
Alga menggelengkan kepala melihat gadis itu.
"Dasar bocah centil," ujar Alga pelan.
"Apa kata, Om. Centil, bukan centillah. Ini sudah jamannya, Om."
Om lagi, Om lagi. Sabar-sabar ... Alga mengelus dada. Kali ini ia tak ingin ribut dengan bocah itu, biar sesuka hatinya saja mau memanggil ia apa.
"Aku pasti telat menjemputmu, nanti tunggu di tempat kemarin saja," kata Alga pada Tari.
"Tidak usah menjemput saja kalau Om sibuk. Aku bisa pulang sendiri."
"Tidak, aku tetap akan menjemputmu. Papa bisa marah kalau aku tidak mengantarmu pulang." Karena itu pesan Surya pada keluarga Yuda, sesibuk apa pun mereka harus menjaga Mentari.
"Menunggu itu membosankan, Om."
"Sudah jangan banyak protes!"
Mobil terus melaju hingga sampailah mereka di sekolah Nusa Bakti.
"Ingat pesanku!" kata Alga sebelum Tari turun dari mobilnya.
Mentari pun turun dari mobil itu, ia berjalan sedikit jauh. Lalu membalikkan tubuhnya.
"Om jika aku tidak ada nanti, Om pulang saja. Dadah, Om."
"Awas saja kalau berani membantah!" teriak Alga, tapi sayang, Mentari tidak mendengar karena gadis itu sudah menghilang dalam pandangan.
Alga melajukan kembali mobilnya, ia ke kantor sesuai janji. Mungkin pekerjaannya sudah menanti, karena kemarin ia pergi tanpa membereskan pekerjaannya.
* * *
"Pagi, Pak," sapa karyawan setibanya Alga di lobi. Pria itu hanya menundukkan sedikit wajahnya tanpa ekspresi, lalu ia bergegas menuju lift. Lift khusus untuk para pejabat di sana.
Di dalam Lift, ponsel milik Alga bergetar. Menandakan adanya pesan masuk, ia pun membukanya.
"Nanti jemput aku di lokasi pemotretan, alamatnya aku kirim." Pesan itu yang disampaikan Citra.
"Ok," balas Alga singkat.
Alga pun sampai di ruangan, benar saja pekerjaannya sudah menumpuk. Belum lagi ia memeriksa berkas kontrak yang diajukan pak Bian.
__ADS_1
Sibuknya di kantor membuat Alga lupa akan waktu yang harus menjemput Tari. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga, disaat itu ia baru menyadarinya padahal Mentari keluar sekolah jam dua.
"Ah, sial," rutuk Alga ketika ia melihat jam di tangan. Ia segera membereskan berkas yang berserakan di atas meja, menyambar kunci mobil lalu segera pergi.
Alga sampai di sekolah Mentari, jalanan di sana becek. Di sini ternyata hujan lebat, terlihat jelas sampah yang bercecer di jalan terbawa arus air hujan, dan hujan baru saja reda.
Alga mencari keberadaan Mentari, tapi gadis itu tidak ada. Kemana gadis itu? Akhirnya, ia menghubungi Tari.
Ponsel pun terhubung.
"Kamu di mana? Aku sudah di depan sekolah," ujar Alga.
"Aku sudah pulang, Om. Tadi tidak sengaja ketemu Om Yuda, Papanya, Om." Mentari menjelaskan kepulangannya pada Alga.
Sementara Alga, ia bernapas lega. Meski nanti ia pasti kena semprot dari papanya karena terlambat menjemput gadis itu. Percakapan mereka pun selesai, Alga menutup ponselnya lebih dulu.
Ingat ada janji dengan Citra, Alga langsung menuju lokasi pemotretan kekasihnya itu. Membutuhkan waktu empat puluh lima menit ia sampai di sana, hingga akhirnya ia pun tiba di lokasi.
Untung kali ini ia tidak terlambat, bahkan pemotretan itu belum selesai. Ada beberapa pose lagi yang akan dijalani Citra.
Pemotretan selesai, gadis itu langsung menghampiri Alga. Seperti biasa, mereka cipika-cipiki terlebih dulu.
"Aku ganti baju dulu ya," kata Citra pada Alga.
Citra sudah selesai mengganti bajunya, mereka segera pergi meninggalkan lokasi. Setibanya di depan mobil, Alga membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
"Terimakasih," ucap Citra. Ditanggapi dengan senyuman manis dari Alga.
"Mau kemana dulu, kita?" tanya Alga.
