Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 25


__ADS_3

Tari terus berjalan menelusuri panasnya terik matahari. Baju yang tadinya basah kini sudah mengering. Lelah, ia pun duduk sebentar di bawah pohon besar di pinggir jalan.


Angin sepoy-sepoy membuatnya merasa sejuk hati yang tadi merasa terbakar kian memudar.


Merasa sudah enak dengan pikirannya, Tari kembali melanjutkan perjalanannya. Ia sengaja berjalan kaki agar tidak terlalu cepat sampai rumah. Ia tak ingin ibu mertuanya curiga akan hubungan mereka yang sebenarnya tidak baik-baik saja.


Tapi ia harus meyakinkan ibu mertuanya, agar wanita itu bisa cepat kembali ke rumahnya. Dan ia bisa tidur dengan nyaman tanpa suaminya. Hingga akhirnya, ia pulang ke rumah jam setengah empat sore.


Sementara Alga, pria itu tak kembali ke kantor. Ia terus mencari keberadaan istrinya yang kini entah di mana. Bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Ia begitu cemas karena Tari tak kunjung ditemukan.


Sampai jam lima sore, ia memilih untuk pulang. Semoga Tari sudah berada di rumah dalam keadaan baik-baik saja, pikir Alga.


Kini Alga sudah sampai rumah, ia melihat mamanya sedang duduk bersantai di teras depan rumahnya sambil minum teh hangat. Hatinya sudah mulai gelisah karena takut dimarahi, lambat laun, ia pun menghampiri mamanya. Seperti biasa, ia selalu mencium kedua pipi sang mama.


"Tari mana, Ma?" tanya Alga basa-basi, padahal ia ingin tahu apa reaksi wanita yang kini sudah melahirkannya itu.


Belum Ajeng menjawab, Tari datang tiba-tiba dari dalam. Ia membawa kue di piring.


"Ma, ini ce-mi-lannya." Tari melihat Alga sudah pulang. Tak ingin membuat mertuanya curiga, Tari menyambut kedatangan suaminya dengan hangat.


"Baru pulang, Mas?" Tari langsung meraih tangan Alga, lalu menciumnya.


"Tari," batin Alga. Ia merasa sangat bersalah pada istrinya itu, ia langsung tersenyum ketika sikap Tari padanya dalam keadaan baik. "Apa Tari melupakan kejadian tadi dan memaafkanku?" batin Alga. Ia rasa begitu, istrinya tak lagi marah padanya.


"Ga, sebaiknya kamu mandi dulu sana," titahnya pada anaknya itu. "Mama juga lagi nunggu Papa jemput, Mama mau pulang sekarang, Ga."


Tari langsung tersenyum ketika mendengar penuturan Ajeng. Ia sudah berhasil meyakinkan ibu mertuanya itu akan rumah tangganya, ia juga mengatakan bahwa suaminya itu sudah memutuskan hubungannya dengan kekasihnya. Dan Ajeng percaya karena Tari sendiri yang mengatakannya secara langsung.

__ADS_1


"Baiklah, aku masuk dulu kalau begitu." Dengan hati yang berbunga-bunga karena Tari sudah tidak marah lagi padanya, tanpa beban ia menganggap semuanya sudah clear.


Alga pun sudah selesai mandi, ia kembali bergabung dengan istri dan mamanya. Ia duduk di sebelah Tari, ia pun tersenyum ke arah istrinya.


Tari memaksakan senyumnya pada Alga, menahan rasa kesalnya seorang diri. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil masuk ke area pekarangan rumahnya. Mereka sudah tahu siapa yang datang, siapa lagi kalau bukan Yuda.


Pria paruh baya itu turun dari mobil, ia ke sana hanya untuk menjemput istrinya. Ajeng menceritakan semua tentang Alga yang ia ketahui dari Tari. Namun Yuda tak begitu percaya karena tadi ia melihat ada Citra ke kantornya. Sudah dipastikan bahwa perempuan itu pasti bertemu dengan Tari.


Melihat Tari baik-baik saja, Yuda sedikit curiga. Ia tahu sikap Tari dari Surya. "Kamu benar-benar hebat Tari, kamu masih bisa tersenyum ketika kamu mengetahui kesalahan suamimu," batin Yuda.


"Ma, mau pulang sekarang?" tanya Yuda pada istrinya setibanya di sana.


