Mentari Istriku

Mentari Istriku
Episode 42


__ADS_3

Pagi hari, Ajeng sudah mendatangi menantunya. Gadis itu masih bergelung di dalam selimut, padahal ia sendiri pun sudah terbangun. Ia hanya merasa enggan untuk beranjak, Tari jadi pemalas tak seperti biasanya.


"Mama." Tari langsung beranjak dari posisinya yang tertidur kini menjadi duduk.


Ajeng mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, lalu memberikan sesuatu pada menantunya itu.


"Apa ini, Ma?" tanya Tari.


"Tespack, gunakan ini agar Mama yakin," ujar Ajeng. "Kamu tahu 'kan cara menggunakannya?" tanyanya kemudian.


"Tespack." Tari membaca cara penggunaannya, dan ia tahu apa maksud ibu mertuanya. Ia juga menyadari bahwa ia sudah terlambat datang bulan.


"Kamu pasti belum datang bukan 'kan?"


Tari langsung mengangguk.


"Sudah sana, Mama gak sabar pengen tahu hasilnya."


Akhirnya Tari bergegas ke kamar mandi, lima menit kemudian. Tari kembali menemui Ajeng.


"Mana? Mama mau lihat." Ajeng menadahkan tangan pada Tari. Tari sendiri memberikannya.


Wajah Ajeng langsung terpancar berseri-seri, ia memeluk Tari begitu erat. Namun, Tari malah terdiam. Bukannya tidak suka akan kehamilannya, ia merasa sedih karena tak dapat kuliah dalam waktu dekat ini.


Ajeng melepaskan pelukkannya dan melihat wajah Tari yang cenderung sedih.


"Kenapa? Kok sedih. Kamu belum siap ya?" tanya Ajeng.


Tari hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Lalu, apa masalahnya?" tanya Ajeng penasaran.


"Tari mau kuliah, Ma." Tari malah terisak dan bersedih.


"Kan bisa tahun depan." Ajeng mencoba menghibur Tari agar tak bersedih lagi. "Ayah sama Papa pasti seneng kamu hamil, jadi jangan bersedih ya? Pendidikkan memang penting, tapi kalau sudah begini mau apa lagi? Lagi pula, Alga pasti tidak akan mengizinkanmu kuliah dalam keadaan hamil." Ajeng mengusap bahu Tari.


"Gak apa-apa, kamu pasti bisa kuliah tahun depan," ujar Ajeng lagi. "Ya sudah, mending sekarang kamu mandi lalu sarapan." Setelah mengatakan itu, Ajeng meninggalkan Tari.


***


Kini semua sudah kumpul di ruang makan, Ajeng masih merahasiakan kehamilan Tari pada suaminya juga ayahnya Tari. Jadi semua terlihat biasa saja, bahkan Surya dan Yuda tak berani menanyakan keberadaan Tari di sini. Karena setahu mereka, anaknya itu masih dalam keadaan marah pada Alga.


"Tari, dimakan dong makananya," kata Ajeng.


"Gak nafs*, Ma. Tari mau makan rujaknya," ucap Tari.


"Rujak, Pagi-pagi begini?" tanya Surya dan Yuda secara bersamaan.


"Kenapa? Ada yang salah dengan makanan itu?" tanya Tari. Bawaannya ia selalu sedih ketika ia mendengar ucapan yang menyangkut persaannya, seakan tidak membolehkannya untuk makanan keinginannya.


"Bukan gak boleh, sayang. Ini masih pagi, nanti kami sakit perut," timpal Surya.


"Tapi, Tari maunya rujak, Yah. Gak mau makan nasi," rengeknya.

__ADS_1


"Gak apa-apa, gak akan sakit perut, kalau lagi ngidam memang begitu, maunya makan yang asem-asem," sahut Ajeng keceplosan.


"Ngidam, Tari hamil, Ma?" tanya Yuda. "Alga harus tahu kabar bahagia ini." Yuda begitu antusias, dan ia hendak menghubungi anaknya. Namun, Tari mencegeahnya.


"Loh, memangnya kenapa kalau Alga tahu? Dia pasti seneng mendengar kabar ini." Yuda tidak tahu perasaan Tari yang masih kesal pada suaminya, ia hanya bingung. Memangnya ibu hamil akan membenci suaminya jika sedang mengandung?


"Biarkan saja, Pa. Nanti juga Alga kesini, 'kan mau jemput Tari," timpal Ajeng.


Semua nampak bahagia akan kehamilan Tari, karena ini cucu pertama bagi mereka. Dan akhirnya, Tari pun mendapatkan makanan yang diinginkannya. Yaitu rujak.


"Bagaimana? Enak?" tanya Ajeng pada menantunya yang sedang menikmati rujak.


"Enak, Ma. Seger. Aku jadi semangat lagi," jawab Tari yang begitu happy.


"Kalau habis bisa nambah, kok," ujar Ajeng, dan kebetulan pohon mangga yang ada di belakang rumahnya sedang berbuah. Keingan Tari jadi terkabul, kalau tidak begitu, mau dapet dari mana?


Hari pun menjelang sore, Tari sedang bersantai di teras depan. Menikmati susu hangat yang disediakan ibu mertuanya, serta cemilan yang menemaninya sore ini. Tari melihat kedatangan mobil sport berwarna putih, ia tahu siapa yang datang.


