Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 38


__ADS_3

Alga dan Tari saling menggenggam tangan ketika melewati koridor rumah sakit. Setelah penyatuan semalam membuat keduanya seperti perangko. Sesekali mereke berdua tertawa renyah dan itu terdengar oleh Ajeng dan Yuda.


Mereka berempat sampai di ruangan Surya.


"Ayah," ucap Tari. Gadis itu tersenyum ketika melihat ayahnya tengah terduduk bersandar di branker. Ia memberi salam, mengecup punggung tangan ayahnya.


Alga pun mengikuti apa yang dilakukan istrinya. Pria paruh baya itu tersenyum pada mantunya.


Surya melihat wajah Tari yang terlihat pucat, mata pandanya membuat Surya berpikir, ada apa dengan anaknya itu? Apa anaknya sakit?


"Alga, Tari kenapa? Apa dia sakit?" tanya Surya yang merasa khawatir.


"Tari baik-baik saja, Yah," jawab Alga.


Yuda mendekat ke arah Surya dan membisikkan sesuatu pada sahabatnya itu.


"Sebentar lagi kita akan punya cucu," bisik Yuda.


"Aku senang, Yud. Gak sabar gendong cucu," sahut Surya.


Alga dan Tari tersipu malu, mereka ketahuan habis malam pertama.


"Mas, emang aku terlihat sakit? Kenapa semua yang bertemu denganku mengira aku sakit?" tanya Tari dengan polosnya.


"Emang lagi sakit 'kan? Anu-mu lagi sakit." Alga terkekah karena sudah berhasil menggoda istrinya.


Tari memukul pelan tangan suaminya. "Gak lucu, tahu." Tari mengerucutkan bibirnya.


Dan mereka masih berkumpul di ruangan itu, menunggi dokter datang memeriksa Surya sebelum ia keluar dari rumah sakit. Meski sudah diperbolehkan pulang, pria itu masih harus banyak istirahat.


Tak lama, dokter dan suster datang menemui pasiennya.


"Siang, Dok," sapa Yuda.


"Siang, Pak Yuda. Maaf, saya harus periksa Pak Surya dulu." Kata dokter sembari mendekat ke arah Surya. Setelah itu selesai, dokter menjelaskan akan kesehatan pasiennya.


"Ingat ya, Pak Surya. Anda harus banyak istirahat dan jangan bekerja yang berat-berat," tutur dokter.


Surya hanya mengangguk patuh, ia harus sembuh demi Tari. Ia ingin melihat cucunya kelak lahir. Karena dokter sudah mengizinkan, mereka semua keluar dari rumah sakit.


"Ayah, Ayah tinggal sama Tari ya?" pinta Tari sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh ayahnya.


"Tidak, Tari. Ayahmu akan tinggal bersama kamj, iyakan, Sur?" tanya Yuda.


"Aku tidak ingin merepotkan kalian, biar aku pulang ke rumah saja." jawab Surya.


"Kamu tidak merepotkan, Surya. Aku senang bisa membantumu, apa lagi sekarang kita saudara," sahut Yuda lagi.

__ADS_1


Dan akhirnya, Surya diajak ke rumah Yuda. Alga dan Tari pun ikut bermalam di sana.


* * *


Tepat jam 8 malam seusai makan malam, Yuda serta yang lain berkumpul di ruang keluarga. Membicarakan soal pesta pernikahan Alga dan Tari yang akan diselenggarakan Minggu depan.


Berencana, akan mengundang semua partner kerja dan para relasi perusahaan. Semua sudah sepakat termasuk Tari dan Alga, ia menyerahkan semua urusan itu pada orang tuanya.


Karena malam semakin larut, Tari menyuruh ayahnya untuk segera tidur.


"Yah, sebaiknya Ayah istirahat ya? Ini sudah malam." Tari mengantar ayahnya ke kamar, pria itu masih menggunakan kursi roda karena belum pulih benar dari sakitnya.


Setibanya di kamar, Surya meminta Tari untuk diam sebentar karena ia ingin bicara.


"Tari, apa kamu bahagia, nak?"


Tari duduk di tepi ranjang, mereka berdua bicara dengan serius.


"Tari bahagia, Yah. Keluarga Mas Alga memperlakukanku dengan sangat baik. Aku sama Mas Alga saling mencintai, Yah." Jelas Tari meyakinkan ayahnya.


"Ayah, tidur ya? Ini sudah malam, aku juga sudah ngantuk. Lagian besok Tari mau ke sekolah, ada acara perpisahan di sana," sambungnya lagi.


