Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 24


__ADS_3

Disat Alga sedang bekerja, ia malah termenung. Melamunkan istrinya, Tari. Perkataan mamanya ada benarnya. Tari memang sudah melakukan tugasnya sebagai istri, tapi ia malah belum melepaskan Citra.


Bagaimana caranya melepaskan kekasihnya itu? Sampai detik ini, Citra begitu setia padanya. Ditambah lagi ibunya Citra sudah menitipkan anaknya padanya. Tidak bisa dipungkiri, kebersamaannya dengan Tari terkadang ia rindukan. Apa perasaannya sudah mulai tumbuh pada gadis kecil itu?


Alga menjambak rambutnya sendiri, ia merasa frustrasi dengan adanya dua wanita di hatinya. Tapi ia tetap harus memilih di antara salah satunya. Ia tak ingin masalah ini berkepanjangan, meski akan ada hati yang terluka karena.


* * *


Tari sudah pulang dari sekolah. Gadis itu pulang tepat waktu. Ia masuk ke dalam rumah.


"Asalamualikum," ucap Tari.


"Waalaikumsalam," jawab Ajeng.


Tari mencium punggung tangan ibu mertuanya lalu pamit untuk mengganti baju. Sesudah itu, ia kembali menemui Ajeng yang sedang berada di dapur.


"Tari, kamu antar makan siang ini ke kantor Alga," suruh Ajeng.


"Ke kantor Mas Alga, Ma? Apa Tari diperbolehkan masuk?" tanya Tari dengan polosnya.


"Siapa yang akan melarangmu nanti? Di sana bebas, Tari. Lagian Mama sudah bilang ke Papa kalau kamu akan ke sana," jelas Ajeng.


"Sekalian kamu ikut makan siang bersama suamimu di sana, Mama sudah siapkan dua posri."


Akhirnya, Tari pun mengiyakan. Karena ia memakai baju santai, ia kembali mengganti bajunya. Tari bercermin, melihat pantulannya di kaca. Baju yang ia kenakan begitu cantik, sangat cocok dengannya. Memakai baju yang modelnya tanpa lengan, berwarna hijau botol. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.


"Menantu Mama sudah cantik," kata Ajeng tiba-tiba. "Alga pasti suka dengan penampilanmu, Tari." Karena Ajeng melihat Tari berpenampilan berbeda dari biasanya. Gadis itu sangat terlihat cantik dengan polesan make up yang sederhana. Tak lupa, ia gunakan lipstik sedikit untuk bibirnya.


"Ah, Mama bisa aja," balas Tari. Gadis itu tersipu malu ketika mendapat pujian dari ibu mertuanya. "Mama juga cantik," puji Tari.


Setelah saling memuji, Tari berangkat ke kantor suaminya, diantar oleh supir pribadi Ajeng.


"Ma, aku berangkat dulu," pamit Tari. Ajeng pun mengangguk.


"Hati-hati ya, Pak Tohir," kata Ajeng pada supirnya.


Mobil pun melaju dengan kecepatam sedang. Dalam perjalanan, Tari mulai melihat gedung-gedung tinggi. Itu artinya, sebentar lagi ia akan sampai di kantor Alga. Waktu memang sudah menunjukkan pas jam makan siang. Setibanya di sana, Tari melihat para gerombolan karyawan yang keluar dari gedung kantor suaminya.


Tak sengaja ada seseorang yang menabraknya, dan hampir saja makanan yang ia bawa terjatuh. Untung, tangannya begitu erat memegangnya. Seketika, kantor itu terlihat sangat sunyi. Hanya ada security yang terlihat di sana.


Lantas, Tari menghampiri security itu. Menanyakan ruangan Alga.

__ADS_1


"Pak, saya mau tanya. Ruangan Pak Alga sebelah mana ya?"


"Oh, ruangan Pak Alga ada di lantai tiga. Mari, saya antar." Security itu memang sudah ditugaskan Yuda untuk menyambut kedatangan menantunya.


"Wah ... Kantornya besar sekali," batin Tari.


Tak lama, ia dan security pun sampai di depan pintu ruangan Alga.


"Silahkan, Non. Non langsung masuk saja," ujar security itu.


Namun Tari merasa tidak sopan jika masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Terimaksih ya, Pak. Sudah mengantar saya," kata Tari. Security itu hanya memberikan senyumannya pada Tari, pria itu merasa terpesona akan kecantikkannya, ia tidak tahu saja bahwa Tari adalah istri dari pemilik perusahaan tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk."


