
Tari dan kawan-kawan sudah berangkat menuju tempat berkemah di kawasan puncak. Tari memancarkan kebahagiaannya, ia mengikuti teman-teman yang lain yang sedang bernyanyi. Bunga yang melihat ikut bahagia.
"Lagi bahagia ya?" tanya Bunga pada Tari.
Tari memberikan senyum lebarnya pada Bunga, ia memeluk sahabatnya itu dari samping. Karena posisi mereka sedang duduk berdampingan di dalam bus.
"Sudah baikan sama si Omsu?" tanya Bunga lagi.
"Hmm." Tari menganggukkan kepalanya.
"Aku ikut seneng, Tari. Semoga kalian berdua bahagia selalu," ujar Bunga.
"Terimakasih, Bunga. Kamu memang sahabatku yang paling baik," jelas Tari.
* * *
Alga sedang menghubungi Citra, ia tidak bisa berlama-lama lagi merahasiakan pernikahannya pada wanita itu. Mau tak mau, rela atau tidak rela, Citra harus mengetahui semuanya bahwa kini ia sudah menikah dan tak bisa mempertahankannya lagi.
Sambungan itu terus terhubung, tapi tak ada jawaban dari Citra. Akhirnya, ia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Alga berniat menemui Citra ke rumahnya.
Setelah mengantar Tari ia langsung bergegas akan menemui kekasihnya itu. Tak membutuhkan waktu lama baginya sampai di rumah Citra. Kini ia turun dari mobilnya, ia langsung saja mengetuk pintu rumah itu setibanya di sana.
"Cari siapa, Mas?" tanya tetangga Citra pada Alga.
"Citra," jawab Alga.
"Mereka tidak ada di rumah," kata orang itu lagi.
"Kemana ya kira-kira?" tanya Alga. "Apa, Mas tahu kepergian mereka kemana?" sambung Alga lagi.
"Wah, kalau itu saya kurang tahu. Tapi kemarin sempat ada keributan di sini. Citra dan Ibunya dibawa paksa oleh seseorang," jelas tetangga Citra. "Maaf, Mas. Saya permisi kalau begitu," pamit orang itu.
Alga mengangguk, lalu ia memikirkan tentang keberadaan Citra. Kemana mereka pergi? Siapa yang membawa Citra dan ibunya? Pikir Alga. Hingga Alga bisa menyimpulkan siapa yang membawa mereka.
"Apa mungkin Papanya Citra?" ucap Alga sendiri. Alga tahu bahwa selama ini Papanya Citra selalu memanfaatkannya, apa lagi setelah tahu Citra menjadi model. Pria itu selalu memeras keuangan Citra. Dengan segera, Alga menemui orang tuanya kekasihnya itu. Semoga saja dengan kedatangannya bisa menyelamatkannya.
Untung Alga pernah diajak oleh Citra ke rumah papanya, jadi ia bisa tahu di mana Citra berada. Orang tua Citra sudah bercerai dan itu membuat Citra harus bekerja banting tulang demi ibunya. Selama perjalanan, Alga merasa hatinya tidak tenang. Bagaimana kalau kekasihnya itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia akan memutuskan hubungannya?
Pemikiran itu terus bergelut pada diri Alga, sampai tak terasa ia pun sampai di rumah papanya Citra. Alga turun dari mobil, ia mendengar suara keributan di dalam rumah itu. Dengan segera, Alga berlari karena mendengar jeritan Citra dari dalam sana.
Seorang ayah tega memukuli anaknya karena tidak mendapatkan uang darinya. Sementara ibunya Citra berada di dalam kamar, wanita paruh baya itu dikunci di dalam sana.
Alga yang melihat dari jendela langsung mendobrak pintu. Dan pintu itu langsung terbuka.
"Siapa, kau?" tanya papa Citra, laki-laki itu menyalak marah padanya.
__ADS_1
"Alga," ucap Citra.
Alga langsung menghampiri Citra yang sedang terduduk di lantai, wajahnya terluka. Sudut bibirnya berdarah, mungkin akibat pukulan dari papanya.
"Jangan ikut campur! Pergi kau!" teriak papa Citra.
"Tenang, Om. Kita bisa bicara baik-baik, tidak perlu ada kekerasan, kasihan Citra, Om." Alga mencoba menenangkan papanya Citra.
"Citra, kamu gak apa-apa?" tanya Alga. Alga membantu Citra berdiri.
Papanya Citra sedikit tenang karena Alga, kini mereka bertiga tengah bicara. Alga meminta penjelasan, mengapa papa Citra membawa pergi anaknya? Dan menganiaya putrinya sendiri.
"Citra membantah perintah, Om. Om minta Citra segera menikah," jelas Papa Citra yang bernama Bram.