"Iya, Pa," jawab Ajeng. "Alga, Tari. Mama sama Papa pulang dulu ya? Baik-baik kalian di sini. Ingat! Hidup rukun itu indah," jelas Ajeng.


"Iya, Ma. Mama sama Papa hati-hati," ucap Tari.


Yuda dan Ajeng memasuki mobil, mereka akan pulang sekarang juga. Tari melambaikan tangannya ke arah mobil, ketika mobil sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya, ia pun segera masuk ke dalam rumah.


Setibanya di dalam.


Bugh


Tari menutup pintu kamarnya cukup keras, Alga yang mendengar sampai terkejut. Ia tak berani bertegur sapa, ia tahu gadis seumur Tari masih labil. Emosinya masih meletup-letup. Akhirnya, ia memberikan waktu pada istrinya itu.


Dengan gontai ia berjalan menuju kamar, bingung harus apa? Ketika istri sedang marah, dunianya serasa mati. Ia lebih suka dimarahi Tari dari pada diacuhkan seperti ini.


Sampai jam delapan malam, Alga merasa lapar. Ia memang belum makan sedari tadi, bahkan makan siang pun harus tertunda karena ulah Citra. Lantas, ia pun keluar dari kamarnya pergi menuju ruang makan.

__ADS_1


Namun setibanya di sana, ia melihat meja itu terlihat kosong. Tak ada makanan sedikit pun. Dengan lemas, ia duduk di sana. Menyangga dagu dengan kedua tangannya.


"Kamu bener-bener marah, Tari," ucapnya sendiri. Bahkan Tari tidak menyediakan makan malam untuknya, lalu sedang apa gadis itu?


Di kamar, Tari sedang belajar sambil menikmati camilan yang memang sudah ia sediakan, Tari memang sengaja tak memasak. Ia hanya ingin tahu, apa suaminya itu bisa hidup tanpanya? Ia sengaja memberi pelajaran, agar ia bisa menghargai pentingnya seorang istri dalam rumah tangga.


Disaat sedang asyik, Tari mendengar pintu kamarnya diketuk. Tapi ia mengacuhkannya, siapa lagi kalau bukan Alga.


"Dasar pria tidak tahu malu!" ujar Tari.


"Tari, buka pintunya," kata Alga dari arah luar kamar Tari. " Aku tahu kamu belum tidur, keluar 'lah! Aku laper, Tari. Apa kamu tidak kasihan padaku?"


Tari yang mendengar langsung membuka pintu.


"Tidak butuh istri 'kan? Aku juga bukan levelmu 'kan? Jadi mulai sekarang, belajarlah hidup mandiri!" Setelah mengatakan itu, Tari langsung menutu pintu kembali.


"Tari, Ku mohon jangan seperti ini. Aku tahu aku salah, aku minta maaf." Alga terus menggedor pintunya, sampai tahun depan pun Tari tidak akan membukanya apa lagi menyuruh suaminya itu masuk ke dalam.


Mau tak mau, ia membuat mie instan. Karena kalau memesan dari luar akan membutuhkan waktu, ia sudah sangat kelaparan. Alga sudah berada di dapur memasak untuk makanannya. Ia membaca cara membuat mie instan.


Alga tidak tahu cara membuatnya karena ini pertama kali baginya. Sedih rasanya hidup begini, sungguh malang nasibmu, Alga.


Akhirnya, makanannya pun jadi. Ia langsung menikamtinya meski rasanya sedikit aneh. Tapi tetap saja ia habiskan karena lapar.


Ketika Alga sedang makan, Tari mengintip dari kejauhan. Kasian memang, tapi dengan cara ini bisa membuat suaminya jera.


Alga beranjak, ia mencuci semua perabotan yang habis ia gunakan. Perbuatannya tak luput dari pantauan Tari.

__ADS_1


"Maafkan aku, Omsu. Aku harap kamu bisa menghargai sebuah pernikahan," ujar Tari dengan berat hati.


Kalau bukan karena pesan dari ayahnya, Tari pun tidak ingin masuk ke dalam hidup Alga. Ia tak ingin memaksakan diri untuk dicintai suaminya itu. Tidak dipungkiri memang, perasaannya mulai tumbuh saat Alga sedikit manis kemarin padanya. Cinta itu memang tidak tahu kapan datangnya.


__ADS_2