
Di kamar.
Mentari yang terbangung lebih dulu merasa terkejut dengan posisinya yang tertidur berada di atas suaminya. Ingin marah tapi tak bisa, karena kali ini bukan Alga yang memeluknya. Melainkan dirinya sendiri.
Tidak ingin ketahuan oleh suaminya, ia langsung bangun dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan cepat ia menyelesaikan ritual mandinya karena waktu sudah mepet.
Setelah selesai, ia merasa kasihan dengan suaminya itu, ingat kejadian semalam bahwa ia sudah menyakitinya.
"Si Omsu belum bangun, apa pinggangnya masih sakit ya?" tanyanya pada diri sendiri. Melihat suaminya tertidur, ia memakai baju di kamar bukan di kamar mandi seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya. Dirasa aman karena suaminya begitu pulas.
Tanpa membangunkannya tidur, Tari keluar kamar. Ia sudah siap dengan seragam abu-abunya, berjalan ceria seperti biasa menghampiri kedua mertuanya.
"Pagi, Ma, Pa?" sapa Tari.
Yang disapa malah senyum-senyum melihat menantunya dengan rambut yang masih basah.
"Tari," panggil Ajeng.
"Iya, Ma," jawab Tari.
"Kamu sudah siap punya anak?" tanyanya kemudian.
"Anak? Maksud, Mama?" Tari bingung dengan pertanyaan ibu mertuanya.
"Gini loh maksud Mama, sebaiknya kalian pake pengaman dulu saja. Nanti kalau sudah lulus baru dilepas."
Tari hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pengaman apa yang dimaksud ibu mertuanya itu?
"Ma, sebentar lagi 'kan Tari lulus. Gak usah pake pengaman-pengaman segala 'lah," timpal Yuda. Karena pria itu sudah sangat menginginkan cucu, pewaris tunggalnya kelak.
"Biarkan mereka yang memutuskan, kenapa Mama yang repot?" sambungnya lagi.
"Bukan begitu, Pa-," ucap Ajeng menganggantung karena suaminya memotong pembicaraannya.
"Sudah-sudah, Papa berangkat sekarang."
Ajeng pun mengantar suaminya ke depan rumah. Kini hanya ada Tari seorang, ia masih memikirkan pembicaraan ibu mertuanya, lalu terpikir akan kondisi suaminya. Sarapannya pun belum ia habiskan, ia berjalan menaiki tangga sedikit berlari.
Setibanya di kamar, ia masih melihat suaminya tidur. Lalu mendekatinya, melihat wajah tampan itu. Menarik selimut untuk menyelimuti tubuh suami yang polos tanpa baju.
"Omsu, pinggangmu pasti masih sakit ya?" tanya Tari, ia bicara seolah suaminya terjaga dari tidurnya. "Aku terima keputusanmu untuk mencari rumah untuk kita tempati, aku gak mau selalu menyakitimu," lirih Tari. "Istirahatlah, biar aku berangkat sekolah sendiri pagi ini. Tidak perlu menjemput, aku akan pulang tepat waktu." Sebelum Tari pergi, entah kenapa ia ingin menyentuh wajah itu, mengelusnya dengan lembut lalu pergi.
Setelah kepergian Tari, sebenarnya Alga sudah terbangun. Hanya saja ia pura-pura tidur, ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu ketika ia sedang tidur. Alga mendengar jelas ucapan Tari, sebenarnya gadis itu baik. Tapi Alga tidak suka kebar-barannya di atas kasur yang tempramental. Ia memaklumi karena mungkin ini pertama kali baginya tidur dengan laki-laki.
Karena memang pinggangnya masih sakit, Alga putuskan tidak ke kantor hari ini. Ia malah melanjutkan tidurnya kembali.
* * *
__ADS_1
"Tari, Alganya mana? Kenapa gak bareng?" tanya Ajeng ketika ia melihat menantunya berjalan keluar rumah.
"Masih tidur, Ma. Katanya kurang enak badan, tapi aku sudah izin berangkat sendiri. Pulang juga nanti sendiri, Mama jangan khawatir." Tari meraih tangan Ajeng lalu menciumnya. "Aku berangkat dulu ya, Ma. Asalamualikum."
"Waalaikumsalam," jawab Ajeng.
Mentari berjalan sendiri, ia menunggu angkutan umum atau ojeg lewat. Kebetulan ada mobil melintas di hadapannya, dan mobil itu pun berhenti.
"Tari," panggil orang itu yang berada di dalam mobil.
Tari menundukkan wajahnya melihat siapa si pemilik mobil itu, karena ia tidak mengenali mobilnya.
"Mas Chiko." Kata Tari setelah ia tahu siapa orang itu.
