Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 29


__ADS_3

Alga menetap wajah Citra lekat-lekat, ia memang tak tega. Tapi ia sudah berjanji pada Tari, gadis itu kini yang menjadi pemilik jiwa dan raganya.


Alga menarik napas dalam-dalam, dan mengeluarkannya secara kasar.


"Citra, apa pun akan aku lakukan demi menyelamatkanmu dari orang-orang yang berniat jahat padamu, termasuk melindungimu dari Papamu sendiri." Alga menjeda ucapannya sebentar.


Lalu ia turun dari kursi, kini posisinya ia berdiri menggunakan lututnya. Mensejajari tubuh Citra yang terduduk di kursi.


Citra yang bingung dengan perlakuan Alga, ia hanya bisa mencernanya dalam hati. Ia tak berani mengucapkan apa yang ada dalam hatinya. Ia menunggu percakapan Alga selanjutnya.


Alga meraih tangan Citra dan menggenggamnya. Tak mudah baginya melakukan ini, menyakiti orang yang pernah ada dalam hidupnya selama empat tahun tentu membuatnya merasa bersalah. Apa lagi, Citra-lah wanita yang pertama ia cintai. Cinta pertama sekaligus pacar pertamanya.


Tapi ada yang lebih berarti dalam hidupnya sekarang. Ia tak bisa melepas Tari yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Maafkan aku, Citra."


"Maaf untuk apa? Selama ini kamu baik padaku juga pada Mama. Kamu selalu membantuku setiap kali aku susah. Kamu tidak pernah melakukan kesalahan padaku, Alga."


"Aku sudah bersalah padamu, aku sudah membohongimu. Maafkan aku yang tak jujur padamu."


Ketakutan Citra semakin menjadi, apa jangan-jangan dugaannya benar tentang kekasihnya itu.


"Apa ada wanita lain dalam hatimu?" tebak Citra.


"Bukan hanya sekedar wanita, Citra. Ada istri dalam hidupku sekarang." Dengan menyesal Alga mengatakan semuanya, tidak ada yang ingin ia tutupi. Jauh dari Tari membuat hidupnya tak karuan, gadis kecil itu mampu memporakporandakan hatinya.


"Apa, is-istri. Sejak kapan punya istri?" tanya Citra tak percaya. "Kamu jangan becanda, Alga." Tak percaya tapi wanita itu mulai menjatuhkan air matanya.


"Aku gak becanda, Citra. Aku menemui untuk ini, aku sudah menikah bulan lalu."


"Apa anak kecil itu istrimu?" tanya Citra soal Tari.


"Iya, dia istriku. Awalnya aku dan dia memang terpaksa, tapi, lambat laun perasaan ini tumbuh. Aku tidak ingin membuatmu kecewa lebih lama lagi, tolong, maafkan aku." Wajah Alga tersungkur di pangkuan Citra.


Bukan cuma Citra yang menangis, Alga pun ikut menitikkan air matanya. Putusnya hubungan mereka bukan karena pertengkaran. Masalah ini cukup membuat Citra terpukul.


"Maafkan aku, Citra. Aku tidak bermaksud membuat hidupmu seperti ini, sekarang aku melepasmu. Bukalah pintu hatimu untuk orang lain, aku tidak pantas untukmu."


Pembicaraan mereka di dengar oleh mamanya Citra. Mama Citra ikut terpukul dengan apa yang menimpa anaknya. Kejadian kemarin saja membuat mereka masih takut, apa lagi sekarang. Siapa yang akan melindungi Citra nanti? Wanita paruh baya itu sudah sangat berharap kelak Alga akan menjadi menantunya.

__ADS_1


Tubuh wanita paruh baya itu merosot, napasnya begitu sesak.


Citra yang mendengar suara, ia langsung menoleh ke arah belakang. Dilihatnya sang mama tengah terduduk di atas lantai, Citra langsung menghampiri mamanya.


"Mama, Mama kenapa?" Citra menepuk-nepuk pipi mamanya, wanita itu sudah tidak sadarkan diri. "Ga, tolong Mamaku." Pintanya sambil terus menangis.


Alga pun langsung membawa mamanya Citra ke rumah sakit.


* * *


Citra terus menangis, ia takut terjadi sesuatu pada mamanya. Jika sesuatu terjadi pada mamanya, pada siapa ia mengadu? Kekasihnya pun malah memutuskan hubungannya dengannya.


"Jangan menangis terus, Mamamu pasti sembuh, aku yakin." Ujar Alga yang berada didekat Citra.


Citra tak bergeming, hidupnya sekarang sudah hancur. Cukup lama Citra berdiam diri, lalu ia mencoba membuka suaranya pada Alga.


"Kamu tidak perlu memberikan uang pada Papaku, Alga. Aku tidak mau menerima bantuanmu, biarkan aku menikah dengan pilihan Papaku. Aku tidak mau berhutang budi padamu," jelas Citra.


