
Alga berdecak kesal, karena Tari lebih mementingkan ibunya. Padahal, ia hanya ingin tahu tentang pria itu.
"Apa mungkin dia pacar Tari?" pikir Alga.
Sementara Tari, gadis itu tengah mencicipi kue buatan ibu mertuanya. Perasaannya kembali mengahat pasca ditinggalkan ibu tercintanya. Sosok Ajeng mampu menggantikan posisi wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
"Ma," panggil Tari, gadis itu terdiam sejenak. "Terimakasih sudah menerima keberadaanku." Kata Tari yang mulai menjatuhkan air matanya.
"Ssshhh, kenapa menangis? Mama senang mempunyai menantu sepertimu, Tari." Ajeng memeluk gadis itu, gadis yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Aku hanya teringat mendiang Ibu, beliau sering membuatkanku kue lalu menyuruhku mencicipi kue setelah pulang sekolah. Seperti yang Mama lakukan sekarang," jelas Tari.
Ajeng pun ikut sedih mendengar penuturan menantunya itu, tidak ingin membuat gadis itu kembali sedih, ia menyuruh Tari untuk segera ke kamar mengganti baju.
Tari pun menuruti perintah mertuanya. Setibanya di kamar, Alga sudah menanti kehadirannya di sana. Pria itu tengah bersedakap tangan di dada.
"Aku sudah menemukan rumah yang cocok untuk kita, lokasinya tidak jauh dari tempatmu belajar. Masih bisa dijangkau dengan jalan kaki." Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Alga.
Tari yang mendengar langsung menatap wajah suaminya. Ya, Tari mengakui kesalahannya untuk ini. Ia tak berkomentar untuk itu, karena Alga imam dalam rumah tangganya. Meski keduanya tidak menginginkan pernikahan ini, toh pernikahan mereka sah secara hukum dan agama.
Melihat Mentari nyelonong begitu saja, Alga sedikit geram. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Tari di kamar itu, dari mulai mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Sampai Tari keluar pun Alga tetap setia pada tempatnya.
"Kamu gak suka kita pindah? Apa kamu lebih suka aku tersiksa disetiap malamnya?" Pertanyaan dari Alga mampu membuat Tari menjawab.
"Aku hanya mengikuti semua keinginanmu tanpa mencela, apa pun keputusanmu, itu pasti yang terbaik untukmu." Tari tidak mempermasalahkan itu, ia hanya sedang rindu dengan ibunya karena kejadian barusan. Hatinya mendadak melow.
"Hey, kamu nangis?" tanya Alga melihat Tari menjatuhkan air matanya. "Apa kamu tidak ingin pindah dari sini?"
Tari menggeleng.
"Lalu, kenapa kamu menangis?" Alga semakin penasaran dengan itu, apa jangan-jangan ada perkataan yang menyakiti hatinya dari mulutnya?
"Please, Tari. Jangan begini!" Alga bingung karena yang ia tahu istrinya itu selalu ceria. "Katakan padaku! Apa Mama menyakitimu?" duga Alga.
"Tidak, Mama sangat baik padaku. Kebaikannya membuatku teringat pada Ibu," jelas Tari.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan menangis lagi. Kamu jelek kalau nangis begitu."
"Jadi, kalau aku gak nangis aku cantik?" Tari langsung menghampus pipinya yang basah. Ia tak ingin terlihat jelek.
"Nah, gitukan cantik. Jadi, kita pindah dari rumah ini ya?"
Tari hanya mengangguk pasrah, selama Alga bertanggung jawab akan hidupnya Tari akan mengikuti semua keinginan suaminya.
"Apa pinggangmu masih sakit?" tanya Tari yang masih ingat kejadian semalam.
"Tidak terlalu."
"Apa aku bisa menagih janjimu?"
Alga nampak berpikir, janji apa yang sudah ia janjikan pada gadis kecil ini?
"Jangan pura-pura! Aku sudah menutupi rahasiamu semalam." Ucapan Tari mengingatkan Alga akan sesuatu.
Alga menepuk keningnya sendiri, sejak kapan ia mulai pikun? Akhirnya ia ingat, ia mengiyakan akan janjinya. Lalu ia mengajak istrinya pergi jalan-jalan ke mal sekarang juga.
Di mal, Alga membelikan semua kebutuhan Tari. Dari baju alat sekolah, semua ia penuhi.
"Omsu."
