Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 46


__ADS_3

Alga duduk di kursi kebesarannya, dan Citra masih berada bersamanya. Berniat untuk menghibur ia pun duduk di meja menghadap ke arah Alga. Alga mendongakkan wajahnya melihat keberadaan Citra.


"Pulanglah, aku tidak ingin rumah tanggaku semakin runyam," usir Alga pada Citra.


"Apa salahku? Aku tidak berniat menghancurkan rumah tanggamu, lagian istrimu itu pemarah sekali. Kita 'kan gak ngapa-ngapain." Citra tak begitu saja menerima usiran dari Alga.


"Lagian, istrimu kenapa bisa langsung marah begitu saja? Kenapa dia tak mendengarkan penjelasanmu? Malah pergi sama laki-laki lain, itu yang disebut istri baik-baik?" Ucapan Citra membuatnya semakin pusing.


"Sudahlah, lebih baik kamu pulang. Aku ingin sendiri." Alga tak menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya pada Citra. Ia juga tidak ingin Citra tahu bahwa sebenarnya ia mengidolakannya karena janin yang ada dalam kandungan Tari.


"Pulanglah," usirnya lagi.


"Tapi-."


Alga menghela napas, lalu beranjak dari posisinya. Ia membuka pintu ruangannya dan menyuruh Citra untuk keluar. Mau tak mau wanita itu pun keluar dengan sendirinya


"Jika butuh teman, aku akan selalu ada untukmu." Sebelum pergi Citra mengucapkan itu, karena sesungguhnya ia masih mencintai Alga. Ia siap kapan pun dibutuhkan Alga.


"Aarrgghh ..." Alga menutup pintu keras-keras. Tidak bisa berdiam diri, ia pun akhirnya mencari istrinya. Ia mencoba menghubungi Tari, namun tak kunjung diangkat.


***


Tari masih bersama Chiko, Chiko mendengar ponsel Tari terus berdering.


"Angkatlah, siapa tahu itu penting," kata Chiko.


Tari melihat ID pemanggil, lalu ia mematikan ponselnya.


"Gak penting, Mas." Kata Tari sembari menonaktifkan ponselnya, lalu menyimpan kembali ponsel itu ke dalam tas kecil miliknya.


"Bukannya Mas mau ikut campur, masalah tidak akan selesai jika hindari. Apa tidak sebaiknya kamu pulang?" Inginnya, Chiko mengantar Tari pulang, ia tak ingin melihat Tari bersedih. Ia bisa melihat bagaimana besarnya cinta Tari pada suaminya.


"Aku gak mau melihatnya, aku benci! Apa ngidam pada seorang mantan itu masuk akal?"


Chiko mencerna perkataan Tari 'ngidam,' apa Tari sedang hamil dan Alga yang ngidam? Pikirnya.

__ADS_1


"Ngidam, Mas. Mas ngerti orang ngidam 'kan? Katanya kalau gak dituruti nanti anaknya ileran."


"Maksudmu, Alga ngidam ingin bertemu mantannya?"


"Iya, dan aku melihat dengan kepala mataku sendiri. Dia berduan di ruangannya sedang berpegangan tangan, aku rasa itu hanya akal-akalnnya saja ngidam pada idola."


"Idola? Alga mengidolakan wanita itu sebelum bertemu denganmu, buktinya mereka pacaran 'kan?" Perkataan Chiko membuat Tari semakin memanas.


"Jadi, apa mungkin mereka masih berhubungan di belakangku?"


"Mas gak bilang gitu, loh!"


"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Gedek rasanya lihat suami masih kecentilan." Tari langsung mengerucutkan bibirnya.


"Itu artinya kamu mencintai suamimu, terus kamu akan membiarkan mereka begitu? Kalau kamu pergi yang ada Alga semaakin dekat dengan wanita itu, dan kamu memberi peluang untuknya."


"Bodo amat, aku gak peduli lagi."


Wanita akan seperti itu jika sedang kesal, apa lagi emosi Tari naik turun karena kehamilannya.


"Antarkan aku pulang ke rumah mertuaku saja, Mas. Aku ingin bertemu Ayah, sekalian aku akan menjemputnya."


"Maksudmu?"


"Aku benci Mas Alga, aku gak mau bertemu dengannya. Aku mau jemput Ayah pulang saja kalau begitu. Untuk apa tinggal bersamanya kalau tidak menghargai keberadaanku."


Sepertinya Tari sudah membulatkan hati untuk tidak melihat suaminya. Ia akan memberikan pelajaran pada Alga, jika suaminya itu mencintainya, kelak ia akan menjemputnya pulang 'kan?


"Baiklah kalau begitu." Chiko pun akhirnya mengantar Tari pulang ke rumah orang tuanya.


***


"Tari," sapa Ajeng. Namun ia terlihat bingung ketika melihat Tari bersama seorang laki-laki.


"Siapa dia, Tari?" tanya Ajeng.

__ADS_1


Belum Tari menjawab, ayahnya datang menghampiri. Ia sudah mengenal Chiko.


"Dia Chiko," jawab Surya.


"Aku sudah menganggapnya anakku sendiri," sambungnya lagi.


Disaat mereka sedang berkumpul, Yuda pulang karena ia ingin menceritakan kejadian tadi di kantor pada istrinya. Dan kebetulan ada Tari di sini.


"Tari, maafkan Alga," ucap Yuda setibanya di sana.


"Ada apa? Kenapa kamu meminta maaf atas nama Alga?" tanya Surya.


"Aku rasa ini hanya kesalahfahaman, Surya," jelas Yuda. Padahal, hatinya sudah ketar-ketir. Kalau Surya tahu yang sebenarnya sahabatnya itu pasti marah besar dengan kelakuan anaknya.


"Ada apa sih, Pa?" tanya Ajeng penasaran.


"Nanti Papa jelasin, yang penting sekarang bantu Papa untuk mencegah Tari pergi." Yuda berpikir pasti kedatangan Tari ke sini untuk menjemput ayahnya. Dan sepertinya memang itu tujuan Tari datang.


"Yah, kita pulang saja," ajak Tari.


"Ma, Pa. Maafkan Tari, mungkin Tari masih banyak kekurangan di mata Mas Alga. Tari ke sini mau jemput Ayah pulang."


"Ada apa, Tari? Apa ada masalah?" tanya Surya.


"Nanti Tari jelasin, lebih baik sekarang Ayah siap-siap. Aku akan membereskan baju-baju, Ayah."


Tari langsung pergi ke kamar yang di tempati ayahnya. Surya sendiri diam saja, ia tahu sikap putrinya. Ia membiarkan apa yang diinginkan putrinya. Setelah semuanya selesai, Tari langsung mengajak sang ayah keluar dari rumah mertuan, mereka akan kembali menempati rumah sederhananya.


Chiko membantu membawakan tas besar yang berisikan baju ayahnya. Sementara Ajeng dan Yuda mencoba membujuk menantunya untuk tidak pergi.


"Maafkan Tari, Ma, Pa. Tari pulang."


...----------------...


Mampir di ceritaku yang baru judul, BERBAGI SUAMI, novel yang sedang ikut lomba BERBAGI CINTA 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2