"Ayok masuk, sekalian aku antar," ajak Chiko.
Tanpa menunggu lama lagi, Mentari langsung masuk ke dalam mobil. Ia juga tidak ingin terlambat sekolah jika menunggu angkutan umum atau ojeg.
"Mobil baru, Mas?" tanya Tari mengenai mobil yang Chiko kendarai.
"Bukan, ini milik Atika. Semalam mobilku bannya bocor, kebetulan Tika lewat dan aku antar dia pulang dengan mobil ini. Sekarang niatnya mau mengembalikan mobilnya," jelas Chiko.
"Oohhh ..." Tari pun hanya manggut-manggut.
"Jadi sekarang kamu tinggal daerah sini?" tanya Chiko.
"Oh iya, cowok yang kemarin gak mengantarmu emangnya?"
"Gak, dia gak enak badan jadi gak bisa antar."
Tak terasa, mereka pun sampai di sekolah.
"Terimakasih, Mas Chiko."
Chiko mengangguk sambil tersenyum, lalu melanjutkan perjalanannya.
Tari hendak memasuki area sekolah, tapi tiba-tiba ada seseorang berlari menghampirinya.
"Tari, siapa yang mengantarmu? Mobilnya aku gak kenal," kata orang itu yang tak lain adalah Bunga.
"Mas Chiko," jawab Tari.
"Wah gila kamu, Tari. Omsu-mu dikemanain? Kok bisa diantar Mas Chiko? Apa suamimu tahu?"
Tari tidak menjawab, ia malah membekap mulut sahabatnya itu.
"Jangan bawa-bawa nama suami! Kamu mau mereka tahu statusku sekarang? Pihak sekolah bisa mengeluarkanku, Bunga."
__ADS_1
"Ah maaf, mulut ini tidak bisa kontrol." Jawab Bunga setelah Tari melepaskan bekapannya.
"Udah ayok, masuk? Jangan bahas itu di sini, nanti aku cerita." Tari menarik tangan sahabatnya itu.
* * *
Seusai pulang sekolah, Tari merogok uang disaku. Ia lupa tidak meminta uang jajan pada suaminya, ditambah karena Alga masih tidur.
"Tapi ini cukup untuk bayar ojeg," ucap Tari sendiri. Lalu ia berjalan menghampiri ojeg yang mangkal di depan sekolahnya.
Lagi-lagi ada orang yang memanggilnya, kali ini ia mengenali suara itu. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya.
"Mas Chiko, kok Mas Chiko ada di sini?"
"Kamu lupa mentang-mentang sekarang ada saudaramu yang selalu menjemputmu, biasanya juga aku yang selalu mengantarmu pulang, iyakan?" ujar Chiko. Chiko merasa dilupakan oleh Tari, padahal selama ini ia yang selalu mengantar jemput Mentari sekolah.
"Bu-bukan begitu, Mas." Tari merasa bersalah karena sudah mengabaikan Chiko. Tapi ia hanya tidak ingin memberikan harapan pada pria itu, meski Tari belum mendengar langsung kata cinta dari Chiko. Ia rasa ada benteng di antara mereka sekarang.
"Ah sudah 'lah, sebaiknya kamu pulang. Aku antar." Tanpa mendengar jawaban dari Tari, Chiko menarik tangan gadis itu agar ia masuk ke dalam mobilnya.
Tari tak bisa menolak itu, akhirnya ia diantar pulang sampai rumah Alga.
"Makasih ya, Mas. Sudah mengantarku," ujar Tari sebelum turun dari mobilnya.
"Tari-Tari ... Sejak kapan ada kata terimakasih di antara kita? Bukankah selama ini kita berteman, aku selalu bilang padamu untuk itu."
"Ah, iya. Tari lupa, ya udah, Tari masuk rumah dulu." Tari turun dari mobil, lalu dengan cepat ia masuk. Merasa tidak enak jika ada yang melihat kepulangannya diantar oleh pria lain.
* * *
"Tari," panggil Alga.
Mentari langsung menghentikan langkahnya saat ia sedang menaiki anak tangga. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
Alga mendekat.
"Siapa yang mengantarmu?" tanyanya kemudian.
"Mas Chiko, aku tidak punya teman dekat selain Bunga dan Mas Chiko," jelas Tari.
"Apa dia kekasihmu?" Alga mulai curiga akan kedekatan pria itu dengan istrinya.
Disaat Tari akan membuka mulutnya untuk menjawab, ia mendengar suara ibu mertuanya memanggilnya.
"Tari ...," teriak Ajeng yang terdengar dari arah dapur.
Tari pun langsung menghampiri ibu mertuanya dan meninggalkan suaminya yang menunggu jawaban darinya.
__ADS_1