Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 12


__ADS_3

Tahu suaminya bonyok, Tari langsung turun dari kasur. Lantas ia bergegas keluar kamar, menuju dapur, ia mengambil air di wadah. Lalu kembali ke kamar, tapi sebelum sampai di kamar, ia bertemu dengan ibu mertuanya.


"Tari, kamu bawa apa?" tanya Ajeng.


"Ini, Ma." Tari menunjukkan baskom kecil ke arah mertuanya.


"Untuk apa? Alga sakit?" tanyanya lagi, karena Ajeng melihat itu alat untuk mengompres karena di wadah itu terlihat air serta kain kecil.


"Untuk Omsu, eh maksudku Mas Alga." Lagi-lagi Tari keceplosan dengan panggilannya pada sang suami. Bisa gawat kalau ketahuan dengan sebutannya pada suaminya.


"Alga sakit apa?" tanya Ajeng. "Bahkan semalam baik-baik saja," sambungnya kemudian.


"Mm ... Itu, Ma." Tari bingung harus jawab apa.


Tiba-tiba terdengar suara Alga.


"Tari ...," teriak Alga dari kamar, suara Alga menyelamatkan Tari dari pertanyaan ibu mertuanya.


"Ma, aku ke atas dulu." Tanpa mendengar jawaban mertuanya, Tari langsung berlari menaiki tangga. Sementara Ajeng, semakin bingung. Alga sakit apa? Tapi suaranya masih lantang begitu.


Penasaran, ia menyusul menantunya ke kamar, di sana ia melihat Tari tengah mengompres suaminya, tapi bukan di kening. Biasanya kalau orang sakit di kompres di dahi bukan di pipi.


"Alga, kamu sakit apa?" tanya Ajeng, wanita itu langsung menyelonong masuk begitu saja.


Tari yang mendengar langsung menghentikan aktivitasnya, dan menundukkan wajahnya. Takut kena marah dari ibu mertua karena ia sudah berani menyakiti anaknya.


"Gak sengaja kejedot pintu, Ma," jawab asal Alga.


Ajeng mengerutkan keningnya, sejak kapan anaknya jadi seceroboh itu? Apa jangan-jangan Alga oleng karena semalam kurang tidur habis pertempuran dengan Tari? Pikir Ajeng, tapi masa sampai begitu. Tapi ya sudahlah.


"Makanya hati-hati, untung istrimu perhatian." Setelah mengatakan itu, Ajeng pun keluar dari kamar anaknya.


Setelah kepergian mertuanya, Tari melanjutkan aktivitasnya yang terhenti.


"Pelan-pelan, Tari. Ini sakit," keluh Alga.


"Maaf, Omsu." Tari menjeda ucapannya, tak lama ia pun kembali berucap. "Terimaksih sudah merahasiakan ini dari Mama," sambung Tari.


"Hmm," jawab Alga singkat. " Sudah-sudah, aku rasa ini sudah membaik. Tenagamu kuat juga ya, wajahku sampai bonyok begini."


"Reflek, itu belum seberapa," jawab Tari.

__ADS_1


Alga langsung membulatkan matanya, 'belum seberapa' katanya? Jadi ia bisa lebih kuat memukul dari ini? Membayangkannya saja Alga tak kuasa, ini saja sudah berasa sakit. Apa lagi kena pukulan Tari dengan tenaga ekstranya, bisa-bisa bonyok beneran.


Tari menyimpan wadah itu di atas nakas, lalu bergegas ke kamar mandi. Ia menyiapkan air panas untuk suaminya mandi, Tari merasa kasihan pada suaminya itu. Setelah itu selesai, ia kembali menghampiri Alga.


"Omsu, sebaiknya kamu mandi lebih dulu. Aku sudah siapkan air hangat untukmu."


Alga pun beranjak dari kasur, dengan segera ia bergegas ke kamar mandi. Benar saja, Tari sudah menyiapkan air hangat untuknya. Meski Tari bar-bar, tapi gadis itu sangat pengertian. Dalam kondisinya yang seperti ini, gadis itu menyiapkan semua ini untuknya.


Alga mulai dengan ritual mandinya, hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk ia menyelesaikan mandi. Ia keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Tari menyiapkan semua keperluannya, dari mulai baju dan sepatu. Itu semua sudah terletak di atas kasur, sementara sepatu ada di lantai.


Tapi ia tak melihat istrinya di kamar, kemana gadis itu? Tak lama kemudian, Tari kembali ke kamar. Alga melihat istrinya mengenakan kimono handuk, rambutnya yang basah, sudah dipastikan bahwa gadis itu baru selesai mandi.


"Apa Tari mandi di kamar mandi dapur?" batin Alga. Alga terus memperhatikan Tari tanpa kata, gadis itu membuka lemari mengambil baju seragam sekolahnya. Lalu, dengan cepat memasuki kamar mandi. Gadis itu memakai bajunya di sana.


