
Kebersamaan mereka kini harus berakhir, karena hari semakin larut, dan mereka baru saja habis makan malam. Tari memiliki teman baru, yaitu Atika. Karena ia dan Bunga sudah jarang bertemu karena gadis itu harus kuliah.
Tari dan Alga mengantar tamu mereka sampai depan rumah. Tari melambaikan tangan ke arah mobil Chiko. Alga sendiri memeluk Tari dari samping, kebahagiaan mereka begitu terlihat.
Alga mengajak istrinya masuk ke dalam, setelah mobil Chiko tidak terlihat, berjalan berbarengan tanpa melepaskan gandengan itu. Mereka memilih untuk beristirahat, usia kandungan Tari yang sudah semakin besar jadi ia cepat lelah.
Setibanya di kamar, mereka mengganti pakaian terlebih dulu dan mencuci muka sebelum tidur. Setelah semuanya selesai, mereka pun akhirnya naik ke atas ranjang.
Alga meraih tubuh istrinya untuk di peluk, mengusap lembut perut istrinya dari belakang karena posisi Tari meringkuk.
"Geli, Mas," protes Tari.
"Tapi aku suka." Jabawnya sambil tertawa renyah. "Gak sabar rasanya menanti kehadirannya."
"Berdoa saja, semoga semuanya baik-baik saja sampai lahiran," kata Tari.
"Amin," ucap Alga. "Sayang," sambung Alga.
"Hmm," jawab Tari.
"Apa boleh ..."
"Boleh apa?" pungkas Tari.
"Kata Dokter boleh, kok!"
Tari tahu arah pembicaraan suaminya. Ia pun akhirnya membalikkan tubuhnya karena posisinya membelakangi. Setalah berbalik, ia menatap wajah suaminya lekat-lekat. Mengusap lembut wajah yang dipenuhi bulu-bulu halus itu.
Alga semakin mendesir ketika mendapatkan sentuhan lembut itu dari istrinya. Tak kuasa dengan sentuhan itu, ia meraih tangan Tari dari wajahnya. Mencium tangan itu dengan mesra.
Tari tidak menyangka bahwa ia akan mencintai pria yang umurnya begitu jauh darinya. Cinta memang tak memandang umur, jika Tuhan sudah berkehendak jodoh jauh pun akan bertemu bagaimana pun caranya.
"Sayang, boleh 'kan?" izin Alga.
Tari mengangguk, Alga pun tersenyum senang.
"Mas akan melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati."
Entah sejak kapan baju mereka terlepas, Alga melakukan olahraga malam begitu berkeringat. Tari hanya mendapat serangan itu tanpa dibolehkan untuk bekerja. Alga yang memegang kendali, Tari sendiri sudah tak kuasa karena suaminya berhasil memberikan kepuasan yang hakiki.
__ADS_1
Kini tinggal gilirannya melepaskan kecebong, ia mengerang hebat ketika mencapai puncaknya. Akhirnya, ia ambruk di samping istrinya. Dengan napas tersengal karena masih belum teratur.
Lelah, mereka pun akhirnya tertidur dengan pulas. Menuju ke alam mimpi yang indah, bertemu dengan malaikat kecil yang begitu sangat lucu, sampai Alga mengigau dari tidurnya. Tari terbangun mendengar suara suaminya yang mengigau.
"Princes, Princes ..." kata Alga.
"Mas, bangun ... Kamu mimpi?" tanya Tari.
"Iya, Mas mimpi anak kita perempuan. Tapi dia meninggalkanku." Alga menjadi takut, takut ditinggalkan oleh anaknya.
"Kamu hanya mimpi, Mas. Mimpimu hanya bunga tidur. Kita berdoa semoga dia baik-baik saja." Ujar Tari sembari menyentuh perutnya.
"Iya, mudah-mudahn itu hanya mimpi." Alga mencium perut Tari sambil mengucapkan sesuatu. "Anak Papa baik-baik ya di dalam sana, Papa dan Mama menanti kehadiranmu."
"Sebaiknya kita tidur lagi ya? Ini masih malam," ajak Tari. Mereka kembali tidur, menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang memang masih polos.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Kandungan Tari semakin membesar, bulan ini memang tepat usia kandungannya ke 9 bulan. Semua keluarga begitu menanti, bahkan Alga menjadi suami SIAGA. Semenjak kandungannya menginjak 9 bulan, Alga bekerja dari rumah. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya yang sudah hamil tua.
Alga yang mendengar langsung berlari.
"Ada apa, sayang?" Alga terkejut melihat istrinya dalam keadaan meringis. Melihat lantai sudah basah.
"Sakit, Mas."
"Apa kamu mau melahirkan?" duga Alga. Melihat Tari terus meringis, Alga berteriak memanggil pembantunya.
"Bi, Bibi ..."
Seorang ibu paruh baya berlari dengan tergopoh, dengan cepat ia menaiki tangga menuju kamar majikannya.
"Iya, Den." Bibi menutup mulutnya, terkejut melihat sang majikan. Ia menghampiri dan membantu tuannya, meraih tubuh Tari yang hampir merosot menahan sakit.
"Si Neng mau lahiran ini, Den," kata si bibi.
Tanpa menjawab, Alga langsung membopong tubuh istrinya.
__ADS_1
"Bi, siapkan baju Tari sama peralatan bayi," kata Alga. Sedangkan ia pergi menuju mobil hendak membawa Tari ke rumah sakit.
"Iya, Den." Si bibi mengambil baju majikannya serta peralatan bayi yang memang sudah disiapkan. Sudah mendekati persalinan, Tari memang sudah menyiapkannya sejak awal.
Bibi menyusul ke mobil, dan ia pun akhirnya ikut menemani.
"Bi, hubungi Mama." Alga memberikan ponsel miliknya ke si bibi. Si bibi langsung menghubungi nyonya besar, yaitu Ajeng.
Setelah si bibi menghubungi nyonya besar, Alga menambah kecepatan laju mobilnya. Ia kasian pada istrinya yang terus meringis.
"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai."
"Cepat, Den. Sepertinya ketubannya sudah pecah," kata bibi.
Jelas Alga semakin panik, ia kembali menambahkan lajunya. Hingga akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit.
***
Tari sudah berada di ruang persalinan, namun dokter menjelaskan bahwa Tari tak bisa melahirkan dengan normal, karena ketuban sudah pecah lebih dulu sebelum waktunya.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Selamatkan keduanya!" tegas Alga.
Dokter mengangguk, lalu ia menyuruh suster untuk memindahkan pasien ke ruang operasi. Disaat Tari keluar dari ruangan, Ajeng dan Yuda datang. Mereka bertemu dengan Tari.
"Tari," panggil Ajeng.
"Mama," lirih Tari yang masih meringis.
"Yang kuat ya, sayang. Kami semua mendoakanmu," kata Ajeng lagi.
Alga mendekat ke arah Tari, ia memberikan kecupan di kening.
"Bertahanlah, Dokter akan melakukan yang terbaik untuk kalian." Alga menitikkan air matanya, ia tak tega melihat istri kecilnya kesakitan.
Karena waktu yang tidak memungkinkan, suster langsung saja mendorong branker yang di atasnya ada Tari.
"Maaf, Tuan. Pasien harus segera ke ruang operasi.
"Mas ..." Tari jadi takut ketika mendengar ruang operasi, karena ini pertama kali baginya masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
Tari pun dibawa masuk oleh suster ke dalam sana, hingga Alga hanya bisa mengantar sampai pintu.