujian Nasionalnya.
Kini Tari sedang membereskan baju-bajunya, Alga yang melihat karena pintu kamarnya terbuka, ia langsung menerobos masuk. Ia memberanikan diri menemuinya, ia rasa sudah cukup mereka berdiam diri.
"Tari," panggil Alga.
Tari hanya menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan mengemas bajunya ke dalam tas yang cukup besar.
"Tari, apa yang kamu lakukan? Kamu tega meninggalkan aku di sini sendiri?" Alga terus mengikuti kemana pun Tari pergi. Sampai Tari merasa risih dibuatnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Alga lagi.
"Besok mau pergi, ada acara di sekolah. Aku sudah pernah bilangkan," jelas Tari.
Alga merasa lega ketika mendengarnya. Ia kira istrinya itu akan pergi meninggalkannya.
Alga pun melihat nama pemanggil itu. Tanpa izin, Tari menerima panggilan itu.
"Iya, Mas?" jawab Tari pada sambungan ponselnya. Tari melirik ke arah Alga, pria itu terus memperhatikannya. Tidak ingin suaminya mendengarnya, Tari keluar dari kamar dan melanjutakan percakapannya di sana.
Alga hanya bisa terdiam ketika Tari pergi meninggalkannya.
"Tari, apa tidak ada perasaanmu untukku?" lirih Alga. Ia baru sadar bahwa cintanya sudah mulai tumbuh. Tapi sayang, itu terlambat karena Tari sepertinya sudah memiliki tambatan hati. Tapi Alga tidak akan menyerah, Tari istrinya. Ia lebih berhak dari pria mana pun termasuk Chiko.
Alga menyusul Tari, niatnya akan mengambil alih ponselnya. Tapi sayang, sepertinya Tari sudah selesai dengan percakapan mereka.
"Omsu, besok aku akan berangkat," ujar Tari tiba-tiba. Ia meminta izin pada suaminya.
"Aku antar," jawab Alga.
"Tidak usah, Mas Chiko akan mengantarku nanti. Mas tidak perlu repot-repot, bukan 'kah waktu Omsu cuma buat kekasihmu itu." Tari selalu mengingatkan akan Citra yang masih berstatus kekasihnya. Yang memang, Alga belum memutuskan hubungannya dengan wanita itu.
"Kamu bisa tidak, tidak membahas Citra?" Alga tidak suka dengan ucapan Tari yang selalu melibatkan Citra dalam hubungannya.
__ADS_1
"Loh, kenapa marah? Bukannya dia memang kekasihmu? Bukan 'kah aku tidak boleh mencampuri urusan Omsu?" Tari membalikkan fakta sampai Alga tidak bisa menjawab.
"Jadi biarkan besok aku pergi dengan Mas Chiko, aku lebih nyaman bersamanya," jelas Tari.
Alga sedikit sakit, ia menahan sesak di dada ketika mendengar penuturan Tari. Ia baru merasakan yang namanya sakit hati.
"Kamu masih marah soal kejadian kemarin? Itu terjadi sudah lama, Tari. Kenapa masalahnya jadi panjang begini, hah?"
"Aku tidak marah, apa hakku?"
Hingga perdebatan itu terjadi cukup lama, keegoisan mereka yang membuat mereka tidak bisa mengakui perasaan masing-masing. Tari dan Alga akhirnya pergi ke kamar.
Mereka menahan amarahnya tanpa menyelesaikan masalah. Ego Alga cukup tinggi sampai masalah itu masih tetap berlanjut.
Andai Alga mengakui perasaannya pada Tari, mungkin mereka sudah berbaikan.
Walau Tari mencintai suaminya, ia tetap menunggu Alga lebih dulu mengatakan perasaannya.
"Dasar gak peka." Tari menggerutu di dalam kamarnya. "Omsu berengsek." Tari tetap mengira bahwa suaminya itu tidak ingin melepaskan kekasihnya dan seenaknya mau bersamanya.
* * *
"Kenapa terus membahas Citra, apa kamu tidak mencintaiku, Tari." Alga jadi kesal sendiri. Kenapa susah mendekati istrinya itu?
Alga menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dan besok ia akan kembali membicarakan ini dengan Tari, dari hati ke hati. Semoga Tari bisa diajak bicara baik-baik. Pikir Alga.
Sampai waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Tari sudah siap dengan barang bawaannya. Ia akan pergi mengikuti acara yang akan dilaksanakan pihak sekolah.
Tak lama, ia melihat Alga menuruni anak tangga. Ia sudah siap mengantar Tari ke sekolah. Alga meraih tas yang sedang di pegang Tari.
"Ayok, aku antar." Tanpa menunggu jawaban dari Tari, Alga berjalan dan membawa tas itu. Memasukkannya ke dalam mobil.
"Omsu, aku akan pergi bersama Mas Chiko."
"Chiko lagi, Chiko lagi! Suamimu itu, dia apa aku?"
__ADS_1