"Tapi aku gak mau menikah dengan pria tua itu, Pa. Bahkan aku sudah memiliki kekasih," bantah Citra. "Dan Alga, dia kekasihku, Pa. Aku hanya akan menikah dengannya, bukan dengan pria tua pilihan Papa."
"Kenapa Om ingin menikahkan Citra dengan pria itu?" tanya Alga baik-baik.
"Om butuh uang, dengan Citra menikah dengan orang itu maka hutang Om lunas," jelas Bram.
"Tapi aku tidak mau menikah dengannya, Pa. Aku akan berusaha mendapatkan uang dan melunasi hutang, Papa." Citra terus mencoba membujuk papanya.
"Kamu tenang ya, Citra." Alga mengusap pundak kekasihnya itu.
"Lima ratus juta," jawab Bram.
Alga sedikit terkejut mendengar nominalnya, tapi ia akan memberikan uang itu pada papanya Citra.
"Saya akan berikan uang itu pada, Om. Tapi saya minta lepaskan Citra dan jangan mengganggu Citra lagi." Alga meminta pada Bram seolah ia akan bertanggung jawab akan Citra.
"Alga," protes Citra. "Ini masalahku, biarkan aku yang menyelesaikannya," jelas Citra pada Alga.
"Kamu sedia menikah dengan pilihan Papamu?" tanya Alga. Citra langsung menggelengkan kepalanya.
"Om, besok temui saya di kantor. Saya akan berikan uang itu pada Om di sana," jelas Alga. "Dan sekarang, tolong lepaskan Citra," pintanya kemudian.
"Apa omonganmu bisa dipercaya?" tanya Bram.
"Ini kartu nama saya, Om bisa datang ke kantor besok." Alga memberikan kartu namanya pada Bram.
Bram pun menerimanya, lalu pria itu mengangguk dan melepaskan Citra. Ia juga membukakan pintu yang dikunci olehnya yang di dalamnya ada mama Citra di dalam sana.
"Mama." Citra merengkuh tubuh mamanya.
"Citra," lirih sanga mama. Wanita paruh baya itu merasa kasihan pada anaknya yang menerima pukulan dari mantan suaminya itu.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Ma. Ada Alga yang menyelamatkan kita." Ucap Citra seraya menoleh ke arah Alga yang masih duduk di kursi.
* * *
Alga berhasil membawa Citra kembali pulang, ia juga mengobati lukanya. Alga membersihkan darah kering yang ada di sudut bibir Citra.
"Terimakasih, Alga," ucap Citra setelah Alga selesai mengobati lukanya.
"Hmm," jawab Alga.
Lalu, mama Citra datang membawakan minuman untuk Alga. Meletakkannya di atas meja.
"Terimakasih sudah menyelamatkan kami," kata mama Citra.
"Sama-sama, Tante." Kini Alga menatap wajah Citra, ia jadi tak tega padanya. Dalam keadaan begini ia malah akan memutuskan hubungannya.
Mama Citra melihat ke arah Alga, sepertinya ada yang ingin dibicarakan oleh pria itu. Akhirnya, ia pun pamit.
"Nak Alga, Tante permisi dulu."
"Iya, Tante."
Kini menyisakan Alga dan Citra di sana, Citra langsung menyandarkan kepalanya di bahu Alga.
"Ga, maafkan soal sikapku kemarin," kata Citra tiba-tiba. "Apa benar dia selingkuhanmu?" Citra memberanikan diri menanyakan akan hal itu.
"Dia bukan selingkuhanku, Citra. Dia-." Ucapan Alga terputus kala ponsel miliknya berdering.
Citra menarik diri dari sandaran itu, ia melihat Alga menerima panggilan. Dan yang menghubungi Alga adalah Tari, ia melihat sendiri nama ID pemanggil itu.
"Sebentar ya, Citra." Alga beranjak dari posisinya, ia mengangkat panggilan itu sedikit menjauh dari wanita itu.
"Ada apa?" tanya Alga pada sambungan itu.
"Aku sudah sampai, Mas." Tari hanya berniat mengabari suaminya. "Jangan lupa, selesaikan hubunganmu dengan Mbak Citra."
Alga melirik ke arah Citra, dan wanita itu tersenyum padanya. Alga kembali bercakap dengan Tari.
"Iya, Mas akan mengakhirinya, sayang. Ya sudah, kamu hati-hati di sana." Panggilan itu pun akhirnya berakhir. Sebenarnya, Alga tidak begitu yakin akan berhasil menyelesaikan hubungannya dengan Citra.
Lalu ia pun kembali duduk di samping Citra.
"Citra," panggil Alga.
Citra pun menoleh.
__ADS_1