Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 17


__ADS_3

Yuda dan Ajeng sudah berada di ruang makan, lalu melihat Alga dan Tari menuruni anak tangga. Mereka melihat sedikit heran di sana, mengapa mereka mengenakan baju santai? Tak berlama-lama, pasutri baru itu sudah mendudukkan diri di kursi masing-masing.


"Alga, Tari? Kalian mau kemana?" tanya Yuda.


"Iya, kamu gak sekolah?" tanya Ajeng pada Tari.


"Gak, Ma. Tari sudah izin," jawab Tari


"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Yuda lagi, karena pertanyaannya tadi belum terjawab.


"Melihat rumah baru, sekalian pindah," jawab Alga dengan entengnya, ia tak minta pendapat mengenai kepindahannya bersama Tari. Tentu itu membuat Yuda dan Ajeng marah pada anaknya itu.


"Pindah? Pindah kemana? Apa rumah ini kurang nyaman bagimu, Tari?" Ajeng menduga kepindahannya keinginan menantunya itu.


"Bu-bukan gitu, Ma. Aku betah di sini, tapi aku hanya menuruti apa kata Mas Alga," jawab Tari dengan nada ketakutan. Karena wajah Ajeng terlihat menyeremkan baginya.


"Apa benar itu, Alga? Kenapa harus pindah? rumah ini akan terasa sepi jika kalian meninggalkan rumah ini," kata Yuda. Sepertinya pria paruh baya itu kurang setuju dengan keinginan anaknya, ia pikir rumah ini cukup besar.


"Ma, Pa. Biarkan kami keluar dari rumah ini, aku ingin Tari benar-benar tanggung jawab dengan kewajibannya sebagai istri," ujar Alga.


"Tanggung jawab apa maksudmu?" Setahu Ajeng, menantunya itu sudah melakukan tugasnya sebagai istri di sini. Bahkan kebutuhan Alga sudah jadi tanggung jawab Tari, bi Ati pun sudah tidak pernah menyiapkan segala sesuatunya untuk Alga setelah anaknya itu menikah.


"Mungkin maksud Alga di atas ranjang, Ma. Mungkin mereka ingin bebas melakukannya diberbagai tempat," bisik Yuda.


Sontak, membuat Ajeng langsung menyikut perut suaminya. Sampai Yuda mengaduh. Bisa-bisanya suaminya itu berpikir seperti itu, Ajeng sedikit curiga. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan anaknya dan menantunya? Ia harus tetap memantau meski mereka sudah tak lagi tinggal bersama.


"Kenapa mendadak? Kalian tidak sedang bertengkar 'kan?" tanya Ajeng kemudian.


Alga dan Tari saling pandang, lalu menggeleng secara bersamaan.


"Tidak, kami baik-baik saja. Iyakan, sayang?" ujar Alga sembari merangkul tubuh Tari.


Sementara Tari, ia hanya tersenyum menanggapi sikap suaminya yang terlihat sedikit manis pagi ini. Tapi, tetap saja, Ajeng tidak percaya begitu saja. Karena insting seorang ibu begitu kuat.


Yuda yang terus mengelus perutnya karena sakit dari sikutan istrinya jadi ia tidak terlalu mendengar pembicaraan Ajeng yang curiga pada Alga dan Mentari.


"Gimana, Pa?" tanya Ajeng pada suaminya, namun tak ada sahutan dari pria itu. "Papa!" teriak Ajeng.


"Iya, Ma. Ada apa? Gak tahu apa ini sakit," keluh Yuda.

__ADS_1


"Itu, Alga dan Tari mau pindah hari ini," jelas Ajeng.


Lalu, Yuda mulai bercakap dengan serius. Menatap anak dan menantunya secara bergantian. Menghela napas sejenak, membetulkan kacamatanya.


"Kalau ini yang terbaik untuk rumah tangga kalian, Papa dan Mama tidak bisa melarang. Ya, Papa akui. Papa memang tidak suka dengan kepindahan kalian dari rumah ini, rumah akan terasa sepi tanpa kalian."


Mentari yang mendengar jadi merasa kasihan, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan semuanya ada pada suaminya.


"Papa tenang saja, sesering mungkin aku dan Tari akan berkunjung. Lagian, tempat tinggalku tidak begitu jauh," jelas Alga yang menenangkan hati orang tuanya. "Dan untuk, Mama. Mama gak perlu khawatir, hubungan aku sama Tari baik-baik saja."


Akhirnya, Ajeng dan Yuda merelakan kepergian anak dan menantunya. Orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.


