
Di rumah sakit.
Benar saja, di sana sudah ada dua orang berpakain seperti ustad. Tari dan Alga melihatnya, apa yang diucapkan Yuda ternyata benar. Ia serius akan menikahkan anaknya dengan anak sahabatnya.
Surya sendiri sudah mengetahui dari Yuda lewat percakapan melalui ponsel. Ia setuju-setuju saja kalau Tari menikah, apa lagi dengan Alga. Pria paruh baya itu setuju karena ia tahu betul bagaimana calon mertua anaknya.
Dengan jantung yang berdebar, Tari berjalan menghampiri ruangan ayahnya. Sementara Yuda dan istrinya berjalan di depannya. Lalu, di mana Alga? Pria itu tak terlihat, padahal mereka ke rumah sakit secara bersamaan. Tapi Tari tak mempedulikan keberadaan laki-laki itu. Ia malah berharap pria itu menghilang, berharap pernikahan ini tidak terjadi.
"Maaf menunggu terlalu lama," kata Yuda setibanya di hadapan ustad dan penghulu yang akan menikahkan Tari dan Alga.
Secara bersamaan ustad dan penghulu itu menganggukkan kepalanya, lalu mereka semua masuk ke dalam menemui Surya. Pria itu sudah kedatangan mereka sedari tadi.
"Ayah." Tari melangkahkan kakinya mendekat ke arah Surya, memberi salam dengan mencium punggung tangan sang ayah.
"Tari, apa benar kamu akan menikah?" tanya Surya memastikan.
Mulut Tari serasa terkunci, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ayahnya pasti akan kecewa jika ia mendengar jawaban yang mungkin akan menyakiti hatinya. Anak gadis yang tak bisa menjaga nama baiknya, meski ia dan Alga tidak melakukan hubungan suami istri, setidaknya ia sudah tidur dengan pria yang bukan mukhrimnya.
"Mmm ... Itu, Yah." Tari tidak meneruskan kata-katanya, ia benar-benar tidak bisa menjawab.
"Anak Ayah sudah besar, kenapa mesti malu." Surya menduga kalau anaknya itu malu-malu. "Kalau kalian memang saling mencintai kenapa harus menundanya, Alga sudah cukup matang menjadi seorang imam, Tari."
"Apa? Saling mencintai. Apa ayah tidak tahu yang sebenarnya terjadi?" batin Tari. Tari menoleh kearah Yuda, seolah meminta penjelasan. Pria paruh baya itu hanya memejamkan mata sembari mengangguk.
Yuda tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Surya, ia memikirkan kesehatan sahabatnya itu. Ia hanya mengatakan bahwa pernikahan ini atas dasar cinta, namun kenyataannya bukan.
"Mana Alga? Ayah mau bicara dengannya."
"Aku di sini, Om." Alga muncul dari arah pintu. Mentari saja langsung menoleh kearahnya, pria itu tidak menghindar dari masalah. Namun jika boleh protes ia tidak melakukan apa-apa pada gadis itu, kenapa harus menikah?
"Sini, Ga. Om mau bicara," pinta Surya.
Alga menghampiri Surya, lalu mendudukkan diri di kursi yang berada di sisi branker. Alga sudah duduk dan berhadapan dengan ayah Tari, gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Mentari masih seperti anak kecil, tapi Om merelakan dia menjadi istrimu. Om senang jika dia menikah, meski Tari masih sekolah, tapi umurnya sudah cukup. Om hanya minta, kamu jaga dia bertanggung jawablah sebagai suami."
__ADS_1
Alga terdiam sejenak, pernikahan itu bukan main-main. Apa lagi ia hanya ingin menikah satu kali dalam seumur hidupnya. Jika ia menikah dengan Tari, itu berarti tidak ada kesempatan untuk ia menikah dengan Citra, kekasih yang sudah lama menjalin hubungan dengannya.
"Ga, kenapa kamu diam? Bukankah kamu mencintai Tari?"
"Sebenarnya, a-aku dan Tari-."
"Tidak sabar untuk menikah, iyakan, Ga." Yuda sengaja memotong pembicaraan Alga dengan Surya, agar anaknya itu tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
Mentari harap-harap cemas dengan jawaban yang akan diberikan Alga pada ayahnya. Mengapa Mentari malah berdoa agar Alga ikut berbohong? Padahal ia sendiri tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Malah bagus kalau Alga berkata jujur. Tapi melihat kondisi ayahnya yang seperti ini, ia pun pasrah menikah dengan pria yang tidak ia cintai.