Tari langsung beranjak dari tempatnya, ia masih marah pada suaminya itu dan tidak ingin bertemu dengannya. Tapi sayang, Alga berhasil menghentikan langkah istrinya. Ia langsung turun dari mobil dan berlari.


"Aku kangen." Alga langsung memeluk istrinya.


Namun tiba-tiba ...


Hoeekk ... Hoeekk ... Hoeekk ...


Tari melepaskan diri dan berlari ke arah kamar mandi, ia memuntahkan semua isi perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Alga menyusul Tari.


"Ada apa, Alga?" tanya Ajeng.


"Tari, Ma. Tari muntah-muntah," jawab Alga.


"Muntah?" Ajeng pun menyusul Tari yang sedang berada di dalam kamar mandi.


"Kamu baik-baik saja 'kan? Apa masih mual?" tanya Ajeng setibanya di samping Tari, wanita paruh baya itu memijat tengkuknya.


"Aku gak apa-apa, Ma." Jawab Tari sambil membasuh mulutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alga, karena ia tidak tahu bahwa istrinya sedang mengandung.


"Stop, Mas! Aku gak suka aroma-mu." Tari mencegah Alga untuk mendekat.


Alga mencium aroma tubuhnya sendiri, sepulang kerja ia langsung menuju ke sini. Jadi wajar saja, Tari mencium aroma tidak sedap, pikirnya.


"Ya sudah, Mas mandi dulu kalau begitu.


***


Tari sedang duduk bersama ibu mertuanya di sofa ruang tv. Mereka berdua melihat tayangan film korea. Lalu, Alga pun datang dengan tampilan baru. Rambut basah, baju bersih. Dengan santainya, ia mendudukkan tubuhnya di sebelah Tari.


Tari langsung mencium aroma yang membuatnya kembali mual.

__ADS_1


Hoeek ...


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Alga.


"Kamu pakai parfum apa sih, Mas? Kok baunya aneh," kata Tari, ia membekap hidung dan mulutnya sendiri dengan tangan.


"Parfum biasa yang aku pakai, bukannya kamu suka?"


"Ganti, Mas. Ganti ... Sekalian bajunya juga ganti, aku gak suka aromanya. Cepat!!" Tari mengusirnya tanpa memikirkan hati suaminya, sudah wangi masih dibilang bau.


"Sudah sana turuti saja keinginan istrimu," titah Ajeng.


"Tapi ini bersih loh, Ma. Bahkan parfum yang aku pakai kesukaan Tari."


"Cepat ganti ... Aku mual, ingin muntah rasanya."


Akhirnya Alga mengalah, ia kembali ke kamar dan mengganti semua pakainnya. Ia juga tidak memakai parfum sesuai keinginan istrinya. Namun ia bingung sendiri, kenapa Tari jadi begini? Penasaran, ia langsung menanyakan akan sikap Tari yang akhir-akhir ini berubah padanya.


Alga kembali menemui istrinya dan juga mamanya. Kali ini ia tak duduk di samping Tari, ia duduk di sebalah mamanya.


"Ma, Tari kenapa sih?" tanya Alga berbisik.


"Ya kamu tanya sendiri sama istrimu, 'kan dia yang lebih tahu," jelas Ajeng.


"Kalian lagi membicarakan apa sih, kok bisik-bisik?" tanya Tari.


"Boleh Mas bertanya?" kata Alga sambil menatap wajah istrinya. "Kamu kenapa? Masih marah sama, Mas?"


Tari menggelengkan kepala, lalu ia menyentuh perut sebagai jawaban. Alga yang masih belum peka, ia menduga Tari masih mual.


"Kita ke ruamh sakit ya? Mas gak mau kenapa-kenapa." Tanpa mendengar jawaban Tari, Alga mengajak istrinya untuk periksa.


***


Di rumah sakit.


"Istri Anda tidak sakit, Pak." Jelas dokter yang baru selesai memeriksa Tari.


"Tapi istri saya muntah-muntah, apa lagi jika mencium aroma yang menyengat seperti parfum," jelas Alga.


"Biar Anda yakin, kita lakukan USG. Suster, bantu Bu Tari berbaring di sana," ucapnya pada suster.


Tari merebahkan tubuhnya di atas branker, dan suster meletakkan jel di perut Tari. Dan dokter mulai menyalakan layar monitor.


"Lihat, Pak." Dokter menunjuk layar monitor, namun Alga tak mengerti dengan layar itu. "Di sini sudah ada dede bayi, dan usianya sudah 3 minggu."


Mulut Alga langsung menganga, ia tak percaya dengan yang terjadi barusan. "Apa itu artinya saya akan menjadi Papa, Dokter?" tanya Alga, dan ia menatap ke arah Tari yang berbaring.


"Iya, sebentar lagi, Anda akan menjadi Papa," jawab dokter.


Betapa bahagianya Alga, saking bahagianya ia langsung menghampiri Tari, memeluknya dan menciumnya tanpa malu akan keberadaan dokter dan suster.


"Mas," protes Tari yang merasa tak enak pada orang yang berada di sana.

__ADS_1


Namun Alga tak mengubrisnya, bahkan ia memberikan beberapa ciuman di wajah Tari saking bahagianya.


__ADS_2