* * *


"Tari, kamu hati-hati di sana. Kalau Alga menyakitimu, kamu pulang kesini. Biar Mama yang menghukum suamimu," ucap Ajeng pada Tari saat anak dan menantunya akan pergi dari rumahnya.


"Iya, Ma. Sebelum Mama menghukum Mas Alga, aku yang lebih dulu akan memberikan pelajaran padanya."


Ajeng sampai terkekeh mendengar jawaban menantunya itu. Tari mencium punggung tangan mertuanya secara bergantian. Akhirnya, Tari dan Alga pergi. Mulai menghilang dari pandangan Ajeng dan Yuda.


Di perjalanan, Tari terus melirik ke arah suaminya. Pria itu benar-benar menginginkan ada jarak di antara mereka, padahal, Tari sudah menuruti keinginan suaminya yang tidak mencampuri urusannya dengan kekasihnya itu. Yang ia pikirkan sekarang, bagaimana nasib dengannya jika mereka tinggal berdua? Apa Alga tidak akan peduli padanya?


"Tidak ada apa-apa."


"Jangan bohong! Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Ayok jujur padaku!"


"Apa setelah ini, kamu tetap akan menjadi suamiku?"


"Apa maksud dari pertanyaanmu itu?" Alga sedikit tidak mengerti apa maksud Tari.


"Ah, lupakan saja. Itu tidak penting." Padahal hatinya mulai gundah. Apa Alga mengajaknya pindah bukan hanya sekedar tidak ingin mendapat pukulan darinya disetiap malamnya? Justru Tari di sini berpikir, bahwa suaminya itu tidak akan melepas Citra kekasihnya itu. Ia akan merasa bebas jika tidak tinggal dengan orang tuanya. Pikiran Tari mulai kalut.


Mengapa ia mulai berpikir begitu? Bukankah ia sendiri sudah tahu bahwa Alga memang memiliki kekasih? Tentu itu yang dimau Alga. Bisa bebas dengan kekasihnya.


Tak terasa, mereka pun sampai di perumahan elit. Rumah yang dipilih Alga cukup bagus.


"Ayok turun," ajak Alga.


Tapi sepertinya, Mentari malah melamun. Sampai ia tak menyadari bahwa ia sudah sampai.

__ADS_1


"Tari?"


Tari langsung terkesiap dari lamunannya. Alga juga merasa heran, kenapa Mentari jadi berubah? Gadis itu sedikit diam hari ini. Apa jangan-jangan Tari merasa terpaksa dengan kepindahannya? Pikir Alga.


"Ah iya, Omsu. Apa kita sudah sampai?"


"Sudah, makanya jangan ngelamun terus. Nanti malah kesambet. Ayok turun," ajaknya lagi.


Tari dan Alga pun turun dari mobil. Tari melihat rumah itu dengan seksama, rumahnya tak kalah jauh bagus dari rumah orang tua suaminya. Mereka memasuki rumah itu.


Rumah itu memang sudah lengkap dengan isinya, Alga sengaja biar Tari suka. Dan benarnya istrinya itu menyukai rumah ini, terlihat dari wajahnya yang sedikit ceria.


"Ini kamarmu." Tunjuk Alga pada kamar yang terletak di lantai bawah.


Tari melihat kamarnya sendiri. Kamar itu di disain begitu cantik, layaknya kamar seorang remaja.


"Omsu, benar ini kamarku?"


"Hmm, apa kamu suka?"


Tari langsung mengangguk. Reflek, gadis itu memeluknya saking senangnya.


"Terimakasih, Omsu. Ini kamar impianku sejak dulu." Tari memeluk tubuh itu dengan erat.


"Sama-sama, tapi gak begini juga 'kan?"


Tari yang menyadari langsung melepasnya.


Tidak ada larangan bagi mereka, hanya saja Tari merasa belum terbiasa hingga wajahnya berubah merah merona.


Melihat ekspresi Tari, Alga jadi merasa gemas dengan tingkah istri kecilnya itu. Benar-benar remaja pada waktunya.


"Aku ke kamarku dulu." Ucap Alga sembari mengacak rambut Tari.


Tari sendiri mengusap rambutnya yang sedikit berantankan, ia merasa suka dengan sikap Alga yang sedikit bersahabat hari ini. Setelah kepergian Alga, Tari malah senyum-senyum sendiri.


...----------------...


Ada apa dengan Tari? Apa mungkin sudah tumbuh cinta pada suaminya? Yang penasaran, ikuti terus kisahnya.

__ADS_1


__ADS_2