Tari keluar, dan Alga pun sudah terlihat rapi. Ada yang kurang dari penampilannya. Tari yang menyadari kekurangan itu, ia langsung menyambar dasi yang warnanya senada dengan kemajanya.


Tanpa mengeluarkan kata sepatah pun, Tari mengalungkan dasi di leher Alga, dengan cekatan ia memakaikannya. Sementara Alga, ia terdiam terpaku dengan apa yang dilakukan Tari padanya.


"Ini baru lengkap," ucap Tari yang sudah menyelesaikan tugasnya.


Alga langsung bercermin, melihat pantulannya di kaca. Menyentuh dasi itu, sedikit memutarkan tubuhnya. "Perpack." Ucapnya sambil tersenyum. Disaat ia membalikkan tubuhnya dan akan mengucapkan terimakasih pada istrinya, tapi Tari sudah menghilang.


"Ngilang mulu," ujar Alga.


* * *


"Masih di atas, Ma. Lagi siap-siap."


Tari dan Ajeng berada di ruang makan, mereka tengah menyiapkan sarapan untuk suami mereka. Tari benar-benar sudah terbiasa dengan ini, karena sebelum ayahnya masuk rumah sakit, Tari yang selalu menyiapkan sarapan untuk ayahnya. Dari mulai masak sampai mengambilkan nasi, ia lakukan itu semua sendiri.


"Kamu hebat, Tari," puji Ajeng.


"Bukan hebat, Ma. Aku sudah terbiasa dengan ini." Tari selalu merendah jika mendapat pujian dari mertuanya.


Tak lama kemudian, Yuda dan Alga datang hampir secara bersamaan. Mereka langsung mendudukkan diri di kursi.


"Makasih, Ma," kata Alga pada mamanya.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Ajeng.


"Untuk ini." Tunjuk Alga pada piring yang sudah terisi oleh roti yang dibuat seperti sandwich.

__ADS_1


"Kamu sekarang sudah punya istri, Alga. Tentu itu istrimu yang menyiapkannya, kamu beruntung memiliki istri seperti Tari, tanpa disuruh dia sudah mudeng," kata Ajeng.


Yang dipuji malah diam saja, Alga pun melirik kearah istrinya yang sedang sarapan. Lama melihat gadis itu, lalu bibirnya melengkung mengulas senyum.


Sarapan selesai, Yuda lebih dulu beranjak dari tempatnya. Ia harus cepat sampai ke kantor pagi ini, ada rapat penting. Kali ini ia yang akan turun tangan, memberi ruang untuk anaknya karena ia mengertikan posisi Alga. Anaknya harus mengantar Tari lebih dulu.


"Pa, buru-buru banget?" tanya Alga pada papanya yang hendak meninggalkan ruang makan.


"Ada meeting, Alga. Kamu santai saja, antar Tari ke sekolah. Biar Papa yang memimpin rapat pagi ini." Setelah mengatakan itu Yuda pun pergi diantar oleh istri tercintanya.


* * *


"Pakai sabuk pengamanmu," suruh Alga pada Tari. Tapi gadis itu terlihat kesusahan ketika menggunakan itu.


"Bisa, gak?"


"Susah, Omsu. Sudah rusak kayanya."


Alga menghela napas, lalu membantu Tari memakai selbeth.


"Dasar udik, tombol ini pencet." Alga menunjukkan tombol yang ada di selbeth itu.


Sementara Tari, gadis itu hanya nyengir bak kuda, posisi mereka begitu sangat dekat ketika Alga memasangkan sabuk pengaman pada tubuh istrinya. Bahkan hembusan napas Alga begitu terasa di wajah Tari. Tapi, itu tak berselang lama.


Alga menarik kembali tubuhnya dan memposisikan bahwa ia siap mengendarai mobilnya, mengantar Tari ke sekolah dengan status berbeda. Mereka bukan lagi orang lain, sudah ada keterikatan di antara mereka.


Mentari bersenandung di dalam mobil, Alga hanya mendengar tanpa mencela. Kini mobil yang ditumpangi mereka sampai di sekolah. Tari menyodorkan tangan ke arah Alga. Alga yang belum mengerti terdiam sejenak sambil melihat tangan Mentari.


Lalu ia mengerti, ia pun mengulurkan tangannya, Tari mencium punggung tangan suaminya lalu turun dari mobil.


Merasa ada yang kurang, Alga memanggil Tari.


"Apa?"


"Sini dulu."


Tari kembali menghampiri mobil, menundukkan wajahnya. Ia melihat Alga memberikan uang padanya.


"Ini uang jajanmu."


Tari yang melihat nampak bahagia. Melihat uang berwarna merah yang diberikan padanya.

__ADS_1


"Terimakasih."


__ADS_2