"Hmm."
"Nonton, yuk?"
"Nonton? Nonton apa?"
Tari menunjuk arah dinding mal yang menunjukkan film yang akan tayang hari ini.
Namun, Alga menggelengkan kepalanya keras-keras. Tapi Tari mengingikannya, gadis itu memasang wajah melasnya pada suaminya itu.
Mau tak mau, Alga menurutinya. Padahal, ia hanya tidak ingin melihat film romantis itu. Apa lagi di dalam film itu memperlihatkan adegan dewasa yang seharusnya tidak lihat oleh Tari.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di dalam bioskop. Tari duduk di sebalah Alga dengan memangku pop corn di pangkuannya. Gadis itu sangat menikamati film itu, namun saat adegan dewasa dimulai, Alga menutup mata gadis itu dengan kedua tangannya.
"Kenapa ditutup? Aku ingin melihatnya sekalian belajar," jelas Tari.
"Belajar? Belajar dengan siapa?" Alga penasaran, jangan-jangan Tari akan melakukan itu dengan Chiko, pikir Alga. Sepertinya ia tak rela dengan itu, ia kembali menutup matanya
Namun dengan cepat, Tari melepaskan tangan Alga. Hingga keduanya saling menatap wajah satu sama lain. Mereka seakan terhipnotis dengan tatapan itu, terbawa suasana dengan film yang mereka tonton. Alga memajukan wajahnya nyaris bibir keduanya bersentuhan.
Tapi sayang, lampu di ruangan itu keburu menyala karena film sudah selesai. Menyadari akan hal itu, mereka berdua menarik tubuh masing-masing. Alga dan Mentari menjadi canggung akan kejadian barusan.
Bisa-bisanya ia akan melakukan itu dengan Alga. Tari memukul kepalanya pelan, seakan mengusir pikiran kotor itu dalam otaknya.
Alga pun tak kalah canggung, ia menjadi salah tingkah. Kenapa ia bisa seperti itu barusan? Bisa-bisanya berpikir akan mencium gadis yang selalu ia bilang bukan levelnya.
Melepas kecanggungan itu, mereka putuskan untuk pulang. Karena waktu juga sudah hampir larut.
Dalam perjalanan, di dalam mobil tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Entah Tari mau Alga mereka sama-sama diam tanpa kata, merasa sangat tidak enak. Apa lagi dengan Alga, karena ia yang lebih dulu mendekati wajah Tari tadi.
Akhirnya, mereka pun sampai. Tapi sayang, sesampainya di rumah Tari malah tertidur. Mau tak mau, Alga menggendong tubuh mungil itu. Karena Tari susah bangun jika sudah terlelap begini.
"Kalian baru pulang?" tanya Yuda.
"Sutthh, jangan berisik. Tari tidur," kata Alga.
Tidak ingin menganggu, Yuda pun membiarkan anaknya membawa Tari ke dalam kamar. Steibanya di kamar, Alga menjatuhkan tubuh istrinya dengan pelan. Lalu membuka sepatu yang dikenakan Tari.
Alga melihat kaki jenjang itu, begitu putih dan mulus tanpa noda sedikit pun. Hasrat Alga kembali bergejolak, apa lagi teringat akan film romantis tadi yang ia tonton bersama istrinya. Setelah melepas sepatu, Alga mengalihkan pandangannya ke wajah sang istri.
Wajahnya terlihat teduh jika sedang tidur, lalu melihat bibir ranum Tari. Bibir mungil warnanya sangat natural, tanpa lipstik. Warna merah jambu. Alga langsung menggelengkan kepala, menepis bayang-bayangnya. Tapi hasrat itu semakin bergejolak.
Hingga akhirnya ia memilih untuk membersihkan diri, mengguyur kepalanya dengan air dingin. Semoga dengan begini ia bisa meredam hawa nap*unya. Dan itu berhasil.
Meski pinggangnya masih terasa sakit, ia memilih tidur di sofa malam ini. Takut sewaktu-waktu tidak bisa mengontrol diri, bahkan ia sendiri sudah berjanji tidak akan menyentuh istrinya karena gadis itu bukan levelnya. Tapi siapa sangka, gadis itu mampu membuat gejolak dalam dadanya mencuat.
Tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak, ia pun memejamkan matanya. Memilih untuk tidur malam ini, berharap besok bisa terbangun dengan tubuh yang segar.
__ADS_1