
"Kalian ..." Tari begitu terkejut melihatnya, ia menatap wajah mereka yang melihat ke arahnya secara bergantian. Lalu ia melihat ketika tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.
Hati Mentari seakan hancur, hidupnya pun ikut hancur. Bagaimana tidak, suaminya kini tengah berduaan dengan mantan kekasihnya yang ia bilang tidak ada hubungan lagi. Kini, dengan mata kepalanya sendiri Tari memperegokinya.
Padahal, Alga pun tidak tahu akan kehadiran tamu yang kini menjadi idolanya. Ini semua bukan kemauannya, tapi ia juga tak bisa membohongi diri sendiri kalau ia ingin sekali bertemu dengan Citra dan itu terjadi semenjak Tari hamil.
Tari tak kuasa melihat sang suami, ia memilih untuk pergi. Ia tak ingin membuang energinya hanya untuk berdebat. Bukti sudah cukup bahwa ternyata suaminya tidak benar-benar mencintainya. Tari keluar dari ruangan itu dengan tergesa, cairan bening di pelupuk mata tak lagi bisa ia bendung.
Melihat istrinya pergi, Alga pun menyusul. Tapi sayang, Citra mencekal lengannya.
"Biarkan saja dia pergi, istrimu masih labil. Aku yakin, yang ada nanti dia tambah marah," cegah Citra.
Dan bodohnya, Alga menuruti omongan mantan kekasihnya itu. Ia percaya padanya, dan memilih untuk tidak mengejar istrinya. Dan itu akan malah berdampak buruk dengan kisah keluarga kecilnya nanti karena lebih percaya Citra.
Tari terus menangis, bahkan semua karyawan melihatnya. Begitu juga dengan Yuda, pria paruh baya itu menjadi bingung, lantas menemui anaknya.
"Alga!" Yuda langsung berteriak, pantas menantunya menangis. Jadi ini penyebabnya. "Kamu itu keterlaluan, kenapa masih di sini? Tari menangis dan kamu malah berduan dengan mantanmu ini." Yuda begitu murka.
Dan Alga pun akhirnya menyusul Tari, pria itu berlari untuk menyusul istrinya. Untung, ia bisa mengejar Tari.
Tari yang hendak menyebrang dengan asal, hampir saja ia tertabrak. Untung mobil itu berhenti tepat waktu. Tari menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menjerit. Tak kuasa bila tubuhnya terhantam benda yang melaju itu.
__ADS_1
"Tari," ucap yang berada di dalam mobil. Pria itu langsung bergegas keluar dan menghampiri gadis itu. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya kemudian.
Mendengar suara yang tak lagi asing baginya, Tari membuka mata. Setelah ia tahu siapa orangnya, ia langsung menghamburkan tubuhnya pada laki-laki itu. Melepaskan semua rasa sakit yang ia alami.
"Hey, kamu kenapa?" tanyanya lagi.
"Mas Alga ..." Tari tak bisa melanjutkan perkataannya karena itu terlalu sakit baginya.
Wajah pria itu langsung mengeras ketika ia tahu bahwa gadis yang selama ini di cintainya tersakiti. Tapi ia tak bisa ikut campur karena ini maslah keluagarnya. Ya, Chiko-lah yang hampir menabraknya.
Dan itu terjadi tepat di hadapan Alga. Alga pun merasa sakit ketika istrinya memeluk laki-laki lain. Tapi ia tak berani marah karena Tari tengah mengandung dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungannya ia meredakan egonya sendiri.
Chiko menatap wajah Alga seakan meminta penjelasan dengan apa yang terjadi. Tapi Alga bungkam, ia tak ingin orang lain tahu akan permasalahan yang ditimbulkan dari kesalahfahaman itu.
Alga meraih tangan istrinya, dengan cepat Tari menepis tangan itu. Ia malah menarik tangan Chiko untuk segera pergi dari hadapan suaminya, rasa sakit kemarin saja belum sembuh. Dan sekarang rasa sakit itu bertambah parah dengan adanya Citra di kantor suaminya. Berduaan dalam posisi saling menggenggam tangan satu sama lain.
"Tari, kamu memilih pergi meninggalkan, Mas?" Pertanyaan Alga menghentikan langkah Tari yang hendak naik ke mobil.
Tari menghela napas sebelum menjawab, matanya menyalak marah. Ia benci suaminya, suami yang tega membohonginya terang-terangan.
"Aku benci kamu, Mas! Sangat benci!"
__ADS_1
Seketika, Alga langsung bersujud dan memeluk kedua kaki istrinya. Tak peduli dengan karyawan yang melihatnya, ia tak ingin masalah ini berlarut menjadi semakin runyam.
"Harus berapa kali Mas bilang, Mas gak tahu kalau Citra bakal ke sini," jelas Alga.
Tari menghempaskan tangan Alga yang sadang memeluknya.
"Kamu tidak perlu mempermalukan dirimu hanya untuk menutupi kebohonganmu, Mas. Semuanya sudah jelas." Tari berhasil menghempaskan tangan Alga yang melingkar di kakinya.
"Kalau ingin kembali bersamanya, kembali 'lah. Tidak perlu mempedulikanku lagi, kamu sudah berhasil membuatku terluka." Setelah mengatakan itu, Tari benar-benar pergi bersama Chiko.
Chiko sendiri hanya bisa terdiam, meski ini urusan Tari, tapi ini masalah pribadinya. Mungkin ia akan bicara nanti setelah gadis itu tak lagi emosi. Akhirnya Chiko membawa Tari pergi dari hadapan Alga.
"Tari, Tari ...." Alga mengejar mobil yang terus melaju, dan akhirnya ia menghentikan langkah karena mobil semakin menjauh. Dengan gontai ia kembali ke kantor.
Kedatangannya disambut Citra.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Citra.
Alga tak menjawab, ia masuk ke kantor dengan banyak tatapan dari karyawannya.
"Kembali bekerja!" teriak Alga. Semua karyawan menjadi pelampiasannya.
__ADS_1