"Aku laper, kita cari makan dulu 'lah," jawab Citra.
"Ok, kita cari tempat." Alga sedikit menambah kecepatan laju mobilnya.
Karena kaki Citra pegal, ia membuka sepatunya yang memakai hak tinggi. Disaat membuka sepatunya, matanya malah melihat benda kecil yang tergeletak di bawah sana, ia pun mengambilnya.
"Lipstik siapa ini?" Citra tidak merasa memiliki lipstik itu. "Ini punya siapa?" tanya Citra pada Alga.
Alga membulatkan matanya ketika melihat lipstik itu, lalu ia menggelengkan kepala sebagai jawaban karena ia memang tidak mengetahui siapa pemiliknya.
"Jangan bohong, masa kamu tidak tahu! Ini juga bukan punyaku. Jujur ini punya siapa?" Citra sedikit marah karena ia merasa ada yang disembunyikan oleh kekasihnya itu.
__ADS_1
"Gak tahu, sumpah!"
"Jangan bilang kalau kamu selingkuh, Ga. Oh ... Pantas saja belakangan ini kamu sibuk, sibuk yang dimaksud kamu, ini ..." Citra kembali menunjukkan lipstik yang ia jadikan sebagai bukti perselingkuhan Alga.
"Aku bener gak tahu itu punya siapa," elak Alga.
"Berhenti." Citra meminta Alga menghentikan mobilnya, hidungnya sudah kembang kempis menahan amarah. "Aku bilang berhenti!" Citra tetap kekeh berpikir bahwa Alga sibuk pacaran dengan wanita lain. Bukan sibuk dengan proyek yang dibilang Alga padanya.
Alga tidak menggubrisnya, ia tetap melajukan mobilnya. Ia merasa tidak salah, jadi ia tidak mempedulikan tuduhan Citra padanya.
"Kalau tidak berhenti, aku lompat sekarang juga!"
Ciiiiitttt .....
Alga langsung menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia menatap Citra dengan nanar, mengapa kekasihnya itu tidak percaya padanya?
"Aku tahu alasan kenapa kamu selalu menunda pertunangan kita." Setelah mengatakan itu, Citra langsung turun dari mobil dan menyetop taxi di jalan sana.
Alga hendak menyusul, tapi sayang, Citra keburu masuk ke dalam mobil. Mengejar mobil itu sambil menggedor pintu mobil taxi.
"Cit, Citra ... Itu semua tidak benar, Citra," jelas Alga. Mobil terus melaju sampai ia tak bisa lagi mengejar taxi itu.
"Argghhh ..." Alga menjambak rambutnya sendiri lalu menghempaskan tangannya.
"Tari, itu pasti miliknya." Alga baru teringat kalau tadi Mentari sempat menggunakan make up-nya di dalam mobil. "Sial." Lagi-lagi gadis itu membuat masalah.
Ting
Satu notif masuk ke ponsel Alga.
"Citra." Alga membuka pesan itu.
"Kita putus!!" Itulah pesan Citra padanya.
"Tidak, Citra. Aku belum mejelaskannya padamu." Alga mencoba menghubungi Citra, tapi sayang ponsel kekasihnya itu malah tidak aktif. Hanya operator yang menjawab.
Tiba-tiba, hujan kembali turun hari ini, dengan segera Alga kembali ke dalam mobil. Ia akan memberikan waktu pada Citra, percuma menjelaskannya sekarang, gadis itu pasti masih marah. Pikirnya kemudian.
Merasa prustrasi, Alga menghibur diri dengan minuman. Ia datang ke bar, dan memesan minuman di sana. Berharap pikirannya yang kacau sedikit berkurang. Sampai jam sepuluh malam, ia masih berada di sana. Tidak terlalu banyak mengkonsumsi alkohol itu, tapi bisa dipastikan ia mengalami pusing.
Jarang minum-minuman keras membuat Alga sedikit keleyengan. Tak lama dari situ, ia mengakhiri semuanya. Ia membayar minuman itu terlebih dulu sebelum pulang. Jalan sempoyongan menuju mobil yang terparkir di sana.
__ADS_1
Meski pun begitu ia sampai di rumah dengan selamat. Alga langsung bergegas ke kamarnya, tanpa diingat bahwa ia menempati kamar tamu.
Ia malah berjalan ke kamar yang di tempati Mentari, lagi-lagi gadis itu pulas dengan tidurnya. Alga langsung merebahkan diri di ranjang dan ikut tidur bersama gadis itu.