"I-iya, i-itu maksudku, Om." Mendapat tatapan tajam dari papanya, Alga mengiyakan saja.
Seketika, Surya mengembangkan senyum di bibirnya.
"Tari, jika nanti kamu sudah menjadi istrinya Alga, kamu patuhi semua apa kata suamimu. Surga seorang istri ada pada suami." Surya menasehati anaknya, bagaimana posisi seorang istri.
"I-iya, Yah. Tari akan nurut." Jawabannya terdengar pasrah, apa mau dikata? Ia mengiyakan semua jawabannya meski tidak sehati dengan pikirannya.
"Pak Penghulu, akad nikahnya sekarang saja. Semuanya sudah siap, calon pengantin juga sudah siap, iyakan, Ga, Tari?" tanya Yuda.
"Pak, bisa tolong siapkan kursi satu lagi untuk calon pengantin wanitanya," pinta pak Penghulu.
"Ma, tolong geserkan kursi itu." Titah Yuda pada istrinya sembari menunjuk kursi yang ada di belakangnya.
Alga dan Mentari duduk berdampingan, pak Penghulu sudah siap akan menikahkan mereka.
"Alga Pramudigta."
"Iya, saya."
"Sudah siap menikah?"
"Su-sudah."
"Baiklah, jabat tangan calon mertuamu!"
__ADS_1
Alga menjabat tangan Surya, hatinya benar-benar campur aduk. Ingin marah tapi tak bisa, ia juga tidak menyangka akan menikah secepat ini dengan gadis yang belum lama ia kenal.
Surya sudah mulai bersuara, ia menikahkan anaknya dengan pria yang bernama Alga Pramudigta.
Alga menarik napas dalam-dalam setelah Surya selesai dengan ucapannya. Dengan sekali tarikan napas, ia berhasil mengucapkan ikrar sebagai tanda cintanya pada Mentari.
"Bagaimana? Sah?"
"Sah," sahut Yuda serta yang lain.
Setelah Alga dan Mentari resmi menjadi sepasang suami istri, pak ustad langsung membaca doa menutup acara ijab qubul tersebut. Setelah itu selesai, Mentari mencium punggung tangan suaminya.
Karena acaranya dadakan, jadi tidak ada acara pasang cincin di jari masing-masing. Yang penting mereka sudah sah menjadi suami istri.
Surya bahagia melihat anaknya, ia merasa lega jika suatu saat ia pergi meninggalkan anak semata wayangnya itu. Kini Tari sudah ada suami yang akan menjaganya.
Tak terasa sebulir kristal terjatuh dari matanya. Disaat itu juga, Mentari melihatnya.
"Ayah, kenapa Ayah menangis?" tanya Tari.
"Ini air mata bahagia, Tari. Ayah sudah lepas tanggung jawab, kini sudah ada Alga yang akan menggantikan posisi Ayah. Ayah tidak khawatir lagi jika Ayah pergi nanti."
"Apa maksud, Ayah? Aku tidak suka Ayah berkata seperti itu." Tari mendekap tubuh ayahnya yang terbaring di atas branker.
"Ayah harus sembuh, pokoknya harus sembuh!" Isak tangis Mentari semakin terdengar. Alga yang mendengar, kini ia meraih tubuh mungil itu.
"Sudah, jangan menangis. Benar apa kata Ayah, sekarang ada aku yang akan menjagamu." Entak kenapa Alga bisa mengatakan itu, apa itu karena ia sudah menjadi suaminya? Atau hanya ingin menenangkan pikiran mertuanya?
"Jika ingin menjadi istri yang baik, berhentilah menangis. Apa kamu lupa ucapan Ayahmu?" ucap Alga lagi.
Mentari melepaskan diri, lalu mengusap sudut matanya. Menghapus sisa air mata yang membasahi pipi.
Karena semua sudah selesai, pak ustad dan pak penghulu pun pamit. Karena tugasnya sudah selesai di sana.
"Terimakasih, Pak Penghulu, Pak Ustad," ucap Yuda.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab mereka bersamaan.