Mendengar sahutan dari dalam, Tari langsung masuk.


"Tari." Alga merasa terkejut akan kedatangan Tari ke kantor. "Ayok silahkan duduk." Alga mengajak istrinya duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.


"Apa ini?" tanya Alga.


"Makan siang, Mama loh yang buat. Bukan aku. Aku hanya disuruh." Tari tidak ingin suaminya itu menjadi besar kepala, ia langsung menjelaskan kedatangannya ke kantor.


Alga terus melihat wajah Tari, gadis itu terlihat sangat cantik hari ini. Sampai ia sendiri tidak berkedip, tumben sekali gadis ini berpenampilan berbeda, pikir Alga.


Tak menunggu berlama-lama lagi, Tari menyiapkan makan siang untuk suaminya. Ia memindahkan makanan itu ke piring.


"Hmmm, makanlah." Tari menyodorkan satu piring berisikan makanan.


"Kamu sudah makan?" tanya Alga.


Tari menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu Alga menyuruhnya untuk makan bersama-sama dengannya. Tapi Tari masih saja diam.


"Apa perlu aku suapi?"


"Ti-tidak usah, aku makan sendiri."


Akhirnya, mereka berdua makan sama-sama. Makan dengan khidmad, tapi tiba-tiba sesorang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.

__ADS_1


"Sayang ..." Kata orang itu yang tak lain adalah Citra. Citra langsung menghentikan langkahnya setelah ia melihat ada seorang wanita yang tengah makan bersama kekasihnya. Ia berpikir gadis inilah yang menjadi selingkuhan Alga.


"Ga, siapa dia?" tanya Citra kemudian.


Alga mau pun Tari, mereka terdiam. Apa lagi dengan Alga, ia begitu terkejut akan kedatangan Citra yang tanpa mengabarinya terlebih dulu.


"Apa dugaanku selama ini benar? Apa dia yang menjadi selingkuhanmu?" Citra sedikit emosi karena ia sudah memperegoki kekasihnya dengan selingkuhannya.


Tanpa aba-aba, Citra meraih gelas yang berada di atas meja kerja Alga. Lalu menyiramkannya ke wajah Tari. Seketika, Tari basah kuyup. Tak terasa, cairan bening terjatuh dari pelupuk matanya.


Sedangkan Citra, ia merasa puas akan tingkahnya. Dan itu membuat Alga marah padanya.


"Apa yang kamu lakukan, Citra? Apa kamu tidak bisa berbicara baik-baik!"


"Kamu berani memarahiku karena perempuan kampungan ini!" Dari penampilan Tari yang terlihat sederhana membuat Citra bisa menyimpulkan jati diri Tari.


"Sejak kapan kamu melihat orang dari sisi penampilannya, Citra?" Alga tak kalah marah dari kekasihnya itu. "Sekarang kamu keluar!" seru Alga.


"Alga ..." Akhirnya Citra pun keluar karena mendapat usiran dari Alga.


Setalah kepergian Citra, Alga meraih tisu berniat megusap wajah Tari yang basah. Tapi Tari menepis tangan suaminya.


"Kamu marah?" tanya Alga.


Tari bukan hanya sekedar marah, tapi ia juga kecewa pada suaminya. Mengapa ia tak jujur akan pernikahannya? Dibilang selingkuhannya pun Alga diam saja.


"Tolong ... Maafkan Citra."


Kenapa Alga malah minta maaf atas nama Citra? Segitu besarnya cinta suaminya itu pada kekasihnya? Pikir Tari


Dengan kesal, Tari pun pergi meniggalkan Alga. Alga mengejar Tari. Kamana pun gadis itu pergi Alga terus mengikutinya.


"Tari, ku mohon jangan seperti ini. Kalau kamu pulang dalam kedaan basah begini Mama pasti marah padaku."


Tari menghentikan langkahnya, lalu menatap wajah Alga.


"Kalau kamu takut, aku gak akan pulang ke rumah. Kamu bisa cari alasan lain pada orang tuamu tentang kepergianku!" Setelah mengatakan itu, Tari benar-benar mengilang dalam pandangannya.


"Kenapa jadi begini sih, Aarrgghhh ...."


Padahal, baru saja ia memikirkan akan masa depannya bersama Tari. Ucapan mamanya membuka mata hatinya. Tari gadis yang sangat baik, tapi sekarang, Tari benar-benar marah padanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2