"Hmm, tidurlah."


Tari membantu ayahnya untuk berpindah tempat ke atas kasur. Sesudah merebahkan tubuh ayahnya, Tari menyelimutinya. Mengecup kening pria paruh baya itu.


Tari keluar dari kamar, setelah menutup pinti, ia dikejutkan akan kedatangan suaminya.


Alga mengerlingkan sebelah matanya memberi kode. Tapi sayang, Tari tidak mengerti akan hal itu. Beberapa kali Alga melakukannya.


"Kamu kenapa, Mas? Kelilipan?"


Alga menghela napas, kenapa istrinya belum mengerti kode darinya? Itu artinya ia mengajak tempur melanjutkan yang semalam. Alga langsung membopong tubuh mungil istrinya dan membawanya ke kamar.


"Mas, turunin," pinta Tari. "Nanti ada yang melihat, Mas." Namun Alga tak peduli, ia tak menurunkannya.


Sesampainya di kamar, Alga baru menurunkan Tari. Itu pun tepat di atas kasur. Alga langsung menindihny, sampai Tari berada dalam kungkungannya. Melihat wajah Tari yang masih pucat, ia jadi tak tega. Apa lagi besok ada acara di sekolahnya.


"Tidurlah." Alga membelai pipi mulus itu dengan tangannya.


Hingga keduanya saling merebahkan tubuh dan memejamkan mata. Melingkarkan tangan di tubuh pasangan. Mereka pun akhirnya tertidur dengan nyenyak.


* * *


Tari dan Alga sudah berada di sekolah. Alga sendiri menjadi wali istrinya.


Tari bertemu Bunga di sana, gadis itu terlihat begitu happy karena sudah lulus dan mendapat izin dari orang tuanya untuk berpacaran.

__ADS_1


"Tari ..." Bunga menghampiri sambil memeluk. "Aku merindukanmu, sahabatku."


"Aku juga," balas Tari.


"Cie ... Ternyata ama ayang mbeb." Kata Bunga sambil melepaskan pelukkannya dan melihat keberadaan Alga.


"Hay, Mas Alga," sapa Bunga.


"Hay juga, Bu-."


"Bunga melati," sahut Bunga.


"Oh ... Namamu Bunga Melati," ucap Alga.


Karena acara akan segera dimulai dan suara MC sudah terdengar dari arah vodium, mereka bertiga menghampiri panggung. Ada banyak acara di sekolah itu, ada yang menyumbang lagu ada juga yang menyumbang tarian dan dance.


Tari begitu menikamati acara itu, ia berada di sana sampai acara itu selesai. Tapi Alga tak bisa menemani istrinya di sana, hingga ia pulang lebih dulu karena harus ke kantor serta menyurvai gedung untuk ia jadikan sebagai tempat pesta pernikahannya nanti bersama Tari.


Bunga mengajak Tari untuk ikut bergabung di atas panggung dengan teman-temannya yang lain. Ia ikut berjoget, benar-benar menjadikan ini hari terakhirnya di sekolah.


"Tari, akhirnya aku sudah bebas." Bunga bahagia dengan melepas masanya sebagai pelajar. Kini ia dan Tari bukan lagi anak sekolah, apa lagi dengan Tari, gadis itu sudah menjadi seorang istri.


"Tari, bagaimana denganmu, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Bunga.


"Aku nyesel, Bunga."


"Kok nyesel, sih?"


"Nyesel gak dari dulu." Tari langsung tergelak karena melihat mimik wajah Bunga yang terlihat dengan serius.


"Ih ... Nyebelin banget sih," kata Bunga.


"Abisnya kamu kepo banget. Buruan deh nyusul, begituan enak loh," jujur Tari.


"Ya elah, mentang-mentang sudah begituan bisa pamer ama rasanya." Bunga menyenggol pundak Tari dengan pundaknya, sampai keduanya tertawa bersama. Mereka berdua benar-benar bahagia.


Waktu begitu cepat berlalu, mereka berdua pulang bersama setelah acara itu selesai.


"Mampir ke rumahku dulu yuk?" ajak Tari.


"Maaf, Tari. Aku ada janji sama Jason."


"Jason anak bule itu?"


"Hmm."


Mau tak mau, Tari merelakan sahabatnya itu pergi. Tapi ia tak menyangka, bahwa suaminya kembali menjemputnya.

__ADS_1


"Ayok, naik?" kata Alga.


Tari pun naik ke mobil, Alga berinat mengajak istrinya untuk melihat gedung. Tanpa ia beritahu terlebih dulu padanya.


__ADS_2