Inilah yang membuat Alga bertahan dengan Citra, Citra wanita yang baik, meski orang tuanya tak merestui hubungannya dengan Citra. Sebelum ada Tari dalam hidupnya, ia mempertahankan hubungan itu. Tapi sekarang, dengan berat hati ia harus melepas Citra.


"Maafkan aku, Citra."


"Kamu tidak perlu minta maaf, Alga. Jika memang harus berpisah, pergilah. Pergi dari hidupku untuk selama-lamanya. Biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan hutang-hutang Papaku."


Dengan berat hati, Alga pun pergi dari hadapan Citra. Tapi ia tetap akan membantu Citra agar wanita itu tak menikah dengan pilihan papanya. Jika ia tak bisa membahagiakannya setidaknya ia membantunya terlepas dari masalahnya.


Setelah kepergian Alga, Citra kembali menangis. Kenapa semua ini menimpanya? Tidak ada yang menyayanginya, papanya pun begitu tega padanya. Demi uang, papanya rela mengorbankan hidupnya.


* * *


Alga sedikit tenang setelah melepas Citra, ia kira akan sulit baginya. Tapi ia jadi kasian pada mantan kekasihnya itu, kejadian ini membuatnya menjadi laki-laki yang penuh tanggung jawab. Bertanggung jawab setiap perlakuannya.


Tak ada lagi yang menjadi penghalang antara hubungannya dengan Tari. Dengan ini juga ia bisa membantu Citra terlepas dari hutang orang tuanya. Meski Citra melarangnya, ia tetap akan memberikan uang itu pada papanya Citra.


"Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang bisa membahagiakanmu, Citra," ucap Alga sendiri. Ia sudah berada di dalam mobil, ia sudah siap kembali ke kantor.


Baru beberapa jam ditinggal Tari, kini ia sudah merindukan istri kecilnya itu. Dengan setia, ia akan menunggu kedatangan istrinya.


Hingga waktu begitu cepat berlalu, kini Tari sudah selesai dengan acara sekolahnya. Saatnya ia pulang ke rumah.

__ADS_1


Tari sudah berada di sekolah bersama teman-temannya. Ia sedang menunggu Alga menjemputnya.


Yang ditunggu Alga, yang muncul malah Chiko.


"Ngapain sih Mas Chiko ke sini terus?" Tari menjadi risih ketika pria itu terus menemuinya.


"Hay Tari," sapa Chiko.


"Mas Chiko ngapain di sini?" Seingat Tari, ia tak memberitahukan kepulangannya pada pria itu.


"Menjemputmu 'lah," jawab Chiko.


Semakin ke sini, Chiko semakin gencar mengejar Tari. Apa lagi ia memang menunggu kelulusan gadis itu. Tak peduli pada Atika yang sudah menjadi tunangannya. Toh mereka memang tidak saling mencintai, hubungan mereka memang berawal dari perjodohan.


Disaat Tari dan Chiko sedang berbincang, Alga datang menjemput istrinya. Melihat Chiko sudah mendahuluinya, ia menjadi geram.


"Mau apa lagi pria itu?" tanya dirinya sendiri ketika melihat Chiko bersama Tari. Dengan cepat Alga turun dari mobil, ia menghampiri dua manusia itu.


Setibanya di sana, ia langsung merengkuh tubuh Tari. Tak peduli dengan pasang mata di sana, hingga kejadian itu menjadi ramai. Teman-teman Tari bersorak sorai.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" Tari jadi malu karena perbuatan Alga.


Seketika, Alga melepaskan pelukkan itu. Ia kira ini tidak akan jadi masalah bagi Tari. Tapi Tari sepertinya marah dan gadis itu langsung cemberut. Ia malu karena Alga cukup dewasa dan semua teman-temannya mengira Tari adalah baby sugar.


"Tolong jaga sikapmu, ini tempat umum. Main peluk-peluk saja!" Chiko pun ikut geram melihatnya.


"Jangan ikut campur!" seru Alga.


"Sudah, Mas. Jangan buat keributan di sini, sebaiknya kita pulang," ajak Tari pada Alga.


"Maaf ya, Mas Chiko. Aku sudah ada yang menjemput, sebaiknya Mas pulang saja," ujar Tari pada Chiko.


Tari langsung menarik tangan Alga dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Setibanya di dalam mobil, Tari tak banyak kata. Sikap Alga benar-benar membuatnya malu.


"Kamu marah?" tanya Alga.


Tapi Tari tak bergeming.


"Tari, aku bicara padamu!"

__ADS_1


"Aku tidak suka Mas Alga begitu di tempat umum, apa lagi mereka belum tahu hubungan kita."


"Mereka yang kamu maksud itu, Chiko?"


__ADS_2